
Oce berharap Reno tak ada di dalam kamar rahasia itu. Dengan langkah cepat Oce mendekati kamar itu dan mencoba mendorong pintu kamar. Oce terkejut saat tahu pintu kamar terkunci dari dalam padahal saat ia tinggalkan pintu tak terkunci sama sekali.
“ Reno..., dia di dalam...,” kata Oce dengan suara bergetar.
“ Minggir Bu, biar Kami dobrak pintunya...,” kata Izar yang diangguki Oce.
Kemudian Iyaz dan Izar menendang pintu kamar rahasia itu secara bersamaan hingga terbuka. Mereka mematung sesaat ketika melihat api berkobar di dalam kamar itu dan ada sosok manusia yang menggeliat di dalam kobaran api itu. oce menjerit keras saat mengenali siapa manusia yang ada dalam kobaran api itu.
“ Reno..., apa yang Kamu lakukan di sana. Kenapa Kamu senekad ini Reno...!” kata Oce lantang dan bersiap masuk ke dalam kamar namun segera dihentikan oleh Iyaz.
“ Jangan ke sana Bu, bahaya...,” kata Iyaz.
“ Tapi Anak Saya di sana Mas...,” sahut Oce sambil menangis.
Izar nampak menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari toilet. Kemudian ia lari kearah toilet dan dengan sigap membawa ember berisi air lalu menyiramkannya ke tubuh Reno. Dalam sekejap api padam dan Reno pun ambruk ke lantai sambil mengerang kesakitan.
“ Reno...!” panggil Oce lalu mendekati Reno.
Di saat genting itu lah terlihat sosok tangan besar berwarna merah tanpa tubuh nampak berkelabat di dalam ruangan itu. Iyaz dan Izar tahu jika itu adalah iblis sembahan Oce. Mereka pun bersiap menghadapi iblis itu yang terlihat marah karena kesenangannya terusik.
Tangan merah itu nampak mengelilingi ruangan seolah sedang mengintai sasarannya. Iyaz dan Izar tahu jika tangan iblis itu tengah mengincar Oce. Mereka pun maju untuk melindungi Oce yang nampak sedang fokus meratapi Reno yang terluka parah.
Tangan merah itu berhenti sejenak seolah sedang mengumpulkan kekuatan. Perlahan tangan itu membesar hingga
seukuran rumah. Warnanya yang merah berubah lebih pekat dan mengeluarkan aroma busuk yang memenuhi ruangan.
“ Makhluk apaan sih ini Yaz, bau banget...,” kata Izar sambil menutup hidungnya.
“ Yang pasti ini iblis yang udah memanfaatkan Bu Oce untuk memberinya makan dengan gratis Zar...,” sahut Iyaz
sambil mencibir.
“ Maksudmu iblis ini sejenis sama cowok pengangguran yang kerjanya morotin cewek-cewek kaya Yaz...,” gurau Izar sambil tertawa.
“ Betul Zar...,” sahut Iyaz ikut tertawa.
Mendengar celotehan Iyaz dan Izar membuat iblis berupa tangan merah itu marah. Ia melesat cepat menyerang Iyaz dan Izar yang berdiri manghadang untuk melindungi Oce dan Reno.
Benturan keras pun tak dapat dihindari. Ledakan keras terdengar disertai guncangan seolah terjadi gempa bumi. Bahkan akibat guncangan itu tubuh Oce dan Reno terlempar hingga membentur dinding lalu jatuh terhempas ke lantai dengan keras. Sedangkan Iyaz dan Izar dalam keadaan baik-baik saja walau tubuh dan kepala keduanya tertutupi debu berwarna merah.
Iyaz dan Izar berhasil membalikkan keadaan. Keduanya berbalik menyerang tangan merah yang terkapar di lantai itu dari dua arah. Tangan merah itu nampak tak siap menghadapi serangan si kembar karena ia sedang berusaha mengumpulkan kekuatan untuk kembali menyerang Iyaz dan Izar.
__ADS_1
Iyaz dan Izar menyiramkan minyak wangi yang telah diruqyah kearah tangan merah hingga membuat makhluk itu berputar-putar di tempat. Oce yang menyaksikan iblis sembahannya tak berdaya menghadapi serangan Iyaz dan Izar pun berusaha membantu. Ia melayangkan pukulan menggunakan besi kearah Iyaz namun berhasil ditepis oleh Izar dengan mendorong tubuh Iyaz agar menjauh dari Oce.
Izar menjerit tertahan saat tangannya terhantam besi yang dipukulkan Oce. Jeritan Izar membuat Iyaz menoleh lalu menatap nanar kearah Oce. Sambil memeluk Izar, Iyaz pun berteriak marah kearah Oce.
“ Apa yang Ibu lakukan ?. Iblis itu akan membunuh Ibu dan Anak Ibu, kenapa malah melukai Kami yang ingin menolong Kalian...?!” tanya Iyaz lantang hingga mengejutkan Oce.
