
Setelah kepergian arwah Laudya, suasana di dalam villa berangsur membaik. Sumantri nampak menghela nafas lega sambil bersandar pada sandaran sofa.
“ Ada hal penting yang harus Saya sampaikan...,” kata Faiq.
“ Iya Mas, pasti Bu Laudya punya pesan khusus buat Saya...,” sahut Sumantri.
“ Betul. Dia minta Pak Sumantri untuk lebih memperhatikan Rafa. Karena Rafa tak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya dari Mamanya. Ga sulit untuk mengerti Rafa, Bapak hanya perlu meluangkan sedikit waktu dan bicara banyak hal sama Rafa. Setelah itu Rafa akan terbiasa dan mau terbuka mengungkapkan apa yang ia mau...,” kata Faiq.
“ Oh gitu. Saya ga nyangka kasih sayang Bu Laudya untuk Rafa benar-benar tulus. Bahkan dia masih memikirkan masa depan Rafa meski pun udah meninggal. Sayangnya Saya terlambat mengenalnya...,” sahut Sumantri terharu.
“ Betul Pak. Tapi Bapak masih bisa melakukan sesuatu untuk membalas jasa Bu Laudya...,” kata Faiq.
“ Melakukan apa Mas Faiq...?” tanya Sumantri.
“ Melakukan sedekah atau santunan untuk anak yatim atas nama Bu Laudya misalnya. Karena hanya doa dan pahala kebaikan yang dibutuhkan Bu Laudya sekarang...,” sahut Faiq.
“ Iya Mas, insya Allah Saya bakal lakuin itu...!” sahut Sumantri antusias.
“ Sekarang arwah Bu Laudya sudah kembali ke haribaan Allah dengan tenang, apalagi orang yang udah mencelakainya telah mendapat hukuman yang setimpal. Semoga ke depannya keluarga Pak Sumantri dilimpahi ketenangan dan keberkahan dalam hidup...,” kata ustadz Hamzah.
“ Aamiin, makasih doanya Pak Ustadz. Saya juga ngucapin banyak terima kasih atas bantuan Pak Ustadz Hamzah, Mas Faiq, Mas Bayan dan Anak-anak. Semoga Allah membalas kebaikan Kalian dengan pahala yang berlipat ganda...,” kata Sumantri dengan mata berkaca-kaca.
“ Aamiin...,” sahut semuanya bersamaan.
“ Sekarang tugas Kami udah selesai, jadi Kami pamit dulu ya Pak Sumantri...,” kata Faiq.
“ Iya Mas Faiq, makasih sekali lagi...,” sahut Sumantri sambil menjabat erat tangan Faiq.
Sumantri mengantar tamunya hingga keluar dari villa. Kemudian Sumantri memanggil Pandi, pria yang menjaga dan mengurus villa menggantikan Asep. Setelah mengatakan beberapa hal, Sumantri pun pergi meninggalkan villa. Ia berniat pulang dan bertekad menjadi ayah yang lebih baik untuk anak-anaknya sesuai pesan terakhir Laudya.
\=====
Sementara itu Sofian dan istri Sumantri tengah menjalani penyelidikan. Mereka harus menjawab banyak pertanyaan dari polisi hingga membuat mereka lelah.
__ADS_1
“ Siapa yang punya ide memakamkan jasad Laudya di villa milik Pak Sumantri...?” tanya polisi.
“ Dia...,” sahut Sofian sambil menunjuk mantan majikan sekaligus kekasih gelapnya yang duduk tak jauh darinya.
“ Kamu yang ngusulin itu Sofian, jangan memutar balikkan fakta Kamu...!” sahut sang majikan dengan marah.
Kemudian keduanya berdebat dan saling menuduh, tak ada satu pun yang mengalah.
“ Bagaimana cara Kalian mengubur jasad Laudya...?” tanya polisi tanpa mempedulikan perdebatan Sofian dan majikannya itu.
“ Saya menguras kolam renang. Terus Saya juga yang membongkar lantai keramik kolam, membuat lubang, memasukkan jasad Laudya dan menutupnya lagi pake plesteran dan keramik lantai. Semua Saya lakukan atas perintah dia...!” kata Sofian sambil menunjuk sang majikan.
“ Kamu...,” ucapan sang majikan terputus karena polisi memotong ucapannya.
“ Cukup !. Kalian pikir Kami ga tau apa hubungan Kalian. Hanya karena cinta dan naf*u sesaat membuatmu lupa statusmu yang seorang Istri dan Ibu dari tiga orang Anak...,” kata polisi sambil menatap istri Sumantri dengan tajam hingga membuat wanita itu menunduk malu.
Sofian nampak salah tingkah karena yakin setelah ini dirinya lah yang akan dipermalukan oleh polisi.
