Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
369. Ledakan Itu


__ADS_3

Abi Qiana melangkah menghampiri Faiq dan Izar yang sedang duduk di atas sofa ruang tengah. Ia melihat ayah dan anak itu sedang terlibat pembicaraan serius namun segera terhenti saat mendengar sapaan darinya.


“ Apa mau nambah kopinya Pak Faiq...?” tanya abi Qiana.


“ Ga usah Pak, makasih. Air putih aja udah cukup...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Ayah ga bisa minum kopi lagi karena takut dicuekin Bunda kalo ga minum kopi buatan Bunda nanti Pak...,”


sahut Izar sambil melirik sang ayah.


Ucapan Izar membuat Faiq dan abi Qiana tertawa. Mereka paham betul maksud Izar karena yang diucapkan Izar adalah fakta.


“ Saya juga gitu Pak Faiq. Kalo kebanyakan ngopi di luar biasanya ga mau ngopi di rumah. Bisa ditebak kan


gimana reaksinya para ratu rumah tangga itu kalo Suaminya nolak apa yang dia bikin. Bisa disuruh tidur di luar...,” kata abi Qiana di sela tawanya.


“ Betul Pak...,” sahut Faiq sambil tertawa.


“ Oh iya. Saya mau nyampein permintaan maaf Istri Saya kepada Pak Faiq dan Mas Izar. Maafkan kalo sikapnya


ga bersahabat karena dia mengira Kalian lah yang menyebabkan sakitnya Qiana...,” kata abi Qiana hingga membuat Faiq dan Izar saling menatap kemudian mengangguk.


“ Kami maklum Pak. Kami juga udah biasa nemuin orang yang salah paham sama maksud baik Kami. Gapapa, Bapak santai aja dan ga usah terlalu terbebani sama hal itu...,” sahut Faiq bijak.


“ Makasih Pak. Saya senang karena Pak Faiq dan Mas Izar datang tepat waktu. Saya bingung banget pas ngeliat Qiana kaya gitu tadi. Terlalu mendadak dan di luar nalar. Padahal belum sepuluh menit dia masuk ke kamar dan saat itu dia baik-baik aja. Kok pas keluar udah kritis kaya gitu...,” kata abi Qiana sambil menggelengkan kepalanya.


“ Ini semua kehendak Allah Pak. Allah yang menggerakkan Kami untuk datang ke sini malam ini...,” sahut Faiq yang diangguki abi Qiana.


“ Apa Kami boleh menjenguk Qiana Pak...?” tanya Izar hati-hati.


“ Boleh, tentu saja boleh Mas lzar. Yuk, Saya antar...,” sahut abi Qiana sambil berdiri.


“ Makasih Pak...,” kata Izar sambil tersenyum.


Abi Qiana pun balas tersenyum kemudian menuntun mereka masuk ke dalam kamar untuk menjenguk Qiana.


Saat tiba di kamar telihat wajah Qiana yang semula pucat dan membiru itu nampak mulai normal. Meski pun matanya terpejam namun kening Qiana berkerut seolah sedang melihat atau mengalami sesuatu. Faiq dan Izar pun saling menatap kemudian mengangguk.

__ADS_1


Faiq meraih tangan abi Qiana lalu menempelkannya di kening Qiana untuk melihat apa yang sedang dilihat oleh Qiana. Kemudian Faiq meminta Izar menggantikan posisinya.


“ Coba Kamu liat ini Zar. Mungkin Kamu kenal sama dia atau pernah ngeliat orang itu...,” kata Faiq.


Izar pun menggantikan posisi ayahnya dengan menyentuh tangan abi Qiana. Saat itu Izar melihat pria bertubuh


besar dan bertatto yang tak lain adalah Reno nampak tengah berlari mengejar Qiana yang terjerat dalam sebuah jaring dan terus terseret oleh kekuatan tak kasat mata.


Izar membuka mata dan menjauhkan telapak tangannya dari abi Qiana. Ia menatap sang ayah lalu mengangguk.


“ Aku kenal dia Yah. Namanya Reno. Dia yang waktu itu hampir melecehkan Qiana di toilet rumah makan. Aku juga yang menelephon Polisi untuk menangkapnya...,” kata Izar yang mengejutkan abi Qiana dan Faiq.


“ Jadi Kita harus apa Mas izar. Kok bisa-bisanya laki-laki brengs*k itu ada dalam mimpi Qiana...,” kata abi Qiana gusar.


“ Biar Saya ke sana untuk nemuin Reno. Ayah Saya yang akan mengawasi Qiana di sini Pak...,” sahut Izar.


