
Kerumunan warga itu diliputi kepanikan karena kondisi para korban kebakaran yang kian lemah. Melihat hal itu
Iyaz dan izar pun turun tangan membantu.
“ Tolong kasih mereka ruang untuk bernafas, kalo dikerubutin kaya gitu yang ada mereka ga bisa nafas dan malah
meninggal nanti. Apa Kalian mau tanggung jawab...?!” kata Izar lantang.
Ucapan Izar mengejutkan sekaligus menyadarkan warga. Perlahan mereka menjauhi korban kebakaran yang terbaring di tanah itu. Hanya seorang pria yang bertahan karena ia sedang berusaha membantu
para korban. Dilihat dari cara berpakaiannya, Iyaz dan Izar yakin jika pria itu adalah seorang ustadz. Keduanya pun mendekati sang ustadz dan menyapanya.
“ Assalamualaikum Pak Ustadz, apa ada yang bisa Kami bantu...?” tanya Iyaz dengan santun.
Sang ustadz menoleh lalu tersenyum melihat kehadiran Iyaz dan Izar yang diyakini sebagai orang baik itu.
“ Wa alaikumsalam..., kebetulan Kalian datang. Tolong bantu Saya menyadarkan mereka ya...,” pinta sang ustadz
yang bernama Halim itu.
“ Baik Ustadz...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Yang lain tolong pinjamkan kain atau sarung untuk menutupi aurat mereka ya...,” kata ustadz Halim sambil menatap kearah warga yang berkerumun.
“ Baik Pak Ustadz...,” sahut beberapa warga lalu bergegas pulang mengambil kain atau sarung sesuai permintaan Ustadz Halim.
Tak lama kemudian mereka pun kembali dengan membawa kain dan sarung yang diserahkan kepada ustad Halim. Lalu ustadz Halim melangkah mendekati para korban kebakaran yang tengah berbaring itu. Saat melihat Qiana yang menyamar menjadi laki-laki itu berdiri tak terlalu jauh dari para korban, sang ustadz pun memanggilnya dan memintanya untuk membantu.
“ Kamu..., ke sini...,” kata ustadz Halim sambil menunjuk kearah Qiana.
“ Saya Pak Ustadz...?” tanya Qiana sambil mengarahkan telunjuknya ke wajahnya sendiri.
“ Iya Kamu, siapa lagi memangnya...,” sahut ustadz Halim sambil tersenyum.
__ADS_1
Dengan ragu Qiana maju ke depan menghampiri ustadz Halim yang nampak menyodorkan kain sarung kearahnya. Qiana nampak bingung, sedangkan ustadz Halim yang mengira Qiana adalah laki-laki pun meletakkan kain sarung itu ke telapak tangannya.
“ Daripada bengong di situ, lebih baik Kamu bantuin nutupin aurat mereka ya...,” kata ustadz Halim.
Ucapan ustadz Halim membuat Izar dan Qiana terkejut. Bahkan Izar yang sedang memberi minum salah satu korban pun bangkit dan menghampiri sang ustadz.
“ Biar Saya aja Pak Ustadz. Kebanyakan orang juga ga baik buat korban. Dan Kamu, sana jauhan. Ganggu
aja...,” kata Izar ketus sambil menatap lekat kearah Qiana.
Qiana yang merasa ‘diselamatkan’ oleh Izar nampak mengangguk lalu bergegas menjauh dan berdiri di belakang kerumunan warga. Dalam hati Qiana merasa bersyukur karena berhasil lolos dari melihat sesuatu yang tak seharusnya meski pun ia sedikit kesal dengan ucapan Izar tadi.
Iyaz yang sedang membantu korban kebakaran pun mencium keanehan pada sikap kembarannya itu. Iyaz merasa jika sikap Izar sedikit possesif. Namun Iyaz merasa bukan waktu yang tepat untuk bertanya banyak hal pada Izar.
Kemudian ustadz Halim dan Izar bergerak menutupi aurat para korban. Hanya auratnya saja karena keduanya
khawatir jika luka bakar yang diderita para korban akan bertambah sakit jika terkena kain nanti. Para korban yang menderita luka bakar hingga 70% itu terdengar merintih kesakitan. Wajah mereka sulit dikenali hingga warga pun
Setelah para korban siuman, ustadz Halim nampak tersenyum. Warga pun sedikit bernafas lega saat melihat para
korban mulai merintih dan menggerakkan tubuh mereka.
Ustadz Halim pun mulai bicara untuk mengingatkan semua warga yang hadir di sana.
“ Kejadian hari ini adalah salah satu bukti kekuasaan Allah Subhanahu Wata’ala. Kita saksikan bersama bagaimana
api yang besar, yang sudah membakar semuanya tiba-tiba padam dengan sendirinya padahal Kita semua bingung karena tak tau lagi gimana cara memadamkan api itu bukan...?” tanya ustadz Halim.
