
Malam itu Hanako memberanikan diri bertanya tentang Putri pada suaminya itu. Pandu nampak menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya. Saat itu Hanako sedang duduk di depan cermin sedangkan Pandu baru saja masuk ke dalam kamar.
“ Kalo Kamu ragu untuk cerita, ga usah cerita Mas. Aku ngerti kok kalo hubungan Kalian mungkin...,” ucapan Hanako terputus karena Pandu memotong cepat.
“ Aku dan dia pernah dijodohkan sama Kakek dulu...,” kata Pandu cepat hingga membuat Hanako terkejut.
“ Jadi itu mantan toh...,” sahut Hanako sambil mencibir lalu membalikkan tubuhnya menghadap cermin.
“ Jangan salah paham Sayang...,” kata Pandu sambil memeluk Hanako dari belakang.
“ Aku ga bakal salah paham kalo Kamu jelasin semuanya sama Aku Mas...,” sahut Hanako cepat.
“ Emangnya Kamu yakin mau dengar semuanya. Aku ga yakin Kamu kuat...,” kata Pandu.
“ Ck. Intinya Kamu mau cerita atau ga sih Mas. Jangan bertele-tele ya...,” sahut Hanako kesal.
“ Tuh, belum apa-apa aja Kamu udah marah. Apalagi kalo aku ceritain semuanya nanti...,” kata Pandu sambil melepaskan pelukannya lalu melangkah ke tempat tidur.
Hanako membulatkan matanya. Ia gemas dengan sikap Pandu lalu mengejarnya. Kemudian Hanako mengulurkan tangannya untuk menarik kaos Pandu agar berhenti melangkah. Pandu yang sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan istrinya itu pun berkelit ke samping hingga Hanako hanya menangkap angin. Setelahnya Pandu balik menangkap Hanako dan membaringkannya di atas tempat tidur dengan posisi Hanako berada di bawah tubuhnya.
Nafas keduanya memburu dan saling menerpa wajah masing-masing. Hanako yang masih kesal pun berusaha mendorong tubuh Pandu namun Pandu tetap bertahan. Ia bahkan menggigit kecil leher Hanako hingga membuat Hanako mendesis kesakitan.
“ Lepasin Mas...!” kata Hanako lantang.
“ Ga akan...,” sahut Pandu sambil mulai mencumbu Hanako.
“ Jangan harap Aku mau melayanimu kalo Kamu ga mau ceritain tentang Putri...,” kata Hanako lalu mendorong tubuh Pandu dengan kuat hingga membuat Pandu jatuh terlentang di sampingnya.
“ Kok ngancam sih...?” tanya Pandu sambil menahan tawa.
“ Bodo amat...,” sahut Hanako cepat.
Kemudian Hanako berusaha bangkit dan meraih hijabnya di atas kursi. Pandu menahan tangan Hanako lalu tersenyum.
“ Aku ceritain tapi jangan keluar dari kamar ya...,” kata Pandu.
“ Ok, buruan deh...,” sahut Hanako sambil cemberut.
“ Iya iya. Waktu dijodohin sama Kakek dulu Aku kaget, Putri juga. Kami masih SMP dulu dan Putri dua tahun di bawah Aku. Kami masih punya banyak impian dan cita-cita. Aku ga ngerti kenapa Aku yang dipilih. Padahal Aku hanya berkunjung sesekali ke sini tapi Kakeknya Putri justru menginginkan Aku menikahi Cucunya itu...,” kata Pandu.
__ADS_1
“ Kamu cinta kan sama Putri...?” tanya Hanako dengan nada cemburu.
“ Mmm..., Aku ga tau. Mungkin sayang atau kasian. Aku juga ga tau pasti...,” sahut Pandu sambil menggedikkan bahunya.
“ Terus kalo sayang atau kasian, kenapa tadi Kamu bersikap dingin sama Putri...?” tanya Hanako.
“ Aku marah saat Putri bilang sama temen-temennya kalo perjodohan ini hanya ajang untuk membersihkan nama baik keluargaku...,” sahut Pandu.
“ Emangnya keluargamu kenapa...?” tanya Hanako tak mengerti.
“ Dulu Kakek dan Nenekku punya enam Anak sebelum Ibu dan Bibi lahir. Tapi mereka semua meninggal saat balita. Tetangga mengira Kakek dan Nenek melakukan pesugihan dengan menumbalkan Anak-anaknya itu. Padahal saat itu Indonesia baru aja merdeka, dan krisis ekonomi merajalela. Jadi Kakek dan Nenek ga punya cukup uang untuk memberi makan dan pengobatan yang layak. Apalagi Kakek juga harus berpindah-pindah tugas sesuai arahan atasannya. Gosip terlanjur menyebar dan tak terkendali. Akhirnya setelah Kakek dan Nenek menetap di sini, baru lbu dan Bibi lahir. Mereka tetap hidup dan tumbuh sehat hingga dewasa...,” kataPandu panjang lebar.
“ Apa Putri tau kalo Kamu mendengar ucapannya itu...?” tanya Hanako.
