
Keesokan harinya Iyaz dan Izar kembali bertemu dengan Usep. Kali ini mereka bertemu langsung di rumah Usep
tanpa Tinah.
“ Apa semalam ada gangguan lagi Pak...?” tanya Iyaz.
“ Alhamdulillah Saya sama Istri Saya tidur nyenyak semalam Mas...,” sahut Usep.
“ Syukur lah. Itu artinya makhluk itu ga mengikuti Pak Usep dan Bu Tinah...,” kata Iyaz.
“ Terus Kita ngapain di sini Mas...?” tanya Usep.
“ Kita mau meruqyah rumah Pak Usep. Tapi sebelumnya boleh kan Kami liat kamar tidur Pak Usep...?” tanya Izar.
“ Boleh Mas, ayo ikut Saya...,” kata Usep sambil membuka pintu lalu membawa Iyaz dan Izar masuk ke dalam
kamarnya.
Iyaz dan Izar saling menatap saat mereka tiba di kamar tidur Usep dan istrinya itu. Sejak di ambang pintu kamar
mereka sudah merasakan aura mistis yang pekat. Dalam penglihatan Iyaz dan Izar semua benda di kamar Usep diselimuti warna kehijauan. Dan itu artinya Usep dan istrinya memang terjebak dalam satu hubungan yang rumit.
“ Makhluk itu udah masuk dan menguasai kamar tidur Pak Usep artinya dia udah menguasai sebagian diri Pak Usep. Buktinya Pak Usep bisa menyentuh dan merasakan kenikmatan saat berhubungan dengannya...,” kata Iyaz.
Mendengar ucapan Iyaz membuat persendian di tubuh Usep seolah tanggal satu per satu. Usep sangat takut dan ingin segera lepas dari pengaruh ghaib itu.
“ Saya harus melakukan apa Mas...?” tanya Usep.
“ Kita lakukan ruqyah dan pemanggilan arwah Mayang Jati ya Pak Usep. Nanti Pak Usep harus memutus hubungan Pak Usep sama dia...,” sahut Iyaz.
“ Caranya gimana Mas...?” tanya Usep setelah merenung sejenak.
“ Pak Usep bilang aja kalo Pak Usep bukan Wasal atau reinkarnasinya. Pak Usep juga bilang kalo saat ini Pak Usep udah menikah dan sangat mencintai Istri Pak Usep itu...,” sahut Izar.
“ Hanya itu Mas...?” tanya Usep.
__ADS_1
“ Iya Pak...,” sahut Izar.
“ Ntar kalo dia marah karena Saya udah punya Istri gimana Mas...?” tanya Usep.
“ Harusnya dia ga akan marah, karena dia sebenarnya wanita baik-baik yang mencintai Wasal karena pengaruh pelet di dalam batu hijau itu...,” kata Izar.
“ Kalo gitu Saya setuju Mas. Tolong bantu Saya ya Mas Izar, Mas Iyaz...,” pinta Usep sungguh-sungguh.
“ Insya Allah siap Pak Usep...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
Jawabaan Iyaz dan Izar membuat Usep tersenyum lega. Sesaat kemudian proses ruqyah pun dimulai. Usep nampak mengamati kegiatan yang dilakukan Iyaz dan Izar sambil ikut berdzikir. Usep nampak kagum pada kedua pemuda di depannya. Usep mengira akan ada sesajen yang diletakkan Iyaz dan Izar di tengah kamar tidur, tapi nyatanya Iyaz dan Izar melakukan ruqyah tanpa bunga dan dupa.
Iyaz dan Izar pun mulai membaca ayat Al Qur’an yang mereka hapal di luar kepala sedangkan Usep membantu dengan berdzikir.
Setelah beberapa saat, suasana di kamar Usep mulai terasa lembab. Aroma tanah yang basah pun menguar di dalam ruangan itu seolah mereka tengah dibawa ke masa ratusan tahun lalu di hari terakhir batu topaz itu terlihat.
Selain suhu ruangan yang terasa lembab, sayup-sayup mereka mendengar suara air mengalir. Iyaz dan Izar
mengangguk lalu memberi kode pada Usep agar tetap tenang dan jangan terusik dengan penampakan apa pun yang akan dilihatnya nanti.
kencang dan terdengar sangat dekat di telinga Usep. Dengan susah payah Usep berusaha mengendalikan diri agar tak jatuh pingsan, ia memejamkan matanya karena tak sanggup melihat sesuatu yang akan muncul di hadapannya nanti.
