
Ratu tersenyum setelah berhasil mendapatkan bantuan dari seorang dukun. Dukun itu memantrai benda kesayangannya yang belakangan sering ia gunakan untuk sarana ‘instropeksi diri’ yaitu cermin besar berbingkai hitam. Ratu menatap pantulan dirinya di cermin itu sambil tersenyum. Dalam hati Ratu berharap suaminya akan segera kembali ke dalam pelukannya seperti dulu.
Hari-hari dilalui Ratu dengan berat. Ia memang tinggal di rumah mewah namun ia tak mendapat perhatian dan kasih sayang suaminya yang justru sedang sibuk membina rumah tangga barunya. Karena depresi Ratu pun
mengurung diri di kamar. Tak ada yang ia lakukan selain makan dan makan hingga membuat tubuh idealnya membengkak dan wajahnya pun berjerawat. Namun anehnya Ratu terlihat santai. Ia merasa dirinya tetap cantik dan se*i hingga tak mempermasalahkan bobot tubuhnya yang meningkat itu.
Ratu sedang mencoba gaun favoritnya sambil mematut diri di depan cermin. Namun ia mengerutkan keningnya saat melihat gaun itu sobek saat ia pakai. Lalu Ratu memanggil pelayannya dan memintanya untuk memperbaiki
gaunnya yang sobek itu. Sang pelayan nampak terkejut saat melihat tumpukan gaun yang harus ia perbaiki itu.
“ Semuanya harus Saya jahit lagi Bu...?” tanya pelayan itu ragu.
“ Kenapa emangnya...?” tanya Ratu sambil menatap tajam kearah pelayannya.
“ Mmm, maaf Bu. Gaun ini bukan jahitannya yang lepas tapi kainnya yang sobek dan itu bakal sulit diperbaiki karena Saya ga ngerti gimana caranya Bu...,” sahut sang pelayan dengan suara lirih.
Ratu membulatkan matanya karena tak suka mendengar ucapan pelayannya itu.
“ Apa maksudmu...?” tanya Ratu.
“ Maaf kalo Saya lancang. Gaun itu udah ga muat lagi karena badan Ibu yang sedikit berisi sekarang...,” sahut sang pelayan dengan jujur.
“ Maksud Kamu Saya gemuk...?!” tanya Ratu dengan nada suara tinggi dan diangguki oleh pelayannya.
Ratu pun marah dan langsung memecat pelayan yang telah berani mengatakan dirinya ‘gemuk’ itu. Sang pelayan nampak pasrah dan segera keluar dari kamar Ratu. Ia sadar cepat atau lambat Ratu bakal memecatnya karena
ia tak lagi mampu memperbaiki gaun milik Ratu. Rupanya itu bukan kali pertama Ratu memintanya memperbaiki gaunnya yang selalu sobek saat dipakai. Ratu memang memaksa memakai gaun-gaun yang jelas tak lagi pas untuk tubuhnya yang besar itu hingga gaun itu sobek dan rusak.
Namun anehnya Ratu tak terima saat pelayannya itu mengatakan yang sebenarnya. Usut punya usut ternyata saat bercermin Ratu melihat jika tubuhnya tetap proposional dan ia tak melihat apa yang dikatakan pelayannya itu. Termasuk wajahnya yang berjerawat dan tak lagi mulus itu justru terlihat masih mulus dan cantik saat ia bercermin.
__ADS_1
Ratu baru tersadar apa yang dilihatnya tak sesuai kenyataan saat Haryoko pulang dan terkejut saat melihatnya. Haryoko bahkan mengira jika ada wanita asing di kamarnya.
“ Siapa Kamu...?!” bentak Haryoko sambil menjauh saat Ratu mendekatinya.
“ Aku Ratu, Istrimu Mas. Masa Kamu lupa, mentang-mentang sekarang udah punya yang baru...,” sahut Ratu sambil cemberut.
“ Ratu...?!” kata Haryoko setengah menjerit saat mengenali suara istrinya.
“ Iya, kenapa sih Mas...,” sahut Ratu tak suka.
“ Apa yang terjadi sama Kamu Ratu...?” tanya Haryoko sambil menatap Ratu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“ Aku baik-baik aja, yah walau pun sekarang Suamiku lebih sering tinggal di rumah Istri mudanya...,” sahut Ratu santai.
“ Bukan itu maksudku Ratu. Kamu udah mirip gajah daripada Istriku. Badanmu ini tiga kali lipat lebih besar dibandingkan saat pertama kali
Kita ketemu. Belum lagi wajahmu, kenapa banyak jerawat dan berminyak begitu
Haryoko sambil menggelengkan kepalanya.
Ratu terkejut mendengar ucapan Haryoko. Ia bergegas menghampiri cermin untuk membuktikan apa yang diucapkan suaminya itu salah.
“ Kamu bohong Mas. Aku masih sama kaya yang dulu. Itu hanya alasan Kamu aja supaya bisa ninggalin Aku...,” kata Ratu sambil mematut diri di depan cermin.
