
Mendengar kalimat yang menyudutkan dari tetangganya membuat Lita jengah lalu beranjak pergi meninggalkan rumah itu. Lita mengabaikan Obi dan membiarkannya begitu saja seperti biasa. Sepanjang jalan Lita harus menerima makian dari tetangga yang sudah muak dengan tingkahnya selama ini.
“ Dasar perempuan ga punya *tak...,” maki seorang tetangga.
“ Bukannya menghibur Obi eh malah pergi. Kasian si Boril punya Istri model kaya gitu...,” sahut tetangga lain sambil menggelengkan kepala.
“ Cantik sih, tapi fisiknya doang. Hatinya jahat kaya iblis...,” kata yang lain kesal.
“ Ingat Lita, Allah itu ga tidur. Suatu saat Kamu bakal nyesel karena udah ninggalin Obi sendirian kaya gini...,” kata seorang nenek.
Lita menulikan telinganya dan mempercepat langkahnya. Karena takut diamuk warga Lita pun langsung menghentikan angkot yang melintas dan masuk ke dalamnya. Angkot pun melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu diiringi tatapan marah para warga.
Setelah tangis Obi reda, Iyaz dan Izar pun menjelaskan maksud kedatangan mereka pada warga dan ketua RT yang baru saja tiba itu.
“ Pak Boril meninggal dunia karena kecelakaan kerja di proyek Pak. Kami sedang berusaha mengevakuasi jasadnya tapi nampaknya sulit. Mandor yang terlibat dengan kecelakaan kerja itu sudah diamankan Polisi dan bakal mendekam lama di penjara. Dan Kami datang untuk menyampaikan berita dan uang duka. Sebagai bentuk pertanggung jawaban Kami, Kami juga berniat mengangkat Obi menjadi Anak asuh Kami nanti...,” kata Izar.
“ Kalian serius mau ngangkat Obi jadi Anak asuh...?” tanya ketua RT.
“ Insya Allah Kami serius. Bapak bisa datang ke kantor dan memastikan semuanya nanti...,” sahut Izar sambil
menyodorkan kartu namanya.
“ Baik, Saya setuju...,” sahut ketua RT.
Setelah membicarakan semuanya, Iyaz dan Izar pun pamit undur diri. Obi terlihat sangat terpukul dan masih menangis. Beberapa tetangga pun mencoba menghibur dan membujuknya. Tak lama kemudian Obi terlihat tenang dan itu membuat si kembar bisa beranjak dari sana sambil bernafas lega.
\=====
Kisah hidup Boril membuat Iyaz dan Izar termenung. Mereka tak menyangka jika Boril memiliki pernikahan yang kacau. Tanpa beban arwah Boril menceritakan semuanya kepada Iyaz dan Izar.
“ Aku nikah tanpa restu kedua orangtuaku. Aku lari dari rumah dan memilih menikahi Lita yang kukenal saat bekerja di pabrik baja. Lita cantik dan Aku menyukainya. Meski pun agak keras kepala dan sedikit sombong, tapi Aku rela melakukan apa pun untuknya termasuk mendurhakai kedua orangtuaku...,” kata arwah Boril mengawali ceritanya.
Ucapan arwah Boril membuat Iyaz dan Izar saling menatap tak mengerti. Lita bukan hanya sediikit sombong tapi Lita adalah wanita yang sombong dan tak punya rasa empati dan rasa hormat pada orang lain. Itu lah penilaian Iyaz dan Izar saat pertama kali melihat Lita. Kemudian Boril melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
“ Lita yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan. Saat melihatnya pertama kali di gerai kosmetik tempatnya bekerja Aku langsung jatuh hati. Rupanya Lita juga tertarik padaku dan Kami mulai menjalin kasih. Hingga suatu waktu Lita minta agar Aku menikahinya. Jika tidak, Lita minta agar hubungan Kami diakhiri saja. Aku panik dan mengiyakan permintaannya itu tanpa mempedulikan peringatan orangtuaku. Aku memang pernah mengajak Lita bertemu orangtuaku, sayangnya mereka tak menyukai Lita entah kenapa...,” kata arwah Boril lagi.
“ Mustahil orangtuamu tak punya alasan, pasti ada sesuatu yang membuat mereka tak merestui keinginanmu itu Boril...,” sahut Iyaz yang diangguki Izar.
“ Kata Ayahku Lita itu perempuan nakal yang suka mangkal di pinggir jalan. Aku marah karena Ayah menuduh pacarku wanita murahan. Tapi sekarang Aku menyesal karena tak percaya ucapan Ayahku itu. Belakangan Aku juga baru sadar bahwa Lita memanfaatkan ketulusanku karena dia butuh tempat tinggal...,” kata arwah Boril lirih.
