
Qiana dan Ratih sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja. Hari itu Ratih memutuskan untuk mulai mencari kost an yang baru karena malu telah merepotkan Qiana dan kedua orangtuanya.
“ Pulang kerja nanti Aku bakal ngeliat kost an yang ditawarin temen Aku Qi...,” kata Ratih sambil menyapukan blush on di pipinya.
“ Ga usah buru-buru Tih. Kamu masih bisa tinggal di sini sampe dapat tempat kost yang baru kok...,” sahut Qiana.
“ Aku tau Qiana. Tapi Aku harus mulai mencari dong. Emangnya mau sampe kapan Aku tinggal di sini terus. Aku malu sama Abi dan Ummi Kamu Qi...,” kata Ratih.
“ Ga usah ngomong kaya gitu. Ntar kalo Abi sama Ummi denger bisa gawat lho...,” sahut Qiana.
“ Iya iya, maaf. Udahan belum, yuk Kita berangkat sekarang...,” ajak Ratih.
“ Ok...,” sahut Qiana sambil tersenyum sambil meraih tas dari atas meja lalu mengikuti Ratih yang lebih dulu keluar dari kamar.
Setelah berpamitan pada kedua orangtua Qiana, keduanya keluar dari rumah.
“ Apa mereka udah sarapan Mi...?” tanya abi Qiana sambil meneguk kopinya.
“ Mereka udah sarapan duluan Bi. Kelamaan nungguin Abi yang masih sibuk jogging tadi...,” sahut ummi Qiana
sambil tersenyum.
“ Soalnya Abi ketemu sama Pak Rt tadi. Ga enak kan kalo ga nyapa. Eh ga taunya malah keterusan ngobrol sampe
lupa kalo harus berangkat kerja juga...,” kata abi Qiana sambil melangkah ke dalam kamar.
Ummi Qiana tersenyum lalu mengikuti suaminya ke dalam kamar untuk menyiapkan pakaian kerja sang suami.
Sementara itu di depan rumah terlihat dua ojeg on line tengah menanti Qiana dan Ratih. Tak lama kemudian terlihat Qiana dan Ratih saling melambaikan tangan saat keluar dari dalam rumah. Setelah keduanya duduk dengan nyaman di atas motor, kendaraan itu melaju dengan cepat kearah yang berbeda.
\=====
Sepulang dari kantor, Ratih mengikuti temannya yang akan membawanya melihat-lihat rumah kost. Ratih berharap rumah kost yang akan ia datangi tak akan punya cerita kelam seperti rumah kost sebelumnya.
“ Nah itu rumah kost yang Gue bilang kemaren Rat...,” kata teman Ratih yang bernama Ulfa.
“ Wah keliatannya lumayan rame ya Ul...,” sahut Ratih.
“ Kalo Lo ga suka yang rame, Gue bisa ajak Lo ke kost an yang agak sepi Rat...,” kata Ulfa.
“ Eh jangan. Gue mau yang ini aja. Gue kapok tinggal di kost an yang tenang dan sepi Ul...,” sahut Ratih cepat.
__ADS_1
“ Terserah Lo aja Rat. Kebetulan kata temen Gue masih ada dua kamar kosong di kost an ini. Yuk Kita temuin Ibu kost nya...,” ajak Ulfa sambil menggamit tangan Ratih.
Kemudian Ulfa dan Ratih menemui pengurus kost bernama Tinah, seorang wanita bertubuh subur yang nampak ramah.
“ Oh, jadi ini orang yang Kamu maksud kemaren Ul...?” tanya Tinah.
“ Iya Ceu, namanya Ratih. Temen kerja Saya...,” sahut Ulfa.
Ratih dan Tinah pun saling berjabat tangan. Setelahnya Tinah membawa Ratih masuk untuk melihat kondisi kamar yang akan ia tempati.
“ Gimana Rat, Lo mau ga tinggal di sini...?” tanya Ulfa.
“ Iya Gue mau Ul...,” sahut Ratih hingga membuat Ulfa dan Tinah tersenyum lebar.
“ Kapan Mbak Ratih mau mulai tinggal di sini...?” tanya Tinah.
“ Insya Allah dua hari lagi ya Bu. Saya harus berkemas dan pamit dulu sama keluarga teman Saya yang udah berbaik hati menampung Saya selama ini...,” sahut Ratih.
