Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
142. Kesempatan


__ADS_3

Todi berdiri di depan rumah Santoso dan menatap ragu kearah pintu rumah yang tertutup itu. Todi bergeser dari tempatnya lalu bersembunyi saat melihat mobil Santoso memasuki halaman rumah.


Dari tempat persembunyiannya Todi bisa melihat Santoso yang turun dari mobil lalu mengamati sekelilingnya dengan seksama seolah menyadari ada seseorang yang tengah mengintai rumahnya.


“ Cari apa Yah...?” tanya Tiara yang juga baru turun dari mobil.


“ Ga cari apa-apa. Ayah kaya liat ada orang aja tadi di sini tapi kok ga ada siapa-siapa ya...,” sahut Santoso.


“ Apa ada yang niat jahat lagi sama keluarga Kita Yah...?” tanya Yamini cemas.


“ Mudah-mudahan ga Bu...,” sahut Santoso.


“ Ya Allah lindungi lah keluarga Kami dari kejahatan orang-orang yang dengki...,” kata Yamini sambil menadahkan kedua tangannya.


“ Aamiin...,” sahut Santoso dan Tiara bersamaan.


“ Udah yuk, Kita masuk aja Bu. Kelamaan di luar malah ga enak...,” ajak Santoso sambil membuka pintu rumah.


“ Iya Yah. Jangan lupa kunci pintu pagar ya Nak...,” kata Yamini sambil membawa tas belanjaan yang baru saja diturunkan Tiara.


“ Iya Bu...,” sahut Tiara sambil tersenyum melihat tingkah Yamini.


Selanjutnya Tiara mengunci pintu pagar sambil menatap ke kanan dan ke kiri seolah merasakan kehadiran seseorang di sana. Todi segera menyingkir karena tak ingin terlihat oleh Tiara.


“ Jadi mereka ketakutan karena ulah Gue. Apa mereka mau maafin Gue setelah apa yang udah Gue lakuin...?” gumam Todi sambil menjauh dari rumah Santoso.


Rupanya Tiara masih melihat punggung Todi yang berjalan menjauh itu. Ada rasa iba di hatinya saat melihat paman angkatnya itu menjauh dari kedua orangtuanya. Namun Tiara juga takut jika sang paman akan membuatnya terluka lagi.


\=====


Setelah luka fisik dan mentalnya pulih, Tiara kembali ke kampus. Jika sebelumnya banyak mahasiswa yang menjaga jarak darinya namun kali ini berbeda. Kehadiran Tiara disambut dengan hangat oleh teman-temannya. Mereka senang karena akhirnya Tiara bisa move on dari masalah yang membuatnya depresi itu.


Tiara pun takjub karena banyak suport yang mengalir untuknya dari teman-temannya. Dengan tak menanyakan


detail masalah yang pernah dihadapi Tiara adalah salah satu bentuk suport yang mereka berikan dan itu membuat Tiara nyaman. Santoso dan Yamini pun lega karena akhirnya Tiara bisa hidup ‘normal’ seperti layaknya remaja seusianya.


Setelah beberapa minggu mengamati Tiara, akhirnya Todi memberanikan diri menemui Tiara. Todi sengaja


menunggu Tiara di halte depan kampus. Saat pertama kali melihatnya Tiara sangat terkejut dan sedikit takut. Namun mengingat saat itu mereka ada di tempat umum membuat Tiara sedikit tenang.


“ Tiara...,” panggil Todi.


“ Om..., Om Todi...,” sahut

__ADS_1


Tiara gugup.


“ Apa kabar Tiara...?” tanya Todi ramah sambil mengulurkan tangannya.


“ Alhamdulillah baik. Om..., mau apa di sini...?” tanya Tiara takut dan mengabaikan uluran tangan Todi.


“ Om mau minta maaf sama Kamu...,” sahut Todi cepat sambil menatap Tiara lekat.


“ Minta maaf...?” tanya Tiara ragu.


“ Iya. Om nyesel udah bikin Kamu sakit dan hampir bunuh diri dulu. Maaf...,” kata Todi lirih.


Tiara tersentak kaget lalu menatap nanar kearah Todi seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan Todi. Perlahan Tiara menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Todi dan hal itu membuat Todi tersenyum.


“ Kamu takut sama Om ya Tiara...?” tanya Todi dengan suara tercekat.


“ Iya Om...,” sahut Tiara.


“ Gapapa, Om maklum kok. Om lega udah minta maaf sama Kamu walau pun Kamu belum mau maafin Om. Sekarang Om pergi dulu ya...,” kata Todi lalu masuk ke dalam angkot yang kebetulan melintas.


Tiara menghela nafas lega saat angkot yang ditumpangi Todi menjauh dari halte. Dia masih bisa melihat Todi melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum. Tiara tak membalas lambaian tangan Todi dan memilih mengalihkan tatapannya kearah lain.