“ Iya. Dia malu dan berusaha minta maaf. Aku udah maafin, tapi ga bisa pura-pura baik di depannya. Aku ga abis pikir kenapa Putri ngomong kaya gitu. Padahal Kek Pardi juga ngalamin nasib yang sama kaya Kakek, anak-anaknya meninggal karena jadi korban perang. Harusnya kalo Putri keberatan dengan perjodohan ini kan bisa bilang baik-baik dan ga usah nyebar fitnah segala...,” kata Pandu.
“ Mmm..., Kamu ga nyesel batal nikah sama Putri. Kan Putri itu cantik...?” tanya Hanako hati-hati.
“ Ga lah, ngapain nyesel. Apalagi Aku punya Istri yang jauh lebih hebat dari Putri...,” sahut Pandu sambil menarik pinggang Hanako hingga jatuh terduduk di pangkuannya.
“ Gombal...,” kata Hanako hingga membuat Pandu tertawa.
“ Iya...,” sahut Hanako malu-malu lalu membalas cumbuan Pandu.
Keduanya larut dalam kehangatan cinta yang menggelora malam itu. Mereka baru berhenti saat keduanya lelah. Peluh nampak membasahi sekujur tubuh mereka.
“ Makasih Sayang...,” kata Pandu sambil mengecup kening Hanako lembut.
“ Sama-sama Sayang...,” sahut Hanako sambil mengangguk dan memejamkan matanya karena merasa sangat lelah dan mengantuk usai percintaan panas mereka tadi.
Kemudian Pandu memeluk Hanako dengan erat dan menyusul Hanako pergi ke alam mimpi dengan wajah puas.
\=====
Hari berikutnya Doni dan Dewi mengantarkan Pandu dan Hanako menikmati keindahan Kepulauan Riau. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah jembatan Barelang yang merupakan ikon kota Batam dan menjadi jembatan penghubung antara kota Batam dengan pulau-pulau di sekitarnya.
Barelang adalah singkatan dari tiga tempat yang ada di Kepulauan Riau yaitu Batam Rempang Galang. Jembatan Barelang juga dikenal dengan nama jembatan Habibie. Hal ini sebagai bentuk penghargaan warga dan pemerintah setempat atas jasa beliau mengembangkan kota Batam menjadi kota industri seperti saat ini.
Jembatan Barelang juga memiliki enam buah jembatan yang dijuluki jembatan I, II, III, IV, V dan VI dengan nama yang berbeda. Hanako terlihat sangat antusias. Tak lupa ia berfoto dengan berbagai pose berlatar belakang jembatan Barelang. Doni dan Dewi tak henti tertawa melihat sikap nyeleneh Hanako yang menular pada suaminya yang terkenal cool itu.
__ADS_1
Keesokan harinya Doni mengajak Pandu dan Hanako mampir ke pantai Marina. Sayangnya Dewi berhalangan ikut karena harus menemani sang nenek menemui teman lamanya. Pantai yang menghadap langsung ke selat Singapura itu menyajikan pemandangan yang menarik. Mereka bisa menyaksikan gedung-gedung pencakar langit yang ada di negara tetangga yaitu Singapura.
“ Cantik banget ya Mas...,” kata Hanako.
“ Iya Sayang...,” sahut Pandu sambil merengkuh bahu Hanako sambil menghadap ke selat Singapura.
Moment itu diabadikan Doni dengan kamera ponselnya. Doni sengaja memotret Pandu dan Hanako dari belakang saat keduanya berpelukan sambil menunjuk ke salah satu gedung di negara tetangga itu. Doni nampak tersenyum puas melihat hasil jepretannya itu lalu memperlihatkannya pada Hanako.
“ Bagus ga Kak...?” tanya Doni.
“ Masya Allah, bagus banget Don. Jangan lupa kirim ke Kakak ya...,” sahut Hanako antusias.
“ Beres Kak, asal uang lelahnya sesuai ya...,” sahut Doni sambil menaik turunkan alisnya hingga membuat Hanako dan Pandu tertawa.
“ Kok gitu...?” tanya Hanako.
“ Foto yang ini tarifnya beda Kak, karena lebih eksklusif...,” gurau Doni.
“ Ok gapapa. Foto lagi dong Don, yang bagus ya. Ntar Kakak bayar mahal deh...,” kata Hanako sambil menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
“ Siap Kak...,” sahut Doni cepat.
Setelah berpose dengan berbagai gaya, mereka pun mencari tempat makan karena lapar. Sambil menunggu pesanan diantarkan oleh pelayan, Hanako mengecek hasil jepretan Doni.
“ Bagus-bagus Don. Kamu hebat bisa ngambil dari sudut yang pas jadi hasilnya keren banget...,” puji Hanako.
“ Masa sih Kak, Aku jadi geer nih...,” sahut Doni malu-malu.
“ Beneran kok, iya kan Mas...?” tanya Hanako yang diangguki Pandu.
“ Apa yang dibilang Kakak bener Don...,” kata Pandu hingga membuat Doni tersenyum bangga.
“ Ngomong-ngomong besok Kita kemana lagi Don...?” tanya Hanako.
“ Rahasia. Insya Allah Kakak ga bakal kecewa deh...,” sahut Doni sambil meneguk minumannya.
Pandu dan Hanako pun saling menatap dan tertawa mendengar jawaban Doni. Mereka menyerahkan keputusan pada Doni karena Doni yang jauh lebih paham tentang tempat wisata menarik di Kepulauan Riau itu.
Bersambung
__ADS_1