
Nuara terkejut saat menerima kabar jika sang mama sakit dan dilarikan ke Rumah Sakit. Ia bertanya banyak hal pada Nando, namun sayangnya Nando tak bisa menjawab karena panik.
“ Pokoknya Kakak ke Rumah Sakit aja deh, ntar liat sendiri gimana keadaan Mama...,” kata Nando.
“ Insya Allah Kakak ke sana sama Tante Dewi. Kamu tolong jagain Mama dulu ya...,” pinta Nuara.
“ Iya Kak...,” sahut Nando di akhir kalimatnya.
Bersama sang tante Nuara pergi menuju ke Rumah Sakit. Saat tiba di sana mereka langsung menuju UGD dan melihat Nando sedang duduk menunggu di depan UGD.
“ Nando...!” panggil Nuara.
“ Kakak...,” sahut Nando sambil berdiri menyambut Nuara dan sang tante.
“ Mama sakit apa, kok mendadak banget...?” tanya Nuara.
“ Ayo Kita liat aja ke dalam...,” sahut Nando sambil menggamit tangan Nuara dan membawanya masuk ke dalam UGD.
Dewi yang melihat kondisi sang kakak nampak terkejut. Dia menatap bingung kearah Adam seolah memohon penjelasan.
“ Tadi saat pulang sholat Subuh dari masjid Kami denger Mama menjerit kesakitan. Pas dideketin ternyata Mama
lagi terbaring di lantai sambil nangis. Perut Mama besar kaya orang hamil dan ga lama setelahnya Mama muntah darah. Karena melihat Mama pingsan, Kami membawanya ke sini...,” kata Nando menjelaskan.
“ Terus apa kata dokter Pa...?” tanya Nuara.
“ Kata dokter nunggu hasil lab dulu Nak...,” sahut Adam sambil mengusap wajahnya.
Tiba-tiba ponsel Nuara berdering. Saat Nuara mengetahui Iyaz lah yang menghubunginya, ia pun bergeser menjauh. Rasa gugup menyelimuti hati Nuara saat ia menjawab panggilan Iyaz.
“ Assalamualaikum Ra, Kamu dimana. Ini udah hampir jam masuk kerja lho...,” kata Iyaz mengingatkan.
“ Wa alaikumsalam. Aku lagi di Rumah Sakit Mas, Mama sakit...,” sahut Nuara gugup.
“ Sakit apa, bukannya semalam baik-baik aja...?” tanya Iyaz.
“ Aku ga tau Mas, ini masih nunggu hasil lab...,” sahut Nuara kemudian mulai menceritakan apa yang dialami sang mama usai sholat Subuh tadi.
“ Mmm..., gitu ya. Apa tadi malam keluarga yang hendak dijodohkan sama Kamu itu jadi datang bertamu...?” tanya Iyaz.
“ Jadi. Emang kenapa Mas...?” tanya Nuara.
“ Gapapa, insya Allah Aku jenguk Mama Kamu nanti. Tolong share lock aja ya...,” pinta Iyaz.
“ Ok Mas, makasih...,” kata Nuara.
“ Sama-sama...,” sahut Iyaz lalu melangkah cepat menuju ruangan Izar.
\=====
__ADS_1
Malam sebelumnya Izar tiba lebih dulu di rumah. Shera dan Faiq saling menatap karena heran melihat Izar pulang
seorang diri.
“ Assalamualaikum Bun, Yah...,” sapa Izar lalu mencium punggung tangan kedua orangtuanya bergantian.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Faiq dan Shera bersamaan.
“ Kok tumben sendiri, mana Iyaz...?” tanya Shera.
“ Iyaz lagi ada urusan Bun...,” sahut Izar dengan enggan.
“ Urusan apa...?” tanya Shera.
“ Nanti juga Bunda tau sendiri...,” sahut Izar sambil tersenyum penuh makna.
“ Kenapa harus nanti. Kalo Kamu tau kan bisa cerita sekarang...,” kata Shera setengah memaksa.
“ Ga seru dong Bun. Biar Iyaz aja yang ngomong langsung sama Bunda dan Ayah nanti...,” sahut Izar sambil bergegas melangkah menuju kamar.
“ Izaarrr...!” panggil Shera gemas namun diabaikan oleh Izar.
“ Udah biarin aja Bun. Lagian mereka kan udah dewasa, ga mungkin selamanya mereka harus tau urusan kembarannya kan...,” kata Faiq menengahi.
“ Iya sih, tapi Aku penasaran Yah...,” sahut Shera.
“ Sabar lah Bun. Lebih baik Bunda siapin makan malam gih. Aku udah lapar nih...,” pinta Faiq sambil mengusap perutnya.
Shera berdiri dan mengecup pipi suaminya lalu bergegas menuju ke ruang makan. Faiq hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri. Tak lama kemudian suara Shera terdengar dari ruang makan.
“ Ayo Yah, katanya mau makan...!” panggil Shera.
“ Iya Bun...,” sahut Faiq.
