Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
113. Saran Ayah


__ADS_3

Hanako, Iyaz dan Izar nampak tertawa bahagia karena memiliki waktu bersama sebelum Iyaz berangkat melanjutkan studynya ke luar negeri.


Iyaz memang mendapat beasiswa dari universitas Al Azhar Mesir atas prestasinya di pesantren selama ini. Iyaz pun


merundingkan hal ini dengan kedua orangtuanya yang mendukung sepenuhnya keputusan apa pun yang diambil Iyaz.


“ Apa Aku harus pergi Yah...?” tanya Iyaz sambil menikmati makan malam di meja makan bersama keluarganya.


“ Kenapa, Kamu ragu-ragu...?” tanya Faiq.


“ Aku ngerasa bakal jauh dari keluarga dan itu ga enak. Enam tahun di pesantren yang cuma satu jam setengah


dari rumah aja bikin Aku kangen apalagi harus berjauhan dengan jarak beda negara kaya gini. Pasti bakal tambah kangen dan sulit pulang nantinya...,” sahut Iyaz sendu.


“ Ck, ck, ck. Apaan sih Yaz, berangkat aja lah. Ngapain mikirin yang kaya gitu sih. Kami ga kemana-mana juga kok. Lagian kan enak bisa kuliah di luar negeri. Ga semua orang dapat kesempatan emas kaya Kamu bisa kuliah di Al Azhar lho Yaz, apalagi dapat beasiswa langsung dari sana. Masa Kamu ga mau manfaatin kesempatan ini semaksimal mungkin. Banyak orang harus test ini dan itu supaya bisa masuk ke sana, Kamu kan tinggal masuk aja. Jangan jadi orang kufur nikmat deh Yaz..,” kata Izar ketus.


“ Sssttt..., Izar. Jangan ngomong gitu dong Nak...,” lerai Shera sambil mengusap punggung Izar lembut.


“ Abis ngeselin banget sih Bun. Alasannya tuh ga masuk akal banget, ga jelas...,” sahut Izar kesal.


“ Kalo Kamu bingung, lebih baik sholat istikhoroh ya Nak, minta petunjuk sama Allah. Kami semua di sini memang


mendukungmu pergi ke Mesir, tapi Kami ga tau apakah itu yang terbaik untukmu. Karena yang baik menurut manusia belum tentu yang terbaik menurut Allah. tapi kalo menurut Allah itu yang terbaik, Allah pasti akan memberimu kemudahan dan kekutan tekad untuk berangkat...,” kata Faiq menengahi.


Iyaz dan Izar saling menatap sejenak kemudian menatap ayah mereka sambil mengangguk.

__ADS_1


“ Ayah Kalian benar, lebih baik tanya langsung sama Allah. Opa dan Oma dukung apa pun nanti keputusanmu...,” kata Erik yang diangguki Farah.


“ Kalo Aku jadi Iyaz, Aku pasti pergi Opa. Itu artinya Aku menghargai usaha dan relasi Ustadz Hamzah yang memang punya hubungan baik sama kampus Al Azhar selama ini. Beberapa tahun ini baru Iyaz yang bisa berangkat karena nilai Iyaz memang sangat tinggi. Dulu pernah ada yang berangkat ke sana tapi udah beberapa tahun yang lalu. Makanya Ustadz Hamzah berharap Iyaz mau berangkat kali ini...,” sahut Izar berapi-api.


“ Gapapa Nak, Iyaz masih punya waktu untuk memutuskan hal itu. Ingat, jangan merasa terbebani saat menjalaninya nanti karena itu ga baik. Kalo Kamu mutusin berangkat, itu artinya Kamu pergi karena Kamu merasa memang sangat memerlukan ilmu itu untukmu dan kemaslahatan umat. Jadi Kamu bisa enjoy menjalani studymu nanti. Kalo Kamu berangkat hanya karena ingin memenuhi tuntutan guru dan keluargamu, lebih baik jangan pergi. Kamu akan tersiksa nanti apalagi Kamu ada di negeri orang dan jauh dari keluarga. Ayah ga mau Kamu jadi mahasiswa sampah sekembalinya dari Mesir nanti...,” kata Faiq sambil meneguk kopinya.


Ucapan Faiq membuat Iyaz tersentak, namun sesaat kemudian ia tersenyum lalu mengangguk. Ia senang sang ayah bicara tegas padanya saat itu. Iyaz berjanji dalam hati untuk menjalani saran ayahnya nanti sebelum memutuskan berangkat ke Mesir.


“ Apa Ayah ga malu kalo Aku ga jadi berangkat ke Mesir padahal jelas kemarin diumumkan di depan khalayak ramai kalo Aku bakal nerima beasiswa itu dan berangkat ke Mesir...?” tanya Iyaz hati-hati.


