
Pagi itu suasana pesantren terlihat tenang. Masjid pesantren terlihat sepi karena hanya ada beberapa santri saja di dalamnya. Hari ini adalah hari Minggu pekan kedua. Karenanya para santri diberi kebebasan untuk sedikit ‘bersantai’. Hari itu adalah hari dimana para santri akan mendapat kunjungan dari keluarga mereka masing-masing.
Namun ketenangan pesantren sedikit terusik karena suara bising motor yang baru saja tiba. Para santri yang ada di masjid pun nampak bingung karena ini masih terlalu pagi untuk berkunjung.
Motor terlihat memasuki halaman pesantren dan pengendaranya membawa motor itu melintasi halaman masjid
lalu berhenti di depan rumah ustadz Hamzah. Sang pengendara masuk ke dalam pekarangan rumah ustadz Hamzah tergesa-gesa.
“ Assalamualaikum Pak Ustadz...!” sapa orang yang tak lain adalah Bayan itu sambil mengetuk pintu.
“ Wa alaikumsalam. Lho Pak Bayan, ada apa Pak. Mari silakan masuk...,” sahut ustadz Hamzah.
“ Maaf udah ganggu pagi-pagi gini, tapi Saya harus cepat. Saya mau minta tolong sama Pak Ustadz. Anak Saya kesurupan Pak Ustadz...!” kata Bayan panik.
Kemudian Bayan menceritakan dengan cepat apa yang dialami Neta. Termasuk analisa Iyaz dan Izar saat menjenguk Neta di klinik kemarin malam.
“ Insya Allah Kami akan bantu Pak Bayan. Sekarang biar Saya panggil Iyaz dan Izar untuk ikut ke rumah Pak Bayan...,” kata ustadz Hamzah.
“ Baik Pak Ustadz...,” sahut Bayan.
Tak lama kemudian Ustadz Hamzah dan Iyaz nampak keluar dari lingkungan pesantren dengan menggunakan sebuah motor. Sedangkan Izar duduk di belakang Bayan yang melajukan kendaraannya lebih dulu untuk memandu perjalanan.
Saat tiba di rumah Bayan terdengar suara jeritan dan tangisan yang tak biasa. Rupanya makhluk halus dalam tubuh Neta sedang mengamuk. Bayan langsung membawa ketiga tamunya masuk ke dalam rumah dan saat itu terlihat jika Aldi dan kedua adiknya sedang memegangi Neta yang berontak dan meracau.
\=====
Ustadz Hamzah, Iyaz dan Izar masih melanjutkan membaca lantunan ayat suci Al Qur’an dan berdzikir. Sedangkan
reaksi Neta pun di luar dugaan. Semula terlihat tenang, tapi lama kelamaan makin beringas.
“ Singkirkan dia dari hadapanku...!” kata Neta lantang sambil menatap ustadz Hamzah marah.
Ustadz Hamzah tampak tenang dan tak merespon ucapan makhluk dalam tubuh Neta. Sedangkan Iyaz dan Izar
menatap Neta yang sedang kerasukan itu dan melihat apa yang sedang merasukinya.
Ternyata di dalam tubuh Neta ada arwah Laudya yang marah karena cintanya dikhianati oleh kekasihnya. Laudya menatap marah kearah ustadz Hamzah karena menganggap ustadz Hamzah telah menghalangi niatnya untuk balas dendam pada orang yang telah membuatnya celaka.
Dalam kilasan peristiwa itu terlihat jika Laudya mendatangi rumah orangtua Rafa sepaerti biasa karena hari itu adalah jadwal les Rafa. Namun Laudya nampak mengerutkan keningnya saat melihat suasana rumah besar itu nampak sepi.
“ Aneh, kok sepi banget. Biasanya selalu rame...,” gumam Laudya sambil melangkah melewati pos security.
Karena telah lama mengenal sang security, maka Laudya tak sungkan lagi untuk masuk ke dalam rumah besar itu meski pun saat itu pos security sedang kosong.
“ Eh, ada Bu Laudya...,” sapa security yang baru saja keluar dari toilet.
__ADS_1
“ Iya. Kok sepi ya Pak...?” tanya Laudya.
“ Oh itu, Den Rafa lagi jalan-jalan ke mini market depan. Biasa Bu, ada yang mau dibeli...,” sahut security.
“ Lama ga Pak...?” tanya Laudya.
“ Sebentar kok Bu. Tunggu aja di dalam...,” saran security.
“ Ok, Saya masuk ya...,” sahut Laudya yang diangguki sang security.
Laudya masuk dan langsung menuju ke ruang tengah dimana ia biasa mengajar Rafa. Di sana Laudya melihat jika perlengkapan belajar Rafa telah tersusun rapi di atas meja pertanda Rafa siap untuk belajar.
Sambil menunggu kedatangan Rafa, Laudya duduk di sofa. Laudya mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan yang terlihat apik itu. Tiba-tiba pendengaran Laudya terusik karena mendengar suara gemericik air dari kolam renang yang berada di dekat ruang tengah dan bisa dilihat dari tempatnya duduk.
Karena merasa famlyar dengan suara itu, Laudya melangkah kearah jendela untuk melihat siapa yang sedang berenang di kolam renang. Mata Laudya membulat dengan mulut ternganga saat melihat pemandangan yang menyakitkan untuknya.
Di depan sana Laudya menyaksikan Sofian sedang bercumbu dengan nyonya rumah alias ibu kandung Rafa di dalam kolam renang.
Laudya tak sanggup mengendalikan diri. Ia merangsek maju menghampiri kolam renang untuk melabrak Sofian.
