
Setelah kepergian Todi kehidupan Tiara jauh lebih baik. Berkali-kali Yamini menyampaikan permintaan maafnya pada Tiara atas sikap Todi.
“ Bukan salah Ibu kok. Jadi stop ya minta maaf terus...,” kata Tiara.
“ Tapi Ibu ga enak sama Kamu Nak. Ibu...,” ucapan Yamini terputus saat Tiara memeluknya erat.
“ Makasih ya Bu udah belain Aku dan memilihku. Aku tau Ibu sayang sama Aku, buktinya Ibu nyuruh Om Todi pergi jauh dari sini...,” kata Tiara.
“ Sama-sama Nak. Ibu juga ga ngerti kenapa Todi berubah. Dulu dia anak yang manis dan penurut. Ayah sama Ibu memang memanjakannya dulu karena dia adalah bungsu di keluarga Kami. Tapi kayanya Kami salah karena itu malah bikin dia ga dewasa...,” kata Yamini dengan nada menyesal.
“ Bukan salah Ibu kok, Om Todi yang ga bisa nerima kenyataan. Selama ini dia selalu dapatkan keinginannya
tanpa usaha dan kerja keras. Dan saat dia ga dapat apa yang dia mau, dia marah dan melampiaskannya sama orang lain yaitu Aku. Tapi gapapa Bu Aku maklum kok...,” sahut Tiara sambil tersenyum.
“ Ke depannya Kamu harus hati-hati ya. Ibu khawatir dia nyakitin Kamu lagi nanti...,” pesan Yamini yang diangguki Tiara.
\=====
Rupanya Todi tak terima jika ia harus terusir dari rumah Santoso. Todi merasa jika Tiara lah penyebab semuanya
hingga ia tak bisa lagi masuk ke dalam rumah itu, apalagi Santoso yang dulu sangat menyayanginya kini berbalik membencinya.
“ Tunggu aja. Gue bakal bikin hidup Lo mennderita Tiara. Mungkin sekarang Lo bisa menikmati semuanya tapi
nanti Lo bakal ngerasa semua yang ada di rumah itu ga lagi berpihak sama Lo...,” gumam Todi sinis.
Gumaman Todi pun terbukti. Untuk beberapa tahun Tiara hidup nyaman di rumah Santoso. Tiara yang saat Todi pergi tengah menempuh pendidikan SMP itu pun tumbuh jadi anak yang membanggakan. Meski pun tak mendapat peringkat pertama di sekolah namun Tiara selalu berhasil duduk di salah satu peringkat lima besar di kelasnya. Hal itu membuat Santoso dan Yamini bahagia dan makin menyayanginya.
Dan saat lulus SMA, Santoso pun ingin agar Tiara mau melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Tiara merasa
tak enak hati karena ia melihat usia Santoso yang makin tua tak memungkinkan untuk terus membiayai pendidikannya kelak.
“ Aku kerja aja dulu ya Yah. Aku ngumpulin uang dulu untuk biaya kuliahku...,” kata Tiara waktu itu.
__ADS_1
“ Ga perlu Nak. Ayah masih punya cukup uang untuk membiayai rumah ini dan sekolahmu. Lagipula Ayah khawatir Kamu malas kuliah kalo udah keasyikan bekerja dan punya uang. Padahal pendidikan itu penting untuk masa depanmu lho...,” kata Santoso bersikeras.
“ Ayah benar, Ibu juga ga setuju kalo Kamu kerja dulu baru kuliah. Kuliah dulu, kalo nanti di tengah jalan Kamu dapat pekerjaan yang ga mengganggu kuliahmu ya gapapa. Iya kan Yah...?” tanya Yamini.
“ Iya Bu...,” sahut Santoso.
Tiara nampak terharu mendengar keinginan orangtua angkatnya itu. Ia mengangguk setuju karena ia ingin melihat kedua orangtuanya itu selalu tersenyum.
“ Asal Ayah dan Ibu bahagia, Tiara bakal lakuin semuanya...,” kata Tiara dengan mata berkaca-kaca.
“ Alhamdulillah..., makasih ya Nak. Memilikimu adalah anugrah terindah dari Allah untuk Ayah dan Ibu...,” sahut Santoso sambil merentangkan tangannya dan Tiara pun membenamkan diri dalam pelukan sang ayah.
Yamini pun tersenyum lalu ikut memeluk anak dan suaminya itu. Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengintai dengan tatapan penuh amarah. Pemilik sepasang mata itu adalah Todi. Ia ingin mengetahui apa yang akan keluarga itu lakukan setelah Tiara lulus sekolah. Ternyata ia mendengar jika Santoso dan Yamini memaksa Tiara kuliah dan itu membuatnya sakit hati.
