
Abi Qiana nampak merengkuh pundak sang istri untuk menenangkannya. Ia tahu jika istrinya saat ini tengah menangis bahagia melihat kebersamaan Izar dan Qiana. Apalagi mereka juga baru saja mendengar janji Izar dan Qiana untuk menikah.
Titik air mata pun jatuh membasahi wajah ummi Qiana usai mendengar jawaban Qiana atas lamaran Izar tadi. Iyaz dan abi Qiana yang berdiri di sampingnya pun ikut tersenyum bahagia. Kemudian ketiganya mendekati Izar dan Qiana yang tengah tertawa bahagia itu.
“ Ehm, jangan kelamaan pegang tangannya Zar. Ada setan lewat kan bahaya. Kalian belum halal lho...,” kata Iyaz tiba-tiba hingga mengejutkan Izar dan Qiana.
Keduanya tersadar lalu segera melepaskan tautan jemari mereka sambil tersenyum malu-malu.
“ Pegangan tangan doang Yaz, ga ngapa-ngapain kok...,” sahut Izar sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sedangkan Qiana langsung menghambur memeluk sang ummi.
“ Iya tau. Makanya buruan halalin biar bisa dipegang sepuasnya...,” kata Iyaz sambil menahan tawa.
“ Iya iya...,” sahut Izar lalu menghampiri kedua orangtua Qiana yang berdiri di belakang Iyaz.
Kedua orangtua Qiana nampak tersenyum mendengar ucapan Izar. Kini keduanya tengah menanti apa yang akan disampaikan Izar yang tampak melangkah dengan mantap kearah mereka.
Kemudian Izar mencium punggung tangan orangtua Qiana lalu menatap keduanya dengan tatapan penuh harap.
“ Pak Bu..., maafkan Saya karena udah lancang ngelamar Qiana tadi. Saya ingin menikahi Qiana, menjadikannya pendamping hidup Saya selamanya. Mungkin situasiny kurang tepat karena dilakukan di kantin Rumah Sakit. Tapi
Saya benar-benar serius, tolong ijinkan Saya menikahi Qiana...,” kata Izar sambil menatap kedua orangtua Qiana bergantian.
Kedua orangtua Qiana saling menatap kemudian tersenyum. Keduanya mengangguk lalu abi Qiana lah yang memberi jawaban.
“ Baik lah, Kami ijinkan Kamu menikahi Qiana. Tolong bahagiakan Qiana karena hanya itu yang Kami inginkan dari Mas Izar...,” kata abi Qiana sambil tersenyum.
“ Insya Allah Saya akan membahagiakan Qiana Pak...,” sahut Izar dengan mata berkaca-kaca.
“ Saya percaya Mas Izar bisa melakukan itu...,” kata abi Qiana sambil memeluk Izar erat lalu menepuk punggungnya dengan lembut.
Interaksi Izar dengan abi Qiana membuat Iyaz, Qiana dan umminya terharu dan tersenyum bahagia. Kemudian abi
Qiana mengurai pelukannya sambil mengusap kepala Izar sebagai ungkapan kasih sayangnya untuk pria yang telah menyelamatkan anaknya dari jeratan iblis itu.
“ Tapi Kami masih nunggu lamaran resmi Mas Izar dan keluarga ya...,” kata ummi Qiana sambil menatap Izar lekat.
__ADS_1
“ Iya Bu. Kami dan keluarga akan datang melamar Qiana secara resmi nanti. Kapan waktunya biar Izar aja yang
ngasih kabar...,” sahut Iyaz cepat sambil merengkuh pundak Izar.
“ Iyaz betul Bu. Insya Allah secepatnya Kami akan datang untuk melamar sekaligus menentukan waktu pernikahan nanti...,” sela Izar sambil tersenyum.
“ Ok. Kalo gitu Kami pulang dulu ya. Tolong sampaikan salam Kami untuk kedua orangtua Kalian...,” kata abi Qiana
yang diangguki Iyaz dan Izar.
Kemudian mereka pun berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing. Kebahagiaan nampak meliputi hati Izar dan Qiana yang saling melempar senyum sebelum meninggalkan parkiran Rumah Sakit itu.
\=====
Kabar bahagia yang diterima keluarga besar Faiq membuat mereka tak hentinya bersyukur dan mengucap hamdalah berulang kali. Bahkan Farah sampai menitikkan air mata saking bahagianya mendengar dua cucu laki-lakinya mendapat anugrah dari Allah Swt di saat hampir bersamaan.
“ Alhamdulillah..., ini di luar dugaan banget ya Pa. Bisa-bisanya Izar melamar seorang gadis dan diterima tepat
dengan kabar kehamilan Nuara...,” kata Farah sambil mengusap matanya yang basah.
