Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
165. Menyesatkan Hanako


__ADS_3

Suraj masih mematung di tempat usai perbincangan panasnya dengan sang kakek. Yah, makhluk jadi-jadian itu adalah Burhan. Pria yang mengaku sebagai ayah dari bapak kandungnya. Pria yang kini telah berubah menjadi setengah siluman. Pria yang sama yang telah melecehkan ibunya dan menjadikan kedua tangan Suraj berkubang dosa karena harus membunuh ibunya sendiri dengan keris yang dipaksakan ditusukkan ke jantung sang ibu oleh Burhan.


“ Selama ini Aku selalu mengalah dan menuruti semua kemauanmu Eyang. Tapi kali ini rasanya Aku tak mau mengalah lagi. Aku mengorbankan diriku dan perasaanku hanya demi kebahagiaanmu. Tapi Aku sadar bahwa Kau sama sekali tak memikirkan kebahagiaanku. Jadi, ayo Kita bertarung. Mulai besok Aku ga akan membiarkanmu mendekati dia...,” gumam Suraj sambil mengepalkan tangannya erat-erat.


\=====


Suraj tiba lebih awal hari itu karena ingin mengawasi Hanako lebih awal. Saat tiba di ruangan dimana Hanako biasa bekerja Suraj pun langsung duduk di kursi menunggu Hanako.


Hanako dan Viona yang datang beberapa menit setelahnya pun tanpa curiga langsung masuk ke dalam ruangan itu. Biasanya di ruangan itu mereka akan berbincang banyak hal sambil menunggu jam kerja dimulai. Namun langkah mereka terhenti di ambang pintu saat melihat Suraj sudah lebih dulu ada di sana.


“ Pa..., pagi Pak Suraj...,” sapa Hanako gugup.


“ Pagi. Kenapa Kalian menatap Saya kaya gitu. Apa ada yang aneh...?” tanya Suraj.


“ Ga ada Pak...,” sahut Hanako dan Viona bersamaan.


“ Bagus lah kalo begitu...,” kata Suraj sambil melewati kedua anak buahnya tanpa rasa bersalah.


Melihat kepergian Suraj membuat Viona dan Hanako saling menatap bingung. Namun sesaat kemudian keduanya menggedikkan bahu tanda tak mengerti. Karena Suraj sudah datang maka Hanako dan Viona memutuskan untuk langsung mulai bekerja.


Dari ruangannya Suraj memperhatikan tingkah Hanako sambil tersenyum. Wajah Suraj nampak berbinar bahagia bisa melihat wanita yang ia cintai diam-diam itu sepuas hati.


“ Cantik, menarik...,” gumam Suraj sambil menyentuh wajah Hanako yang terpampang di layar lap topnya.


Saking seriusnya mengamati Hanako, Suraj tak menyadari jika Viona melihat semua yang ia lakukan. Viona menutup bibirnya dengan telapak tangan karena tak mengira akan melihat Suraj memuji Hanako di depan mata kepalanya sendiri. Hal yang nyaris tak pernah Suraj lakukan sepanjang Viona menjadi asistennya.


“ Bukannya dia ga suka sama perempuan ya, tapi kok dia mengagumi Hanako...,” gumam Viona sambil menggelengkan kepalanya.


\=====


“ Apa Bu, Pak Suraj menyukai Saya...?!” tanya Hanako histeris.


“ Sssttt..., pelankan suaramu Hanako. Saya ga mau Pak Suraj dengar terus karir Saya selesai...,” kata Viona panik.


“ Tapi Saya takut Bu...,” kata Hanako dengan wajah memelas.


“ Takut apa Hanako. Bukannya itu bagus ya buat karirmu ke depannya...?” tanya Viona.

__ADS_1


“ Saya ga peduli soal karir di kantor ini Bu. Saya mau resign secepatnya...!” sahut Hanako sambil membereskan mejanya dan bergegas keluar dari ruangan itu.


Viona panik dan menyesal di waktu bersamaan. Andai saja ia bisa menahan diri dan tak mengungkapkan semuanya, maka Hanako tak akan bersikap seperti ini. Namun langkah Hanako terhenti dengan kehadiran Suraj yang berdiri menghadang langkahnya.


“ Ada apa ini...?!” tanya Suraj lantang hingga menciutkan nyali Hanako dan Viona.


“ Ga ada apa-apa Pak. Hanako hanya lagi ga enak badan dan dia minta ijin untuk pulang cepat hari ini. Iya kan Hanako...?” tanya Viona sambil menggamit lengan Hanako.


Hanako menoleh dan menatap Viona yang nampak tegang itu. Ada rasa iba terbersit di hatinya hingga membuat Hanako menganggukkan kepalanya begitu saja.


“ Kamu sakit Hanako...?” tanya Suraj cemas hingga membuat Viona mengerutkan keningnya karena tak percaya Suraj bisa bicara lunak seperti itu pada Hanako.


“ I..., iya Pak. Apa Saya boleh ijin pulang cepat hari ini...?” tanya Hanako gugup.


“ Boleh. Kamu boleh pulang sekarang. Istirahat dan minum obat ya. Saya ga mau punya bawahan yang penyakitan...,” sahut Suraj cepat.


Meski jawaban Suraj terdengar ‘nyelekit’ namun Viona dan Hanako tahu jika Suraj menyelipkan perhatian lebih di dalam kalimatnya tadi.


