Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
328. Air Mata


__ADS_3

Dugaan Yusuf pun terbukti. Sejak hari itu anak-anak penghuni panti kerap diganggu penampakan kuntilanak laki-laki yang menyeramkan itu. Tidak hanya berdiri dengan posisi terbalik, kuntilanak laki-laki itu bahkan menunggui anak-anak saat mereka buang hajat di toilet.


Pernah satu ketika anak-anak yang sedang bermain di halaman menjelang Maghrib melihat penampakan kuntilanak itu yang menggantung dengan posisi terbalik di dahan pohon rambutan. Melihat hal itu anak-anak yang ketakutan menjerit dan berlarian ke dalam panti.


Yusuf yang mendengar penuturan anak-anak pun memutuskan membuat peraturan baru. Lima belas menit menjelang Maghrib anak-anak harus berada di dalam musholla untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah. Berbeda dari biasanya yang membolehkan anak-anak ke musholla saat adzan sudah berkumandang.


Gangguan masih berlanjut. Malam hari saat anak-anak belajar di ruang tengah, kuntilanak itu merayap seperti


cicak di jendela kaca. Ia juga berjalan mondar mandir di halaman dengan posisi kayang dan wajah menyeringai untuk menakuti anak-anak.


Tek... tek... tek...


“ Suara apaan tuh...?” tanya anak panti bernama Rudi.


“ Ga tau...,” sahut Soni sambil menulis jawaban di buku.


Tek... tek... tek...


“ Apaan sih, kayanya dari jendela itu deh...,” kata Irfan hingga membuat semua anak menoleh ke jendela.


Mereka terpaku melihat sosok kuntilanak tengah merayap dari atas jendela kaca sambil menyeringai dengan lidah menjulur, mata melotot dan tatapan yang mengancam. Ditambah wajah yang rusak dan berlumur darah itu makin membuat anak-anak gemetar ketakutan.


Bisa ditebak reaksi anak-anak saat melihatnya. Mereka menjerit histeris bahkan menangis hingga membuat suasana di dalam panti menjadi tegang dan menakutkan.


Kemudian Yusuf dan para pengurus panti memutuskan mengundang seorang ustadz untuk meruqyah tempat itu.


“ Ga cukup sekali meruqyah tempat ini Pak, perlu tiga sampe lima kali karena aura mistis di sini pekat sekali...,” kata sang ustadz kala itu.


“ Gapapa Pak, Kami ikut aja apa yang Pak Ustadz katakan...,” sahut Yusuf mewakili pengurus panti lainnya.


“ Insya Allah dua hari lagi Saya baru bisa balik lagi ke sini, karena besok Saya harus menghadiri undangan di tempat lain...,” kata sang Ustadz.


“ Baik, Kami tunggu kehadirannya. Makasih Pak Ustadz...,” sahut Yusuf sambil tersenyum.


Sementara itu di sebuah toilet terlihat seorang anak sedang membuang hajat. Anak laki-laki itu nampak memainkan air di dalam ember tanpa menyadari sepasang mata tengah mengawasi gerak-geriknya.


Usai membersihkan diri anak itu terkejut melihat sosok makhluk yang belakangan menerror panti datang


mendekatinya dengan cepat. Anak itu terpaku saat melihat wajah menyeramkan makhluk itu yang dengan cepat melompat kearah area vitalnya. Saat makhluk itu menarik alat vitalnya maka anak itu pun mati dengan mata membelalak. Lalu dengan santai makhluk itu mengunyah alat vital rampasannya itu tepat di depan jasad korbannya. Hingga jeritan anak lain mengejutkannya dan membuatnya bergegas pergi.


Suara jeritan anak itu mengejutkan semua orang. Karena khawatir terjadi sesuatu, Yusuf dan dua pengurus panti

__ADS_1


mendatangi toilet sedangkan pengurus panti lainnya berusaha menenangkan anak-anak.


