
Iyaz dan Izar perlahan membalikkan tubuhnya untuk melihat makhluk apa yang telah membuat Hanako menjerit tadi. Ternyata di hadapan mereka tengah berdiri makhluk berselimut kain berwarna hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aura yang terpancar dari makhluk itu sangat kuat dan itu membuat Iyaz dan Izar bersikap lebih waspada.
Sementara itu Pandu masih menatap Hanako dan tempat yang ditunjuknya tadi bergantian. Tapi Pandu tetap tak melihat apa pun hingga ia terpaksa bertanya pada Hanako karena penasaran.
“ Ada apa di belakang mereka Sha...?” tanya Pandu penasaran.
“ Pocong hitam Mas, besar banget. Lebih besar dari ukuran pocong yang biasanya...,” sahut Hanako.
Mendengar jawaban Hanako membuat Pandu terkejut karena Hanako dengan tenang menyebutkan makhluk asrtal yang dilihatnya itu tanpa rasa takut sedikit pun . Sedangkan Ramdan sudah hampir pingsan mendengar jawaban Hanako. Karena rasa takut sudah menghinggapinya membuat Ramdan menyingkir pelan-pelan dari ruangan itu. Pandu yang melihat adik iparnya keluar dari ruangan hanya mencibir karena tahu betapa takutnya Ramdan dengan hantu.
Iyaz dan Izar bergeser sedikit untuk memberi ruang pada diri mereka sendiri agar biasa leluasa menyerang makhluk itu. Sedangkan Hanako langsung berdiri di samping si kembar hingga membuat Pandu panik lalu mencekal pergelangan tangannya. Hanako menoleh kearah Pandu karena terkejut.
Pandu dan Hanako saling menatap sejenak hingga suara deheman Iyaz menyadarkan keduanya. Kemudian Pandu melepaskan cekalan tangannya sedangkan Hanako nampak salah tingkah dengan wajah yang telah bersemu merah
“ Maaf Eisha, Aku cuma ga mau Kamu terluka. Apa ga lebih baik Kamu di sini aja sama Aku...?” tanya Pandu sambil menatap Hanako dengan tatapan yang sulit terbaca.
Melihat cara Pandu menjaga Hanako membuat Iyaz dan Izar tersenyum senang. Kini mereka bisa sedikit bernafas lega karena Hanako dijaga oleh Pandu yang mereka yakini juga memiliki sesuatu di balik sikap tenangnya itu.
“ Tapi Aku udah biasa ngadepin makhluk astral kaya gini Mas...,” sahut Hanako sambil melengos karena malu.
“ Masa sih. Jadi bener ya dugaanku kalo Kamu bisa berinteraksi sama makhluk ghaib...?” tanya Pandu.
“ Iya Mas, terus kenapa memangnya...?” tanya Hanako sambil menatap Pandu seolah sedang menantang Pandu.
“ Gapapa, Aku salut sama kemampuan Kamu yang ga biasa ini Eisha. Aku bangga...,” sahut Pandu sambil tersenyum.
“ Apaan sih, ga jelas banget...,” gerutu Hanako dalam hati sambil melengos karena tak sanggup melihat senyum Pandu yang entah mengapa membuat jantungnya kembali berdetak tak karuan.
“ Gapapa Ci, Kamu mundur aja. Biar Kami yang ngadepin dia...,” kata Izar yang diangguki Iyaz.
“ Kalian kok gitu sih. Kita kan udah sepakat tadi...,” protes Hanako.
__ADS_1
“ Cici...,” panggil Iyaz dengan suara datar hingga membuat Hanako menyerah lalu kembali ke tempat dimana ia berdiri bersama Pandu.
Pocong hitam besar itu nampak mengamati empat manusia di hadapannya dengan pandangan bengis. Merasa jika keempat manusia di hadapannya itu lengah, pocong hitam itu segera melesat menyerang Iyaz. Namun nampaknya pocong itu harus menelan kecewa karena sikap waspada Iyaz yang lebih dulu berkelit saat melihat gerakan pocong itu terarah padanya.
Kini Iyaz dan Izar pun terlibat perkelahian dengan pocong hitam yang ternyata adalah penghuni asli rumahyang dimaksud Iyaz kemarin. Sedangkan Hanako nampak mengamati kedua sepupunya dengan sikap siaga. Pandu yang berdiri di samping Hanako pun bisa melihat bagaimana gadis itu mengamati pertempuran kedua sepupunya itu dengan serius.
“ Serius kaya gitu aja tetap cantik, apalagi kalo lagi senyum...,” batin Pandu sambil tersenyum diam-diam.
Tiba-tiba Hanako merangsek maju dan ikut menyerang pocong hitam itu yang bermaksud main curang. Rupanya Hanako melihat jika pocong itu sedang menyiapkan air liur di mulutnya untuk ia semburkan pada Iyaz dan Izar. Hanako ingin mengingatkan si kembar namun ia urungkan karena tak ingin membuat konsentrasi Iyaz dan Izar buyar karena ocehannya.
