
Acara pemakaman Darius berjalan lancar. Semua keluarga, kerabat, teman dan handai taulan ikut mengantar kepergian Darius kembali ke haribaan Allah Swt.
Tak ada tangis berlebihan apalagi tangis histeris yang mengiringi pemakaman pria bijaksana dan welas asih itu. Anak, menantu, cucu, buyut dan keluarga mengantar kepergian Darius dengan air mata dan senyum tulus karena yakin Darius telah menunaikan semua tugasnya di dunia dengan baik dan akan mendapat pahala yang setimpal atas kebajikannya selama ini.
“ Selamat jalan Opa...,” kata Iyaz dan Izar lirih.
“ Semoga Opa tenang dan bahagia di sana...,” bisik Hanako sambil mengusap permukaan tanah makam Darius yang ditaburi bunga.
“ Opa telah menyelesaikan tugasnya di dunia dan harus kembali pada Sang Khalik. Kini tugas Kita meneruskan dan mewujudkan semua petuah baik Opa agar Kita bisa jadi orang-orang yang lurus dan istiqomah menjalankan perintah agama. Membantu sesama dengan kemampuan yang Kita miliki dengan tetap berpegang teguh pada aturan Allah Swt...,” kata Fatur.
“ Iya Opa...,” sahut Hanako dan si kembar bersamaan.
Perlahan para pelayat pun meninggalkan area pemakaman satu per satu. Suasana duka masih membayangi keluarga Darius yang memilih bertahan di sana lebih lama. Mereka juga membersihkan dan menaburkan bunga di atas makam Gendis yang berada tepat di samping makam Darius.
Terlihat kesedihan di wajah Farah, Fajar dan Fatur. Mereka menekuri makam Darius dan Gendis sambil menitikkan air mata. Di samping mereka pasangan mereka masing-masing ikut berdiri mendampingi untuk memberi suport.
“ Papa..., Mama..., Kalian pasti bahagia ya sekarang. Udah ketemu dan bisa kumpul lagi. Tinggal Aku, Fajar sama Fatur yang di sini...,” kata Farah dengan suara bergetar.
“ Tapi Kakak ga sendirian lho. Ada Bang Erik yang setia nemenin Kakak...,” kata Bilqis sambil berbisik.
“ Iya, Kamu bener Qis. Ada Inez juga yang nemenin Fajar dan Kamu yang nemenin Fatur...,” sahut Farah sambil tersenyum.
“ Betul Far. Kita sama-sama mengawal Anak dan Cucu Kita seperti yang Papa dan Mama lakukan dulu...,” kata Inez sambil merangkul Farah.
“ Iya Nez, iya Kak...,” sahut Farah dan Bilqis bersamaan.
Kemudian ketiganya saling memeluk sambil tersenyum. Erik, Fajar dan Fatur pun ikut tersenyum bahagia melihat tingkah istri mereka.
Setelahnya mereka melangkah meninggalkan pemakaman sambil bergandengan tangan. Meski kesedihan mendominasi namun mereka berusaha tegar dan tersenyum. Bukan karena mereka tak merasa kehilangan tapi justru karena mereka ikhlas melepas kepergian Darius.
\=====
__ADS_1
Sepulang dari makam, Patih meminta agar semua anggota keluarga berkumpul di rumah kediaman Darius dimana Fatur dan keluarganya tinggal. Semua setuju apalagi akan digelar pengajian sekaligus mengirim doa untuk almarhum Darius dan Gendis.
Setelah pengajian usai semua keluarga berkumpul di ruang tengah sambil mengenang Darius dan Gendis. Tawa menggema di ruangan saat Fatur menceritakan tingkah lucu kedua orangtuanya itu. Fajar dan Farah pun bergantian menceritakan pengalaman mereka saat bersama melewatkan masa anak, remaja hingga masuk ke sebuah pernikahan.
Patih nampak tersenyum menyaksikan tingkah anak, cucu dan buyut sang kakak saat mengenang mereka.
“ Kenapa Yah...?” tanya Yasmine hati-hati.
“ Gapapa Bun. Aku bangga jadi bagian keluarga ini, walau Aku sebenarnya bukan siapa-siapa. Hanya orang asing yang ga punya hubungan darah sama Oma mereka...,” sahut Patih dengan mata berkaca-kaca.
“ Jangan ngomong kaya gitu Yah. Kakak pasti marah kalo tau Kamu ngomong kaya gitu...,” kata Yasmine mengingatkan.