Saat tiba didepan toilet, Yusuf melihat seorang anak berdiri kaku dengan wajah pucat sambil menunjuk ke dalam


toilet yang pintunya terbuka. Yusuf dan dua pengurus panti menoleh dan melihat seorang anak laki-laki tanpa pakaian dalam, tewas bersimbah darah dalam posisi terlentang  di lantai. Dari organ vitalnya terlihat darah mengalir deras. Dan saat diamati, terlihat jelas jika alat vital anak itu hilang !.


“ Inna Lillahi wainna ilaihi roji’uun...,” kata Yusuf dan dua pengurus panti bersamaan.


Salah seorang pengurus panti pun memeluk anak yang menyaksikan kematian temannya itu dengan erat lalu membawanya menjauh dari tempat itu. Sedangkan Yusuf dan rekannya memindahkan jasad anak itu lalu menyiapkan pemakamannya.


Yusuf dan pengurus panti berharap terror kuntilanak laki-laki selesai setelah menjalani ruqyah, namun ternyata


terror terus berlanjut dan korban pun berjatuhan setiap hari. Hingga akhirnya semua penghuni dan pengurus panti meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. Sebagian dari mereka tewas dengan alat kel*min raib entah kemana.


Iyaz dan Izar menyudahi penglihatan mereka dengan perasaan berkecamuk. Ada rasa kesal, marah, iba, sedih semua bercampur menjadi satu. Di depan sana tepatnya di bawah pohon terlihat kuntilanak itu menyeringai seolah mengejek Iyaz dan Izar.


Kuntilanak laki-laki itu tampil dengan wujud aslinya berupa pria berambut panjang gimbal dengan pakaian


lusuhnya yang mirip daster itu. Permukaan kulit wajah dan seluruh tubuhnya nampak dipenuhi koreng yang bernanah dan berdarah hingga bau menguar di sekitar tempatnya berdiri. Kuku tangan dan kakinya panjang lancip dan berwarna hitam menjijikkan. Tubuhnya sedikit bungkuk dengan tatapan tajam dari mata yang


besar. Air liur berwarna kuning kemerahan nampak menetes dari mulutnya yang berwarna semerah darah. Air liur itu membasahi pakaiannya saat ia melihat Iyaz dan Izar seolah melihat makanan lezat di hadapannya.


“ Kalian terlambat...,” kata makhluk itu.


“ Iya. Itu salah mereka karena telah mengganggu kesenanganku...,” sahut makhluk itu.


“ Lalu apa maksudmu memancing Kami ke sini...?” tanya Izar.


“ Tentu saja Kalian adalah calon korban yang sempurna. Aku ga sabar menikmati darah Kalian...,” sahut makhluk


itu sambil menjulurkan lidahnya yang basah dan merah itu untuk menjilati bibirnya sendiri.


Mendengar jawaban kuntilanak laki-laki itu membuat Iyaz dan Izar melengos kesal. Namun itu hanya sesaat


karena saat berikutnya Iyaz dan Izar langsung merangsek maju menyerang makhluk itu bersama-sama. Karena tak siap menerima serangan si kembar, makhluk itu pun jatuh terjengkang di tanah dengan suara berdebum diiringi bau amis yang menguar.


Iyaz dan Izar nampak mundur lalu meraih minyak wangi yang telah diruqyah dari saku dan mengoleskannya di bawah hidung untuk menetralisir bau yang mengganggu. Setelahnya mereka memercikkan minyak wangi itu ke sekitar pohon hingga kuntilanak itu menjauh dari ‘sarangnya’ karena terganggu dengan aroma minyak wangi itu.


Setelah makhluk itu menjauh dari pohon rambutan, dengan sigap Izar membakarnya sedangkan Iyaz menghadang serangan makhluk itu dengan tangan terkembang. Melihat sarang alias rumahnya dibakar oleh Izar, makhluk itu menjerit marah.  Ia berusaha menyerang Izar namun berhasil dihalau Iyaz.