Suasana ruangan interogasi pun menjadi hening sesaat. Hanya helaan nafas yang terdengar dan itu terasa menegangkan untuk Sofian dan kekasih gelapnya itu.
Tak lama kemudian pengacara Sumantri datang sambil membawa surat gugatan cerai untuk istrinya. Polisi nampak tersenyum mengejek melihat wanita itu menangis histeris. Sedangkan Sofian hanya bisa menatap iba kearah wanita yang pernah memberinya kesenangan dunia itu.
“ Aku ga mau dicerai. Tolong bilang sama Suamiku, Aku masih mencintainya. Aku hanya khilaf sebentar. Tolong beri Aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya...,” pinta istri Sumantri.
“ Maafkan Saya. Tapi Pak Sumantri ga ingin bertemu dengan Anda atau memberi Anda kesempatan kedua. Oh iya, Anda ga perlu khawatir tentang Anak-anak. Pak Sumantri akan mengasuh mereka bertiga dengan kasih sayang dan menjamin pendidikan mereka hingga ke perguruan tinggi...,” kata pengacara Sumantri.
“ Aku ga mau pisah sama Anak-anakku. Aku menyayangi mereka. Tolong jangan jauhkan Aku dari Anak-anak...,” kata istri Sumantri lagi sambil menangis.
“ Maaf, tapi Saya kok bingung ya. Bukannya selama ini Ibu ga peduli sama Anak-anak. Buktinya Ibu bisa menghilang berhari-hari tanpa kabar sampe Rafa juga nangis nyariin Ibu. Tapi kenapa sekarang Ibu malah minta jangan dipisahin sama mereka. Aneh...,” kata pengacara Sumantri sambil menggelengkan kepala.
Kemudian pengacara Sumantri pun pergi meninggalkan kantor polisi dan mengabaikan jeritan wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri Sumantri itu.
\=====
__ADS_1
Setelah berhasil membantu arwah Laudya, Iyaz dan Izar pun kembali fokus dengan pendidikan mereka di pesantren. Hari-hari mereka terasa lebih berwarna dengan kehadiran Neta. Rupanya Iyaz dan Izar memiliki ketertarikan yang sama pada sosok Neta.
Setiap Sabtu sore Iyaz, Izar dan para santri berlomba tampil menjadi yang terbaik untuk menarik perhatian Neta yang selalu datang mendampingi ayahnya.
Neta sendiri nampaknya tak terlalu menggubris sikap si kembar juga para santri yang memang jelas-jelas menyukainya. Neta senang menjalin pertemanan dengan mereka semua yang menjadi murid ayahnya. Neta tak berpikir untuk memilih salah satu diantara mereka karena baginya semua sama-sama menarik dan menyenangkan.
“ Apa Aku harus milih salah satu diantara mereka Kak...?” tanya Neta pada sang kakak.
“ Harusnya gitu sih Net. Jangan mainin perasaan mereka. Ga baik...,” sahut Ina.
“ Aku ga bermaksud mainin perasaan mereka kok. Aku emang ga mau punya hubungan khusus aja sama salah satu diantara mereka sekarang...,” kata Neta.
“ Kalo gitu Kamu harus tegas sama mereka. Bilang di depan mereka semua kalo Kamu nganggap mereka semua sama, hanya teman dan ga lebih. Tujuannya biar ga ada yang baperan sama sikap Kamu atau malah berantem gara-gara ngerebutin Kamu...,” kata Ina.
“ Gitu ya Kak...,” sahut Neta.
“ Iya dong. Emangnya Kamu ngerasa dirimu itu cantik banget ya sampe bikin mereka berantem ngerebutin Kamu...?!” tanya Ina tak suka sambil membulatkan matanya.
“ Tapi bukan salahku juga kan kalo Aku diciptain jadi cewek cantik...,” sahut Neta membela diri.
“ Hueekk, dasar ABG labil, narsis pula...,” kata Ina sambil menggedikkan bahunya.
Neta tertawa melihat tingkah sang kakak. Namun di dalam hatinya Neta berniat mengikuti saran sang kakak.
“ Makasih ya Kak...,” kata Neta sambil memeluk erat sang kakak.
“ Iya sama-sama. Udah lepasin deh...,” sahut Ina sambil berusaha melepaskan pelukan Neta.
Neta kembali tertawa karena berhasil menggoda sang kakak. Sedangkan Bayan dan istrinya nampak tersenyum melihat Neta yang kembali ceria setelah mengalami masa sulit akibat diikuti makhluk halus.
Bahkan Neta juga mulai bisa membuka diri dan menceritakan masalah apa pun yang ia hadapi. Dan itu membuat Bayan dan istrinya bahagia karena Neta bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
\=====
__ADS_1