Sedangkan Pandu nampak membulatkan matanya melihat gerakan Hanako yang terarah pada sosok tak terlihat. Dari gerakan Hanako bisa terlihat jika gadis itu juga menguasai ilmu bela diri yang lumayan tinggi. Hal itu membuat Pandu makin kagum.
“ Rahasia apalagi yang kamu simpan Eisha. Semakin ke sini makin banyak yang terungkap dan bikin Aku ga bisa berpaling dari Kamu...,” gumam Pandu sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara itu Iyaz dan Izar nampak terkejut saat Hanako mendorong tubuh mereka untuk menghindari serangan pocong hitam. Namun mereka maklum dan berterima kasih karena Hanako baru saja menyelamatkan mereka dari semburan air liur sang pocong yang terkenal ganas dan mematikan itu.
“ Makasih Ci...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.
Pandu pun mulai paham jika Hanako baru saja menyelamatkan kedua sepupunya itu dari bahaya. Menyadari jika ketiganya adalah team yang terbentuk alami untuk menghadapi makhluk astral, Pandu pun memilih membantu dengan berdzikir sambil mengamati gerakan ketiganya.
“ Awas Ci...!” kata Izar sambil mendorong tubuh Hanako hingga Hanako tersungkur jatuh.
Ternyata sang pocong hitam itu marah karena Hanako menghalanginya untuk menyakiti Izar dan Iyaz. Dan ia baru saja menyerang Hanako dari belakang. Beruntung Izar melihatnya dan menyelamatkan Hanako meski pun harus membuat Hanako jatuh tersungkur.
“ Kita harus cepat Zar. Kalo ga dia bakal bertambah brutal...,” kata Iyaz.
“ Iya Yaz. Terus gimana, mau pake plan A atau B...?” tanya Izar.
“ Langsung ke plan B aja Zar...,” sahut Iyaz.
“ Ok. Ayo Ci, Kita bikin dia nyerah sekarang...!” ajak Izar.
__ADS_1
“ Ok, tapi Aku duduk aja ya Zar. Lututku sakit banget nih gara-gara jatuh barusan...,” sahut Hanako sambil meringis.
“ Iya gapapa...,” sahut Izar sambil mengangguk.
“ Pegang ini Ci...!” kata Iyaz sambil melempar botol berisi bubuk kayu kamper dan menyerahkan botol yang sama kepada Izar.
Dengan sigap Hanako menangkap botol itu. Melihat ketiga orang yang memiliki ikatan darah itu melakukan gerakan yang mencurigakan, pocong hitam itu marah lalu mengejar ketiganya.
Iyaz dan Izar segera bergerak melindungi Hanako sambil membentangkan kain sorban yang dipakai Iyaz untuk menghalangi serangan pocong hitam itu. Sedangkan Hanako nampak melindungi wajahnya dengan kedua lengannya sambil memejamkan mata dan mengeraskan bacaan dzikirnya.
“ Subhanallah wabihamdihi, Subhanallahil adziim...!” kata Hanako berulang kali.
Ternyata pocong hitam itu baru saja menyemburkan air liurnya kearah Hanako. Beruntung Iyaz dan Izar berhasil membentangkan sorban di hadapan Hanako untuk melindunginya. Sorban nampak dibasahi cairan kecoklatan berbau busuk. Setelahnya kain sorban nampak mengeluarkan asap pertanda jika cairan itu sangat panas. Bisa dibayangkan bagaimana akibatnya jika cairan liur pocong itu langsung mengenai kulit manusia.
Pandu yang berdzikir sambil mengamati ketiganya pun mulai paham apa yang sedang terjadi. Pandu bergegas masuk ke dalam kamar lalu menarik sprei yang menutupi tempat tidur dengan cepat. Setelahnya ia membawa sprei itu keluar dari kamar dan melangkah kearah Iyaz dan Izar yang sedang berjibaku melindungi Hanako.
“ Allahu Akbar...!” seru Pandu sambil membentangkan sprei untuk menutupi tubuh Iyaz, Izar dan Hanako.
Sprei berukuran besar itu berhasil melindungi ketiga bersaudara itu dari serangan pocong hitam. Iyaz dan Izar nampak saling menatap lalu mengangguk. Setelah menutupi tubuh Hanako dengan sprei, keduanya merebut botol berisi bubuk kayu kamper dari tangan Hanako lalu melemparnya kearah Pandu.
“ Tangkap Mas...!” kata Iyaz lantang dan disambut oleh Pandu.
Kini botol kayu kamper itu berada di tangan Pandu dan Pandu pun menuang isinya ke telapak tangannya. Melihat Pandu yang bingung bagaimana cara menggunakan bubuk itu, Iyaz pun memberi komando.
“ Lempar ke sembarang arah aja Mas...!” kata Iyaz.
“ Siap...,” sahut Pandu sambil melempar bubuk ke berbagai arah diikuti Izar.
Di depan sana pocong hitam menjerit keras saat bubuk kayu kamper mulai disebar ke sembarang arah hingga menimbulkan rasa sakit saat mengenai tubuhnya.
\=====
__ADS_1