Gerakan cepat Iyaz dan Izar dalam menyerang mencerminkan kemarahan mereka pada makhluk itu. Mereka tak memberi kesempatan makhluk itu untuk membalas serangan. Si kembar terus menghujani makhluk itu dengan serangan yang cepat dan terus menerus hingga makhluk itu nampak kewalahan dan berkali-kali jatuh ke tanah dengan luka di sekujur tubuh dan wajahnya.

__ADS_1


Kemudian Iyaz dan Izar membentangkan sebuah sorban yang mereka pegang di keempat sudutnya. Setelahnya


mereka berlari cepat kearah makhluk itu dengan posisi sorban terkembang untuk menjeratnya. Makhluk itu berusaha menghindar namun terlambat. Iyaz dan Izar berhasil menangkapnya lalu mengikat keempat ujung sorban hingga makhluk itu tak bisa bergerak. Kemudian mereka melemparkan makhluk yang telah terbungkus sorban itu kearah pohon rambutan yang terbakar.


Saat tubuh makhluk itu menyentuh pohon rambutan, terjadi ledakan dahsyat hingga menggetarkan tanah di dalam area panti. Iyaz dan Izar langsung menelungkup di tanah agar tak terkena efek ledakan yang terjadi beberapa kali itu. Keduanya saling melindungi kepala kembarannya dengan telapak tangan masing-masing. Tangan Izar menutupi belakang kepala Iyaz, demikian pula sebaliknya.


Dua menit kemudian suasana pun menjadi hening. Iyaz dan Izar mengangkat kepala lalu menoleh kearah pohon


rambutan itu. Mereka melihat pohon rambutan habis terbakar hingga ke akarnya lalu tumbang ke tanah. Kemudian pohon itu menghitam menjadi arang lalu hancur jadi abu.


Iyaz dan Izar bergegas bangkit lalu menyiramkan abu sisa pohon rambutan itu dengan air hingga perlahan abu itu meresap ke tanah dan hilang sama sekali.


“ Alhamdulillah...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Terima kasih...,” kata sebuah suara.


Iyaz dan Izar menoleh lalu melihat arwah Yusuf lah yang bicara mewakili arwah anak-anak dan pengurus panti.


“ Maafkan kami karena datang terlambat...,” kata Izar dengan suara serak.


“ Bukan salah Kalian. Ini terjadi belasan tahun yang lalu dan saat itu Kalian pun pasti masih kecil...,” sahut arwah Yusuf bijak.


“ Jadi Kalian yang memanggil Kami ke sini...?” tanya Iyaz.


“ Iya...,” sahut arwah anak-anak itu bersamaan sambil tersenyum.


Mendengar jawaban anak-anak itu membuat Iyaz dan Izar menitikkan air mata. Mereka berkali-kali mengusap wajah mereka yang basah dengan punggung telapak tangan mereka. Baru kali ini mereka menangis usai membantu arwah-arwah yang tersesat.


“ Sekarang Kami harus pergi...,” kata arwah Yusuf menyadarkan Iyaz dan Izar.


“ Iya, maaf kalo membuat Kalian menunggu...,” sahut Izar sedih.


“ Gapapa Om. Yang Om lakukan ini udah membuat Kami senang lho. Makasih ya Om Izar dan Om Iyaz...,” kata arwah Zidan sambil menyentuh tangan Izar hingga membuat Izar terharu.


“ Sama-sama Nak. Pergi lah, semoga Kalian tenang di sana...,” sahut Iyaz sambil mengusap kepala Zidan dengan lembut.


Kemudian Iyaz dan Izar membaca doa


untuk mengantar arwah penghuni dan pengurus panti itu kembali ke haribaan Allah


Swt.

__ADS_1


Sebelum meninggalkan area panti, Iyaz dan Izar kembali menatap ke seluruh penjuru panti. Setelahnya mereka keluar dari panti, menutup pintu gerbang lalu berjalan perlahan menuju penginapan.


Bersambung


__ADS_2