
Setelah kondisi keluarganya membaik, Diki pun pamit keluar untuk mengurus sesuatu. Padahal Diki pergi ke rumah Ki Celeng untuk minta pertanggung jawaban.
“ Enak aja, udah dibayar mahal eh ga berhasil. Dasar dukun kampung. Dia harus tanggung jawab, kok bisa-bisanya santet yang dikirim malah berbalik ke keluarga sendiri. Dasar aneh...,” gerutu Diki sambil mempercepat laju kendaraaannya menuju rumah Ki Celeng.
Diki pun tiba di depan sebuah lahan kosong yang ia yakini sebagai rumah Ki Celeng. Diki pun turun dari mobil sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu. Warga yang iba melihatnya pun menyapa Diki.
“ Cari apa malam-malam gini di sini Mas...?” tanya pria yang kebetulan melintas.
“ Saya lagi nyari rumahnya Ki Celeng Pak...,” sahut Diki dan membuat pria itu bingung.
“ Ki Celeng siapa...?” tanya pria itu.
“ Ki Celeng yang paranormal handal itu lho Pak. Kemarin Saya dan Ayah Saya datang ke sini, tapi kok aneh di sini malah ga ada apa-apa...,” sahut Diki bingung.
“ Tapi ga ada nama itu di sini Mas, mungkin Mas salah lokasi. Lagian juga ini tanah sengketa, ga mungkin dibangun rumah di sini kan...,” kata pria itu meyakinkan.
Jawaban pria itu membuat Diki terkejut. Ia teringat saat kemarin duduk di teras rumah dan menyadari jika orang-orang yang berlalu lalang tak satu pun yang menoleh kearahnya. Padahal ia duduk di posisi yang mencolok dan mudah dilihat. Kini keanehan yang ia rasakan terjawab sudah. Tanpa pamit Diki langsung masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Sementara itu pria yang tadi menjawab pertanyaan Diki pun nampak tersenyum. Lalu perlahan wujudnya berubah
menjadi sosok pocong berkafan lusuh dan bermuka hancur. Ia nampak menyeringai lalu melesat masuk ke dalam lahan sengketa itu diiringi gonggongan anjing di kejauhan.
\=====
Setelah guna-guna yang dikirimkan gagal dan berbalik menyerang keluarganya. Diki pun seperti patah semangat. Apalagi ia gagal menemui Ki Celeng di rumahnya. Ki Celeng seolah raib ditelan bumi dan sulit untuk dimintai pertanggung jawaban.
Sedangkan sakit yang diderita keluarga Diki pun sulit disembuhkan bahkan tak terdeteksi oleh medis. Diki pun
harus memutar otak agar keluarganya kembali pulih. Tetangga Diki yang tahu jika penyakit itu adalah penyakit non medis pun berusaha membantu dengan memanggil seorang ustadz.
Ustadz Baharudin nampak menatap lekat tiga orang di hadapannya secara bergantian. Setelahnya ia menatap Diki dan nampak menggelengkan kepalanya.
“ Penyakit ini karena ulahmu sendiri. Kamu yang menyebabkan keluargamu terluka, maka Kamu yang harus mencari obatnya...,” kata ustadz Baharudin.
“ Saya bersedia Pak Ustadz, katakan dimana Saya harus mencari obatnya dan berapa harganya...?” tanya Diki dengan sombong hingga membuat ustadz Baharudin tersenyum penuh makna.
__ADS_1
“ Turunkan egomu, maka Kamu akan dapatkan obatnya...,” sahut ustadz Baharudin.
“ Maksudnya gimana ya Pak Ustadz...?” tanya Diki tak mengerti.
“ Minta maaf lah pada keluarga yang telah Kamu kirimi santet. Maka mereka akan membantumu mendapatkan obatnya secara gratis...!” kata ustadz Baharudin lantang dan mengejutkan Diki.
“ Saya ga mau minta maaf sama mereka Pak Ustadz. Mereka yang memulai jadi mereka yang harus minta maaf sama Saya...,” bantah Diki.
“ Kalo gitu Saya ga bisa membantu. Maaf jika Kalian ga ada urusan lagi, silakan keluar dari rumah Saya...,” kata
ustadz Baharudin sambil berdiri lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Diki dan keluarganya di ruang tamu.
Melihat kepergian ustadz Baharudin ibu Diki pun marah. Ia melampiaskan kemarahannya saat tiba di rumah.
“ Kamu kenapa sih Dik, apa susahnya minta maaf sama Pak Adam...?” tanya ibu Diki kesal.
“ Bukan salahku, ini kan gara-gara mereka...,” sahut Diki cuek.
“ Dasar sombong, keras kepala. Terbuat dari apa sih hatimu itu Diki. Asal Kamu tau ya. Tiap saat Ibu dan Tantemu
“ Ibu diikutin dan diancam sama makhluk halus juga...?” tanya Diki tak percaya.
“ Iya...!” sahut ibu dan tante Diki yang bernama Mia itu bersamaan.
