
Izar mengendarai mobil dengan tenang. Hanako yang duduk di samping Izar nampak berceloteh riang menceritakan banyak hal hingga membuat Faiq dan Fatur tersenyum.
“ Pelan-pelan Zar, Kita udah hampir sampe...,” pinta Hanako.
“ Ok...,” sahut Izar sambil memperlambat laju mobil.
“ Nah itu di sana. tapi kok banyak orang ya Pa...?” tanya Hanako sambil menoleh kearah Faiq yang juga nampak mengerutkan kening melihat keramaian di luar sana.
“ Papa ga tau Nak, coba berhenti Zar, Kita liat situasi dulu...,” kata Faiq.
“ Iya Yah...,” sahut Izar lalu menepikan mobil tak jauh dari tempat yang dimaksud.
Di depan lahan kosong terlihat beberapa orang tengah berkerumun mengelilingi beberapa motor yang terparkir di atas trotoar persis di depan pintu masuk ke lahan itu. Karena penasaran, Faiq dan Fatur turun dari mobil lalu menghampiri kerumunan warga itu. Sedangkan Hanako dan Izar menunggu di dalam mobil sambil terus mengamati.
“ Assalamualaikum..., ada apa ini Pak...?” sapa Fatur dan Faiq santun.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut warga bersamaan sambil menoleh kearah Fatur dan Faiq.
“ Kami lagi nyari siapa pemilik motor-motor ini Pak. Udah sejak semalam terparkir di sini tapi kok belum ada yang ngambil...,” sahut salah seorang warga.
“ Lho, memangnya mereka kemana Pak...?” tanya Fatur.
“ Itu dia Pak, Kami ga tau. Semalam waktu Kami lewat, motor-motor ini udah ada di sini. Nah, hari ini juga masih di sini dengan posisi yang sama persis. Artinya kan motor ini ditinggal tapi belum disentuh lagi sama pemiliknya sejak semalam...,” sahut warga.
“ Kami khawatir mereka masuk ke dalam sana Pak...,” kata salah seorang warga.
“ Oh, kalo gitu ya dipanggil aja Pak...,” sahut Faiq cepat.
Mendengar ucapan Faiq membuat beberapa warga saling menatap bingung lalu mengangguk dan mengatakan hal yang mengejutkan.
“ Kami ga berani Pak...,” sahut warga bersamaan.
“ Kenapa memangnya...?” tanya Fatur pura-pura tak tahu.
“ Konon katanya, siapa yang masuk ke dalam sana ga akan keluar dalam keadaan hidup atau bahkan hilang sama sekali tanpa jasad atau jejak...,” sahut warga sambil bergidik.
Faiq dan Fatur saling menatap kemudian mengangguk.
“ Tapi kasian kan kalo mereka ga ditemuin. Mungkin aja di dalam sana mereka juga butuh bantuan. Tapi karena warga ketakutan ga berani masuk, bisa jadi mereka meninggal karena ga cepat dapat bantuan dari Kita...,” kata Faiq sambil menatap warga satu per satu.
“ Iya juga sih, kasian mereka. Terus gimana Pak, Kami beneran takut...,” sahut salah seorang warga.
“ Ijinkan Saya dan Om Saya masuk ke sana. Bapak-bapak tetap tunggu di sini mengamati keadaan. Gimana Pak...?” tanya Faiq.
“ Ok, Kami setuju Pak. kami bakal tunggu di sini sampe Bapak berdua keluar dari dalam sana. Tapi beneran nih Bapak berdua berani...?” tanya warga antusias.
__ADS_1
“ Insya Allah. Kalo gitu Saya panggil Anak-anak Saya buat bantuin...,” kata Faiq sambil memberi kode pada Izar dan Hanako agar ikut bergabung dengannya.
Izar dan Hanako pun turun dari mobil lalu menghampiri Faiq dan Fatur. Sementara warga nampak terkejut karena Faiq mengajak seorang gadis muda masuk ke dalam lahan untuk membantunya.
“ Apa Bapak yakin ngajak Anak perempuan Bapak ikutan masuk ke dalam...?” tanya warga sambil menatap Hanako.
“ Insya Allah. Anak saya ini jago bela diri Pak, dia bakal bisa jaga diri dan ga menyusahkan Kami nanti...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah..., silakan Pak. Kami tunggu di sini ya. Panggil Kami kalo nemu sesuatu dan butuh bantuan ya Pak...,” kata warga sambil menepi.
“ Baik Pak...,” sahut Faiq cepat.
Fatur, Faiq, Izar dan Hanako pun masuk ke dalam lahan kosong. Situasi di dalam sana sama persis dengan kondisi saat Hanako lihat dari seberang jalan dua hari yang lalu.
Langkah kaki mereka terhenti saat pandangan mereka membentur sosok tubuh yang terbaring di tanah dengan posisi berjauhan.
“ Ada orang Pa...!” seru Hanako.
“ Iya. Ayo Kita liat...,” sahut Faiq lalu menghampiri enam orang yang terbaring di tanah itu.
“ Mereka masih hidup Yah...,” kata Izar.
“ Betul. Basuh wajah mereka dengan air ruqyah yang Kamu bawa tadi Nak...,” sahut Faiq.