Sedangkan Iyaz dan Izar menajamkan penglihatan mereka dan melihat sosok wanita berkebaya hijau lusuh dan berkain batik tengah duduk di sudut kamar. Wanita yang mereka kenal sebagai arwah Mayang Jati itu sedang menangis sedih. Iyaz dan Izar pun mulai melakukan komunikasi dengan arwah Mayang Jati.
“ Kenapa Kamu menangis...?” tanya Iyaz.
“ Aku kehilangan sesuatu...,” sahut arwah Mayang Jati.
“ Apa yang hilang...?” tanya Iyaz lagi.
“ Kekasihku. Dia pergi meninggalkan Aku setelah Aku mengorbankan nyawaku untuk melindunginya. Dia pergi membawa semua cintaku dan tak pernah kembali. Saat Kami bertemu lagi, dia malah sudah menikah dengan wanita lain...,” sahut arwah Mayang Jati.
“ Apa maksudmu Wasal...?” tanya Izar hati-hati.
“ Iya. Apa Kalian mengenalnya...?” tanya Mayang Jati.
__ADS_1
“ Tidak...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Tapi Aku liat Kalian selalu bersamanya...,” kata arwah Mayang Jati sambil menoleh kearah Usep.
Saat Mayang Jati menoleh terlihat wajah aslinya yang telah hancur. Hanya tinggal tulang tengkorak dengan serpihan daging dan kulit yang menempel di sana. Kedua mata, hidung dan mulutnya hanya berupa rongga kosong yang dipenuhi pasir karena jasadnya memang dikuburkan di pinggir sungai. Rambut hitam legam milik arwah Mayang Jati seolah hanya menempel di tulang tengkoraknya itu.
Iyaz dan Izar menatap iba kearah Mayang Jati yang terlihat mengenaskan karena mati demi menyelamatkan pria yang sama sekali tak pernah mencintainya.
“ Dia bukan Wasal yang Kau cintai itu...,” kata Izar.
“ Aku tau. Tapi Aku menemukan diri Wasal dalam diri laki-laki itu. Aroma darah mereka sama dan Aku merasa jika dia adalah keturunan Wasal...,” sahut arwah Mayang Jati lirih.
Pengakuan arwah Mayang Jati mengejutkan Iyaz dan Izar. Meski pun begitu Iyaz dan Izar tak membenarkan
tindakan Mayang Jati.
“ Andai itu benar, tapi yang Kau lakukan adalah sebuah kesalahan. Pergi lah, tinggalkan dia. Jika Kamu mencintainya, jangan ganggu dia dan keluarganya...,” kata Iyaz.
Arwah Mayang Jati nampak termenung sejenak. Nampaknya ia merasa keberatan dengan permintaan Iyaz. Ia menoleh sekali lagi kearah Usep lalu menggelengkan kepalanya.
“ Aku ga tau harus kemana kalo Aku ga ngikutin dia. Orangtuaku membenciku karena Aku memilih mengejar Wasal dan meninggalkan Kang Purba. Aku ga punya tempat untuk kembali selain di sini, di sampingnya..,” kata arwah Mayang Jati lirih.
“ Kami akan membantumu keluar dari belenggu itu Mayang. Dunia Kalian jauh berbeda dan Kalian tak mungkin hidup bersama...,” kata Izar.
Mendengar ucapan Izar membuat Mayang Jati kembali menangis. Arwah Mayang Jati merasa jika Iyaz dan Izar adalah orang jahat yang ingin memisahkan dia dengan Wasal.
“ Kenapa Kalian mencampuri urusanku. Pergi dan jangan ganggu Aku...!” kata arwah Mayang Jati dengan marah.
Sedetik kemudian arwah Mayang Jati nampak menyeringai marah lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Ajaibnya mulut yang semula hanya berukuran 7 cm itu pun membesar berkali-kali lipat hingga menyerupai lubang besar sebesar lubang sumur yang siap memangsa apa pun yang ada di hadapannya.
Karena Iyaz dan Izar tak terusik dengan wujud mulutnya itu, arwah Mayang Jati pun memperlihatkan diri di depan
Usep hingga membuat Usep terkejut bukan kepalang. Saking terkejutnya Usep harus terjengkang di lantai dengan posisi terlentang dan mata membulat melihat penampakan hantu Mayang Jati.
\=====
__ADS_1