Namun saat Faiq hendak melangkah menuju ke ruang makan terdengar suara kendaraan berhenti di halaman rumah. Faiq melihat dari balik jendela untuk memastikan siapa yang datang. Ia tersenyum saat mengetahui Iyaz keluar dari Taxi.
“ Assalamualaikum Yah...,” sapa Iyaz.
“ Wa alaikumsalam, kok tumben naik Taxi...?” tanya Faiq.
“ Iya Yah. Abis nganterin calon Istri Aku pulang ke rumahnya tadi. Kan belum muhrim, makanya Aku pake Taxi aja...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
“ Calon Istri, apa Ayah ga salah dengar...?” tanya Faiq.
“ Ga Yah...,” sahut Iyaz mantap.
“ Kamu bisa nyebut calon Istri, emangnya Kamu udah melamar dia...?” tanya Shera dari balik punggung suaminya.
“ Udah Bun...,” sahut Iyaz.
__ADS_1
“ Kapan...?” tanya Shera.
“ Tadi...,” sahut Iyaz cepat.
“ Tadi...?” ulang Shera tak percaya.
“ Iya Bun, Aku baru aja ngelamar dia sama orangtuanya...,” sahut Iyaz santai.
Mendengar ucapan Iyaz membuat Shera dan Faiq terkejut. Shera mengulurkan tangannya lalu menjewer telinga Iyaz saking kesalnya. Iyaz pun menjerit kesakitan hingga membuat Izar keluar dari kamarnya. Sedangkan Erik dan Farah yang baru tiba pun nampak tergesa-gesa masuk ke dalam rumah untuk mengetahui apa yang terjadi.
“ Ada apa ini...?” tanya Farah.
Shera pun melepaskan telinga Iyaz, lalu menoleh kearah Farah. Sedangkan Faiq dan Izar nampak tertawa lepas hingga membuat Shera cemberut.
“ Ada apa Nak...?” ulang Farah.
“ Ini Ma si Iyaz. Masa ngelamar anak orang tapi ga melibatkan orangtua. Dia ngelamar sendiri tanpa Kita lho Ma...,” sahut Shera.
“ Apa itu benar Yaz. Kok Kamu tega sih ga ngasih tau Oma sama Bunda Kamu. Apa Kamu udah ga nganggap Kami sebagai orangtuamu lagi...?” tanya Farah sambil mencubiti Iyaz saking kesalnya.
“ Aww, aduuhh..., ampuun Omaa...!” jerit Iyaz hingga membuat Izar dan Faiq kembali tertawa.
“ Sekarang duduk dan jelasin semuanya...!” kata Farah galak.
Kemudian Iyaz pun disidang malam itu juga. Izar nampak duduk dengan tenang sambil mengamati kembarannya ditanyai banyak hal oleh orangtua mereka.
Dengan lancar Iyaz menceritakan semuanya. Ia juga minta maaf karena terpaksa memutuskan melamar Nuara tanpa sepengetahuan keluarga.
“ Maafin Aku kalo ngambil keputusan sendiri, Aku ga bermaksud menepikan keluarga Kita. Aku hanya berpikir untuk menghentikan niat Pak Adam menjodohkan Nuara dengan laki-laki lain. Aku ga mau menyesal melihat Nuara menikah dengan orang lain tanpa sempat memperjuangkannya. Tapi Oma sama Bunda ga usah khawatir, Aku janji akan membawa keluarga Kita saat acara lamaran resmi nanti...,” kata Iyaz memberi alasan.
Untuk sejenak keheningan menyeruak di ruangan itu. Faiq dan Erik saling menatap kemudian tersenyum.
“ Jadi kapan Kamu berencana melamar calon Istrimu itu...?” tanya Faiq sambil menahan tawa saat menyebut calon istri.
“ Insya Allah secepatnya Yah...,” sahut Iyaz mantap.
“ Emangnya Kamu udah siapin apa aja untuk melamar gadismu itu...?” tanya Farah.
“ Aku belum siapin apa pun selain rumah Oma. Tapi Aku pikir tabunganku cukup untuk mempersiapkan semua yang diperlukan untuk pernikahan Kami nanti...,” sahut Iyaz malu-malu.
Mendengar jawaban Iyaz membuat semua orang tertawa. Shera pun memeluk Iyaz erat sambil menitikkan air mata haru. Farah mengusap rambut Iyaz sambil tertawa. Sedangkan Erik, Faiq dan Izar ikut tertawa bahagia.
“ Kamu emang Anak Bunda...,” kata Shera bangga sambil mengusak rambut Iyaz.
“ Anak Ayah juga dong Bun...,” sela Faiq sambil mengedipkan matanya.
“ Iya iya...,” sahut Shera sambil tertawa lalu kembali memeluk Iyaz.
Iyaz merasa lega karena bisa mengurai kesalah pahaman yang terjadi. Diam-diam ia tersenyum membayangkan reaksi Nuara saat bertemu dengan keluarga besarnya yang unik itu nanti.
__ADS_1
\=====