
Melihat Jaladra menyesali perbuatannya membuat raja Graha tersentuh. Rupanya Jaladra melakukan itu atas hasutan seseorang yang memang membenci raja Graha karena mampu memimpin kerajaannya dengan bijaksana.
“ Maafkan Aku karena termakan oleh cerita palsu itu. Bunuh Aku Tuanku. Tapi Aku mohon bebaskan Istri dan Anakku dari hukuman. Mereka tak bersalah sama sekali. Aku yang melibatkan mereka dalam masalah ini...,” kata Jaladra dengan suara lirih.
Ucapan Jaladra membuat Gayatri terkejut dan sakit hati. Ia maju dan memukul Jaladra dengan keras hingga membuat semua orang bingung.
“ Jika dia Istrimu, lalu apa yang akan Kau berikan untukku Jaladra...?!” Tanya Gayatri marah.
“ Maafkan Aku Gayatri. Semula Aku akan menjadikanmu permaisuri, tapi Kau terlalu tua untukku. Aku perlu seseorang yang bisa melahirkan pewarisku dan itu bukan Kau. Jika Kau ingin menjadi permaisuri Aku bisa kabulkan tapi Istriku tetap lah dia...,” sahut Jaladra sambil menatap wanita berperut buncit itu dengan tatapan penuh cinta.
“ Kurang ajar !, Kau membohongi Aku Jaladra. Apa artinya jadi permaisuri jika tak menjadi Istrimu...!” kata
Gayatri marah.
Melihat perdebatan Jaladra dan Gayatri membuat leluhur suci marah lalu mengerahkan kekuatannya untuk menghukum Jaladra dan Gayatri.
“ Lancang sekali Kalian...!” kata leluhur suci lantang
Tiba-tiba sinar kebiruan di tubuh raja Graha menyambar tubuh Jaladra dan Gayatri hingga keduanya terlempar sejauh lima meter dari tempat semula. Ada darah yang keluar dari mulut dan hidung keduanya saat mereka berusaha bangkit. Bahkan Jaladra menjerit keras saat sinar biru berwajah iblis keluar dari gambar yang diklaim sebagai tanda lahir di lengan atasnya.
Sinar biru itu berputar-putar di atas kepala Jaladra lalu melesat cepat ke langit dan kembali lagi ke bumi. Kemudian sinar itu terhisap cepat lalu bergabung bersama cahaya biru yang menyelimuti tubuh raja Graha.
Sesaat kemudian sinar biru yang menyelimuti Graha pun pudar dan lenyap sama sekali. Semua orang kembali berdiri begitu pun Jaladra dan Gayatri.
Jaladra berjalan menghampiri wanita yang diakui sebagai istrinya dan mengabaikan Gayatri. Hal itu membuat
Gayatri marah. Ia pun mengejar Jaladra namun dengan sigap pengawal pribadi raja Graha mencekal tangannya lalu membawanya ke istana beserta Jaladra dan istrinya.
\=====
Disaksikan seluruh rakyatnya raja Graha menjatuhkan hukuman kepada Gayatri dan Jaladra.
“ Usir Jaladra dari kerajaanku setelah menjalani hukuman potong satu tangan dan satu telinga. Biarkan Istri dan Anaknya tetap hidup di wilayah kekuasaanku dengan bebas. Ijinkan Jaladra menemui Anak dan Istrinya sebulan sekali di gerbang utara. Hanya sebulan sekali...!” kata raja Graha disambut tepuk tangan rakyatnya.
__ADS_1
Jaladra memejamkan matanya. Air mata mengalir di sudut matanya saat membayangkan hidupnya tanpa keluarga. Namun Jaladra bersyukur karena raja Graha masih membiarkan keluarganya hidup dan memberinya kesempatan bertemu keluarganya itu meski pun hanya sebulan sekali.
Sorak sorai rakyat pun terhenti saat raja Graha mengangkat tangannya. Hukuman untuk Gayatri pun diberikan. Gayatri berharap bisa menebus kesalahannya dan hidup di wilayah kekuasaan raja Graha.
“ Bawa Gayatri keluar dari kerajaanku. Buat pengumuman jika Permaisuri Raja Graha telah berkhianat. Karenanya Gayatri diasingkan ke tempat lain dan tak diijinkan memasuki wilayah kekuasaanku sejengkal pun...!” kata raja Graha.
Mendengar ucapan sang raja membuat Gayatri terkejut. Ia ingat tak akan ada satu pun kerajaan yang mau menerima seorang pengkhianat seperti dirinya apalagi statusnya sebagai mantan permaisuri. Gayatri membayangkan hidupnya yang sulit jika ia keluar dari wilayah kekuasaan raja Graha. Dengan tanpa malu Gayatri pun memohon ampunan kepada raja Graha.
“ Tolong ampuni Aku Tuanku. Jangan buang Aku dari kerajaan ini. Aku bersedia menjadi pelayan untukmu atau apa pun asal Aku diijinkan tetap tinggal...,” kata Gayatri.
“ Tapi Aku tak ingin melihatmu lagi Gayatri. Dan satu-satunya cara adalah mengeluarkanmu dari wilayah kekuasaanku ini...,” sahut raja Graha tanpa menatap kearah Gayatri.