Haryoko pun menganga saat melihat pantulan Ratu di cermin besar itu. Merasa ada yang tak beres Haryoko ikut bercermin dan terkejut melihat pantulan dirinya yang jauh berbeda dari kenyataan. Ratu pun terkejut saat melihat pantulan suaminya di cermin.
Di cermin wajah dan postur tubuh Haryoko terlihat muda dan gagah. Sedangkan aslinya Haryoko sekarang terlihat lebih matang dan kebapakan dengan beberapa helai uban menghias rambutnya. Tubuhnya pun terlihat biasa saja
dan tak segagah yang ada di cermin.
__ADS_1
“ Ada yang aneh sama cermin ini Ratu. Pantesan Kamu ga tau kondisimu sekarang karena Kamu bercermin di sini...,” kata Haryoko sinis.
“ Jadi...,” ucapan Ratu teputus saat Haryoko membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamarnya.
Ratu panik lalu berusaha mengejar Haryoko. Namun Ratu merasa langkah kakinya sangat berat dan lamban seolah tak mampu menopang tubuhnya. Karena berjalan terlalu cepat Ratu tersandung lalu terjatuh di lantai dan hanya bisa menatap kepergian Haryoko dengan mata bekaca-kaca. Saat Ratu menoleh, ia terkejut melihat pantulan dirinya di kaca jendela rumahnya. Ternyata Haryoko benar, tubuhnya sekarang sangat besar dan wajahnya pun dipenuhi lemak dan jerawat. Ratu menjerit tertahan lalu berusaha bangkit dengan susah payah karena kesulitan menggerakkan tubuhnya yang besar itu.
Setelah berhasil berdiri Ratu pun kembali ke kamarnya. Ia menatap cermin besar itu dengan pandangan marah. Terbersit keinginan dalam hatinya untuk menghancurkan cermin itu, namun ia urungkan. Ratu memilih menyimpan cermin itu di tempat yang tersembunyi.
Ratu terduduk di atas tempat tidur dengan perasaan hampa. Saat itu ia sadar jika cinta suaminya tak akan pernah kembali untuknya. Sejak saat itu Ratu melupakan niatnya untuk merebut cinta Haryoko dari anak dan istri barunya itu. Statusnya masih istri yang tak pernah diceraikan oleh Haryoko karena Haryoko masih menyayangi Ratu meski pun terlanjur kecewa dengan sikap Ratu dulu.
Ratu mengintai rumah tangga Haryoko dari kejauhan. Ia melihat Haryoko bahagia bersama anak dan istrinya. Diam-diam Ratu juga menyayangi anak lelaki Haryoko karena wajahnya mirip Haryoko. Ratu tak membenci anak itu dan berniat memberikan seluruh hartanya pada anak tirinya itu sebagai bukti cintanya untuk Haryoko.
Kemudian Ratu pulang ke rumahnya. Ia memutuskan melebur semua perhiasan emas yang ia miliki dan menjadikannya lembaran emas yang ia sisipkan di belakang cermin besar berbingkai hitam itu.
“ Di sini lah warisan untuk Anakku, Anak Suamiku dengan wanita lain. Aku akan menjaganya hingga emas ini sampai ke tanganmu Nak...,” gumam Ratu sambil mengusap cermin itu dengan telapak tangannya.
Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Sebulan kemudian terjadi kebakaran hebat yang melahap rumah Ratu. Semua pelayan berhasil menyelamatkan diri, namun mereka gagal menyelamatkan Ratu yang bertubuh besar itu. Saat api berhasil dipadamkan, Ratu ditemukan tewas sambil memeluk cermin besar miliknya. Anehnya cermin itu tetap utuh meski pun api telah melahap semuanya. Haryoko yang tahu jika cermin itu memiliki kekuatan mistis pun memilih membuang cermin itu ke tempat sampah.
Arwah Ratu yang masih berada di sekitar rumahnya bisa melihat Haryoko menatap sedih kearah jasadnya. Ia juga melihat Harni dan anaknya yang selalu berada di samping Haryoko dan berusaha menghiburnya. Arwah Ratu tersenyum sedih lalu masuk ke dalam cermin dan terus mengikuti kemana pun cermin itu pergi untuk menjaga harta yang ia siapkan untuk keturunan Haryoko itu.
Faiq mengakhiri penelusurannya lalu memejamkan matanya sejenak. Setelah itu ia menoleh kearah Wawan sambil tersenyum.
“ Ternyata Wawan adalah pewarisnya Om...,” kata Faiq.
“ Om juga udah menduganya Nak. Soalnya hantu Ratu terus menatap Wawan daritadi...,” sahut Fatur sambil tersenyum.
“ Kenapa bisa gitu Opa...?” tanya Hanako tak mengerti.
“ Kita bicarakan ini nanti ya Nak. Sekarang Kita sadarkan Bu Warti dulu...,” sahut Fatur yang diangguki Hanako.
__ADS_1
Proses ruqyah masih berlanjut untuk menyadarkan Warti yang dirasuki hantu Ratu.
Bersambung