Oce melepaskan besi di tangannya dengan gugup. Tubuhnya nampak gemetar. Ia terlihat bingung dan tak tahu harus melakukan apa. Saat itu lah iblis berwujud tangan merah itu menyerang Reno yang terkapar tak berdaya di lantai. Oce menjerit membayangkan anaknya dimangsa oleh tangan merah itu.
Dengan sigap Iyaz dan Izar melompat melemparkan bubuk kayu cendana kearah tangan merah itu sambil bertakbir.
“ Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa haula wala quwwata ilaa billahil aliyyil adziim...!” kata Iyaz dan Izar bersamaan.
Ledakan kembali terjadi, kali ini disertai darah merah kehitaman yang muncrat mengotori dinding dan lantai kamar.
Oce menahan nafas karena takut Reno lah yang terluka. Perlahan Oce membuka matanya dan melihat Reno yang meringkuk sambil menutupi kepalanya. Sedangkan di kiri kanan Reno terlihat Iyaz dan Izar yang berdiri dengan siaga.
Oce tersenyum sambil menitikkan air mata saat mendapati Reno selamat. Ia menghambur memeluk Reno sambil menciumi kepala Reno.
“ Maafkan Mami Reno. Jangan pergi, jangan pergi. Bertahan lah untukku...,” kata Oce sambil menangis.
Iyaz dan Izar saling menatap dengan tatapan iba. Keduanya ikut sedih menyaksikan Oce memeluk Reno yang terkapar penuh luka itu.
“ Kita bawa ke Rumah Sakit aja Yaz...,” kata Izar.
Oce mengangguk lalu membiarkan Iyaz dan Izar menggotong tubuh Reno keluar dari kamar. Oce membantu membukakan pintu mobil. Setelahnya mereka pergi menuju Rumah Sakit.
\=====
Sementara itu di rumah Qiana.
Bersamaan dengan ledakan yang menghempas tubuh Reno dan Oce, tubuh Qiana yang terbaring di kamarnya pun ikut tersentak dan melayang ke atas lalu jatuh terhempas ke tempat tidur dengan keras. Perawat yang mendampinginya terkejut dan menjerit ketakutan.
Faiq yang siaga di kamar itu pun sigap membantu. Bersama abi Qiana ia memperbaiki posisi Qiana yang masih terpejam itu lalu menyodorkan air ruqyah kepada abi Qiana.
“ Minumkan sekarang dan basuh semua tubuh dan wajahnya dengan air ini. Saya tunggu di luar...,” kata Faiq.
“ Baik Pak...,” sahut abi Qiana.
Faiq tiba di ambang pintu bersamaan dengan Ummi Qiana yang melangkah masuk ke dalam kamar Qiana. Faiq
menganggukkan kepalanya lalu beranjak keluar kamar. Ummi Qiana menghampiri suaminya yang baru saja selesai memberi Qiana minum.
__ADS_1
“ Ada apa Bi, siapa yang menjerit tadi...?” tanya ummi Qiana cemas.
“ Gapapa Mi. Sekarang tolong bantu usapin air ruqyah ini ke seluruh tubuh Qiana ya Mi. Jangan ada yang terlewat.
Abi temenin Pak Faiq di luar...,” kata abi Qiana.
“ Iya Bi...,” sahut ummi Qiana.
“ Mari Saya bantu ya Bu...,” kata perawat yang menemani Qiana.
“ Iya Sus, makasih...,” sahut ummi Qiana sambil tersenyum.
Setelah memastikan kondisi Qiana, Faiq pun menghubungi anak-anaknya. Saat Izar menjawab panggilannya Faiq pun bernafas lega karena itu artinya kedua jagoannya itu baik-baik saja.
“ Assalamualaikum Yah...,” sapa Izar dari seberang telephon sambil menekan tombol loud speaker agar Iyaz bisa ikut mendengar percakapan mereka.
“ Wa alaikumsalam. Kalian dimana...?” tanya Faiq.
“ Kami mau ke Rumah Sakit Yah. Reno terluka parah...,” sahut Izar.
“ Ok, terus gimana sama makhluk itu...?” tanya Faiq penasaran.
“ Mati Yah. Hancur ga bersisa...,” sahut Izar cepat.
“ Gapapa, yang penting Kalian selamat...,” kata Faiq sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah. Ini semua berkat doa Ayah dan semua orang Yah...,” sahut Izar bijak.
“ Kalo udah selesai Kalian balik aja ke rumah. Kita bahas di rumah nanti...,” kata Faiq.
“ Siap Yah...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan hingga membuat Faiq tersenyum.
Abi Qiana yang mendengar percakapan Faiq dengan Iyaz dan Izar pun ikut tersenyum. Ia senang bisa melihat interaksi Faiq dengan kedua anak laki-lakinya itu.
Abi Qiana menoleh saat mendengar pintu kamar Qiana terbuka dan memperlihatkan wajah sang istri di sana.
“ Qiana udah siuman Bi...,” kata ummi Qiana sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah...,” sahut abi Qiana dan Faiq bersamaan.
Kemudian abi Qiana dan Faiq masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi Qiana.
__ADS_1
Bersambung