“ Lho kenapa harus malu. Kamu masih bisa kuliah di kampus dalam negeri kok. Kan banyak juga kampus dalam negeri yang rekomended. Ayah malu kalo Kamu melakukan kejahatan. Batal berangkat ke Al azhar kan bukan kejahatan...,” sahut Faiq santai.


“ Jadi gapapa Yah...?” tanya Iyaz sekali lagi.


“ Insya Allah gapapa. Tapi sebelum mutusin kuliah di dalam negeri, ada baiknya Kamu sholat istikhoroh biar dapat kepastian ya Nak...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Sama-sama Nak...,” sahut Faiq tenang.


Erik dan Farah saling menatap sejenak lalu mengangguk. Mereka bahagia melihat interaksi Faiq dengan anak-anaknya. Meski pun sebagai kepala keluarga Faiq bisa saja memaksakan kehendaknya, namun Faiq memilih bersikap bijak dengan tak memaksa Iyaz untuk pergi jika tak sesuai dengan keinginan hatinya.


Shera pun nampak kagum dengan sikap suaminya itu. Jika di luaran sana para ayah akan memaksa sang anak berangkat memenuhi undangan kampus terkenal itu dengan alasan untuk mengangkat derajat keluarga dan sebagainya, tapi Faiq malah bersikap sebaliknya.


“ Kenapa ngeliat Ayah kaya gitu Bun, baru sadar ya kalo Suamimu ini ganteng...?” tanya Faiq menggoda Shera yang sedang menatapnya intens.


“ Apaan sih Kamu Yah, geer aja...,” sahut Shera malu-malu.

__ADS_1


Jawaban Shera membuat semua orang yang ada di sana tertawa. Suasana ruang makan yang semula tegang pun perlahan mencair. Hanako yang sejak tadi diam saja mendengarkan pembicaraan Faiq dengan si kembar pun ikut tertawa. Hanako senang karena bisa ada di tengah keluarga yang demokratis dan tak kaku dengan aturan keluarga.


“ Enak banget Kamu Yaz. Bisa diskusi panjang lebar sama Papa tanpa ada rasa tertekan. Beda banget sama Aku...,” celetuk Hanako hingga membuat semua orang menatap kearahnya.


“ Emangnya Ayah Kamu ga kaya gitu Ci...?” tanya Farah sambil mengusap mulutnya dengan tissu.


“ Ayah itu kan tegas cenderung kaku Oma. Waktu Aku mau kuliah di Jogja aja ga boleh. Padahal kan Aku udah janjian sama teman Aku buat kuliah bareng di Jogja dulu...,” sahut Hanako.


“  Ayahmu bukan kaku Nak. Ayahmu peduli dan sayang sama Kamu. Mungkin Ayah Kamu berpikir akan sulit membantumu jika tinggalmu jauh dari sini. Apalagi kalo Kamu lagi menghadapi gangguan makhluk astral. Kalo di sini kan ada Papa, Opa Fatur, Iyaz dan Izar yang bakal siap membantumu kapan aja...,” kata Erik sambil tersenyum.


“ Lagian Kamu kan Cucu cewek Oma satu-satunya. Oma ga mau dong kalo Kamu kenapa-kenapa. Bisa-bisa Ayahmu itu yang Oma gasak duluan...,” gurau Farah.


“ Betul Ma. Sebelum Ayah Kamu mutusin itu, Ayah sama Bunda Kamu juga ke sini kok buat diskusi. Setelah mendengar masukan dari Oma, Opa dan Papa, baru Ayahmu mengambil keputusan deh...,” kata Shera menjelaskan.


“ Oh, jadi ini keputusan bersama...?” tanya Hanako sambil menatap semua orang bergantian.


“ Iya...,” sahut Erik, Farah, Faiq dan Shera bersamaan hingga membuat Hanako tersenyum.


“ Makanya ga usah ngeluh mulu Ci. Jalanin aja takdirmu yang ga bisa kemana-mana...,” kata Izar sambil mengedipkan matanya.


“ Siapa bilang Aku ga bisa kemana-mana. Kamu tunggu aja nanti pas Aku selesai wisuda dan dapat kerjaan yang Oke. Aku bakal buktiin kalo Aku bisa mandiri juga kaya Kalian...,” sahut Hanako sambil melengos.


“ Udah debatnya. Gimana kalo Kita jalan-jalan buat ngisi waktu liburan Kita...?” tanya Iyaz.


“ Setuju...!” sahut Hanako dan Izar bersamaan.

__ADS_1


Ketiganya pun mulai membicarakan liburan seru mereka. Erik, Farah, Faiq dan Shera hanya menggelengkan kepalanya saat menyaksikan tingkah ketiganya yang berubah-ubah. Berdebat, bertengkar, musuhan, lalu dalam sekejap kembali akur dan tertawa bersama seolah tak pernah terjadi apa pun tadi.


\=====


__ADS_2