
Para pekerja yang masih berdiri di pinggir galian pun diminta menjauh dari tempat itu. Mereka mengangguk lalu bergegas menjauh meninggalkan Izar yang masih berdiri mengamati di pinggir lubang galian.
Izar mengerutkan keningnya saat melihat cahaya kehijauan itu perlahan meredup. Kemudian ia memberanikan diri
mengikis bongkahan tanah itu dengan ujung besi untuk melihat asal cahaya itu. Izar menghela nafas panjang saat merasakan aura mistis yang tadi ia rasakan ikut memudar bersama lenyapnya cahaya kehijauan itu.
“ Ya Allah, semoga ini bukan pertanda buruk dan ga mengganggu semua pekerja itu...,” gumam Izar lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
\=====
Keesokan harinya Izar kembali ke titik penggalian itu bersama Iyaz yang sengaja datang untuk menepati janjinya. Mandor proyek pun mendatangi mereka dan menyampaikan temuan anak buahnya kepada Iyaz dan Izar.
“ Tadi malam Anak-anak nemu batu Topaz ini di lubang Pak...,” kata mandor bernama Usep itu sambil memperlihatkan sebuah batu berwarna hijau.
Izar meraih batu itu, mengamatinya sejenak lalu menyerahkannya kepada Iyaz.
“ Apa para pekerja mengalami gangguan selama di sini Pak...?” tanya Izar.
“ Alhamdulillah mereka baik-baik aja Mas. Mereka adalah orang yang Saya pilih langsung karena pengalaman mereka bekerja di lahan baru kaya gini. Mereka udah biasa menghadapi gangguan mistis atau sejenisnya, jadi Mas Izar ga perlu khawatir mereka terluka...,” sahut Usep sambil tersenyum.
“ Syukur lah kalo begitu. Saya ga mau mereka sakit gara-gara kerja di sini...,” kata Izar.
“ Insya Allah mereka aman Mas...,” sahut Usep mantap hingga membuat Izar tersenyum.
“ Batu ini lumayan bagus Zar...,” kata Iyaz tiba-tiba.
“ Iya Yaz. Terus baiknya diapain ya batu ini...?” tanya Izar.
“ Maaf kalo Saya lancang. Batu Topaz ini bagus dijadiin perhiasan seperti batu cincin atau liontin kalung Mas...,” sahut Usep.
“ Gitu ya. Tapi Saya dan Iyaz ga suka pake cincin batu Pak. Kalo Pak Usep mau, batu ini buat Pak Usep aja...,”
kata Izar.
“ Beneran buat Saya Mas...?” tanya Usep dengan mata berbinar.
“ Iya Pak...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
Usep pun menerimanya dengan senang hati. Usep membayangkan akan membuat sepasang cincin yang dihiasi batu itu untuknya dan sang istri nanti. Setelah menerima batu itu Usep pun pamit untuk mengecek pekerjaan anak buahnya.
__ADS_1
“ Pak Usep orang yang jujur, Aku salut sama dia...,” kata Izar.
“ Betul Zar. Padahal bisa aja dia langsung mengklaim batu itu sebagai miliknya karena anak buahnya yang nemuin.
Tapi dia malah milih ngasih tau Kita dengan resiko kehilangan batu itu...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
Keduanya pun bersiap beranjak pergi karena tak menemukan kejanggalan di lubang galian itu. Namun langkah mereka terhenti saat sebuah cahaya kehijauan kembali menyeruak di balik pori-pori tanah di dalam lubang galian. Keduanya bertahan di sana karena penasaran dengan sesuatu yang ada di balik cahaya hijau itu.
Ternyata Iyaz dan Izar diperlihatkan sebuah kilasan peristiwa yang terjadi ratusan tahun silam.
Saat itu seorang pria bernama Wasal tengah berjalan menyusuri jalan dengan tubuh terhuyung-huyung. Bukan karena mabuk tapi karena Wasal tengah kelaparan setelah beberapa hari tak makan dan hanya minum air. Akhirnya tubuh lemah Wasal pun jatuh tersungkur karena tak kuasa menahan lapar.
Saat itu Wasal terjatuh dekat akar sebuah pohon beringin yang besar dan menjulang tinggi. Wasal nampak memejamkan mata karena tak sanggup menatap cahaya matahari yang bersinar terik.
“ Ya Tuhan, apa Aku akan mati sekarang ?. Kalo memang iya Aku siap Tuhan. Aku sudah ga sanggup lagi menjalani
hidup yang sulit ini. Aku dihina, direndahkan, dicampakkan hanya karena Aku miskin dan tak punya apa-apa. Padahal semua bukan mauku. Aku berusaha hidup jujur seperti ajaran orangtuaku tapi mana hasilnya. Aku malah dibenci, dimusuhi, difitnah dan dibuang kaya sampah. Apa Aku harus jadi orang jahat supaya bisa setara dengan mereka semua. Aku capek, maafkan Aku Tuhan...,” rintih Wasal dalam hati.
Tiba-tiba sebuah suara menyapanya. Wasal terkejut lalu membuka matanya. Di depan sana ia melihat sosok pria tua tengah berdiri sambil menatapnya lekat. Pria itu mengulurkan sebuah benda berbentuk bongkahan batu berwarna hijau kearah Wasal.
