
Hantu Abin nampak melayangmeninggalkan rumah Heru dengan tubuh lebam dan darah yang mengalir dari hidung,
telinga dan sela bibirnya. Ia meringis menahan sakit. Nampaknya hantu Abin harus menelan kecewa karena tak bisa lagi ‘mengawal’ Hanako seperti yang ia lakukan beberapa hari ini.
Hantu Abin berhenti di suatu tempat tak jauh dari rumah Heru lalu memejamkan matanya karena merasa sedih dan lelah di waktu bersamaan. Tanpa ia sadari Faiq mengikutinya dengan motor dan berhenti tepat di belakangnya.
Hantu Abin masih memejamkan matanya hingga suara Faiq mengejutkannya dan membuatnya menoleh.
“ Jadi siapa Kamu sebenarnya...?” tanya Faiq sambil menatap hantu Abin lekat.
“ Aku...,” ucapan hantu Abin terputus saat Faiq mendekat kearahnya dan menyentuh tangannya.
Faiq pun berhasil masuk dan melihat kilasan peristiwa yang menyebabkan Abin meninggal dunia.
Malam terasa sepi dan mencekam saat sepasang manusia nampak sedang memadu kasih di sebuah kamar. Erangan terdengar lirih melengkapi pergumulan panas keduanya. Sesaat kemudian lampu kamar yang semula padam kembali menyala memperlihatkan isi kamar yang terlihat berantakan.
“ Kapan Kamu akan menikahiku Abin...?” tanya wanita bernama Rima sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
“ Kenapa tiba-tiba bahas pernikahan sih Rim...?” tanya Abin tak suka.
“ Lho, emang salah ya Aku bahas pernikahan. Kita kan udah lama pacaran bahkan sampe melakukan hubungan int*m segala. Emangnya Kamu ga punya niat nikahin Aku...?” tanya Rima.
“ Eh, bu, bukan gitu Rim...,” sahut Abin gugup.
“ Atau Kamu hanya mempermainkan perasaanku aja Bin. Kamu pacari Aku hanya untuk memuaskan hasratmu itu, iya kan...?!” tanya Rima marah.
“ Jangan salah paham dong Rim. Aku hanya belum siap aja buat nikah...,” kata Abin berusaha memeluk Rima.
__ADS_1
“ Alasan macam apa itu. Belum siap menikah tapi Kamu memperlakukan Aku seperti Istri yang harus siap melayani
Suaminya di tempat tidur. Kalo Aku nolak Kamu pasti marah. Apa itu yang namanya belum siap...?” tanya Rima sambil menangis.
Abin menghela nafas panjang. Dia memang salah karena tak bisa memberi Rima kepastian. Bukan karena tak ingin tapi karena ia merasa tak mampu. Saat itu Abin hanya seorang pengangguran dan tak punya penghasilan tetap.
Abin memang terkenal sebagai preman pasar, pengangguran yang tak punya pekerjaan dan suka mengganggu orang. Reputasi Abin dalam menjalin hubungan dengan wanita pun buruk. Ia dikenal sebagai play boy yang gemar bergonta-ganti pasangan. Dan semua mantan pacarnya tak ada lagi yang suci usai menjalin kasih dengannya karena Abin selalu memaksa mereka untuk mau melakukan hubungan int*m dengannya.
Saat bertemu dengan Rima pertama kali Abin langsung jatuh hati. Rima pun nampaknya memiliki perasaan yang sama pada Abin yang berpostur tinggi, gagah dan tampan itu. keduanya pun makin dekat dan memutuskan pacaran. Namun sayangnya Abin tak menjaga kekasihnya dengan baik. Lagi-lagi Abin memaksa pacarnya untuk mau melayani hasratnya. Rima yang terlanjur cinta pun tak dapat menolak keinginan Abin. Akhirnya mereka melakukan hubungan terlarang itu untuk pertama kalinya di kamar kontrakan Abin dan setelah itu mereka rutin melakukannya saat bertemu.
Rima gadis yang baik. Ia adalah mahasiswi di salah satu universitas di Jakarta. Abin tak pernah tahu jika Rima adalah anak seorang juragan besar yang memiliki peternakan sapi di pinggiran Jakarta. Karena usahanya rentan mendapat gangguan dari saingan bisnisnya, ayah Rima pun mempekerjakan beberapa pengawal pribadi untuk menjaga keamanannya dan keluarganya. Salah satu pengawalnya bertugas melindungi Rima.
