Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
123. Cinta Inar


__ADS_3

Berita tentang talak yang dijatuhkan Suharsa untuk Niken dalam sekejap menyebar ke penjuru kampung. Warga dibuat heboh dan sebagian tak menyangka jika Niken mengguna-gunai Suharsa agar bisa menikahinya. mereka tak percaya karena selama ini Niken dikenal sebagai gadis yang baik meski pun berasal dari keluarga yang kurang mampu. Warga justru curiga pada Inar yang memang diketahui menyukai Suharsa.


“ Mungkin yang pake ilmu hitam malah si Inar. Dia ga rela Suharsa milih si Niken untuk jadi Istrinya. Bukannya wajar ya kalo Suharsa itu menikahi Niken yang sopan dan baik sama semua orang...,” kata seorang warga.


“ Iya. Lagian Niken punya uang darimana buat bayar dukun. Kan kalo mau ngerjain orang harus bayar mahal. Mana mungkin sanggup si Niken bayar dukun wong uang manggungnya aja selalu habis buat beli makanan keluarganya...,” sahut warga lainnya.


Tapi berita yang beredar tak bisa memanggil Niken kembali. Niken menghilang dengan membawa luka hati akibat ditalak suaminya di malam pertama pernikahannya tanpa tahu kesalahannya.


\=====


Setelah menceraikan Niken perasaan Suharsa tak jua membaik. Ia makin dibuat pusing karena tak mengerti dengan apa yang ia alami. Satu sisi ia menyesal telah menceraikan Niken dan tak memberi Niken kesempatan untuk membela diri. Satu sisi lagi Suharsa merasa jika Inar hanya mempermainkan perasaannya.


Ternyata setelah rumah tangganya dengan Niken hancur, Inar malah makin menjauh dari Suharsa. Inar membiarkan Suharsa menanggung derita akibat rindu yang tak bersambut itu. Apalagi Inar selalu beralasan jika orangtuanya tak setuju jika ia menjalin hubungan dengan Suharsa karena khawatir Suharsa akan memperlakukannya seperti memperlakukan Niken.


Karena tak tahan dengan rasa rindunya terhadap Inar, akhirnya Suharsa diam-diam mendatangi Inar di rumahnya. Inar pun menyambut kedatangan Suharsa lalu mengajaknya pergi ke suatu tempat.


“ Jangan ngomong di sini Kang. Kita cari tempat lain aja ya Kang...,” kata Inar yang diangguki Suharsa.


Tak ada bantahan dari mulut Suharsa saat Inar membawanya masuk ke dalam hutan larangan yang ada di pinggir kampung. Suharsa bagai kerbau yang dicucuk hidungnya karena menurut saja saat Inar memintanya melakukan sesuatu.


“ Buka bajumu Kang dan berbaring lah di atas batu itu...,” pinta Inar sambil tersenyum manis.


“ Kita mau apa di sini Inar...?” tanya Suharsa sambil mulai membuka bajunya sendiri.


“ Bukannya Kamu kangen sama Aku Kang...?” tanya Inar.


“ Iya...,” sahut Suharsa cepat.


“ Kita mau melepas rindu Kang. Karena Aku juga kangen sama Kamu. Aku mau buktikan apakah Kamu memang belum melakukan apa pun sama Niken di malam pertama Kalian waktu itu...,” kata Inar malu-malu hingga membuat Suharsa tertawa.

__ADS_1


“ Jangan ragukan kejujuranku Inar. Kamu bisa buktikan kalo Aku masih perjaka dan belum pernah melakukan itu dengan siapa pun termasuk Niken...,” sahut Suharsa bangga.


Entah setan mana yang merasuki, Suharsa pun rela melakukan ritual penyerahan diri pada Inar tanpa tahu jika ia telah menjadi tumbal dari ilmu sesat yang dianut Inar. Yang terjadi sesungguhnya adalah Suharsa telah menyerahkan keperjakaannya pada makhluk halus yang mendiami raga Inar.


Setelah persetubuhan itu berlangsung semalaman, Suharsa pun limbung, Ia menatap Inar dengan tatapan letih karena tak sanggup lagi ‘melayani’ hasrat liar Inar.


“ Aku capek Inar, Kita berhenti dulu ya...,” kata Suharsa dengan suara lirih.


“ Tapi Aku belum puas Suharsa...,” sahut makhluk dalam tubuh Inar dengan suara berat dan mendesis, jauh berbeda dengan suara Inar.


Menyadari suara Inar yang berbeda membuat Suharsa terkejut dan mencoba menajamkan penglihatannya. Suharsa terkejut saat melihat sosok makhluk menyerupai kalong wewe lah yang ada di atas tubuhnya bukan Inar. Suharsa refleks mendorong tubuh makhluk itu hingga makhluk itu tersingkir dari atas tubuhnya.


Makhluk itu tertawa lalu berdiri perlahan sambil membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah Suharsa. Saat itu lah Suharsa bisa melihat jelas makhluk apa yang mungkin sejak semalam bercinta dengannya. Makhluk perempuan berambut gimbal, dengan wajah menyeramkan dan mata yang membulat tanpa kelopak mata, tubuhnya berlendir dengan pa*udara besar yang menggantung hingga ke kaki dan pu**ng susu yang menyentuh tanah.