“ Apa Tuanku lupa kalo aku telah melahirkan tiga Anak untuk Tuanku...?” tanya Gayatri mengingatkan.
“ Aku ingat. Dan karenanya Aku tak menghukummu secara fisik. Aku hanya melarangmu masuk ke dalam wilayah kekuasaanku Gayatri...,” sahu raja Graha.
Gayatri tak habis akal. Ia menoleh kearah Hara dan memohon putrinya membantu membujuk sang ayah. Jawaban Hara pun mengejutkan Gayatri.
“ Apakah Kamu tega membiarkan Ibumu terlunta-lunta di luar sana Hara...?” tanya Gayatri gusar.
“ Bukan kah Ibu tau akibatnya jika melanggar, kenapa Ibu masih melakukannya. Dan sekarang Ibu menyesalinya, terlambat Bu. Waktu itu Ibu tak mendengarkan permohonanku, maka sekarang Aku tak bisa membantu. Aku harap lbu bahagia di luar sana karena bisa melanjutkan mimpi Ibu untuk bersamanya...,” sindir Hara sambil menatap kearah lain.
Sorak sorai rakyat kembali terdengar usai Hara mengatakan itu. Sedangkan Gayatri membeku di tempat karena sadar tak satu pun yang membelanya. Ia menatap Graha yang tak lagi peduli padanya dengan tatapan penuh sesal.
\=====
Tugas Iyaz, Izar dan Hanako pun selesai. Mereka bersiap kembali ke dunia nyata. Raja Graha dan Hara pun melepas kepergian mereka dengan berat hati.
“ Terima kasih karena Kalian bertiga telah membantuku, Putriku dan kerajaanku...,” kata raja Graha dengan tulus.
“ Kami tak melakukan sebanyak itu Tuan...,” kata Hanako sambil menahan tawa.
“ Ayah benar Kak. Pertama Kalian membantu mengobatiku, kemudian membantu merebut batu pusaka dari tangan Jaladra yang artinya itu juga menyelamatkan rakyat kerajaan ini. Bayangkan jika kerajaan ini dipimpin oleh Jaladra yang tak punya hati dan egois itu...,” sahut Hara.
__ADS_1
Iyaz, Izar dan Hanako pun mengangguk lalu tersenyum. Kemudian raja Graha pun memberikan sesuatu kepada ketiganya.
“ Kami tak bisa membayar jasa Kalian dengan uang, tapi Kami memberi ini untuk Kalian. Tiga benda di dalam
kotak ini memiliki kekuatan khusus yang bisa membantu Kalian menghalau iblis...,” kata raja Graha.
“ Jika Kalian memiliki banyak benda pusaka, kenapa Kalian masih memanggil Kami untuk membantu Kalian...?” tanya Iyaz tak mengerti.
“ Karena Kalian adalah yang terpilih. Hanya Kalian yang bisa menyembuhkan Hara dan merebut batu biru itu dari tangan Jaladra. Sejak awal Hara sakit Aku pernah mendatangi Ayah Kalian untuk minta ijin membawa Kalian. Tapi Ayah Kalian mengatakan jika Kalian masih terlalu muda. Nah sekarang Kalian telah datang dan menyelesaikan semua masalah di kerajaan ini. Ketahui lah, hanya beberapa orang saja yang bisa menyentuh batu biru itu termasuk Kalian. Jaladra tak akan bisa menyentuhnya dalam waktu lama karena akan menghancurkan tulangnya secara perlahan...,” kata raja Graha menjelaskan.
Iyaz, Izar dan Hanako pun mengangguk tanda mengerti. Ucapan raja Graha sekaligus menyadarkan Izar dan Hara bahwa perasaan keduanya tak mungkin dilanjutkan karena mereka jelas berbeda. Usia Hara mungkin sudah puluhan tahun di dunia nyata, dan Izar pun tak kan mungkin mau tinggal di kerajaan ghaib. Mereka saling menatap diam-diam lalu tersenyum untuk mendamaikan hati mereka.
Kemudian Hara pun memberikan sebuah kotak kayu jati seukuran karton pembungkus mie instan.
“ Isinya adalah daun, buah dan batang pohon ajaib yang Kalian gunakan untuk menyembuhkanku waktu itu. Semoga bermanfaat. Kalian bisa menjualnya nanti jika Kalian mau...,” kata Hara sambil tersenyum.
“ Ketiga benda itu juga jadi penghubung Kalian dengan dunia Kami. Gunakan dengan cara apa pun, Kami akan datang membantu nanti...,” kata raja Graha menambahkan.
“ Terima kasih...,” kata Iyaz, Izar dan hanako bersamaan.
Kemudian ketiganya meninggalkan tempat itu diantar raja Graha dan Hara. Mereka memejamkan mata sejenak, dan saat membuka mata mereka telah berada di pantai tempat terakhir mereka menghilang.
“ Alhamdulillah Kita pulang...!” kata Hanako antusias.
“ Iya Ci...!” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
Kemudian ketiganya menoleh dan melihat dua ekor buaya jelmaan Graha dan Hara berenang menjauhi pantai.
“ Terima kasih...!” kata Hanako sambil melompat dan melambaikan tangan.
Kedua buaya itu menoleh, mengangguk lalu kembali berenang dan hilang terbawa ombak di laut.
Bersambung
__ADS_1