Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
194. Penyesalan Sydra


__ADS_3

Gavin, Urai dan beberapa karyawan pabrik mematung sesaat usai menyaksikan tubuh Harlan tertabrak truk kontainer. Mereka tersadar saat supir kontainer menjerit dan keluar dari mobil lalu mendatangi Harlan yang sekarat.


“ Ya Allah..., gimana ini. Kok bisa ketabrak sih...?!” kata supir kontainer panik.


Dua orang security mendatangi mereka lalu mengecek nadi di pergelangan tangan Harlan.


“ Bawa ke klinik cepetan...!” kata salah seorang security.


Lalu Harlan pun digotong oleh kedua security itu dan dibawa cepat menuju ke klinik pabrik yang letaknya memang berada di lingkungan pabrik.


Semua mata karyawan pabrik melihat bagaimana tatapan sendu Harlan saat tubuhnya dibawa menjauh dari sana. Mereka nampak membalas tatapan Harlan dengan tatapan sedih dan penuh penyesalan.


“ Kok, jadi gini sih...,” kata Gavin tak mengerti.


“ Iya, padahal tadi Kita rencanain ini udah mateng bangret. Yang lain juga udah siap sama kue dan hadiah...,” sahut Sydra sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Mendengar ucapan Gavin dan Sydra membuat para karyawan pabrik menoleh dan bertanya.


“ Jadi ini semua cuma prank. Kalian ngerjain Kita juga...?” tanya salah seorang karyawan yang tadi meneriaki Harlan sebagai maling.


“ Iya...,” sahut Sydra dan Gavin bersamaan.


“ Kalian gila ya. Kok tega sih bikin kejutan kaya gini. Kasian kan Harlan...!” kata sang karyawan dengan lantang.


“ Kita lagi mau ngasih surprise ulang tahun buat Harlan. Kita juga ga nyangka bakal kaya gini jadinya...,” sahut Sydra cepat.


“ Tapi bukan kaya gini juga dong caranya. Lo pada ga tau sih gimana rasanya dikatain maling kaya tadi. Walau akhirnya Kita tau kalo itu cuma bercanda, tapi Harlan udah terlanjur malu dan sakit hati dikatain maling kaya tadi. Gue nyesel udah ikutan ngatain dia maling tadi...,” kata karyawan itu dengan nada menyesal.


“ Iya, Gue juga...,” sahut beberapa karyawan lain saling bersahutan.


Sydra, Gavin dan Urai serta beberapa teman lainnya pun saling menatap bingung. Nampaknya mereka baru sadar


jika surprise mereka kali ini sudah sangat keterlaluan dan membuat Harlan terluka.


“ Gimana nih Syd...?” tanya Gavin cemas.


“ Gimana lagi, ya Kita minta maaf lah sama si Harlan...,” sahut Sydra cepat.


“ Cuma gitu doang...?” tanya Urai.

__ADS_1


“ Iya, emangnya mau Lo Kita harus gimana...?” tanya Sydra.


Urai dan Gavin serta beberapa teman lainnya pun terdiam karena mereka tak tahu bagaimana harus bersikap setelah ini.


\=====


Sementara itu Harlan yang dibawa ke klinik sedang diobati oleh dokter Anisa. Sang dokter nampak telaten mengobati luka-luka Harlan.


“ Kenapa jadi kaya gini sih Lan...?” tanya dokter Anisa.


Harlan tak menjawab dan hanya bisa menatap sang dokter dengan tatapan sendu. Seperti mengerti jika Harlan


ingin mengatakan sesuatu, dokter Anisa pun mendekatkan telinganya ke mulut Harlan.


Entah apa yang diucapkan Harlan namun yang jelas dokter Anisa nampak menganggukkan kepalanya. Sesaat kemudian dokter Anisa nampak menarik kepalanya dengan wajah yang bersimbah air mata.


Karena luka yang diderita Harlan sangat parah, dokter Anisa pun merekomendasikan Harlan untuk dirawat di Rumah Sakit. Sore itu juga Harlan dibawa ke Rumah Sakit dengan menggunakan ambulans. Saat melihat ambulans terparkir di halaman pabrik maka para karyawan pun mengerti jika luka Harlan sangat parah dan membutuhkan perawatan segera.


“ Setelah itu Harlan ga pernah kembali ke pabrik...,” kata Sydra dengan suara bergetar.


“ Kenapa, apa dia meninggal...?” tanya Iyaz.


“ Lo dan temen-teme Lo ga nemuin dia buat minta maaf...?” tanya Iyaz.


“ Udah berkali-kali. Tapi Harlan selalu nolak kedatangan Kami...,” sahut Sydra.