“ Apa ancamannya Bu...?” tanya Diki penasaran.
“ Dia bilang dia baru mau pergi kalo salah satu diantara Kita ada yang mati...,” sahut ibu Diki sedih hingga mengejutkan Diki.
“ Apa Ayah juga kaya gitu...?” tanya Diki.
“ Pasti lah. Tapi Ayahmu kan laki-laki, jadi lebih berani ngeliat yang kaya gitu...,” sahut ibu Diki mewakili suaminya.
Diki pun terduduk lemas. Ia merasa tak punya pilihan lain selain meminta maaf pada Adam dan keluarganya. Namun egonya mengalahkan semuanya hingga Diki tetap menolak meminta maaf.
\=====
__ADS_1
Sore itu Mia baru saja keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri. Saat itu ia tengah kedatangan tamu bulanan. Entah kenapa tamu bulanannya kali ini berbeda dari biasanya hingga memaksa Mia berkali-kali ke kamar mandi. Ibu Diki yang melihat wajah pucat Mia pun menjadi iba.
“ Apa perutmu juga sakit Mi...?” tanya kakak iparnya yang tak lain ibu kandung Diki.
“ Iya Kak, sakit banget. Ini beda dari biasanya, darahnya juga banyak banget. Belum setengah hari aja Aku udah ganti pembalut beberapa kali...,” sahut Mia.
“ Jangan-jangan ini ada hubungannya sama santet yang berbalik itu ya Mi...,” kata ibu Diki dengan suara parau.
“ Kayanya sih gitu Kak. Sebentar ya Kak, Aku ke kamar mandi dulu...,” sahut Mia sambil bergegas ke kamar mandi dengan membawa pembalut.
Baru saja Mia menutup pintu, tiba-tiba terdengar benda berat jatuh. Ibu Diki menatap pintu kamar mandi sambil menunggu jeritan Mia karena ia yakin Mia lah yang jatuh di kamar mandi itu. Beberapa saat menunggu ternyata tak terjadi apa-apa dan itu membuat ibu Diki bernafas lega. Ibu Diki pun melanjutkan pekerjaannya menyapu lantai tanpa tahu apa yang terjadi.
Sedangkan di kamar mandi Mia nampak berdiri mematung sambil membelalakkan mata. Saat ia membuka pintu tadi sosok makhluk hitam seukuran anak kecil sudah menantinya di dalam kamar mandi. Kemudian makhluk itu melompat kearahnya dan langsung menjatuhkan diri di depan Mia. Suara itu lah yang didengar ibu Diki tadi.
Tubuh Mia bergetar hebat karena merasa sakit yang amat sangat di bagian bawah tubuhnya, ditambah shock melihat wujud makhluk itu. Rupanya makhluk hitam kecil itu tengah menghisap darah haid Mia langsung dari tempatnya hingga membuat Mia kehabisan darah dan sekarat.
Sebelum Mia menghembuskan nafasnya yang terakhir, pintu kamar mandi pun didobrak dari luar oleh Diki dan ayahnya. Ibu Diki yang ada di belakang suaminya pun nampak terkejut dan menjerit histeris melihat kondisi Mia yang mengenaskan. Bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka, makhluk hitam itu pun melesat pergi meninggalkan tubuh Mia.
Sesaat kemudian tubuh Mia merosot jatuh ke lantai dengan nyawa yang telah pergi meninggalkan raganya. Ibu Diki
kembali menjerit saat mengetahui Mia meninggal dunia dengan wajah pucat dan tubuh kering kehabisan darah.
Ibu Diki menoleh kearah anak dan suaminya. Ia memaki keduanya yang telah menyebabkan Mia meninggal dunia.
“ Dasar jahat, gara-gara Kalian Mia mati. Kalian yang jahat, bukan Adam atau Anaknya. Kalian yang jahat, dasar pembunuh...!” kata ibu Diki lantang sambil berurai air mata.
Diki dan ayahnya berusaha menenangkan ibunya. Wanita itu terus meronta sambil memaki meski pun mereka berusaha membujuknya.
“ Kamu liat kan Diki. Egomu telah memakan korban. Tantemu mati karena Kau menolak minta maaf pada mereka. Kau penyebab kematian Mia, Aku membencimu...!” kata ibu Diki hingga membuat Diki tersentak kaget.
Ibu Diki terus meracau meski pun warga telah berdatangan. Kemarahan ibu Diki mencapai puncaknya melihat kematian Mia, adik ipar yang telah ia anggap anaknya sendiri karena ia membesarkan Mia sejak gadis itu berusia sepuluh tahun.
Diki dan ayahnya nampak menahan malu karena sesuatu yang mereka simpan rapat akhirnya terungkap dengan kematian Mia. Warga terus bergunjing tentang keluarga Diki yang terkenal santun dan berpendidikan itu. Warga tak menyangka jika keluarga Diki sanggup melukai orang lain melalui kiriman guna-guna yang berbalik menyerang keluarga mereka hingga mengorbankan Mia.
Bersambung
__ADS_1