Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
282. Tunggu !


__ADS_3

Melihat Pieter yang kesakitan akibat ulah arwah  Malini membuat hati Thalia tergugah. Ia ingat jika saat menikahinya Pieter juga bersumpah atas nama Tuhan. Karenanya Thalia merasa berhak mengklaim Pieter sebagai miliknya.


“ Jangan pergi Pieter, bertahan lah untukku !. Ingatlah, Kamu juga bersumpah atas nama Tuhan untuk selalu menjagaku dan rumah tangga Kita. Kau juga bersumpah akan setia menemaniku hingga akhir hayat Kita. Ingat lah itu Pieter...!” kata Thalia lantang sambil berurai air mata.


Thalia juga terus memeluk Pieter erat. Melihat sikap keras kepala Thalia yang justru menyakiti Pieter membuat pendeta Xavier pun menggelengkan kepala dan berusaha membujuk Thalia.


“ Lepaskan Pieter Nak, Kamu membuatnya tersiksa...,” kata pendeta Xavier.


“ Ga mau. Pieter harus menepati sumpahnya saat menikahiku...!” sahut Thalia lantang.


Ucapan Thalia membuat sukma Pieter dilema. Satu sisi ia ingin menunaikan sumpahnya pada Thalia, tapi sisi lainnya sumpahnya yang lebih dulu terucap membuatnya tak berdaya.


Pieter menjerit keras saat hantu Malini kembali menarik tali merah itu. Pieter menatap Thalia sambil menggelengkan kepalanya.


“ Aku tak sanggup lagi Thalia, maafkan Aku. Lepaskan Aku Thalia, kumohon...,” pinta Pieter sambil menangis hingga membuat Thalia tersentak.


Thalia menatap wajah Pieter yang mulai membiru. Urat di seluruh permukaan tubuhnya menyembul keluar dan tubuhnya pun gemetar. Thalia tahu jika Pieter sangat kesakitan saat itu lalu Thalia pun mengangguk.


“ Baik lah Sayang, Aku akan melepaskanmu. Pergilah bersamanya. Pergi lah Piet...,” kata Thalia sambil menangis.


Pieter mengangguk sambil tersenyum. Tangannya terulur mengusap air mata di wajah Thalia. Dengan lembut Thalia mengecup tangan Pieter yang mulai dingin itu. Pieter pun mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Thalia untuk beberapa saat.


“ Terima kasih Sayang, Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu, selamanya...,” kata Pieter lirih dan diangguki Thalia.


Kemudian tangan Pieter terkulai lemah di samping tubuhnya, nafasnya yang tadi tersengal-sengal pun berangsur tenang dan perlahan kedua matanya pun tertutup. Sesaat kemudian Pieter pun pergi.


Thalia pun menangis histeris saat mengetahui Pieter meninggal dunia. Sedangkan hantu Malini nampak tertawa bahagia saat benang merah yang menghubungkannya dengan sukma Pieter berhasil menarik Pieter keluar dari raganya. Ia menyambut Pieter sambil memeluknya erat.


Semua orang yang ada di dalam ruangan nampak berduka. Pendeta Xavier pun maju untuk memperbaiki posisi Pieter dibantu Faiq.


Sementara itu Fatur, Iyaz dan Izar masih melihat arwah Malini dan Pieter di dalam ruangan. Malini nampak tersenyum menyambut kedatangan Pieter sedangkan Pieter hanya diam sambil menatap Thalia yang tengah menangisi jasadnya.


Sebelum pergi meninggalkan ruangan, arwah Malini masih mengucapkan terima kasih kepada Faiq dan keluarganya.


“ Terima kasih. Kalian telah membantu menyempurnakan sumpah Kami...,” kata hantu Malini.


“ Sama-sama. Pergi lah dan berbahagia lah bersamanya...,” sahut Izar mewakili keluarganya.


“ Iya...,” sahut hantu Malini sambil menggamit lengan Pieter.


Perlahan arwah Malini dan Pieter melayang ke atas. Pieter masih memanggil nama Thalia seolah tak rela meninggalkan istrinya. Sesaat kemudian kedua arwah itu melesat cepat ke langit dan hilang begitu saja.

__ADS_1


Thalia masih menangisi jasad Pieter yang mulai dingin itu. Faiq pun menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.


Tak lama kemudian dokter pun datang untuk mengecek pasien dan memastikan waktu kematiannya.


“ Pasien meninggal dunia tiga menit yang lalu, itu artinya sekitar pukul sembilan malam lebih tiga belas menit. Kami turut berduka cita atas meninggalnya Pak Pieter...,” kata sang dokter yang diangguki Thalia.


“ Suster tolong bantu urus dokumen kematiannya ya...,” pinta sang dokter.


“ Baik dok...,” sahut perawat lalu keluar dari ruangan.


“ Biar Kami yang ngurus administrasinya...,” kata Iyaz sambil menggamit lengan Izar lalu mengikuti perawat tadi.


“ Iya Nak, terima kasih...,” sahut pendeta Xavier.


