
Kejadian aneh di mini market menjadi topik hangat dalam sekejap. Para karyawan mini market bertanya-tanya siapa kasir yang dimaksud oleh wanita gemuk itu. Sedangkan security yang melihat layar monitor langsung mengatakan jika kasir yang dimaksud oleh wanita itu sepintas mirip dengan almarhumah Tania, kasir yang meninggal setahun lalu.
“ Masa mirip sama Tania sih Pak...?” tanya Dara tak percaya.
“ Iya Mbak, mirip banget...,” sahut sang security.
“ Masuk akal juga sih. Kan kasir yang tinggi, putih, berambut ikal ya emang cuma Tania. Tapi itu kan dulu, sebelum Tania meninggal dunia. Masa iya Tania jadi hantu terus menerror Kita semua...?” tanya Dara tak yakin.
“ Bisa aja...,” sahut Toto.
“ Maksud Lo, si Tania gentayangan karena mati penasaran gitu Mas...?” tanya Dara lagi.
“ Mungkin. Walau Gue ga kenal sama si Tania karena Gue baru kerja di sini. Tapi Gue yakin ada sesuatu yang mau dia sampein sama Kita...,” sahut Toto santai.
“ Ga usah sok tau deh To. Orang yang udah meninggal ya tempatnya di kuburan lah, masa di mini market. Emangnya dia mau ngikut ngitungin belanjaan semua pembeli di sini. Bisa kabur dong semua pembelinya kalo yang ngitung belanjaannya hantu...,” kata Meila ketus hingga membuat Surya dan Doni tertawa.
“ Bener juga sih kata Lo itu Mei. By the way, kenapa Lo kemarin pingsan juga kaya Pak Irwandi. Jangan-jangan Kalian diterror sama hantu yang sama ya...,” kata Toto.
“ Apaan sih Lo, ga lucu tau. Gue pingsan karena kepala Gue mendadak pusing banget. Nah kalo penyebab pingsannya Pak Irwandi mana Gue tau, kan Lo yang ikut gotong ke Ambulans kemarin...,” sahut Meila sewot.
“ Biasa aja sih jawabnya Mei, ga usah ngegas gitu. Justru kalo cara ngomong Lo kaya gitu bikin orang curiga. Iya ga sih guys...?” tanya Toto sambil menatap temannya satu per satu.
“ Udah cukup, Kita balik ke pos masing-masing ya. Jangan ngelamun, tetap fokus dan selalu berdoa supaya Kita dijauhkan dari gangguan makhluk halus dan sejenisnya...,” kata Surya menengahi.
“ Iya Pak Ustadz...,” sahut semua rekan Surya sambil tertawa lalu memisahkan diri menuju tempat tugas masing-masing.
\=====
Sementara itu toko buku tempat Hanako bekerja sengaja diliburkan hari ini. Gofar memutuskan menetralisir semua
ruangan dengan bantuan Faiq dan Fatur. Meski pun toko tutup, namun semua karyawan tetap diminta hadir agar bisa ikut serta menjalani ruqyah.
__ADS_1
Faiq meminta Gofar juga mengikutsertakan salah satu security yang pernah melihat penampakan hantu Tania agar bisa ikut menjalani ruqyah. Sebut saja namanya Dahlan. Saat diberitahu apa tujuan mereka berkumpul di toko buku itu, Dahlan menyambut dengan antusias.
“ Saya mau banget Pak. Terus terang sejak ngeliat penampakan hantu itu Saya jadi susah tidur. Anak Saya juga
rewel, keliatannya sawan karena aura negatif yang ngikutin Saya itu ya Pak...,” kata Dahlan.
“ Mungkin aja Pak. Sekarang sebaiknya Pak Dahlan wudhu dulu ya, terus ikutan gabung di sini...,” sahut Gofar.
Dahlan mengangguk lalu bergegas berwudhu, setelahnya dia ikut bergabung membaca dzikir bersama yang lain.
Suasana dalam ruangan yang semula hangat perlahan mulai dingin dan mencekam. Wina yang duduk di samping Hanako pun terlihat tak nyaman. Hanako pun menggenggam tangan Wina untuk memberinya kekuatan.
Tiba-tiba semua lampu di dalam toko nampak berkedip-kedip diiringi suara berdetak yang seolah berpindah-pindah. Kemudian suara itu menetap di satu sudut hingga beberapa saat. Semua mata menatap kearah sudut dimana sumber suara berasal. Dan perlahan hantu Tania memperlihatkan diri. Semua orang yang ada di dalam toko itu bisa melihat penampakan hantu Tania tanpa terkecuali.