Usaha Todi untuk memperbaiki diri dan minta maaf pada Tiara terus ia lakukan. Hampir setiap hari Todi datang menemui Tiara di halte depan kampusnya hanya untuk mengatakan kata maaf. Tiara pun perlahan mulai terbiasa dengan kehadiran Todi dan mulai mempercayainya. Meski pun masih sedikit menjaga jarak namun Tiara sudah mau bicara banyak dengan Todi.


“ Ga jauh dari sini...,” sahut Todi.


“ Apa Om perlu..., uang...?” tanya Tiara hati-hati.


“ Semua orang perlu uang Tiara. Tapi Kamu tenang aja, Om ga bakal minta uang sama Kamu...,” sahut Todi cepat.


“ Kenapa...?” tanya Tiara.


“ Karena sekarang Om udah kerja jadi montir di bengkel mobil dan bisa menghasilkan uang sendiri. Jadi Om ga perlu bantuan siapa pun untuk menuhin kebutuhan Om apalagi Kamu...,” sahut Todi lugas hingga membuat Tiara tersenyum.


Melihat senyum Tiara membuat Todi bahagia. Ia pun berharap senyum Tiara bisa membawanya meraih maaf Yamini dan Santoso.


“ Apa Om ga kangen sama Ayah dan Ibu...?” tanya Tiara.


“ Kangen Tiara, tapi Om harus tau diri. Kesalahan Om udah banyak jadi kayanya sulit buat mereka nerima Om kaya dulu lagi...,” sahut Todi sambil tersenyum kecut.


“ Aku bisa bantu Om untuk ketemu sama Ayah dan Ibu...,” kata Tiara.


“ Om tau, tapi ga usah. Biar Om cari cara sendiri nanti. Om masih malu buat ketemu mereka. Yang penting sekarang Om bisa menebus semua kesalahan Om sama Kamu, maafin Om ya Tiara...,” kata Todi dengan tulus.

__ADS_1


“ Iya Om...,” sahut Tiara sambil menganggukkan kepalanya.


“ Sekarang Om harus balik kerja lagi. Istirahat Om kan cuma setengah jam. Insya Allah Om datang lagi kalo ada waktu...,” kata Todi sambil mengibas kotoran di celana panjang yang ia kenakan.


“ Boleh Aku main ke tempat kerja Om...?” tanya Tiara ragu.


“ Boleh...,” sahut Todi sambil tersenyum hingga membuat Tiara ikut tersenyum.


Tanpa mereka sadari Santoso tengah menatap interaksi mereka dari kejauhan. Semula Santoso khawatir Todi akan melukai Tiara. Namun saat melihat senyum di wajah Tiara dan Todi membuat Santoso menghela nafas lega.


Saat makan malam Santoso pun menanyakan apa yang dilihatnya tadi kepada Tiara.


“ Iya Yah, Om Todi emang sering datang nemuin Aku di halte kampus...,” kata Tiara.


“ Mau ngapain Anak itu nemuin Kamu....?” tanya Yamini cemas.


“ Mau minta maaf Bu...,” sahut Tiara.


“ Ibu ga percaya. Kamu juga jangan gampang percaya Tiara. Ibu kenal betul gimana sifatnya karena dia kan Adik kandung Ibu...,” kata Yamini gusar.


“ Tapi Om Todi udah berubah Bu...,” sahut Tiara.


“ Berubah apanya sih Nak. Udah ya, pokoknya Kamu jaga jarak sama dia. Abaikan dia, ga usah peduliin dia. Kalo dia datang Kamu langsung menghindar sejauh mungkin. Ga usah berinteraksi sama dia apalagi percaya sama omongannya. Ibu khawatir dia nyakitin Kamu lagi Tiara...,” kata Yamini.


“ Tapi selama ini Om Todi datang cuma ngajak ngobrol aja Bu, itu pun jaraknya sekitar dua meter. Dia minta maaf dan bilang kalo dia nyesel udah bikin Aku sakit dan hampir bunuh diri dulu.awalnya Aku takut dan ga percaya kalo Om Todi bisa berubah baik sama Aku. Tapi ngeliat sikapnya selama ini Aku percaya Bu...,” kata Tiara sambil menundukkan wajahnya.


Mendengar ucapan Tiara membuat Yamini dan Santoso saling menatap sejenak. Mereka sadar sudah waktunya


memberi kesempatan pada Todi. Mereka pun tersenyum lalu mengangguk.


“ Kayanya udah waktunya Kita membuka pintu rumah Kita untuk Todi Bu...,” kata Santoso yang diangguki Yamini.


“ Maksud Ayah gimana...?” tanya Tiara


“ Ajak Om Todi makan malam besok ya Nak...,” sahut Santoso sambil tersenyum.


“ Ayah serius...?” tanya Tiara tak percaya.


“ Insya Allah. Kami juga kangen sama Om Kamu itu, iya kan Bu...?” tanya Santoso.


“ Iya Yah...,” sahut Yamini sambil tersenyum hingga membuat Tiara ikut tersenyum.


“ Siap Yah...,” sahut Tiara antusias.

__ADS_1


\=====


__ADS_2