Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
128. Lariii...!


__ADS_3

Setelah wujudnya berubah, Inar mendongakkan wajahnya perlahan. Terlihat wajah yang hitam, penuh parut, dengan mata yang membola tanpa kelopak mata, mulutnya pun lebar dengan air liur yang menetes sangat menjijikkan hingga membuat semua orang menahan nafas saking terkejutnya. Wajah Inar sangat jauh berbeda dengan wajah Inar sebelumnya.


Suara tawa yang mirip erangan disertai desisan keluar dari mulut siluman itu. Warga mundur karena makhluk itu berhasil melepaskan diri dari ikatan. Terlihat darah kehitaman muncrat keluar bersamaan dengan putusnya ikatan tali bambu yang mengikat tubuh siluman wanita itu. lolongan panjang pun terdengar pertanda siluman wanita itu merasa kesakitan saat ikatan tali bambu menggores kulitnya.


Faiq pun menyerahkan Izar pada sang papa yang langsung membawanya menjauh dari altar batu. Beberapa warga berinisiatif menemani Erik dan Izar agar tak dilukai oleh siluman wanita itu. sedangkan Faiq, Hanako dan Iyaz berjalan mendekat kearah siluman wanita jelmaan Inar.


“ Hati-hati Cu...,” pesan nek Niken saat melihat Hanako bergerak mendekati siluman itu.


“ Kita bantu mereka dengan dzikir ya Pak...,” pinta Erik pada warga yang ada di sekitarnya.


“ Baik Pak...,” sahut warga kemudian mulai melantunkan dzikir.


Dalam sekejap suasana di dalam hutan itu menjadi panas. Siluman wanita itu nampak marah saat mendengar lantunan ayat suci dan dzikir yang dibaca oleh orang-orang yang ada di hadapannya. Sopran, Mukhlis dan Tamim ikut bergabung bersama Faiq, Hanako dan Iyaz sambil membawa peralatan yang terbuat dari bambu. Mereka membuat lingkaran untuk mengepung siluman wanita itu.


Perkelahian sengit pun terjadi. Siluman wanita itu terlihat jelas mengincar Iyaz yang terlihat paling muda diantara mereka. Ia sengaja menyerang Iyaz karena yakin jika Iyaz tak punya kekuatan seperti yang lain. Namun siluman itu salah duga, Iyaz bukan lah pria lugu. Iyaz berhasil melompat ke atas untuk menghindari serangan siluman itu lalu memukul telak kepala wanita dengan tinjunya hingga mengeluarkan suara berdebuk yang sangat keras.


Siluman wanita itu jatuh tersungkur namun kembali bangkit. Dia nampak menyeringai mendapat perlawanan dari Iyaz. Kemudian dengan secepat kilat siluman wanita itu kembali menyerang Iyaz namun gagal karena Faiq dan Hanako turun tangan membantu. Kesal karena buruannya lepas, wanita itu menatap ke sekelilingnya untuk mencari celah agar bisa menangkap Iyaz.


Namun sebelum niatnya itu terlaksana, Tamim memukul kentongan bambu yang dibawanya dengan ketukan asal hingga membuat siluman wanita itu marah. Sadar jika itu adalah salah satu kelemahannya, warga yang juga membawa kentongan bambu pun ikut memukul dengan suara acak. Siluman wanita itu menjerit sambil menutup kedua telinganya. Nampak darah kehitaman mengalir keluar dari sela jari tangannya.


Saat wanita itu sedang limbung, Faiq merangsek maju sambil membawa tali bambu. Ia berhasil menjerat tubuh siluman wanita itu dan menyeretnya hingga kembali ke pohon lalu mengikatnya dengan kuat dibantu Mukhlis dan Tamim.


Siluman wanita itu menjerit marah, ia merapal sesuatu lalu meludah ke sembarang arah dengan air liur yang merah kecoklatan dan berbau busuk itu. Pohon yang terkena semburan air liurnya pun mengeluarkan asap pertanda ada racun yang kuat di dalam air liurnya.


“ Kemarikan tabung bambu itu Pak...,” pinta Faiq.


Sopran melemparkan tabung bambu berisi air itu dan Faiq berhasil menangkapnya. Setelah melihat isinya, Faiq pun memasukkan air campuran serbuk merah yang tadi dibawa Hanako ke dalam tabung bambu itu sambil berdzikir.

__ADS_1


Setelahnya Faiq melompat ke atas kepala wanita itu tepat di saat wanita itu mendongak ke atas dan sedang bersiap membuka mulutnya untuk mengeluarkan air liurnya itu. Faiq pun berpegangan pada dahan pohon lalu menyiramkan air dalam tabung bambu ke atas tubuh siluman wanita itu. Setelahnya Faiq kembali ke formasi semula dan berdiri diantara Iyaz dan Hanako.


