
Gusman mendekati Mardiyah yang nampak gemetar ketakutan itu dengan enggan. Saat Gusman mendekat refleks
Mardiyah langsung memeluknya lalu menangis. Gusman membiarkan saja wanita yang masih berstatus istrinya itu menangis sambil memeluknya.
“ Dia datang Gusman..., dia datang...,” kata Mardiyah di sela tangisnya.
“ Dia siapa Mardiyah...?” tanya Gusman tak mengerti.
“ Marwah...,” sahut Mardiyah sambil menunjuk lantai tempat genangan lelehan tubuh Marwah berada.
“ Tak ada Marwah atau apa pun di lantai Mardiyah. Berhenti bicara bohong, Aku muak mendengarnya...,” kata Gusman ketus lalu mendorong tubuh Mardiyah yang tengah memeluknya itu dengan kasar hingga Mardiyah terhempas ke tempat tidur.
Mardiyah tersentak kaget saat mendapat perlakuan kasar Gusman. Mardiyah tersadar jika selama ini Gusman
tak pernah bersikap sekasar ini padanya.
“ Kau bilang Marwah mendatangimu dan selalu membuatmu ketakutan. Keliatannya Marwah datang untuk menuntut balas atas sikapmu yang selalu menyakitinya...,” kata Gusman sinis.
“ Apa maksudmu Gusman...?” tanya Mardiyah tak suka.
“ Kenapa bingung Mardiyah. Aku ga pernah ditemui Marwah dalam wujud apa pun. Tapi Kau, bahkan Kau pingsan melihat Marwah. Kalo Kamu ga terlibat dengan kematiannya, harusnya Kau ga perlu setakut itu Mardiyah. Dia Anak yang Kau besarkan selama bertahun-tahun. Wajar jika dia datang menemuimu karena dia merindukanmu. Tapi kenapa ekspresimu selalu ketakutan Mardiyah. Sebenarnya apa yang telah Kau lakukan pada Anakku Mardiyah...?” tanya Gusman sambil menatap Mardiyah lekat.
“ Tanya saja pada Anakmu itu kalo Kau bisa Gusman...!” sahut Mardiyah dengan senyum mengejek.
Mendengar jawaban Mardiyah membuat Gusman murka lalu memukulinya. Mardiyah menjerit kesakitan karena tak
menyangka Gusman akan memukulnya.
“ Berani menantangku sekali lagi maka Kau akan mati Mardiyah...!” ancam Gusman sambil membanting pintu.
Mardiyah jatuh terduduk di lantai sambil memegangi wajahnya yang terasa panas. Tubuh Mardiyah gemetar dan air mata mengalir deras di wajahnya. Mardiyah sangat ketakutan dan bingung. Ia terus menangis meratapi nasib buruknya lalu tertidur karena lelah menangis.
\=====
__ADS_1
Rauf memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menyelidiki Malhaj, Mardiyah dan Gusman. Tiga orang yang menurutnya berpotensi menyakiti Marwah. Karena penyelidikan dilakukan di luar jam kerja, maka Rauf meminta mereka melaporkan hasil penyelidikan itu di rumah. Saat mereka datang ke rumah Rauf untuk melapor, Rauf juga mengundang Iyaz dan Osman untuk datang ke rumahnya untuk mendengar langsung laporan anak buahnya itu.
Suasana santai saat itu membuat tanya jawab Rauf dan anak buahnya lebih seperti perbincangan antara teman yang akrab dan itu membuat Iyaz dan Osman nyaman.
“ Bagaimana hasilnya...?” tanya Rauf.
“ Siap Pak. Keliatannya Gusman tak terlibat karena hari terakhir Marwah hidup Gusman sedang menemani atasannya meninjau pabrik di kota lain...,” sahut anak buah Rauf.
“ Baik lah. Lalu Kau, bagaimana penyelidikanmu...?” tanya Rauf.
“ Penyelidikan Kami Pak...,” sahut anak buah Rauf.
“ Apa maksudmu...?” tanya Rauf tak mengerti.
“ Karena Mardiyah dan Malhaj terlihat bersama-sama di hari terakhir Marwah diperkirakan hidup Pak...,” sahut anak buah Rauf sambil tersenyum pada rekannya yang ditugaskan menyelidiki Malhaj.
“ Oh ya, bagaimana mungkin. Apa yang terjadi...?” tanya Rauf antusias.
“ Ternyata Mardiyah menemui Marwah di toko kain tempatnya bekerja. Di sana Mardiyah memaki Marwah dan memaksa meminta uang di depan semua orang. Karena malu Marwah mengajaknya keluar. Dan menurut pemilik toko kain, Marwah tak pernah kembali lagi sampai dia mendapat kabar Marwah meninggal dunia dua hari kemudian dari salah satu karyawan toko...,” sahut anak buah Rauf.