\=====


Pemakaman Pieter berjalan khidmat. Keluarga Pieter yang menghadiri prosesi pemakamannya pun nampak sedih. Namun Thalia lah yang terlihat paling terpukul dengan kematian suaminya. Ia menyesal karena terlambat mengetahui penyebab penyakit Pieter.


“ Simpan lah cerita ini untuk dirimu sendiri Nak. Jangan sebarkan aib Suamimu itu meski pun pada orangtuanya sekali pun...,” bisik pendeta Xavier.


“ Baik Pak Pendeta, terima kasih...,” sahut Thalia.


Setelah prosesi pemakaman Pieter selesai dan sebagian pelayat membubarkan diri, Faiq dan Fatur yang datang melayat pun mendekati makam Pieter. Mereka berdiri di samping makam Pieter sesaat untuk memberi penghormatan terakhir.


\=====


Iyaz dan Izar tengah berjalan santai menuju ke ruangan mereka saat melihat beberapa orang tengah memenuhi


loby. Beberapa orang terlihat memadati meja receptionist, sebagian lain menyebar di ruangan loby. Dari penampilan mereka keduanya paham jika mereka adalah para pelamar kerja.


“ Memang Divisi mana yang sedang membutuhkan karyawan Zar...?” tanya Iyaz.


“ Ga tau Yaz...,” sahut Izar sambil menekan tombol lift.


“ Kalian terlalu cuek sih, jadi ada urusan sederhana kaya gini aja ga paham...,” kata Hanako tiba-tiba sambil menyelinap masuk ke dalam lift mendahului kedua sepupunya itu.


“ Ck, kebiasaan nih Bumil. Nyerobot aja...,” gerutu Izar.


“ Biarin...,” sahut Hanako santai sambil tersenyum.


“ Jadi Divisi mana yang lagi perlu tambahan karyawan baru Ci...?” tanya Iyaz.

__ADS_1


“ Divisi Marketing sama Divisi Operasional Yaz...,” sahut Hanako.


“ Kok Kamu ga tau Zar, itu kan tanggung jawab Kamu...,” kata Iyaz sambil menepuk punggung Izar.


“ Ck, iya iya ntar Aku tanya sama Pak Leon...,” sahut Izar sambil meringis.


Iyaz pun menekan tombol angka tujuh saat pintu lift mulai tertutup. Namun tiba-tiba suara seorang wanita mengejutkan Iyaz, Izar dan Hanako. Wanita itu meminta agar mereka menunggunya.


“ Tunggu...!” kata suara itu.


Iyaz segera menekan tombol untuk membuka pintu lift yang nyaris tertutup itu. Saat pintu terbuka lebar mereka tak mendapati apa pun atau siapa pun di sana. Ketiganya menunggu beberapa saat namun nihil. Tak ada seorang pun yang masuk ke dalam lift.


Setelah memastikan tak ada siapa pun yang hendak masuk ke dalam lift, Iyaz pun membiarkan lift tertutup. Lift pun naik perlahan menuju lantai tujuh.


“ Bukannya tadi ada suara cewek yang minta tungguin ya...?” tanya Hanako.


“ Iya. Makanya Aku langsung tekan tombol tadi...,” sahut Iyaz.


“ Tapi kok ga ada siapa-siapa ya...,” kata Izar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“ Jangan-jangan hantu...,” sahut Iyaz.


“ Kalo hantu juga kan Kita bisa liat Iyaazzz...,” kata Hanako gemas sambil mencubiti Iyaz.


Iyaz pun berusaha berkelit dari cubitan Hanako hingga membuat Izar tertawa. Hanako pun terpaksa membiarkan Iyaz lepas dari jangkauannya karena seseorang masuk ke dalam lift saat lift tiba di lantai empat.


“ Selamat pagi Pak, Bu...,” sapa sang karyawan dengan santun.


“ Selamat pagi...,” sahut Iyaz, Izar dan Hanako bersamaan.


Kemudian Hanako menepi ke samping dan mendekat kearah Izar sambil menatap Iyaz dengan kesal. Sementara sang karyawan terlihat tenang. Saat pintu lift terbuka di lantai tujuh, Iyaz pun keluar lebih dulu karena ingin menghindari kejaran Hanako. Sedangkan Izar menggandeng tangan Hanako lalu membawanya keluar dari lift dengan hati-hati.


“ Kami duluan ya...,” kata Izar mewakili kedua saudaranya itu.


“ Silakan Pak...,” sahut sang karyawan sambil tersenyum.


Saat pintu lift tertutup Iyaz, Izar dan Hanako kembali mendengar suara seorang wanita yang tadi meminta mereka menunggu.


“ Tunggu...!” kata suara wanita itu.


Iyaz, Izar dan Hanako pun saling menatap kemudian melihat ke dalam lift yang pintunya mulai tertutup. Saat itu lah mereka melihat siluet makhluk halus tengah berdiri mengungkung karyawan yang tadi menyapa mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2