Jeritan siluman wanita ituterdengar keras dan memekikkan telinga saat wajah dan sekujur kulit tubuhnya meletup akibat terkena cairan itu. Tubuhnya nampak menggeliat kesakitan. Kedua matanya menatap Izar seolah memohon agar Izar berkenan membantunya lepas dari rasa sakit itu.


Izar pun melepaskan diri dari penjagaan Erik lalu menghambur mendekati siluman wanita itu. Semua orang terkejut karena mengira Izar hanya mengantar nyawa.


“ Izar, jangan...!” kata Erik lantang.


Semua menoleh kearah Izar yang langsung meraih tangan Hanako lalu menggenggamnya erat.


“ Kita genapi tujuh orang untuk mengakhiri penderitaannya Yah, kasian dia...,” kata Izar.


“ Baik Nak...,” sahut Faiq cepat.


Kini jumlah orang yang mengepung siluman wanita itu menjadi tujuh orang. Ketukan dari kentongan bambu masih


terdengar diiringi dzikir dan lantunan ayat suci Al Qur’an. Geliatan tubuh siluman wanita itu perlahan berkurang dan akhirnya berhenti sama sekali. Sebelum tubuhnya hancur akibat letupan, tangan siluman wanita itu terulur kearah Izar seolah menyampaikan salam perpisahan.


Semua orang lari ke balik pohon untuk berlindung dari ledakan tubuh siluman wanita itu. Bau busuk menyeruak untuk sesaat lalu hilang sama sekali.


“ Alhamdulillah..., laa haula wala quwwata ilaa billahil aliyyil adziim...,” kata Faiq dan keluarganya sambil mengusap wajah.


“ Dimana Nek Niken...?” tanya Iyaz saat menyadari nek Niken tak ada bersama mereka.


“ Aku ga tau. Aku kirain sama Kamu tadi...,” sahut Hanako sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan nek Niken.


“ Nek Niken..., dia sudah pergi...,” sahut Faiq.

__ADS_1


“ Pergi, kemana Yah. Malam-malam begini mau pergi kemana. Kan Nek Niken udah tua, kasian kalo tersesat nanti...,” kata Iyaz bingung.


“ Dia pergi ke tempat yang seharusnya. Mari Bapak-bapak, Kita harus segera tinggalkan tempat ini...,” ajak Faiq.


“ Kita hancurkan dulu tempat ini ya Pak...,” sahut salah seorang warga.


“ Ga perlu Pak. Jangan buang tenaga untuk menghancurkan tempat ini. Sebentar lagi juga tempat ini akan musnah, percaya lah...,” kata Faiq.


Tiba-tiba tanah yang mereka pijak bergoyang dan pohon-pohon pun bergerak seolah akan tumbang. Faiq meraih tangan Hanako lalu membawanya lari sejauh mungkin. Sedangkan Iyaz dan Izar sudah lebih dulu kabur bersama Erik. Warga yang terkejut pun langsung berlarian mengikuti Faiq untuk menjauh dari lokasi itu. Suara ledakan dan gemerisik pohon tumbang terdengar begitu mengerikan.


“ Lari terus, jangan liat ke belakang...!” kata Faiq lantang sambil menggenggam erat tangan Hanako.


“ Siap Pak. Ayoo..., lariii..., cepaaatt...!” sahut warga saling memberi semangat sambil tertawa-tawa.


Faiq dan Erik tersenyum melihat tingkah warga. Sedangkan Hanako, Iyaz dan Izar ikut bersorak gembira sambil


berlari meninggalkan hutan larangan mengikuti suara warga yang saling bersahutan memberi semangat.


“ Lariii..., jangan liat ke belakang...!” seru Izar sambil tertawa.


“ Cepaaattt..., jangan sampe tertangkaappp...,” sahut Iyaz hingga membuat Izar dan Hanako tertawa.


Mereka berhenti berlari setelah tiba di luar hutan larangan tepat di pagar pembatas yang tadi dibuka oleh warga. Saat menoleh ke belakang mereka melihat salah satu area bukit terlihat berlubang besar dan telah menyeret pohon dan apa pun yang ada di atasnya ke dalam lubang.


“ Itu...,” suara Hanako terputus.


“ Allah mengutus alam untuk membersihkan sendiri tempat yang telah dikotori itu dengan caranya sendiri...,” kata Faiq cepat hingga membuat semua orang mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


Perlahan mereka melintasi pagar pembatas itu dan keluar dengan selamat. Kemudian mereka kembali menutup pagar pembatas itu dengan pehonan dan batu. Setelahnya mereka kembali ke musholla untuk menunaikan sholat Isya berjamaah.


\=====


__ADS_2