Sang pengawal bernama Mursal itu selalu mengawal kemana pun Rima pergi tanpa sepengetahuan Rima. Karena
seringnya mengamati gadis itu membuat Mursal jatuh hati pada Rima. Dan saat mengetahui Rima menjalin hubungan dengan Abin, Mursal pun kecewa. Apalagi saat Abin dengan beraninya melecehkan Rima. Meski pun dilakukan atas nama cinta dan tanpa penolakan Rima, toh hal itu membuat Mursal marah dan berniat menghabisi Abin.
Hari kelam itu pun terjadi.
“ Sayang maafin Aku ya...,” kata Abin sambil berusaha memeluk Rima namun Rima menghindarinya.
“ Pergi lah, ga usah pedulikan Aku...,” sahut Rima ketus.
“ Tapi Kamu jangan hindarin Aku dong...,” pinta Abin.
“ Terus Aku harus gimana Abin. Datang tiap kali Kamu telephon ?. Aku sadar posisiku di hatimu Abin. Aku hanya alat untuk memuaskanmu. Setelah puas Kau akan mencampakkan Aku sama seperti yang Kamu lakukan sama mantan pacarmu dulu...,” kata Rima.
“ Kamu salah Rima, Aku ga kaya gitu...,” bantah Abin.
__ADS_1
“ Oh ya, terus kenapa Kamu nyuruh Aku gugurin bayi dalam kandunganku ini. Kenapa ?. Bukannya itu supaya Kamu ga terbebani sama Aku dan Anak ini jadi Kamu bisa bebas menjalin hubungan dengan wanita lain. Iya kan...?!” tanya Rima marah.
Abin terdiam karena tak bisa menjelaskan perasaannya saat itu. Namun saat melihat Rima menangis, hati kecil Abin merasa iba.
Mursal yang sembunyi di balik pohon pun terkejut mendengar percakapan Rima dan Abin. Ia memang kecewa dan berusaha merelakan Rima yang memilih menjalin hubungan dengan Abin. Tapi ia tak rela jika Abin menyakiti Rima. Apalagi menyuruh Rima menggugurkan bayi dalam kandungannya yang bisa dipastikan akan menyakiti fisik dan mental Rima. Mursal juga tahu apa resikonya untuk wanita yang pernah melakukan aborsi. Selain sakit yang tak tertahan, resiko terburuknya sang wanita tak akan lagi bisa hamil di masa depan. Dan Mursal tak ingin Rima mengalami hal itu.
Mursal mengepalkan tangannya karena marah. Ia ingin melakukan sesuatu untuk membuat Abin sadar jika petualangannya cintanya harus berakhir. Setelah mendengar pembicaraan Rima dan Abin, Mursal pun menyingkir untuk menyusun rencana.
\=====
Niat Mursal melenyapkan Abin makin kuat apalagi saat melihat air mata Rima. Mursal mengajak beberapa temannya untuk menghabisi Abin.
Abin keluar dari area kampus Rima dengan langkah gontai. Rupanya Abin baru saja menemui Rima dan memintanya kembali menjalin hubungan, namun Rima menolak. Ia terlanjur sakit hati karena Abin pernah memintanya melakukan aborsi.
Abin yang baru saja keluar dari kampus pun dihadang oleh empat pria berbadan tegap. Selain menghadang mereka juga membius Abin lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Setelahnya mobil itu melaju cepat membelah jalan raya menuju ke suatu tempat.
Di dalam mobil terlihat Abin yang meringkuk pasrah karena pengaruh obat bius. Abin tak tahu apa yang telah dilakukan Mursal dan teman-temannya. Abin hanya tahu jika dirinya ada di sebuah tempat yang asing saat siuman. Tangan dan kakinya pun diikat dengan kuat.
“ Apa-apaan nih. Woooii, siapa yang bikin Gue kaya gini...?!” tanya abin sambil berusaha melepaskan
ikatannya itu.
Tak ada sahutan. Namun sesaat kemudian terdengar langkah beberapa pasang kaki mendekat kearahnya. Saat Abin mendongakkan wajahnya ia melihat empat orang orang pria nampak menyeringai kearahnya. Semula Abin mengira jika mereka adalah preman saingannya dalam menduduki pasar. Namun saat Mursal melayangkan tinjunya sambil menyebut nama Rima, Abin sadar jika ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang besar.
“ Ini untuk Rima dan Anaknya...,” kata Mursal sambil melayangkan tinjunya yang kedua hingga tubuh Abin terjengkang jatuh di lantai.
“ Lepaskan Aku jika Kau berani. Kita bertanding satu lawan satu seperti layaknya laki-laki...,” tantang Abin sambil meringis menahan sakit.
__ADS_1
Mendengar ucapan Abin membuat Mursal murka. Ia meminta ketiga temannya melepaskan ikatan Abin lalu keduanya bertarung secara jantan.
\=====