“ Iya, Aku sampe lupa kalo Kakakku itu super cerewet. Ga akan cukup seratus kata yang keluar dari mulutnya untuk ngebahas satu hal. Sampe kupingku terasa panas, baru deh dia berhenti...,” sahut Patih sambil tertawa.
Yasmine ikut tertawa membayangkan sang suami dimarahi oleh kakak iparnya itu. Tawa mereka memancing anggota keluarga yang lain menoleh kearah keduanya.
“ Wah kayanya Om sama Tante punya kenangan sendiri nih sama Mama dan Papa...,” kata Fajar.
“ Kami mau dengar dong Opa...,” rengek Hanako.
“ Yakin mau dengerin...?” tanya Patih.
“ Yakin...,” sahut semua bersamaan hingga membuat Patih dan Yasmine tertawa.
Kemudian mengalir lah cerita dari mulut Patih tentang Gendis. Masa kanak-kanak, remaja, hingga saat Gendis bertemu dengan Darius dan menikah dengannya. Termasuk kekhawatiran Patih saat sang kakak akan diajak hijrah ke kota lain oleh Darius.
Mereka mengenang Gendis dan Darius hingga dini hari. Kemudian tidur sejenak dan bangun saat adzan Subuh berkumandang.
\=====
Faiq sedang dalam perjalanan mengantar Farah untuk mengambil pakaian ganti di rumah mereka dengan menggunakan mobil. Saat itu Hanako dan si kembar juga ikut serta. Mereka melewati jalan dimana terdapat jembatan yang dibawahnya mengalir sebuah sungai.
__ADS_1
Saat itu lah mereka melihat seorang wanita yang tengah hamil besar berdiri di atas jembatan dan tengah menatap kearah sungai. Dari posisinya bisa ditebak jika wanita itu berniat bunuh diri. Faiq pun menghentikan mobil yang dikendarainya itu secara tiba-tiba. Hanako yang mengenali wanita itu sebagai salah satu senior di kampusnya pun segera turun dari mobil.
“ Jangan...!” teriak Faiq dan Hanako bersamaan hingga mengejutkan wanita itu.
Keduanya dengan sigap maju untuk menahan tubuh wanita itu yang nampak bersiap untuk meloncat ke bawah. Merasa niatnya dihalangi wanita itu pun menjerit dan meronta kemudian menangis histeris. Farah pun turun membantu lalu memeluk wanita itu erat.
“ Lepaskan Aku, biarkan Aku mati. Aku ga mau hidup lagi...!” kata wanita itu di sela tangisnya.
“ Sabar Mbak, jangan kaya gitu. Semua masalah bisa diselesaikan dengan baik. Jangan ambil jalan pintas kaya gini, dosa. Apa Mbak ga sayang sama bayi dalam kandungan Mbak...?” tanya Farah lembut.
“ Untuk apa Aku hidup kalo orang yang harusnya bertanggung jawab udah pergi Bu...,” sahut wanita itu sambil menangis.
“ Sssttt..., tenangkan dirimu. Sekarang gimana kalo Kamu ikut Kami ya...,” bujuk Farah karena ia tahu wanita itu pasti menolak jika diantar ke rumahnya.
“ Tapi Bu...,” sahut wanita itu ragu.
“ Gapapa, Kami juga ga lagi ada urusan darurat kok. Jadi Mbak bisa ikut sama Kami...,” kata Faiq menengahi.
“ Baik lah Saya ikut Ibu kalo ga merepotkan...,” sahut wanita itu sambil menatap Farah lekat.
Farah tersenyum lalu mengangguk. Dengan sigap Faiq membukakan pintu untuk Farah dan wanita itu. Hanako pun duduk di depan menggantikan Farah sedangkan si kembar pindah ke kursi belakang.
Wanita itu nampak mengusap matanya yang basah akibat banyak menangis. Farah nampak mengusap punggung wanita itu dengan lembut agar wanita itu bisa lebih tenang.
“ Maafkan Saya udah bikin Ibu dan keluarga repot...,” kata wanita itu membuka percakapan.
“ Ga masalah, kenalkan Saya dokter Farah. Itu Anak dan cucu Saya...,” kata Farah memperkenalkan diri.
“ Nama Saya Rima...,” sahut Rima lirih hingga mengejutkan Faiq.
Kemudian Faiq melirik kearah Rima melalui kaca spion, mengamatinya sejenak lalu mengangguk seolah yakin jika Rima adalah mantan pacar Abin. Wanita yang telah menolak Abin hingga menyebabkan kematian Abin.
__ADS_1
\=====