Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
197. Sudah Mati


__ADS_3

Setelah menyaksikan jasad itu lenyap, dokter Anisa nampak berusaha bangkit dari duduknya. Perlahan ia berdiri lalu mengusap wajahnya yang bersimbah air mata itu dengan punggung tangannya. Sydra pun menghampiri dokter Anisa lalu mengatakan sesuatu.


“ Maafkan Saya dokter Anisa. Saya ga tau kalo dokter adalah calon Istri Harlan. Saya ga berniat mempermalukan Harlan dulu. Saya hanya ingin memberi kejutan...,” kata Sydra.


“ Kejutan yang memalukan dan menyakitkan...,” sahut dokter Anisa sinis.


“ Saya dan teman-teman juga udah nyiapin kue dan hadiah. Supervisor juga udah dikasih tau dan ngijinin Kami buat memberi kejutan untuk Harlan...,” kata Sydra membela diri.


“ Kalo memang udah dikasih tau kenapa waktu dia diteriaki maling Kalian diam aja...?!” tanya dokter Anisa lantang.


Sydra terdiam dan tak bisa menjawab. Ia menundukkan wajahnya karena sangat menyesal telah membiarkan semua berjalan di luar kendalinya.


“ Saya menyesal, maafkan Saya...,” kata Sydra akhirnya.


“ Permintaan maafmu ga akan mengembalikan Harlan. Dia sudah mati. Apa Kau tau, di akhir hidupnya dia depresi berat. Dia malu dan tak berani keluar rumah. Hingga akhirnya dia meninggal gantung diri di kamarnya karena tak sanggup mengingat saat ia diteriaki maling oleh karyawan pabrik. Padahal seminggu setelah kematiannya Kami akan menikah. Kau telah membunuhnya, Kau pembunuh...!” kata dokter Anisa marah.


“ Maaf...,” kata Sydra lagi dengan kepala tertunduk dan air mata menggenang di kedua matanya.


Sydra tak menyangka jika ulahnya membuat Harlan menderita hingga memutuskan bunuh diri. Kini Sydra mengerti


mengapa kedua temannya meninggal dengan cara tergantung seolah-olah bunuh diri seperti apa yang dilakukan Harlan. Rupanya semua ulah dokter Anisa dan dukun itu yang ingin semua orang yang menyakiti Harlan merasakan sakitnya meninggal dengan cara gantung diri.


Tak ada jawaban, dokter Anisa memilih bungkam lalu melangkah keluar ruangan. Namun langkahnya terhenti saat pak Maher mengatakan sesuatu.


“ Jangan ulangi kesalahanmu Nak. Harlan telah pergi, terima lah kenyataan ini. Jika Kamu mencintainya, doakan dia. Jangan usik dia lagi apalagi meminta untuk memindahkan ruhnya ke raga yang lain. Ketahui lah, yang Kamu kira Harlan selama ini bukan Harlan tapi jin. Ruh atau nyawa itu urusan Allah, tak ada seorang pun yang bisa menandingiNya meski dukun hebat sekali pun...,” kata pak Maher hingga membuat dokter Anisa tersentak.


“ Tapi suaranya mirip Harlan dan dia tau semua apa yang pernah Aku dan Harlan lakukan Pak...,” kata dokter Anisa dengan suara parau.


“ Itu hal mudah buat jin atau iblis melakukannya Nak. Kamu jangan terkecoh. Sebaiknya Kamu bertobat. Lakukan sesuatu untuk membuktikan cintamu pada Harlan. Sedekah atas namanya dan kirim doa untuknya akan membuat arwah Harlan tenang dan Kamu juga mendapat pahala. Lupakan semuanya dan melangkah ke depan. Harlan tidak ditakdirkan menjadi jodohmu. Insya Allah akan ada pria lain yang akan menjadi jodohmu kelak...,” kata pak Maher bijak.


“ Iya Pak, insya Allah Saya akan mengikuti semua saran Bapak. Terima kasih...,” sahut dokter Anisa sambil tersenyum.


“ Sama-sama. Akan lebih baik jika Kamu juga memaafkan teman-teman Harlan..,” kata pak Maher.

__ADS_1


“ Baik lah. Saya ga punya alasan membenci mereka kan. Saya memaafkan mereka tapi Saya tak ingin mengenal mereka lagi...,” sahut dokter Anisa sambil tetap menatap kearah luar.


“ Bagaimana bisa Kamu tak mengenal Kami, Kita kan bakal sering ketemu di pabrik nanti dok...,” sela Sydra.


“ Aku sudah resign dari pabrik itu. Terlalu banyak kenangan di tiap sudutnya dan itu membuatku sesak nafas. Dan Kau, berpikir lah sebelum bertindak. Supaya tak ada lagi korban yang jatuh karena ulahmu...,” kata dokter Anisa tanpa mau menatap Sydra.


“ Iya, terima kasih karena sudah memaafkan Kami dan mengingatkanku...,” sahut Sydra salah tingkah.


Tanpa menjawab ucapan Sydra, dokter Anisa pun pergi meninggalkan ruangan itu. Pak Maher dan Iyaz pun melepaskan sang dukun yang terlihat ketakutan itu lalu membiarkannya pergi begitu saja.