“ Betul. Jangan lupa ajak Iyaz Nak, Ayah udah telephon dia tadi...,” kata Faiq.


“ Baik Yah, Aku pergi dulu. Assalamualaikum...,” pamit Izar sambil bergegas keluar dari rumah Qiana.


Faiq dan abi Qiana mengangguk. Keduanya melepas kepergian Izar dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk.


\=====


Kini Izar dan Iyaz tengah menuju ke rumah Reno. Mereka mendapatkan alamat rumah Oce berkat bantuan Heru, ayah Hanako. Mereka juga bertemu Hanako yang tengah menginap di rumah Heru saat itu.


Hanako menyampaikan rasa sesalnya yang tak bisa bergabung kali ini karena Paundra sedang demam. Saat menemui si kembar Paundra ada dalam gendongan Pandu.


“ Padahal Aku mau banget ikut sama Kalian, tapi Paundra lagi demam nih...,” kata Hanako gusar.


“ Gapapa Ci. Kesehatan Paundra jauh lebih penting. Kamu masih bisa bantuin dari jarak jauh aja kaya biasanya


kan...,” sahut Izar bijak.


“ Makasih ya Zar. Perasaan sejak deket sama Qiana kok Kamu malah jadi bijaksana kaya gini ya Zar...,” kata Hanako sambil tersenyum penuh makna.


“ Udah deh Ci, jangan mulai lagi...,” sahut Izar kesal hingga membuat Hanako, Iyaz dan Pandu tertawa.

__ADS_1


“ Iya iya. Ok, selamat menjalankan misi dan hati-hati ya...,” kata Hanako sambil memeluk kedua sepupunya itu bergantian.


“ Ok. Kami pergi ya Ci, Assalamualaikum...,” pamit Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut Hanako dan Pandu bersamaan.


Dengan menggunakan mobil milik Heru, Iyaz dan Izar pergi menuju ke rumah Oce. Mereka tak mengalami kesulitan


untuk menemukan alamat rumah Oce karena letaknya yang di pinggir jalan persis di sebrang Bank tempat Qiana berkantor.


“ Ini rumahnya Yaz...,” kata Izar.


“ Pantesan dia bisa hapal kegiatan Qiana. Rupanya rumahnya persis di sebrang kantor Qiana jadi dia bisa terus mengawasi Qiana...,” sahut Iyaz sambil menggelengkan kepalanya.


Iyaz dan Izar turun dari mobil sambil mengamati rumah Oce. Keduanya terkejut saat mendengar ledakan keras dari


dalam rumah Oce. Ledakan itu bahkan menimbulkan bunga api yang membuncah di atas atap rumah Oce. Keduanya segera berlari dan mengetuk pintu untuk membangunkan penghuni rumah.


Oce yang saat itu sedang tidur pun terbangun saat mendengar ledakan yang keras di dalam rumahnya. Mengira jika itu suara tabung gas yang meledak, Oce pun bergegas keluar dari kamar dan bersiap menuju ke kamar Reno. Bersamaan dengan itu Oce mendengar pintu rumahnya diketuk. Oce melihat ada dua orang pria yang mengetuk pintu. Karena merasa perlu bantuan untuk mengeluarkan Reno nanti, Oce pun bergegas membuka pintu.


“ Maaf Bu, ada suara ledakan dari dalam rumah ini tadi...,” kata Izar.


“ Iya Mas, Saya juga denger. Tolong bantu Saya ngeluarin Anak Saya ya Mas...,” kata Oce sambil melangkah cepat menuju kamar Reno.


Iyaz dan Izar mengikuti Oce masuk ke dalam rumah. Oce bergegas melangkah ke kamar Reno sedangkan langkah Iyaz dan Izar berhenti di depan kamar rahasia Oce.


“ Kalian ngapain di situ. Ga ada apa pun di dalam sana. Anak Saya ada di kamar ini...!” kata Oce dengan tatapan


tak suka.


“ Tapi sumber suara itu asalnya dari kamar ini Bu...,” kata Iyaz.


“ Mustahil, jangan ngarang deh...!” sahut Oce sambil mengetuk pintu kamar Reno.


Oce mengerutkan keningnya saat mendapati pintu kamar Reno tak terkunci. Kemudian Oce mendorong pintu perlahan, dan terkejut saat melihat kamar Reno kosong. Refleks Oce menoleh kearah kamar rahasianya dan bergegas mendatangi kamar itu dengan wajah yang pucat pasi.


\=====

__ADS_1


__ADS_2