“ Kata tukang parkir di depan kompleks pertokoan itu Marwah mengikuti Mardiyah pergi ke suatu tempat dengan menumpang Taxi...,” sahut anak buah Rauf.
“ Dan Marwah mengikuti Mardiyah ke rumah Malhaj...,” tambah anak buah Rauf.
“ Rumah Malhaj...?” tanya Rauf.
“ Betul Pak. Di sekitar rumah Malhaj lah tubuh Marwah ditemukan pingsan dengan luka lebam di wajah. Warga menemukan tubuh Marwah ada di dekat jendela samping rumah Malhaj. Saat Mardiyah keluar dari rumah itu, Mardiyah membawa Marwah bersamanya dengan Taxi. Warga menduga jika Mardiyah membawa Mardiyah ke Rumah Sakit untuk mengobati lukanya itu. Oh iya, Mardiyah ditemani Malhaj saat itu Pak...,” kata anak buah Rauf.
“ Lalu Kalian cari informasi juga ke Rumah Sakit kan...?” tanya Rauf.
“ Siap, betul Pak. Sejumlah klinik juga Kami datangi tapi tak ada satu pun yang menangani luka Marwah hari itu...,” sahut anak buah Rauf.
“ Kesimpulannya, hari itu Mardiyah dan Malhaj langsung membawa Marwah pulang ke rumah kost...,” kata Rauf sambil mengetuk meja dengan ujung jarinya.
__ADS_1
“ Pasti begitu Bi. Apalagi Bu Mardiyah juga punya kunci duplikat kamar Kami...,” sela Raqiya dengan tubuh menegang.
“ Fix ini ulah mereka. Tak ada siapa pun saat mereka tiba di sana dan Mardiyah hapal situasi ini karena sering datang dan menunggu Marwah di kamarnya...,” kata Rauf.
“ Tapi gimana dengan surat yang ditemukan di laci meja Marwah Pak...?” tanya anak buah Rauf mengingatkan.
“ Oh iya. Sebenernya Saya sedikit curiga sama surat itu. Mmm, mungkin Ummi bisa bantu mengecek keaslian tulisan tangan di surat itu besok...?” tanya Rauf ragu.
“ Insya Allah bisa Bi. Aku hapal di luar kepala bagaimana bentuk tulisan tangan Marwah...,” sahut Raqiya cepat.
“ Maaf kalo Saya lancang. Tapi Saya punya salinan surat itu Pak...,” kata salah seorang anak buah Rauf tiba-tiba sambil mengeluarkan selembar kertas dari sakunya.
Semua mata menatap kertas berisi keluhan Marwah dengan mata berbinar. Rauf pun tersenyum sambil menepuk pundak anak buahnya itu pertanda kagum akan inisiatifnya.
“ Kalo gitu Kita bisa tau lebih cepat. Ini Mi, coba Kamu liat...,” kata Rauf sambil meyodorkan surat itu pada Raqiya.
Raqiya meraih kertas itu lalu membacanya dengan cepat. Raqiya nampak mengerutkan keningnya seolah tak percaya jika surat itu adalah tulisan tangan almarhumah Marwah.
“ Kenapa Mi...?” tanya Rauf.
“ lni..., tulisan ini kenapa mirip banget sama tulisannya Marwah Bi...?” tanya Raqiya.
“ Maksud Ummi, ini beneran tulisan tangan Marwah...?” tanya Rauf yang diangguki Raqiya.
“ Tapi Marwah ga pernah nulis surat itu...!” kata lyaz lantang hingga membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dan monoleh kearahnya.
“ Kenapa Kamu seyakin itu...?” tanya anak buah Rauf.
“ Karena Marwah yang bilang sendiri kalo dia ga pernah ninggalin pesan atau menulis surat apa pun sebelum kematiannya...,” sahut Iyaz santai.
“ Kapan dia ngomong sama Kamu, kan Kamu ga kenal sama dia...?” tanya anak buah Rauf sambil tersenyum megejek.
“ Baru aja dan dia ada di sana sekarang...,” sahut Iyaz sambil menunjuk kearah hantu Marwah yang tengah berdiri di belakang Raqiya.
__ADS_1
Semua terdiam karena tak melihat apa pun di sana. Bulu kuduk ketiga anak buah Rauf pun meremang karena baru saja mengetahui kelebihan yang dimiliki Iyaz. Mereka nampak salah tingkah dan berdehem untuk menetralisir rasa takut yang tiba-tiba mampir. Sedangkan Rauf, Raqiya dan Osman terlihat santai karena telah mengetahui kelebihan yang dimiliki Iyaz itu.
\=====