Sesaat kemudian keenam pria itu nampak mulai siuman. Mereka terkejut dan langsung bangun saat mendapati diri mereka ada di tempat asing. Dari keenam pria di hadapannya Hanako mengenali salah seorang diantaranya. Pria itu adalah Bintang. Dan Hanako memanggil namanya hingga membuat Bintang dan kelima temannya menoleh kearah Hanako.
“ Bintang...!” panggil Hanako.
“ Hanako. Kamu di sini juga...?” tanya Bintang sambil mengusap wajahnya karena tak ingin terlihat kumal di hadapan Hanako usai pingsan tadi.
“ Iya. Kamu ngapain di sini...?” tanya Hanako sambil menatap Bintang dan kelima temannya satu per satu.
“ Aku...,” ucapan Bintang terputus karena melihat Izar yang berdiri di samping Hanako sambil menatap kearahnya dengan tatapan tak bersahabat.
“ Kami lagi uji nyali di sini...,” kata salah seorang teman Bintang hingga mengejutkan semua orang.
“ Uji nyali...?” tanya Hanako tak percaya sambil menatap Bintang.
“ Iya. Kami dengar tempat ini punya cerita mistis tersendiri di masanya. Makanya Kami datang buat uji nyali semalam. Tapi ga tau kenapa Kami malah pingsan dan baru siuman karena bantuan Kalian tadi. Makasih ya...,” sahut Boris dengan logat Sumatranya yang kental.
“ Sama-sama. Terus Kalian liat apa semalam...?” tanya Faiq.
“ Mmm..., Kami ga ngeliat apa-apa...,” sahut Boris berbohong sambil menggaruk kepalanya.
“ Gue liat sesuatu...,” kata Tomi tiba-tiba.
__ADS_1
“ Gue juga...,” sahut Refan.
Keenam orang pemuda itu saling menatap seolah ragu untuk menceritakan pengalaman mereka. Hal itu membuat Hanako kesal.
“ Ga usah bohong. Kalian pasti liat sesuatu tadi malam. Kalo ga, mana mungkin Kalian bisa pingsan semua kaya tadi...,” kata Hanako sinis hingga membuat Bintang dan kelima temannya terdiam.
“ Kita bahas ini di luar aja ya Nak. Sebaiknya Kita keluar sekarang, kasian warga cemas nungguin Kita di luar...,” kata Fatur menengahi.
“ Ok Opa...,” sahut Hanako dan Izar bersamaan lalu melangkah lebih dulu untuk memimpin perjalanan keluar dari
tempat itu.
Kemudian Bintang dan kelima temannya mengikuti dari belakang sambil menatap ke sekeliling mereka dengan takjub.
“ Kok mereka gampang banget nemuin jalan keluar ya Tom. Padahal Kita setengah mati nyari jalan keluar semalam tapi ga nemu-nemu...,” kata Boris.
“ Iya. Kayanya mereka punya
kekuatan super deh bisa nemuin Kita di sini juga...,” sahut Tomi.
“ Bukan punya kekuatan super. Tapi ini semua gara-gara warga ngeliat motor Lo yang terparkir di trotoar depan sejak semalam...,” kata Izar ketus hingga mengejutkan Bintang dan kelima temannya.
“ Oh iya, motor Gue...!” kata Refan panik sambil melangkah cepat di blakang Izar dan Hanako.
“ Tenang aja, motor Lo sama motor temen-temen Lo udah diamanin warga...,” sahut Izar.
“ Alhamdulillah, makasih ya Bro. Bukan apa-apa, tuh motor belum lunas kreditannya...,” kata Refan salah tingkah hingga membuat Izar dan Hanako tersenyum mendengarnya.
Warga menoleh saat melihat Hanako dan Izar keluar dengan selamat dari dalam lahan kosong itu. Apalagi saat mereka juga melihat keenam pemuda pemilik motor ada di belakang mereka, warga pun nampak bernafas lega. Fatur dan Faiq adalah orang yang terakhir keluar dari lahan itu.
“ Alhamdulillah..., semua selamat...,” kata warga lega.
“ Kenapa bisa terjebak di sana sih Mas...?” tanya warga.
“ Mereka lagi uji nyali Pak, tapi sayangnya mereka malah terjebak dan ga bisa keluar dari sana...,” sahut Izar mewakili Bintang dan kelima temannya.
“ Ya Allah..., Kalian kurang kerjaan banget sih...,” kata warga.
“ lya nih, untung Bapak ini bisa bawa Kalian keluar hidup-hidup. Kalo ga gimana, apa Kalian ga mikirin perasaan orangtua Kalian...?” tanya warga lain dengan gemas.
Bintang dan kelima temannya pun nampak terdiam dan terpaksa harus menerima banyak ‘petuah bijak’ dari warga.
Izar dan Hanako menatap mereka dari kejauhan sambil tersenyum puas. Diam-diam Bintang mencuri pandang kearah Hanako. Dalam hati ia bertekad ingin menjelaskan kesalah pahaman ini pada Hanako karena ia tak ingin Hanako memiliki kesan buruk tentangnya.
Bersambung
__ADS_1