
Sementara itu di sebuah kamar terlihat seorang gadis tengah merenung. Wajahnya yang basah bersimbah air mata membuatnya terlihat sangat menyedihkan. Dia adalah dokter Anisa, dokter yang bertugas di klinik di perusahaan furniture tempat Sydra dan kawan-kawannya bekerja.
Dia lah gadis yang dikatakan Iyaz. Calon istri Harlan sebelum Harlan meninggal karena bunuh diri usai dipermalukan di pabrik itu.
“ Aku sudah membuat dua orang yang terlibat dengan kematianmu itu mati Sayang...,” kata dokter Anisa sambil mengusap foto Harlan yang terbingkai manis di atas mejanya.
Kemudian dokter Anisa kembali menangis. Ia nampak sangat terpukul dengan kematian Harlan beberapa bulan lalu. Sulit bagi dokter Anisa menerima kenyataan jika tunangannya itu telah meninggal dunia.
Tanpa sepengetahuan orang lain Harlan dan dokter Anisa menjalin kasih hingga merencanakan pernikahan. Harlan yang bekerja sebagai karyawan biasa di pabrik furniture itu adalah pria beruntung karena bisa menarik perhatian dokter Anisa yang terkenal pendiam jika berhadapan dengan lawan jenis. Namun sikap pendiam dokter Anisa pun luluh dengan perhatian Harlan yang santun dan lumayan tampan itu.
Kedua orangtua dokter Anisa pun mendukung hubungan anaknya dengan Harlan. Mereka tak mempermasalahkan status sosial Harlan yang berbeda dengan dokter Anisa. Bagi kedua orangtua dokter Anisa, kebahagiaan sang anak adalah hal terpenting dan di atas segalanya.
Lamaran pun diadakan secara resmi dan pernikahan pun direncanakan. Harlan dan dokter Anisa memiliki banyak mimpi indah untuk mereka wujudkan setelah mereka menikah nanti.
Namun mimpi indah pasangan Harlan dan Anisa pun hancur karena ulah orang yang tak bertanggung jawab yaitu Sydra, Gavin, Urai dan beberapa teman lainnya. Karenanya Anisa pun menuntut balas kematian tunangannya itu dengan caranya sendiri.
Dokter Anisa menggunakan jasa seorang dukun untuk membantunya. Ia yang tak rela kehilangan Harlan pun meminta sang dukun agar kembali menghidupkan Harlan. Sang dukun ilmu hitam itu menyanggupi karena bayaran yang dijanjikan oleh dokter Anisa sangat besar.
Di hari yang ditentukan sang dukun berhasil membongkar makam Harlan dan menculik jasadnya. Lalu jasadnya diawetkan dengan sejenis ramuan. Setelahnya arwah Harlan dimasukkan kembali ke dalam tubuh Harlan. Dokter Anisa yang mengikuti semua prosesnya nampak tersenyum bahagia saat melihat Harlan kembali membuka mata dan menatap kearahnya.
Tangis pun pecah di ruangan itu saat dokter Anisa mendengar Harlan menyebut namanya.
“ A..., ni..., sa...,” panggil Harlan terbata-bata.
“ Iya Sayang, ini Aku...,” sahut dokter Anisa sambil menghambur memeluk Harlan.
Keduanya nampak saling memeluk melepas rindu. Sang dukun pun sengaja keluar dari ruangan itu untuk memberi ruang pada pasangan yang kasmaran itu melepas rindu.
Setelah hari itu Anisa selalu datang dan menemui Harlan di rumah sang dukun. Hal itu terus berlangsung hingga hari ke empat puluh. Namun saat acara kirim doa yang dilakukan orangtua Harlan dilakukan di rumahnya, keanehan pun terjadi pada jasad Harlan.
Jasad Harlan membusuk secara tiba-tiba. Seluruh kulit dan daging di rubuh Harlan menghitam dan mengeluarkan
aroma tak sedap seperti mayat. Selain itu jasad Harlan nampak berlendir persis seperti jasad seharusnya. Hal itu membuat sang dukun panik lalu pergi meninggalkan jasad Harlan begitu saja. Karena tak diurus seperti sebelumnya, jasad Harlan pun hancur perlahan. Ramuan yang diberikan sang dukun tak mampu menentang takdir Allah. Saat dokter Anisa datang ia hanya menjumpai sisa mayat Harlan yang telah hancur di atas tempat tidur.
Melihat kekasihnya hilang dokter Anisa pun menjerit histeris. Ia panik namun tak bisa berbuat apa-apa. Setelah puas menangis dokter Anisa pun pergi dan tak pernah kembali.
Sedangkan arwah Harlan yang terlanjur dipindahkan ke jasadnya pun nampak melanglang buana tanpa arah dan tujuan. Arwah Harlan tersesat karena tak bisa lagi menghuni jasadnya yang telah hancur itu. Terakhir arwah Harlan memaksakan diri masuk ke dalam jasadnya yang telah hancur itu untuk menemui Sydra. Namun ia harus berhadapan dengan Iyaz dan terpaksa pergi dengan membawa kekalahan karena gagal menghabisi Sydra.
__ADS_1
Dan kini arwah Harlan kembali berkelana mencari tubuh baru yang bisa ia huni. Ia memaksa dokter Anisa mencarikan wadah berupa jasad pria muda untuk arwahnya itu. Seperti kali ini, arwah Harlan kembali datang ke hadapan dokter Anisa.
“ Anisa..., Anisa...,” panggil suara tanpa wujud.