“ Terus dia meninggal karena apa...?” tanya Iyaz.


“ Yang Gue denger dia meninggal karena bunuh diri, ga tau pake cara apa. Keliatannya dia depresi dan malu karena dikatain maling sama temen-temen waktu itu. Gue nyesel Yaz. Kalo aja Gue tau efeknya bakal kaya gini Gue juga ga mau ngelakuin itu...,” kata Sydra dengan wajah sedih.


“ Tapi bukannya Lo yang mau supaya surprise kali ini berkesan dan tak terlupakan ya...?” tanya Iyaz.


“ Iya sih...,” sahut Sydra tak enak hati.


“ Nah kalo gitu Lo berhasil kan. Lo berhasil bikin Harlan shock seperti niat Lo itu. Terus gimana, Lo puas sama hasilnya...?” sindir Iyaz.


“ Gue udah bilang kan kalo Gue


nyesel Yaz. Bukan ini maksud Gue...,” kata Sydra.

__ADS_1


“ Terus gimana Lo bisa mengira kalo kematian temen Lo ada hubungannya sama kasus surprise yang gagal itu...?” tanya Iyaz.


“ Gue didatengin hantu Gavin yang bilang kalo kematiannya gara-gara Gue. Gue juga terus menerus diterror sama hantu Gavin dan Urai. Walau Urai ga ngomong apa-apa tapi Gue tau kalo dia juga pasti nyalahin Gue. Yang terakhir saat hantu Harlan datang dan hampir membunuh Gue tempo hari. Untungnya Lo datang dan nolongin Gue. Kalo ga, Gue ga yakin masih bisa bernafas sampe detik ini...,” kata Sydra gusar.


“ Jadi yang berantem sama Gue itu hantunya Harlan...?” tanya Iyaz.


“ Iya...,” sahut Sydra sambil menundukkan kepalanya.


“ Pantesan aja dia ngomong kalo Gue bakal nyesel nolongin Lo. Ternyata itu toh sebabnya...,” kata Iyaz sambil melengos.


Melihat sikap Iyaz membuat Sydra tak enak hati. Ia khawatir Iyaz tak bersedia membantunya setelah tahu kejahatan apa yang telah ia lakukan pada Harlan dulu.


“ Apa Lo nyesel udah nolongin Gue Yaz...?” tanya Sydra.


“ Menurut Lo...?” tanya Iyaz sambil menatap kesal kearah Sydra.


“ Gue tau Lo pasti kesel sama ulah Gue. Tapi please Yaz, Gue mohon bantu Gue supaya Gue bisa bebas dari rasa bersalah ini...,” kata Sydra penuh harap.


“ Apa Lo bersedia melakukan apa pun yang Gue suruh...?” tanya Iyaz.


“ Asal itu bisa nebus kesalahan Gue, Gue pasti mau ngelakuin apa pun...,” sahut Sydra mantap.


“ Tapi sayangnya Gue ga yakin kalo apa yang Lo lakuin bakal bisa nebus semua kesalahan Lo sama Harlan. Lo ga tau kan kalo ulah Lo bukan hanya menyakiti Harlan tapi juga orang yang dia sayangi...,” kata Iyaz.


“ Gue tau, orangtuanya Harlan pasti sakit hati banget sama Gue kan...,” sahut Sydra.


“ Bukan cuma orangtuanya. Tapi calon Istri dan calon mertuanya juga sakit hati sama Lo...,” kata Iyaz.


“ Calon Istri. Kok Gue ga tau kalo Harlan punya calon Istri. Apa Gue kenal sama calon Istrinya itu...?” tanya Sydra.


“ Ga penting Lo kenal atau ga. Yang pasti Lo udah bikin cewek itu sakit hati berkepanjangan hingga dia melakukan sesuatu supaya Lo mati perlahan karena ketakutan diterror sama hantu Gavin, Urai dan Harlan...,” sahut Iyaz.


“ Ya Allah gimana nih Yaz...,” kata Sydra panik.


“ Lo sekarang tanya gimana, tapi waktu Lo bikin rencana Lo ga mau tau efek buruk yang bakal timbul nanti...,” kata Iyaz sambil mencibir.


“ Iya, iya. Gue tau Gue salah. Gue menyesal Yaz, sungguh...,” sahut Sydra dengan mata berkaca-kaca.


Melihat sikap Sydra menimbulkan rasa iba di hati Iyaz. Ia pun bersedia membantu Sydra asalkan Sydra bersedia tak membahas ini dengan orang lain. Sydra pun mengiyakan dan berjanji untuk tutup mulut dan tak menceritakan kelebihn Iyaz pada siapa pun.

__ADS_1


\=====


__ADS_2