
Saat hari menjelang fajar kembali Neta tebangun. Kali ini dia langsung terduduk dengan mata terpejam. Sedangkan Bayan dan istrinya serta ketiga kakak Neta telah bangun dan sedang bersiap untuk menjalankan sholat Subuh. Mereka sengaja tak membangunkan Neta karena Neta sedang berhalangan dan membiarkannya tidur lebih lama karena hari libur.
Neta terduduk tegak sambil memejamkan mata . Saat itu Neta seperti tengah dibawa berkelana pada masa dimana terlihat seorang gadis tengah duduk menunggu kehadiran seseorang di sebuah tempat.
Gadis bernama Laudya itu berkali-kali menoleh kearah yang sama berharap pria yang ditunggunya segera datang. Yah, ternyata Laudya sedang menunggu kekasihnya. Mereka telah membuat janji akan bertemu siang ini di tempat dimana Laudya menunggu.
Kekasih Laudya bernama Sofian, adalah seorang supir pribadi dari keluarga kaya raya. Sedangkan Laudya adalah guru les privat yang mengajar mata pelajaran umum untuk anak bungsu keluarga kaya raya itu.
Bisa ditebak bagaimana awal pertemuan Laudya dan Sofian. Mereka bertemu saat Laudya sedang mengajar putra
bungsu keluarga itu yang terkenal memiliki pengendalian emosi yang sulit atau autis.
Saat itu Laudya kesulitan menghadapi anak yang sedang mengamuk karena tak mau belajar. Laudya sudah mengatakan pada kedua orangtua anak itu agar tak memaksa sang anak belajar karena tak baik untuknya. Tapi orangtua sang anak tak peduli. Mereka memberi perintah pada baby sitter untuk menyiapkan semua perlngkapan sekolah sang anak dan memaksanya belajar saat itu juga.
Dan sang anak menolak dengan caranya sendiri yaitu mengamuk dan menangis. Tidak hanya itu, sang anak juga
melempar benda apa pun yang ada di dekatnya kearah pengasuhnya termasuk Laudya. Kedua wanita itu berusaha menghindar dan mencoba menenangkan sang anak.
“ Kita ga bisa maksain Rafa untuk belajar Mbak, percuma. Dia ga siap buat nerima pelajaran hari ini...,” kata Laudya.
“ Saya tau Bu. Tapi kan Nyonya udah bilang kaya gitu tadi, Saya ga berani nolak...,” sahut sang baby sitter.
“ Apa Rafa suka ngamuk kaya gini Mbak. Kok Saya malah ngeri ya ngeliat cara Rafa ngamuk ini malah bisa membahayakan dirinya dan banyak orang nanti...,” kata Laudya lagi.
“ Sering Bu, kalo ga sayang sama Rafa rasanya Saya juga udah pengen berhenti aja. Abis Rafa itu kan ga bisa
ditebak emosinya. Tapi kedua orangtuanya seolah ga mau tau. Mereka bikin peraturan seolah Rafa ini sama kaya Kakaknya yang normal itu...,” keluh sang baby sitter.
“ Maksud Kamu Rafa ini ga normal...?” tanya Laudya.
“ Iya, Rafa ini autis Bu. Dia ga boleh terlalu senang atau terlalu sedih. Semua keinginannya harus terpenuhi, kal ga yah kaya gini deh...,” sahut sang baby sitter sambil menghindar saat Rafa kembali melemparkan benda yang ada d dekatnya.
Tiba-tiba Laudya melihat jika Rafa meraih asbak kaca dan melemparnya ke sembarang arah. Saat itu Laudya tak bisa menghindar dan hanya memejamkan matanya membayangkan rasa sakit yang akan menerpanya saat asbak kaca itu mengenai tubuhnya nanti.
Tapi Laudya tak merasa sakit. Bahkan suasanamendadak hening. Saat Laudya membuka matanya. Ia melihat
__ADS_1
Rafa sedang dpeluk oleh seorang pria dari belakang tubuhnya. Ajaib. Rafa terlihat tenang dan menganggukkan kepalanya saat pria itu membisikkan kalimat yang menenangkannya.
“ Itu siapa Mbak...?” tanya Laudya.
“ Alhamdulillah, Mas Sofian datang...,” sahut sang baby sitter.
“ Siapa Mas Sofian...?” tanya Laudya lagi.
“ Dia supir pribadi Nyonya Bu. Orangnya baik, dan Raka suka sama dia. Raka selalu nurutin semua yang dibilang sama Mas Sofian. Cuma Mas Sofian yang bisa nenanangin Raka kalo lagi ngamuk Bu...,” sahut sang baby sitter sambil melangkah mendekat kearah Sofian dan Raka.