“ Oh silakan Mbak. Kalo gitu Saya bisa minta uang mukanya sekarang kan...?” tanya Tinah.
“ Bisa Bu, 50% dulu kan ya...?” tanya Ratih sambil mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.
“ Iya Mbak...,” sahut Tinah sambil membuatkan kuitansi pembayaran.
“ Sebenernya Ceu Tinah bukan pemilik kost an itu Rat. Pemilik aslinya itu Kakaknya Ceu Tinah. Tapi karena
Kakaknya itu tinggal jauh dari sini, makanya Ceu Tinah yang disuruh ngurusin kost an itu dan hasilnya dibagi dua sama Kakaknya itu...,” kata Ulfa.
“ Gitu ya. Tapi keliatannya Bu Tinah itu orang baik ya Ul...,” kata Ratih.
“ Iya Rat. Semua anak kost deket sama dia. Jadi ntar kalo ada apa-apa, Lo bisa langsung ngomong sama dia. Orangnya baik, Suaminya juga baik. Sayangnya mereka ga punya anak walau pun udah lama menikah...,” kata Ulfa sambil membuka pintu rumahnya.
Ratih dan Ulfa pun melanjutkan perbincangan mereka dengan santai. Setengah jam kemudian Ratih pamit karena
khawatir kemalaman di jalan.
“ Maksih udah mau bantuin Gue ya Ul...,” kata Ratih.
“ Iya Ratih, ini udah kali keberapa ya Lo bilang terima kasih sampe kebas nih kuping Gue dengernya...,” gurau Ulfa hingga membuat Ratih tertawa.
\=====
__ADS_1
Usep tiba di rumah jam delapan malam. Sang istri menyambutnya dengan tatapan curiga.
“ Kok sampe malam gini sih Bang...,” protes Tinah istri Usep.
“ Kan udah biasa Aku pulang jam segini, tumben pake protes segala...,” sahut Usep sambil tersenyum,
Tinah hanya menggedikkan bahunya lalu mengekori sang suami. Usep tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Dengan enggan Tinah menyambut uluran tangan suaminya itu lalu mencium punggung tangan Usep dengan cepat.
“ Ngambek mulu sih Tin, apa ga capek Kamu...?” tanya Usep dengan nada kecewa.
“ Aku ga bakal ngambek kalo Abang ga bikin gara-gara...,” sahut Tinah sambil meletakkan gelas berisi kopi di hadapan suaminya.
“ Gara-gara apa sih Tin, sampe bosan jelasinnya. Abang ga kemana-mana, pulang kerja langsung pulang ke rumah
kok...,” kata Usep putus asa.
Melihat wajah Usep yang kacau Tinah pun iba dan akhirnya tersenyum. Usep pun ikut tersenyum lalu memeluk
Tinah erat. Beberapa saat kemudian mereka saling mengurai pelukan. Kemudian Usep mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan memperlihatkan kepada Tinah.
“ Abang punya sesuatu untuk Kamu...,” kata Usep.
“ Apaan nih Bang...?” tanya Tinah tak mengerti.
“ Itu hadiah dari cucunya Bos pemilik perusahaan buat Abang. Bagus kan...,” kata Usep bangga.
“ Bagus sih, tapi kenapa Abang seneng banget dikasih batu. Emangnya ga ada hadiah lainnya ya Bang. Misalnya
rumah atau pergi umroh gratis gitu...?” tanya Tinah dengan mimik wajah lucu hingga membuat Usep tertawa.
“ Ini namanya batu topaz Sayang...,” sahut Usep.
“ Batu kok hijau. Bisa dibikin apaan nih ?, terus bisa dijual ga...?” tanya Tinah penasaran.
“ Bisa lah. Ini batu asli, rencananya Abang mau bikin cincin couple pake batu ini. Pasti bagus deh. Gimana, Kamu suka ga...?” tanya Usep.
“ Aku suka Bang. Tapi ikatannya pake emas ya Bang...,” pinta Tinah.
“ Iya Sayang. Insya Allah hari Minggu besok Kita ke toko emas ya...,” kata Usep sambil tersenyum.
“ Ok Bang...,” sahut Tinah antusias.
__ADS_1
Malam itu pertengkaran antara Usep dan Tinah berakhir manis. Kini keduanya nampak tertawa bahagia seolah melupakan pertengkaran yang sempat terjadi tadi.
\=====