Mendengar namanya disebut membuat dokter Anisa terkejut lalu menghentikan tangisnya. Ia menatap nanar ke
sekeliling kamarnya mencoba mencari asal suara yang ia kenali sebagai suara Harlan.
“ Harlan, Kamu kah itu...?” tanya dokter Anisa dengan suara parau.
“ Iya Sayangku...,” sahut suara tanpa wujud itu.
“ Apa maumu, kenapa datang ke sini...?” tanya dokter Anisa.
“ Apa mauku, kenapa pertanyaanmu aneh begitu Sayang. Aku datang dan tinggal karena permintaanmu. Lalu setelah jasadku hancur dan hilang, Kamu malah mengabaikanku. Mana jasad baru yang kau janjikan itu Sayang...?” tanya suara Harlan.
“ Ya Allah Aku lupa, maafkan Aku Sayang...,” sahut dokter Anisa.
Saat dokter Anisa menyebut nama Allah, arwah Harlan terdengar menggeram pertanda ia tak suka. Dokter Anisa tahu persis jika arwah Harlan tak suka jika ia berdzikir dan memuji Allah.
“ Baik lah. Bisa kah Aku memilih calon tubuhku sendiri...?” tanya suara Harlan.
“ Boleh, Aku akan senang hati membantumu mendapatkan tubuh yang Kau inginkan itu...,” janji dokter Anisa.
Setelah mendengar ucapan dokter Anisa, arwah Harlan pun pergi meninggalkan kamar itu.
\=====
Kini dokter Anisa sedang berada di sebuah ruangan. Di hadapannya nampak terbujur kaku sosok mayat seorang pria yang baru saja meninggal dunia. Sedangkan di sebelah kiri dokter Anisa sang dukun yang dulu membantunya memindahkan arwah Harlan nampak berdiri dengan mulut berkomat-kamit membaca mantra.
Jasad yang terbujur kaku itu adalah jasad pilihan arwah Harlan. Ia menyukai pria itu dan yakin jika arwahnya akan cocok dengan raga pria itu. Setelah pembacaan mantra selesai, sang dukun pun memasukkan arwah Harlan ke dalam jasad pemuda itu.
“ Dia bergerak...,” kata dokter Anisa antusias.
“ Sabar Bu dokter. Jangan tergesa-gesa. Kalo proses ini ga sempurna, maka hasilnya ga akan baik...,” kata sang dukun mengingatkan.
“ Apa masih lama Pak...?” tanya dokter Anisa tak sabar.
__ADS_1
“ Semuanya berakhir dan selesai sekarang...!” kata sebuah suara mengejutkan dokter Anisa dan sang dukun.
Saat mereka menoleh, mereka mendapati Pak Maher bersama Iyaz dan Sydra juga beberapa orang lainnya tengah berdiri di ambang pintu.
“ Siapa mereka dokter...?!” tanya sang dukun panik.
“ Saya ga kenal mereka Pak. Bukan Saya yang memberi tau mereka tentang ini...,” sahut dokter Anisa tak kalah terkejutnya.
“ Masa Anda ga kenal sama Saya dokter Anisa...,” kata Sydra hingga membuat dokter Anisa menatap kearahnya dengan bingung.
“ Kamu, Sydra...?” tanya dokter Anisa ragu.
“ Betul sekali dokter. Senang bertemu Anda lagi, tapi sayangnya kenapa dalam situasi seperti ini ya dok...,” sahut Sydra sedih.
Mendengar jawaban Sydra membuat dokter Anisa marah. Ia malu karena ketahuan tengah melakukan kegiatan yang tak masuk akal itu. Karenanya dokter Anisa pun meminta sang dukun melakukan sesuatu untuk menghentikan Sydra.
“ Lakukan sesuatu Pak. saya ga mau dia cerita kemana-mana soal rahasia Kita...,” kata dokter Anisa.
“ Baik dok...,” sahut sang dukun lalu membaca mantra hingga membuat sosok pria yang terbaring itu nampak bergerak.
Pria yang sejatinya adalah mayat hidup itu nampak bergerak lalu membuka matanya. Ia bangkit dari tidurnya lalu duduk. Kemudian secara tiba-tiba ia bergerak menyerang Sydra. Namun langkah pria itu terhalang oleh Iyaz yang berdiri menghadang di depan Sydra.
“ Jangan sentuh dia. Pulang lah ke asalmu...!” kata Iyaz lantang sambil menaburkan sesuatu ke wajah pria itu hingga membuatnya menjerit lalu tersungkur jatuh di lantai.
Melihat hal itu membuat dokter Anisa dan sang dukun makin panik. Mereka takut jika orang-orang di hadapan mereka membongkar aib mereka pada khalayak ramai nanti. Karenanya keduanya berniat kabur namun langkah kaki dokter Anisa terhenti saat tangan pria yang tadi diisi arwah Harlan mencekal kakinya.
“ Jangan tinggalkan Aku Anisa...,” kata pria itu sambil menatap sendu kearah dokter Anisa.
Suara pria itu mengejutkan Sydra karena menurut Sydra suara pria itu sama persis dengan suara Harlan.
“ Kenapa suaranya sama dengan suara Harlan. Apa yang telah kalian lakukan...?!” tanya Sydra lantang.
“ Dia memang Harlan. Hanya jasadnya saja yang berbeda. Bagaimana, apa Kamu senang...?” tanya sang dukun
sambil tertawa puas karena berhasil memasukkan arwah harlan ke dalam tubuh pria asing itu.
Bersambung
__ADS_1