Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
110. Ooo..., Pantesan


__ADS_3

Di ruang pengadilan terlihat Irwandi duduk dengan tegang. Di sampingnya nampak Meila yang duduk sambil menundukkan wajahnya. Ini adalah sidang perdana keduanya atas kasus penggelapan uang mini market, perundungan dan pemer**saan yang menyebabkan tewasnya Tania.


Di deretan kursi pengunjung terlihat Nadifa yang duduk manis ditemani pengacaranya. Ia sengaja datang ke pengadilan itu untuk mendengar langsung jawaban dari Irwandi tentang kasus yang disangkakan kepadanya.


“ Apa Bu Nadifa kenal sama perempuan yang ada di samping Pak Irwandi itu...?” tanya Ihsan.


“ Mmm, Saya ga terlalu kenal. Kalo ga salah ingat, dia itu karyawan mini market tempat Mas Irwandi bekerja selama ini. Namanya Meita atau Meila gitu lah. Kenapa dia ada di sana juga ya Pak...?” tanya Nadifa.


“ Saya juga ga tau, mungkin sebentar lagi Kita bakal dapat jawabannya Bu...,” sahut Ihsan sambil menoleh kearah depan dan diangguki Nadifa.


Sementara itu Irwandi nampak melirik kearah Meila yang masih menundukkan wajahnya seolah enggan menatapnya apalagi duduk berdampingan dengannya di kursi terdakwa.


“ Kenapa Kamu diem aja Mei. Kamu ga kangen sama Aku...?” tanya Irwandi sambil berbisik.


“ Jangan ngaco ya Pak. Kita lagi ada di pengadilan dan ditonton banyak orang, jadi ga usah banyak basa basi lah...,” sahut Meila ketus.


“ Kok Kamu gitu sih Mei. Apa Kamu pikir Aku mau ada di sini. Aku juga mau bebas...,” kata Irwandi sambil menatap tajam kearah Meila.


“ Kalo gitu jangan libatkan Saya dalam kejahatan yang Bapak lakukan bisa kan...?” tanya Meila sinis.


“ Enak aja. Saya juga ga mau nanggung dosa ini sendirian. Kan Kamu yang minta Saya untuk nyingkirin Tania. Terus udah kaya gini Kamu mau cuci tangan gitu aja, ga bisa lah...,” sahut Irwandi tak mau kalah.


“ Tapi Saya ga pernah nyuruh Bapak buat memper**sa Tania kan. Itu ide Bapak sendiri yang ga bisa menahan na*su ngeliat Tania\, artinya Bapak yang harus bertanggung jawab bukan Saya...!” kata Meila.


“ Ssssttt, pelankan suaramu Meila...!” sentak Irwandi hingga membuat Meila terdiam.


“ Percuma, toh sebentar lagi kejahatan Bapak akan segera terungkap di depan pengadilan ini...,” sahut Meila sambil melengos.


Irwandi nampak mengepalkan tangannya karena geram dengan sikap Meila. Ia tak mengerti mengapa dulu bisa jatuh hati pada Meila dan rela melakukan apa pun demi memenuhi semua keinginan Meila termasuk melenyapkan Tania. Irwandi menyesal namun tak bisa berbuat apa-apa. Saat Irwandi memutar kepalanya kearah belakang, ia melihat Nadifa duduk ditemani pengacaranya.


“ Ternyata memang cuma Kamu yang tulus mencintaiku Nadifa. Aku janji, setelah ini selesai Aku akan kembali dan

__ADS_1


memperbaiki semuanya lagi dari awal. Semoga Kamu sabar menungguku pulang Nadifa...,” gumam Irwandi sambil menghela nafas panjang.


Irwandi tak tahu jika kehadiran Nadifa di sana untuk melengkapi bukti perselingkuhan Irwandi dengan Meila untuk memuluskan langkahnya menggugat cerai Irwandi.


Sidang perdana berjalan alot karena Meila membantah hubungan terlarangnya dengan Irwandi yang telah lebih dulu mengakui hubungan mereka.


“ Pak Irwandi emang selalu merayu Saya, tapi Saya ga pernah nanggapin karena Saya tau Pak Irwandi itu udah berkeluarga...,” kata Meila lantang hingga mengejutkan Irwandi.


“ Jangan membalikkan fakta Meila. Kamu yang datang ke ruangan Saya dan merayu Saya. Kita bahkan udah sering check in di hotel untuk melakukan itu...!” kata Irwandi tak terima.


“ Jangan fitnah ya Pak. Saya ga sebejat itu...!” sahut Meila marah.


“ Oh ya, Saya masih simpen semua chat mesra Kamu di ponsel Saya. Polisi bisa buktiin kalo Kamu terlibat dalam dua kasus ini Meila. Bahkan Saya juga masih nyimpen foto-foto saat Kamu tidur di pelukan Saya...,” kata Irwandi sambil tersenyum penuh kemenangan.