“ Baik Pak, Saya permisi. Assalamualaikum...,” kata Hanako sambil melirik kearah Viona.


“ Wa alaikumsalam, hati-hati Hanako...,” pesan Viona lirih yang diangguki Hanako.


“ Itu kan makhluk yang ada di mimpi Aku. Jadi Papa benar. Semunya saling berhubungan. Kasus kematian Katrina, mimpi Aku dan sikap Pak Suraj. Ck, kenapa juga Bu Viona harus bilang kalo Pak Suraj suka sama Aku...,” gumam Hanako kesal sambil mengetik sesuatu di ponselnya lalu mengirimkan pesan itu kepada Faiq.


Kemudian Hanako bergegas menstarter motornya lalu meninggalkan area gedung secepat yang ia bisa. Namun laju motor Hanako seperti terarah ke tempat lain dan bukan ke jalan menuju rumah. Hanako paham jika makhluk setengah banteng itu lah penyebabnya.


Tanpa Hanako sadari, di belakangnya terlihat Suraj tengah mengekorinya. Rupanya Suraj melihat sang kakek melakukan sesuatu pada Hanako tadi. Suraj pun bergegas turun dan mengikuti Hanako karena khawatir dengan keselamatan gadis itu.


“ Jadi Kau benar-benar tak mengindahkan permintaanku Eyang. Kau sengaja menyesatkan Hanako kearah hutan itu...,” gumam Suraj sambil memukul kemudi berulang kali.


Sedangkan di kantornya Faiq nampak terkejut usai membaca pesan yang dikirim Hanako. Tanpa membuang waktu Faiq segera pergi menemui Hanako setelah sebelumnya menghubungi Fatur. Sekarang Faiq dan Fatur tengah menuju suatu tempat dimana Hanako disesatkan oleh makhluk jadi-jadian itu.


Fatur terus berusaha menghubungi Hanako dan mengarahkan cucunya agar tetap fokus. Hanako yang sengaja memasang perangkat ear phone di telinganya pun nampak berusaha tenang.


“ Jaga dzikirmu ya Nak...,” pesan Fatur.


“ Iya Opa. Tapi jangan lama-lama ya. Tempatnya makin aneh Opa. Banyak pohon dan gelap, kayanya ini masuk ke hutan Opa...,” sahut Hanako cemas.

__ADS_1


“ Iya Opa tau. Tetap tenang dan fokus...,” sahut Fatur.


“ Kami ada di belakangmu sekarang. Jalan terus dan jangan nengok ke belakang ya...!” kata Faiq lantang.


“ Alhamdulillah..., Ok Pa...,” sahut Hanako antusias sambil menghela nafas lega karena tahu Faiq dan Fatur ada bersamanya saat itu.


Kini ada tiga kendaraan yang melintas dimensi dan masuk ke dalam hutan. Burhan nampak makin keras merapal


mantra untuk mengacaukan konsentrasi Hanako. Namun rupanya Suraj, Fatur dan Faiq menjaga Hanako dengan extra walau dengan cara yang berbeda sehingga membuat Burhan sedikit kepayahan.


Motor berhenti dengan sendirinya hingga Hanako nampak bingung dan terkejut. Namun seperti pesan Faiq, Hanako


hanya diam tanpa berani menoleh kearah mana pun. Di belakang motor Hanako terlihat mobil Suraj dan mobil Fatur yang berhenti berurutan.


Suraj keluar dari mobil lalu bergegas menghampiri Hanako hingga membuat Fatur dan Faiq panik.


“ Kamu gapapa Hanako...?” tanya Suraj hingga membuat Hanako terkejut.


“ Pak Suraj, kok Bapak bisa ada di sini...?” tanya Hanako tak percaya.


“ Panjang ceritanya Hanako. Sebaiknya Kamu ikut Saya dan Kita tinggalkan tempat ini...,” ajak Suraj sambil mengulurkan tangannya seolah hendak menggamit tangan Hanako.


Hanako menepis tangan Suraj sambil menatap marah kearah atasannya itu. Suraj menganggap jika Hanako salah paham padanya dan mengira ia akan melakukan sesuatu yang buruk.


“ Jangan takut Hanako, Saya ga akan menyakiti Kamu...,” kata Suraj sambil merangsek maju mendekati Hanako.


Namun langkah Suraj terhenti saat melihat seorang pria melangkah cepat mendahuluinya lalu  memeluk Hanako dengan erat dan langsung membawa gadis itu menjauh darinya.


“ Hei siapa Kau. Jangan ganggu Hanako...!” kata Suraj lantang.


“ Saya Papanya, jadi Saya yang berhak membawanya...,” sahut Faiq cepat.


“ Tapi ini ga sesederhana seperti yang Anda kira. Ini terlalu berbahaya untuk Hanako...,” kata Suraj gusar.


“ Kalo gitu coba katakan apa yang berbahaya itu...,” pinta Faiq pura-pura tak tahu.


Suraj baru akan mengatakan sesuatu saat angin panas menyeruak di tempat itu hingga membuat kulit terasa panas dan perih. Hanako nampak meringis menahan rasa panas dalam pelukan Faiq, sedangkan Fatur nampak mengibaskan sorban yang dibawanya ke sembarang arah untuk menghalau rasa panas itu. Sesaat kemudian sosok manusia jadi-jadian bertubuh banteng itu menampakkan diri tepat di hadapan mereka hingga membuat keempat

__ADS_1


orang itu terkejut.


Bersambung


__ADS_2