“ Iya, Papa betul. Kita harus mempersiapkan sesuatu untuk melamar Qiana dalam waktu dekat ini. Terus
mempersiapkan pernikahan Izar dan Qiana sekaligus mempersiapkan penyambutan untuk kelahiran anaknya Iyaz...,” kata Farah sambil tertawa.
“ Kalo soal anak Aku itu gampang Oma. Kita fokus aja dulu sama persiapan lamaran dan pernikahannya Izar...,” kata Iyaz yang diangguki Nuara.
“ Betul Oma. Waktu melahirkan kan masih tujuh bulan lagi. Masih banyak waktu untuk nyiapin semuanya...,” sela Nuara sambil tersenyum.
“ Ok. Kalo gitu Kita fokus aja sama urusan Izar ya...,” kata Faiq menengahi.
“ Setuju...!” sahut semua orang.
Kemudian mereka pun tertawa bersama sambil saling meledek satu sama lain. Hanako yang juga hadir bersama
keluarga kecilnya dan kedua orangtuanya pun terlihat bahagia. Meski ada air mata haru yang menggenang di matanya, namun Hanako tetap tertawa.
__ADS_1
\=====
Di sisi lain kebahagiaan Izar dan Qiana pun sampai di telinga Reno. Ia terlihat sangat kecewa dan sakit hati saat mendengar berita Qiana menerima lamaran Izar.
“ Kenapa Aku ga bisa bahagia seperti yang lain. Kenapa gadis yang Aku cintai justru memilih laki-laki lain. Apa Qiana ga tau kalo Aku udah banyak berkorban untuknya...?” gumam Reno sambil meninju kursi yang ia duduki.
“ Seberapa besar pun Kamu mencoba, gadis itu bukan untukmu Reno. Relakan dia bahagia bersama pria pilihannya jika Kamu memang mencintainya. Qiana layak bahagia, jangan ganggu dia lagi jika Kamu ga mau dia membencimu nanti...,” kata sebuah suara hingga mengejutkan Reno.
“ Mami..., itu Mami kan. Mami dimana, Mami...!” panggil Reno sambil berlari menuju keluar rumah.
Tak ada siapa pun di sana. Hanya ada debu yang beterbangan saat kendaraan melintas. Reno pun tertegun sesaat.
Sedetik kemudian Reno mengusap wajahnya dengan kasar lalu kembali masuk ke dalam rumah. Reno pun duduk di kursi sambil menatap nanar kearah pintu yang terbuka itu. Ia yakin telah mendengar suara mami Oce tadi.
Tanpa Reno ketahui, sang mami masih hidup di alam ghaib meski pun dalam keadaan terbelenggu dan tersiksa
hingga hari kiamat nanti. Sang mami hanya bisa mengawasi Reno dari kejauhan tanpa bisa menyentuhnya lagi.
Sejak ia mengetahui sang mami menjadi korban dari iblis yang disembahnya, Reno mencoba hidup mandiri. Faiq,
Iyaz dan Izar pun menepati janji mereka untuk memastikan Reno selamat dari iblis itu dan mendapatkan kehidupan yang layak.
Kini Reno bekerja di panti sosial sebagai tenaga serabutan dengan gaji yang lumayan. Reno yang hanya memiliki
ijasah SMP pun dengan senang hati menerima pekerjaan itu. Apalagi kondisi tubuhnya yang tak lagi sempurna akibat luka bakar yang dideritanya membuatnya bersyukur saat pengurus panti mau memberinya pekerjaan.
Kondisi Reno memang tak lagi sempurna. Ada luka bakar di bagian kanan wajahnya. Kaki Reno pun tak lagi bisa
diluruskan setelah ia terkena ledakan hingga membuatnya berjalan dengan setengah membungkuk. Beruntung kedua tangan Reno masih bisa digunakan dengan baik hingga Reno bisa melakukan bermacam pekerjaan ringan seperti memotong rumput, atau berbelanja keperluan panti. Semua orang di panti sosial menghargai Reno dan tak sekali pun merendahkan Reno hingga membuat Reno betah bekerja di sana.
Reno menghela nafas panjang sekali lagi. Ia bangkit dari duduknya sambil melangkah untuk menutup pintu yang terbuka itu.
“ Iya Mami. Aku akan relakan Qiana bahagia dengan Mas Izar karena mereka layak mendapatkannya...,” gumam Reno sambil menutup pintu.
Angin sejuk berhembus melalui sela pintu pertanda Oce setuju dengan keputusan Reno sekaligus bangga dengan sikap Reno yang telah merelakan Qiana bersanding dengan pria lain.
__ADS_1
\=====