Meila menjerit marah, pengunjung pun gaduh. Sedangkan Nadifa nampak menitikkan air mata karena tak kuat mendengar pengakuan Irwandi tadi. Nadifa berdiri lalu meninggalkan ruang sidang dengan air mata berderai. Ihsan pun mengikuti Nadifa dari belakang karena khawatir kliennya akan melakukan hal yang membahayakan nanti.


“ Bu Nadifa mau kemana, Ibu gapapa kan...?” tanya Ihsan cemas.


“ Terus kenapa Ibu keluar, sidangnya belum selesai lho Bu...,” kata Ihsan.


“ Saya muak di dalam sana. Padahal Saya tau diselingkuhi, tapi waktu denger pengakuan langsung Mas Irwandi di depan tadi, Saya tambah jijik...,” sahut Nadifa sambil mengusap air matanya.


“ Kalo gitu Bu Nadifa di sini aja ya, biar Saya yang di dalam. Atau kalo Bu Nadifa ga sabar, Bu Nadifa boleh pulang duluan...,” kata Ihsan.


“ Saya pulang aja Pak...,” sahut Nadifa cepat.


“ Ok gapapa, hati-hati ya Bu...,” kata Ihsan yang diangguki oleh Nadifa.


Kemudian Ihsan masuk ke dalam ruang sidang meninggalkan Nadifa yang masih mematung di dekat taman. Sesaat kemudian Nadifa melangkah meninggalkan halaman pengadilan untuk kembali ke rumah.


\=====

__ADS_1


Sidang masih berlanjut dan diwarnai perdebatan Meila dan Irwandi. Meila menyangkal punya hubungan gelap dengan Irwandi, sedang Irwandi menyangkal merencanakan pembunuhan seorang diri.


Meila pun tak bisa berkutik saat ponsel milik Irwandi dibawa ke ruang sidang. Di sana tersimpan jelas chat mesra Meila dengan Irwandi termasuk foto-foto vulgar keduanya saat di kamar hotel. Meila menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena tak kuasa menahan malu. Pengunjung sidang pun gaduh dan meneriaki Meila hingga kegaduhan pun tercipta dan membuat hakim terpaksa mengetuk palu berulang-ulang untuk menenangkan pengunjung.


“ Huuu..., dasar pelak*r. Ngaku aja daritadi apa susahnya sih. Pake drama segala Lo...!” maki seorang pengunjung.


“ Ketauan deh bobroknya...,” sindir pengunjung lainnya.


“ Ini semua gara-gara Kamu. Kenapa chat itu ga dihapus sih, kenapa juga harus nyimpen foto norak kaya gitu...?!” tanya Meila kesal sambil berurai air mata.


Pertanyaan Meila membuat dia kembali disoraki oleh pengunjung. Sedangkan Irwandi hanya menggelengkan kepala melihat sikap Meila yang berubah 180 derajat itu.


Saat jaksa penuntut umum menuding Meila iri dengan kinerja Tania, Meila kembali menyangkal dan itu membuat Irwandi geram. Ia lelah menjalani sidang yang sudah kesekian kalinya ini. Karenanya Irwandi langsung menyerang Meila.


“ Kamu emang iri sama Tania kan Mei. Tania itu selalu bisa menghitung cepat dan ga pernah salah. Dia juga menyerahkan uang toko sama persis dengan salinan bill yang ada di mesin hitung. Walau Saya tau Tania harus nombokin pake uang pribadinya supaya setoran pas. Dia ga banyak nuntut kaya Kamu yang selalu minta karyawan lain patungan buat nombokin kekurangan uang setoran toko. Makanya Tania lebih disukai teman-teman dibanding Kamu...,” kata Irwandi.


“ Itu ga benar. Kan peraturannya memang begitu. Kerugian toko hari itu ditanggung bersama oleh semua karyawan yang bertugas hari itu...,” bantah Meila.


“ Tapi Kamu memanfaatkan peraturan itu dengan mengambil barang-barang dari toko lalu membebankan pembayaran pada teman-temanmu yang bertugas hari itu dengan alasan barang hilang karena dicuri. Apa betul begitu...?” tanya Jaksa Penuntut Umum.


“ Saya ga kaya gitu Pak...!” sahut Meila lantang.


“ Oh jadi gitu Mei. Pantesan kalo Lo yang jadi kasir Kita selalu nombok banyak. Rupanya Lo yang jadi pencurinya ya. Gue ga nyangka Lo sejahat ini Mei...!” kata Dara yang saat itu duduk di kursi saksi.


“ Gue bukan maling ya Dar. Jaga ucapan Lo...!” kata Meila marah.


“ Halah ga usah bela diri Lo !. Pak Irwandi yang gede gitu aja bisa Lo curi dari Istrinya, apalagi cuma barang-barang di toko yang bisa langsung masuk ke dalam tas...,” sindir Dara ketus hingga membuat wajah Irwandi dan Meila merah padam menahan malu.


Ucapan lantang Dara disambut tepuk tangan pengunjung. Sedangkan Wina yang ikut hadir menyaksikan jalannya sidang pun nampak tersenyum.


\=====

__ADS_1


__ADS_2