“ Maaf kalo terdengar lancang. Jadi Obi itu Anakmu atau bukan...?” tanya Izar sambil menatap arwah Boril lekat.
“ Obi Anakku, anak kandungku. Aku pernah tes DNA dan transfusi darah untuk Obi saat dia kecelakaan dulu. Aku melakukannya diam-diam saat Aku tau Lita sering meninggalkan Obi di rumah sendirian...,” sahut arwah Boril.
“ Jadi sekarang apa yang ingin Kau lakukan...?” tanya Izar.
“ Aku ingin agar rumah itu sepenuhnya jatuh ke tangan Obi. Aku ga rela Lita menikmati warisanku itu walau hanya sejenak...,” sahut Boril.
“ Rasanya sulit, bukannya Kalian masih berstatus suami istri. Itu artinya Lita juga berhak mendapat warisan saat Kau meninggal dunia Boril...,” kata Izar.
“ Tapi Lita bukan Ibu dan Istri yang baik...,” sahut arwah Boril gusar.
“ Harusnya Kau ceraikan dia saat Kau masih hidup...,” kata Izar kesal.
Izar pun menghela nafas panjang. Ia sedikit menyesal karena telah membuat arwah Boril sedih.
“ Tapi rumah itu kubeli jauh sebelum Aku menikahi Lita. Jadi itu milikku kan, terserah Aku mau memberi kepada siapa...?” tanya Boril sendu.
“ Kalo begitu ya beda cerita. Insya Allah Kami akan bantu Obi mendapatkan haknya...,” janji Izar.
“ Makasih. Jika Kalian butuh bukti, Aku juga menyimpan beberapa bukti ketidak layakan Lita sebagai Ibu dan Istri...,” kata arwah Boril.
“ Dimana...?” tanya Iyaz penasaran.
“ Di kotak perkakas di gudang belakang...,” sahut Boril.
“ Insya Allah Kami akan mencarinya nanti...,” kata Iyaz yang diangguki arwah Boril.
__ADS_1
Tak lama kemudian Iyaz dan Izar tiba di depan rumah. Mereka pun turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk melaporkan kegiatan mereka pada sang opa.
Setelah membersihkan diri dan menunaikan sholat Isya berjamaah, Iyaz dan Izar pun mulai menceritakan apa yang mereka temui.
Erik, Farah, Faiq dan Shera nampak mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh si kembar. Keempatnya nampak saling menatap sejenak lalu menghela nafas panjang.
“ Dua kisah yang sangat menyentuh dan menguras air mata...,” kata Farah.
“ Betul Ma. Kasian sekali Obi dan Janisa...,” sahut Shera.
“ Janisa sedikit lebih beruntung karena lahir dari keluarga yang harmonis dan saling menyayangi. Sedangkan Obi
lahir dari seorang Ibu yang ga menghargai pernikahan...,” kata Farah sambil bergidik.
“ Tapi dua-duanya udah Kami daftarin jadi Anak asuh perusahaan Kita Opa...,” kata Iyas.
“ Bagus Nak. Opa setuju...,” sahut Erik sambil tersenyum bangga.
Perusahaan Erik memang memiliki beberapa anak asuh. Biaya hidup anak-anak itu diambil langsung dari kas perusahaan yang memang disediakan khusus untuk kegiatan sosial keagamaan semacam ini. Setiap bulan perusahaan Erik mengeluarkan sejumlah dana secara rutin untuk membiayai para anak asuh sekaligus mengawasi pendidikan mereka hingga dewasa. Dan kondisi ini tak terpengaruh oleh tinggi rendahnya pendapatan perusahaan. Meski pun perusahaan sedang tak stabil, namun perusahaan tetap menomor satukan kepentingan anak-anak itu.
“ Terus gimana sama nasibnya si Rusdi itu Yah...?” tanya Shera sambil menoleh kearah suaminya.
“ Rusdi kritis Bun...,” sahut Faiq cepat.
“ Kritis, kok bisa...?” tanya Shera tak mengerti.
“ Luka akibat gigitan hantu kepala itu rupanya sangat parah dan menimbulkan infeksi, walau pun secara lahiriah hanya luka goresan aja. Rasanya sulit untuk Rusdi melewati masa kritisnya...,” sahut Faiq.
“ Apa ga bisa ditolong Nak...?” tanya Farah.
“ Sulit Ma...,” sahut Faiq sambil menggeleng.
Apa yang dikatakan Faiq sesuai dengan fakta yang terjadi. Rusdi memang harus menanggung derita akibat keserakahannya. Setelah menumbalkan beberapa kepala anak buahnya, kini Rusdi harus membayar semuanya secara perlahan namun pasti.
__ADS_1
\=====