“ Aku ga bisa kuliah kenapa Anak miskin itu bisa. Harusnya Aku yang menikmati semua fasilitas dari Kakakku itu. Gara-gara dia, Aku malah jadi gembel sekarang. Liat apa yang bisa kulakukan untuk mengambil semuanya nanti...,” kata Todi sambil melangkah pergi dari rumah Santoso.
Gusrakk !
“ Apa itu...?” tanya Yamini sambil mengurai pelukannya dan menoleh kearah jendela samping tempat dimana Todi sembunyi tadi.
“ Orang atau kucing...?” tanya Santoso curiga sambil bangkit dari duduknya.
“ Kucing Yah, tuh di sana...,” sahut Tiara panik sambil menunjuk kucing tetangga yang kebetulan melintas.
“ Oh syukur lah. Bukan apa-apa, Ayah merasa belakangan ini seperti ada seseorang yang lagi mengintai rumah Kita. Ayah khawatir Kamu atau Ibu yang dicelakai sama orang itu pas Ayah ga ada di rumah...,” kata Santoso sambil mengamati jendela.
“ Yang bener Yah, kok Ibu jadi takut ya...,” kata Yamini sambil merapat kearah suaminya.
“ Mudah-mudahan Ayah salah ya Bu. Tapi besok Ayah panggil tukang untuk pasang teralis jendela dan kamera CCTV di rumah ini...,” sahut Santoso.
“ Ibu setuju. Secepatnya ya Yah...,” pinta Yamini yang diangguki Santoso.
Mendengar percakapan kedua orangtuanya membuat Tiara bernafas lega karena Todi tak akan bisa sembarangan
__ADS_1
masuk ke dalam rumah itu lagi nanti. Tiara tahu jika Todi sering masuk ke dalam rumah saat semua penghuni rumah tak ada di rumah. Meski hanya mengambil makanan, namun Tiara takut jika Todi berbuat nekad dan menyakitinya seperti dulu.
\=====
Sore itu Tiara baru saja pulang dari kampus. Ia nampak tergesa-gesa masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu
karena merasa takut. Sejak di halte bus depan kampus Tiara merasa ada seseorang yang mengikutinya.
“ Kamu kenapa Nak, kok masuk ke rumah ga pake salam...?” tanya Yamini sambil menepuk pundak Tiara hingga mengejutkan Tiara.
“ Hwaaa...!. Ibu ngagetin aja...,” kata Tiara sambil memegangi dadanya.
“ Kok Ibu sih, Kamu tuh yang salah. Masuk rumah tapi ga pake salam...,” ulang Yamini sambil tersenyum.
“ He he..., iya maaf Bu. Assalamualaikum Ibuku...,” sapa Tiara malu-malu.
“ Wa alaikumsalam. Kenapa lari-lari...?” tanya Yamini.
“ Mmm..., kebelet pipis Bu...,” sahut Tiara asal sambil melangkah cepat menuju ke kamar.
Yamini hanya menggelengkan kepala lalu kembali ke ruang makan untuk menyiapkan makan malam. Sedangkan Tiara yang tiba di kamar nampak langsung melemparkan tasnya begitu saja ke atas tempat tidur. Kemudian dia melangkah ke jendela untuk mengamati keadaan di luar rumah. Tiara bernafas lega karena tak menjumpai siapa pun di sana.
Namun saat hendak menarik kepalanya Tiara melihat pantulan wajahnya dan seseorang di dalam kamarnya. Seorang pria berkepala botak nampak tepat berdiri di belakangnya sambil menyeringai. Tiara terkejut lalu menoleh namun tak melihat siapa pun di sana. Tiara kembali menatap pantulan dirinya di kaca jendela dan melihat sosok pria botak itu perlahan berubah menjadi tinggi, besar, menjulang di belakangnya dengan kedua tangan membentuk cakar tengah bersiap menerkamnya. Tiara menjerit sekencang-kencangnya hingga membuat Yamini terkejut dan berlari mendatanginya.
“ Ada apa Tiara...?!” tanya Yamini panik.
“ Ada hantu Buu...,” sahut Tiara sambil menghambur memeluk Yamini.
“ Hantu apa sih Tiara. Mana ada hantu sore-sore kaya gini...,” kata Yamini.
“ Ada Bu. Tadi dia di sini, dia mau nerkam Aku Bu. Dia...,” ucapan Tiara terputus.
“ Ssstt..., udah tenang ya. Ayo Kita keluar aja dari sini...,” ajak Yamini karena merasa jika aura kamar Tiara sedikit berbeda saat itu.
__ADS_1
Tiara mengangguk lalu mengikuti Yamini keluar dari kamar dengan posisi masih memeluk Yamini.
\=====