Suharsa bergidik ngeri dan menjerit sekencang-kencangnya. Ia mencari keberadaan Inar namun sayangnya tak ada Inar di sana. Suharsa makin takut saat makhluk itu mendekat kearahnya.


“ Si..., siapa Kamu. Mana Inar...?” tanya Suharsa dengan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya.


Suharsa bisa merasakan air liur dari mulut makhluk itu jatuh menetes membasahi perutnya, terasa dingin dan bau.


“ Apa maksud semua ini...?” tanya Suharsa lirih.


“ Kamu adalah tumbal dari perjanjian yang dibuat Inar denganku. Dengan menyerahkan keperjakaan lelaki yang paling ia cintai, maka Inar bisa mendapatkan apa pun keinginannya. Kaya, terkenal, digandrungi banyak lelaki dan menjadi yang tercantik dari semua gadis cantik yang ada di kampung ini...,” sahut makhluk itu sambil tertawa.


“ Jadi Inar yang udah mengguna-gunaiku bukan Niken...,” kata Suharsa dengan suara bergetar.


“ Betul dan Kau hanya alat untuk memuaskan keinginan Inar...,” sahut makhluk itu sambil berusaha mendekat lagi kearah Suharsa dengan mulut menyeringai.


“ Ja..., jangan. Aku mohon ampuni Aku. Ja..., jangan...,” kata Suharsa menghiba namun suaranya lenyap seiring

__ADS_1


putusnya urat nadi di lehernya saat taring makhluk itu membenam di leher Suharsa.


Dari balik rimbunan pohon terlihat tubuh Inar luruh ke tanah dengan wajah bersimbah air mata. Inar baru saja


menyaksikan Suharsa, pria yang paling ia cintai telah menjadi tumbal dari kesepakatan ilmu hitam yang ia anut.


“ Maafkan Aku Kang..., Kamu yang memaksaku melakukan ini...,” gumam Inar sambil terisak.


Di depan sana makhluk itu menghisap darah Suharsa hingga benar-benar habis dan tak bersisa. Setelahnya makhluk itu pergi karena merasa puas dengan persembahan pertama Inar.


“ Persembahanmu kali ini memuaskanku Inar. Tunggu hadiah yang akan Kau dapatkan setelah ini...,” kata sebuah suara tanpa wujud yang mengejutkan Inar.


“ I, iya Mbah...,” sahut Inar sambil menghapus air matanya.


Beberapa saat kemudian Inar menghampiri jasad Suharsa yang terkapar dengan tubuh mengering tanpa darah itu. Inar meratapi jasad Suharsa yang dipastikan sulit dikenali itu dengan sedih.


“ Salahmu telah mempermainkan perasaanku Kang. Aku tulus mencintaimu Kang, tapi Kamu malah memilih Niken. Apa kurangnya Aku Kang, apa yang Kamu liat dari si Niken itu...?!” tanya Inar di sela tangisnya.


Niken masih menangis hingga sinar matahari pagi yang menyentuh kepalanya menyadarkan Inar. Ia berdiri lalu


perlahan meninggalkan jasad Suharsa begitu saja tanpa mau menoleh lagi. Saat ia menginjakkan kakinya di kampung kelahirannya Inar mendengar berita menghilangnya Suharsa.


“ Mungkin dia pergi menyusul Istrinya...,” kata Inar asal saat salah seorang warga menanyakan keberadaan Suharsa padanya.


Sejak saat itu lah Suharsa menghilang dan tak pernah kembali. Tak ada yang tahu apa yang telah terjadi pada Suharsa. Sedangkan Inar makin meroket. Meski pun tak lagi bergabung dengan grup tari pimpinan Suharsa, Inar masih bisa bersolo karir. Inar menjadi terkenal dan kaya raya dari hasil menarinya itu. Bahkan Inar juga bisa membuat grup tari sendiri dan hijrah ke kota lain. Kesuksesan Inar membuat semua warga perlahan melupakan skandal cinta segitiga antara Niken, Suharsa dan Inar.


Namun ada yang berbeda pada Inar. Ia tak pernah menikah meski pun usianya telah cukup. Selain itu meski pun usianya semakin tua dan mendekati angka tujuh puluh tahun, tapi penampilan Inar tetap belia seperti wanita muda yang berusia tiga puluh tahunan. Inar menjelma menjadi penari handal, kaya raya, sukses, terkenal dan dicintai banyak lelaki seperti keinginannya. Namun Inar tak akan pernah bisa bersuami karena setiap laki-laki yang menjadi suaminya akan meninggal dunia di malam pertama.


Inar berkelana mencari cinta sejatinya sambil terus melakukan ritual sesatnya. Saat ia melihat Izar, ia

__ADS_1


langsung tertarik pada remaja itu. Ternyata Inar lah penari yang mengajak Izar menari malam itu. Hasrat Inar pada laki-laki seolah kembali berkobar saat pertama kali melihat Izar. Hasrat yang telah lama padam setelah puluhan tahun berlalu kembali membuncah. Inar seolah menemukan cinta sejati yang dicarinya pada diri Izar dan bertekad untuk mendapatkannya bagaimana pun caranya.


Bersambung


__ADS_2