“ Iya Ustadz...,” sahut warga bersamaan.
“ Di titik ini Allah lagi-lagi memperlihatkan kekuasaanNya. Lihatlah mereka, orang-orang yang terbaring di tanah itu sudah terjebak dalam api sekian lama. Yang kalo menurut ukuran Kita, harusnya mereka tak bisa selamat tapi ternyata Allah masih selamatkan mereka dan mengijinkan mereka hidup. Satu hikmah yang bisa diambil adalah Allah masih memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memperbaiki diri. Berarti Allah menyayangi mereka dan Kita semua yang hadir di sini karena Allah juga mengijinkan Kita menjadai saksi dari kekuasaan Allah ini...!” kata ustadz Halim dengan lantang.
Semua warga yang berkerumun termasuk para korban kebakaran nampak tersentak kaget mendengar ucapan ustadz Halim. Selama ini mereka selalu menganggap ucapan ustadz Halim hanya bualan atau sekedar slogan belaka. Namun saat mereka menyaksikan ‘kejadian tak masuk akal’ dengan mata kepala mereka sendiri, mereka pun sadar.
__ADS_1
Warga nampak menundukkan kepala. Wajah mereka terlihat merah padam karena menahan malu. Sedangkan salah satu dari enam korban kebakaran itu terlihat berusaha bangkit dengan susah payah. Izar pun tergerak membantu hingga korban kebakaran itu bisa duduk sambil meringis menahan sakit.
“ Pak Ustadz Halim benar, Saya mengaku salah. Maafin Saya ya Pak Ustadz karena selama ini selalu membangkang. Saya selalu mengabaikan nasehat Ustadz. Padahal Ustadz hanya mau ngajak Saya kearah yang benar. Maafin Saya Pak Ustadz...,” kata korban kebakaran itu dengan lirih dan penuh penyesalan.
Ada air mata yang mengalir di wajahnya hingga membuat ustadz Halim iba lalu mendekatinya.
“ Saya udah maafin Kamu sebelum kamu minta maaf Tono. Sekarang Kamu tau kalo perbuatanmu selama ini sesat dan menyesatkan orang lain. Kamu liat buktinya kan. Iblis yang kamu banggakan itu malah membiarkanmu terbakar dan nyaris mati. Justru Allah yang Kamu abaikan justru meyelamatkanmu dan membiarkanmu hidup...,” kata ustadz Halim dengan lembut.
“ Iya. Saya menyesal Ustadz. Tolong bantu Saya untuk bertobat dan kembali ke jalan Allah ya Pak Ustadz...,” pinta Tono.
“ Kami juga Pak Ustadz...!” kata lima korban kebakaran lainnya secara bersamaan hingga membuat ustad Halim tersenyum.
“ Insya Allah...,” sahut ustadz Halim dengan mata berkaca-kaca.
Semua warga mengucap hamdalah secara bersamaan kemudian bertepuk tangan saat melihat lima korban kebakaran itu berhasil duduk walau harus menahan perih dan sakit.
Sedangkan Iyaz, Izar dan Qiana pun ikut tersenyum bahagia melihat warga menyadari kesalahannya dan berniat
bertobat.
“ Sebaiknya mereka dibawa ke Rumah Sakit Pak Ustadz, karena luka bakarnya bisa infeksi jika tak ditangani dengan benar...,” saran Iyaz.
“ Saya setuju...,” sahut ustadz Halim.
Kemudian warga menghubungi Rumah Sakit terdekat untuk membawa para korban kebakaran. Tak lama kemudian tiga ambulans pun tiba. Warga bergerak membantu mengangkat enam korban kebakaran itu ke dalam ambulans. Setelahnya beberapa warga ikut mendampingi korban kebakaran ke Rumah Sakit untuk mengurus administrasi.
Setelah para korban kebakaran dibawa ke Rumah Sakit, warga pun mulai membereskan sisa kebakaran secara
bergotong royong. Kedua mata Ustadz Halim dan Qiana nampak berkaca-kaca melihat rumah Ki Suta kini telah runtuh tanpa sisa. Ternyata keduanya memiliki kenangan yang berbeda terhadap rumah dan sepasang suami istri yang menghuni rumah itu yaitu Suta dan Ami.
“ Saya pribadi punya kenangan yang tak terlupakan di sini, di rumah ini bersama Pak Suta dan Bu Ami. Hampir semua orang pernah mampir dan ngobrol sama mereka dan kebanyakan dari mereka punya kenangan yang baik tentang Pak Suta dan Bu Ami. Bukan begitu Qiana...?” tanya ustadz Halim sambil menoleh kearah Qiana.
\=====
__ADS_1