“ Apa Bapak tak ingin menasehati dukun itu...?” tanya Sydra.


“ Yang Aku ucapkan tadi harusnya cukup dan bisa membuatnya sadar. Hanya Allah yang bisa memberi hidayah pada hambaNya, Kita tak punya kuasa untuk melakukannya karena hidayah itu datangnya dari Allah...,” sahut pak Maher hingga membuat semua orang mengangguk.


Tak lama kemudian mereka meninggalkan ruangan itu setelah mendoakan pria tanpa nama yang jasadnya telah menghilang tanpa bekas di lantai ruangan itu.


\=====


Sedangkan lingkungan tempat mereka tinggal pun kembali kondusif, aman dan tentram. Tak ada lagi hantu Gavin atau Urai yang mengganggu warga yang melintas di jalan saat malam hari. Ternyata hal itu terjadi setelah warga dan para ulama menggelar pengajian besar-besaran di masjid untuk mendoakan almarhum Gavin dan Urai. Bahkan mereka menggelar pengajian selama tiga hari berturut-turut khusus untuk mendoakan Gavin dan Urai.


Keluarga Gavin dan Urai pun merasa senang dengan perhatian yang diberikan warga pada anak mereka. Semua berharap setelah ini almarhum Gavin dan Urai bisa pergi dengan tenang. Dan harapan mereka pun terwujud hingga perlahan semua orang bisa melupakan terror yang terjadi setelah kematian Gavin dan Urai.


\=====


Malam itu Sydra nampak sedang berjalan seorang diri. Sydra sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya usai berkumpul dengan teman-temannya di salah satu rumah teman mereka tadi. Sydra berjalan santai melewati jalan di samping kebun apel tempat ia pernah bertemu hantu Harlan dulu.


Entah mengapa saat itu Sydra mengedarkan pandangannya ke penjuru kebun apel. Hal yang tak pernah ia lakukan karena tak ingin melihat penampakan hantu atau sejenisnya.


Saat itu lah Sydra menangkap dua sosok manusia tengah berdiri di bawah salah satu pohon apel. Sydra mencoba menajamkan penglihatannya karena tak yakin jika yang dilihatnya adalah manusia.


“ Itu orang apa hantu ya. Kok malam-malam kaya gini ada di kebun berduaan. Mana mungkin ngobrol di bawah pohon jam segini.  Jangan-jangan mereka pencuri...,” gumam Sydra.


Namun semakin Sydra menajamkan penglihatannya, Sydra pun semakin mengerutkan keningnya karena merasa kenal dengan kedua sosok itu. Dan Sydra terkejut bukan kepalang saat mengenali dua sosok itu yang tak lain adalah Gavin dan Urai.

__ADS_1


“ Ga..., Gavin. Ur..., Urai...,” panggil Sydra lirih namun cukup membuat kedua pria itu menoleh kearahnya dan


tersenyum lebar.


Sydra pun mematung di tempatnya saat melihat kedua temannya itu melangkah kearahnya. Sydra mengerjapkan mata beberapa kali untuk meyakinkan jika apa yang dilihatnya hanya ilusi.


“ Kenapa Lo Syd, kaya baru ngeliat Kita aja...,” sapa Gavin sambil melirik kearah Urai.


“ Iya, kok Kita ga disambut sih. Ga kangen Lo sama Kita...?” tanya Urai sambil tersenyum.


“ Ka..., Kalian kenapa masih di sini...?” tanya Sydra memberanikan diri.


“ Jelas lah Kami di sini. Di sini kan tempat Kami tinggal, tumbuh besar dan meninggal...,” sahut Gavin ringan sambil tersenyum.


“ Tapi kenapa gangguin Gue...?” tanya Sydra.


Hantu Gavin dan Urai tertawa keras mendengar pertanyaan Sydra.


“ Yang gangguin Lo tuh siapa Syd. Justru Kita mau nemenin Lo biar ga kesepian dan bingung pas masuk ke dunia yang berbeda...,” sahut Urai.


“ Maksud Lo apa...?” tanya Sydra tak mengerti.


“ Kan sekarang Lo sama kaya Gue dan Gavin. Sama-sama hantu...,” sahut Urai sambil tersenyum.


“ Apa, ga mungkin...?!” jerit Sydra tak percaya.


“ Kalo ga percaya liat ke sana...,” sahut hantu Gavin sambil menunjuk kerumunan orang di tengah jalan.


Sydra melihat kearah yang ditunjuk Gavin dan terkejut. Di sana ia melihat tubuhnya terbaring berlumur darah dengan kepala pecah di kolong sebuah mobil yang berhenti di tengah jalan. Ia juga melihat beberapa orang tengah menarik paksa supir mobil supaya keluar dan bertanggung jawab pada jasad pria yang terlindas ban mobilnya itu. Rupanya Sydra baru saja menjadi korban kecelakaan dan tewas di lokasi dengan kondisi mengenaskan.


Sydra jatuh terduduk karena tak menyangka jika dirinya ‘sudah mati’ sama seperti Gavin dan Urai.


\=====

__ADS_1


__ADS_2