Raka terlihat lebih tenang dan nampak menurut saat sang baby sitter membawanya pergi untuk mengganti pakaiannya yang kotor dan basah itu. kemudian Sofian pun menghampiri Laudya sambil tersenyum.
“ Bu guru gapapa kan...?” tanya Sofian santun.
“ Iya gapapa Mas...,” sahut Laudya.
“ Saya Sofian...,” kata Sofian sambil mengulurkan tangannya.
“ Saya Laudya...,” sahut Laudya sambil menyambut uluran tangan Sofian.
Sejak saat itu lah Laudya dan Sofian makin dekat dan memutuskan untuk menjalin kasih.
Lamunan Laudya berakhir saat mendengar langkah kaki yang mendekat. Laudya tersenyum karena mengira jika itu
adalah Sofian. Namun beberapa saat dinanti nampaknya Sofian tak melakukan apa pun selain hanya berdiri di belakang Laudya.
Karena tak sabar Laudya pun menoleh dan matanya menyipit saat menyaksikan wajah Sofian yang babak belur itu.
“ Muka Kamu kenapa Mas...?” tanya Laudya.
“ Gapapa, ini hanya jatuh kemarin...,” sahut Soian.
“ Ga mungkin hanya jatuh. Ini kaya luka abis dipukulin Mas. Kamu berkelahi ya, sama siapa...?” desak Laudya.
“ Udah gapapa. Aku ke sini hanya mau bilang kalo Kita harus berakhir...,” kata Sofian.
__ADS_1
Laudya mematung dan mencoba menajamkan pendengarannya. Ia menatap Sofian lekat, namun Sofian hanya menunduk sambil meraba wajahnya yang lebam itu.
“ Maksud Kamu apa Mas, Kita putus...?” tanya Laudya hati-hati.
“ Iya...,” sahut Soian cepat.
“ Tapi kenapa, apa salahku Mas...?” tanya Laudya.
“ Ga ada, Kamu ga salah apa-apa. Hanya aja Kamu terlalu baik buat Aku Laudya. Aku malu. Aku khawatir Kamu ga akan bahagia sama Aku nanti. Jadi daripada terus memberi harapan kosong sama Kamu, lebih baik Kita putus sekarang. Kamu bisa mencari pria lain yang lebih baik dari Aku. Maaf...,” kata Sofian sambil menatap Laudya.
“ Haapan kosong. Maksudmu selama ini Kamu ga serius sama hubungan Kita Mas...?” tanya Laudya tak terima.
“ Aku emang suka sama Kamu Laudya tapi bukan cinta. Ada wanita lain yang bikin Aku jatuh hati...,” sahut Sofian.
“ Jadi Kamu selingkuhin Aku Mas...?” tanya Laudya dengan tatapan kecewa.
“ Aku ga selingkuh Laudya. Aku jatuh cinta lebih dulu sama wanita itu. tapi aku merasa ga akan mungkin bisa memilikinya, makanya Aku terima perhatianmu dan Kita jadian. Tapi belakangan Aku dan dia makin dekat. Ternyata Kami saling tertarik dan memutuskan untuk menjalin hubungan serius. Tapi itu hanya bisa terjadi kalo Aku memutuskan hubungan Kita karena Aku ga mau menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus dalam waktu yang sama...,” kata Sofian panjang lebar.
Laudya pun menangis. Hatinya hancur, impiannya musnah. Setelah mengatakan semua yang harus ia katakan,
Sofian pun melangkah meninggalkan Laudya seorang diri. Laudya menangis melihat tubuh pria yang ia cintai itu menjauh lalu menghilang dari hadapannya.
“ Kenapa Mas, kenapa Kamu bikin Aku sakit hati kaya gini. Aku ga terima...,” gumam Laudya sambil meremas gaunnya.
Tiba-tiba Laudya merasa jika kepalanya pusing dan semua yang dilihatnya mendadak berputar. Laudya memejamkan mata dan mendengar suara lantunan ayat suci di sampingnya. Terasa dekat dan menenangkan. Saat membuka mata ia melihat ada Iyaz, Izar dan Kyai Hamzah tengah duduk tak jauh darinya. Ketiganya nampak sedang mengaji dan berdzikir.
“ Kamu udah sadar Neta...?” tanya Bayan hingga membuat Neta tersentak.
“ Ayah...,” panggil Neta lirih.
“ Iya Nak. Ini ada Ustadz Hamzah, Iyaz dan Izar. Ayah sengaja mengundang mereka untuk membantumu Nak...,” kata Bayan.
“ Membantuku...?” tanya Neta yang diangguki Bayan.
Rupanya Neta kerasukan arwah Laudya tadi. Neta bahkan menjerit dan meracau tak jelas dalam posisi duduk tegak. Karena khawatir, Bayan pun pergi menemui ustadz Hamzah dan membawanya ke rumah mereka bersama si kembar.
__ADS_1
\=====