“ Ambil ini dan ubah lah hidupmu...,” kata pria tua itu.
“ Kau bisa menjualnya atau memilikinya sebagai jimat keberuntungan...,” sahut pria tua itu.
Wasal pun bangkit lalu menerima batu kehijauan itu. Ia nampak takjub dengan kilauan batu itu hingga membuat rasa laparnya hilang. Setelah merasa kondisi tubuhnya membaik, Wasal pun menoleh kearah pria tua itu untuk mengucapkan terima kasih namun pria tua itu raib entah kemana. Tak mau ambil pusing Wasal pun menyimpan batu itu di balik pakaiannya lalu melanjutkan langkahnya.
Sejak memiliki batu itu Wasal mengalami keberuntungan bertubi-tubi. Ia bertemu seorang saudagar kaya yang kehilangan kantung uangnya.
“ Siapa pun yang menemukan kantong uangku maka Aku akan mengabulkan keinginannya...,” kata sang saudagar dengan gusar.
Mendengar hal itu semua orang pun berlomba mencari kantong uang sang saudagar termasuk Wasal yang kebetulan melintas di tempat itu. Wasal berhasil menemukan kantong uang sang saudagar dan menyerahkannya kepada pemiliknya. Setelah mengecek isinya, sang saudagar tersenyum lalu bertanya pada Wasal.
“ Apa yang Kau inginkan sebagai imbalannya...?” tanya sang saudagar.
“ Pekerjaan...,” sahut Wasal mantap.
“ Pekerjaan, kenapa bukan uang atau perhiasan...?” tanya sang saudagar.
“ Karena Aku butuh pekerjaan. Dan dengan pekerjaan itu Aku bisa menghasilkan uang yang halal untuk mencukupi
__ADS_1
kebutuhan hidupku nanti...,” sahut Wasal.
Jawaban Wasal membuat sang saudagar kagum. Ia pun memberi pekerjaan kepada Wasal menjadi pengurus kuda di rumahnya. Wasal pun senang karena mendapat pekerjaan, gaji sekaligus tempat tinggal di waktu bersamaan.
Efek dari batu itu pun membuat Wasal dikagumi semua orang termasuk sang saudagar dan putrinya. Bahkan putri
saudagar yang bernama Mayang Jati melihat Wasal sebagai pria tampan, berpendidikan dan memilik kharisma hingga membuatnya jatuh hati.
Tunangan Mayang Jati yang bernama Purba pun tak terima saat Mayang Jati memutuskan pertunangan mereka karena ia tertarik pada Wasal. Dengan uang dan kekuasaanya, Purba pun berniat menyingkirkan Wasal. Ia menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Wasal.
Wasal yang menyadari dirinya menjadi incaran Purba pun berusaha menjelaskan jika dirinya dan Mayang Jati tak
memiliki hubungan. Rupanya cinta Mayang Jati hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi kemarahan Purba tak terbendung. Ia tetap memburu Wasal yang melarikan diri ke dalam hutan.
Wasal yang kelelahan berlari memilih berhenti di sebuah sungai untuk beristirahat di atas sebuah batu. Saat Wasal tertidur, Purba menembakkan anak panah kearahnya dari tempat yang tersembunyi. Anak panah mengenai sasaran tapi bukan Wasal melainkan mengenai jantung Mayang Jati.
Ternyata Mayang Jati menjadikan dirinya tameng untuk pria yang ia cintai itu. Ia meninggal tepat di atas tubuh
Wasal. Darah mengalir membasahi tubuh Wasal yang berasal dari luka Mayang Jati. Darah itu terus mengalir hingga menembus pakaian Wasal dan mengenai batu hijau itu. Dalam sekejap batu itu bersinar terang dan sinarnya melesat cepat kearah Purba dan pasukannya hingga mereka pun tewas di tempat.
Wasal terkejut saat mengetahui batu pembarian pria tua itu telah memakan korban jiwa. Ia memutuskan mengubur batu itu bersama jasad Mayang Jati. Wasal meletakkan batu kali di atas batu hijau dan jasad Mayang Jati. Setelahnya Wasal pergi meninggalkan tempat itu dan tak pernah kembali.
Selama ratusan tahun batu itu terkubur bersama jasad Mayang Jati dan akhirnya ditemukan lagi oleh para pekerja bangunan di proyek milik perusahaan Erik.
Iyaz dan Izar menghela nafas panjang usai melihat kilasan peristiwa itu.
“ Batu yang dilumuri darah dari jantung seorang gadis suci memang memiliki kekuatan besar yang sulit ditandingi. Kita harus menolong Pak Usep sebelum hal buruk terjadi padanya...,” kata Izar.
“ Iya Zar...,” sahut Iyaz.
Keduanya bergegas mengejar Usep yang terlihat pergi mengendarai motornya untuk mengurus kiriman pasir yang
tertunda.
“ Kita terlambat...,” kata Iyaz gusar.
Izar terdiam karena khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Usep dan keluarganya.
Bersambung
__ADS_1