Hantu Tania berdiri dengan wajah pucat, tubuh kurus, rambut berantakan dan ada noda darah di bawah dagunya yang berasal dari mulutnya. Darah itu terus mengalir keluar hingga membasahi leher dan pakaian bagian atas Tania.
“ Itu Tania Bob...,” bisik Madani dengan suara bergetar.
“ Kasian banget ya...,” kata Madani lagi.
“ Ssstt, ga usah komen dulu deh. Lebih baik Lo dzikir daripada bikin hantu Tania marah nanti...,” kata Bobi mengingatkan hingga membuat Madani terdiam dan kembali berdzikir walau tatapannya tak lepas menatap hantu Tania.
Di depan sana hantu Tania nampak menatap semua orang bergantian seolah sedang mencari seseorang. Hantu Tania tersenyum saat tatapannya membentur sosok Wina yang gemetar ketakutan di samping Hanako. Kemudian hantu Tania perlahan melayang mendekati Wina dan itu membuat suasana kian mencekam. Apalagi saat tangan hantu Tania terulur seolah ingin menyentuh Wina.
“ Jangan ganggu dia...,” kata Hanako tegas sambil memeluk Wina erat.
Hantu Tania tersentak lalu menarik tangannya yang terulur dan siap menyentuh Wina.
“ Siapa Kamu, kenapa menghalangiku...?” tanya hantu Tania.
“ Aku Hanako, temannya Wina...,” sahut Hanako.
__ADS_1
“ Jadi Kamu yang menggantikanku menemani Wina...?” tanya hantu Tania.
“ Iya...,” sahut Hanako.
“ Baik lah. Keliatannya Kamu orang yang baik. Aku percaya Kamu bisa menjaga Wina dengan baik sampe dia
menemukan laki-laki yang tepat untuk menjadi Suaminya. Sekarang Wina udah ga butuh Aku lagi. Jadi Aku bisa pergi dengan tenang setelah ini...,” kata hantu Tania sambil membalikkan tubuhnya kearah lain.
“ Maafkan Aku Tania...,” kata Wina tiba-tiba.
Hantu Tania berhenti lalu menatap Wina yang telah bersimbah air mata. Ada kesedihan yang sama di sorot matanya dan itu membuat siapa pun yang menyaksikan mengerti bagaimana kuatnya ikatan batin antara Wina dan Tania dulu.
“ Ini bukan salah Kamu Wina. Takdirku memang hanya sampe di sini. Terima kasih karena mau jadi temanku dan berada di sisiku hingga akhir hayatku. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah Aku miliki Wina. Aku bangga bisa bersahabat denganmu...,” sahut hantu Tania sambil tersenyum.
“ Tapi apa dan siapa yang bikin Kamu sakit kaya gitu Tania. Itu yang selalu bikin Aku ga nyenyak tidur. Bilang sama Aku siapa orangnya biar Aku bikin perhitungan sama dia nanti...,” kata Wina tak sabar.
“ Jangan Win. Kamu ga perlu ngotorin tanganmu dengan urusan ini. Udah ada orang baik yang akan membantuku mengungkap kejahatan mereka. Kamu tunggu aja dan jangan lakukan apa pun...,” kata hantu Tania sambil melirik kearah Faiq dan Fatur.
Wina mengangguk lalu tersenyum. Perasaan takutnya perlahan memudar dan ia menatap hantu Tania dengan lebih berani. Hantu Tania nampak tersenyum kearah Wina dengan tulus.
“ Sekarang Kamu bisa pergi Tania. Urusan duniamu sudah selesai. Nama orang yang harus bertanggung jawab atas kematianmu juga sudah ada dalam genggaman polisi. Pergi lah Tania...,” kata Faiq.
“ Baik lah. Maafkan Aku kalo telah membuat Kalian takut. Terima kasih karena telah membantuku...,” sahut hantu Tania.
Perlahan tubuh hantu Tania mulai memudar. Namun sebelum benar-benar memudar, penampilan hantu Tania menjadi lebih baik. Wajahnya kembali ceria, sorot matanya lembut, senyum mengembang menghiasi wajah pucatnya, rambutnya terurai rapi, darah yang tadi menodai dagu, leher dan pakaiannya pun lenyap entah kemana. Diiringi lantunan ayat suci al Qur’an dan dzikir yang menggema di ruangan itu, Tania pun pergi menghadap Allah Swt.
“ Aku akan selalu mendoakan Kamu Tania...,” gumam Wina sambil menitikkan air mata saat menyaksikan hantu Tania memudar dan lenyap sama sekali.
“ Aku tau Wina. Terima kasih sahabatku...,” kata hantu Tania lirih namun masih bisa terdengar oleh semua orang yang ada di dalam toko buku itu.
\=====
__ADS_1