“ Oh, jadi ini yang bikin Kamu ingkar janji Sofian...?!” tanya Laudya lantang hingga mengejutkan Sofian dan ibu Rafa.
“ Kamu. Mau apa Kamu di sini...?” tanya Sofian tak suka tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh sang
majikan.
“ Lepaskan Aku Sayang...,” bisik ibu Rafa.
Sofian melepaskan sang majikan yang berenang ke tepi lalu keluar dari kolam renang. Ibu Rafa melangkah mendekati Laudya dengan tubuh yang nyaris telan**ng. Ia balik menatap Laudya dengan tatapan mengejek.
“ Saya ga suka Bu guru masuk ke wilayah pribadi di rumah Saya ini. Jangan lupa, Anda hanya tamu. Jadi bersikap lah layaknya tamu...!” kata ibu Rafa tajam.
“ Saya memang tamu di sini. Tapi Ibu jangan lupa kalo laki-laki yang Ibu cumbu tadi adalah kekasih Saya. Jadi Saya bertindak sebagai wanita yang dikhianati bukan sebagai guru...!” kata Laudya lantang.
Tawa pun terdengar dari mulut ibu Rafa. Sementara Sofian juga baru saja keluar dari kolam renang lalu melangkah mendekat kearah Laudya dari belakang.
“ Tapi dia juga kekasihku. Dan dia bilang dia lebih suka Aku dibandingkan Kamu. Buktinya sekarang dia bersamaku dan memelukku...,” kata ibu Rafa di sela tawanya yang mengejek itu.
Laudya nampak geram. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan wajah bersimbah air mata. Ia merasa diremehkan dan dibohongi. Saat itu Laudya sadar jika sejak awal Sofian hanya menjadikannya sebagai tameng untuk menutupi hubungan gelapnya dengan sang majikan.
“ Kalian jahat...!” kata Laudya lantang.
“ Jahat ?. Kamu yang jahat karena masuk dalam hubungan Kami dan jadi orang ketiga diantara Aku dan Sofian...!” kata ibu Rafa marah.
“ Aku bakal bilang ini sama Ayahnya Rafa. Biar Kamu dipecat dan Kamu dibuang dari rumah ini...!” ancam Laudya sambil menatap Sofian dan ibu Rafa bergantian.
__ADS_1
“ Jangan lakukan itu Laudya...,” pinta Sofian sambil menggenggam tangan Laudya.
Laudya menepis tangan Sofian dengan kasar lalu bersiap melangkah meninggalkan Sofian dan ibu Rafa. Namun
langkah kaki Laudya terhenti saat merasa pinggangnya dipeluk erat oleh Sofian dari belakang.
“ Lepasin Aku Sofian, jangan kurang ajar Kamu...!” maki Laudya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Sofian.
Ibu Rafa nampak tersenyum licik. Ia menganggukkan kepalanya saat wajah Laudya di hadapkan kearahnya seolah tengah mengatur siasat untuk mencelakai Laudya.
“ Hitungan ketiga ya Sayang...,” kata ibu Rafa.
“ Ok Sayang...,” sahut Sofian.
“ Apa yang mau Kalian lakukan, lepaskan Aku...!” kata Laudya panik.
Tapi Sofian dan majikannya malah mengabaikan jeritan Laudya. Sambil tersenyum penuh makna, ibu Rafa mundur
lalu mulai berhitung.
“ Satu..., dua..., tiga...,” kata ibu Rafa lalu tertawa.
Saat hitungan mencapai angka tiga, Sofian membawa Laudya masuk ke dalam kolam renang dengan cara melompat. Kemudian Sofian membenamkan Laudya dengan posisi masih memeluk Laudya dari belakang.
Laudya yang tak bisa berenang itu gelagapan, apalagi saat itu ia dalam keadaan panik. Dalam ketidak berdayaannya Laudya teus berontak dan membuatnya banyak menelan air. Sesaat kemudian Laudya pun pingsan karena kehabisan nafas.
Melihat Laudya yang pingsan tak membuat Sofian mengakhiri aksinya. Ia malah makin membenamkan tubuh Laudya dan menahan dengan kakinya agar tubuh Laudya tak bisa timbul ke permukaan.
Tiba-tiba sang security melongok dari jendela untuk mengecek apa yang terjadi. Dan itu membuat Sofian dan majikannya panik. Sofian kembali menyelam ke dalam air agar tak terlihat oleh sang security.
“ Maaf, Nyonya gapapa kan...?” tanya security.
“ Gapapa...,” sahut ibu Rafa santai.
“ Oh maaf. Saya dengar suara jeritan tadi. Saya kira Nyonya perlu bantuan atau semacamnya...,” kata sang security tak enak hati.
“ Saya kepleset aja tadi, tapi sekarang gapapa kok. Udah lanjutin tugas Kamu di luar sana. Jangan masuk kalo ga Saya panggil...,” titah ibu Rafa.
“ Baik Nyonya...,” sahut sang security sambil melangkah cepat menuju keluar rumah.
Setelah situasi aman, ibu Rafa memberi isyarat agar Sofian keluar dari kolam renang.
“ Gimana keadaannya...?” tanya ibu Rafa.
“ Dia..., dia udah ga bernafas. Keliatannya dia mati Sayang...,” sahut Sofian gugup.
__ADS_1
Ibu Rafa terkejut dan menegakkan kepalanya. Sesaat kemudian seringai licik tebit di wajahnya. Sofian paham jika majikan sekaligus kekasih gelapnya itu memiliki rencana untuk mengaburkan bukti pembunuhan yang baru saja ia lakukan.
Bersambung