Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
122. Pelet


__ADS_3

Suharsa diantar pulang dalam keadaan kacau. Kedua orangtua Suharsa dan Niken nampak tersenyum saat mengetahui Suharsa ditemukan. Namun mereka bingung saat melihat sikap Suharsa pada Niken yang berubah 180 derajat itu.


Saat Niken menyambutnya dengan pelukan, Suharsa justru menepisnya dengan kasar. Bahkan saking kerasnya tepisan tangan Suharsa membuat Niken terjengkang ke belakang dan menabrak dinding. Niken nampak meringis menahan sakit. Namun ia berusaha tersenyum. Niken berpikir jika sikapnya lah yang berlebihan dalam menyambut kepulangan Suharsa yang kini telah sah menjadi suaminya itu.


“ Suharsa, apa-apaan Kamu...?!” kata ayah Suharsa lantang karena tak suka melihat sikap kasar Suharsa pada menantunya itu.


“ Kenapa Yah. Aku emang ga suka sama dia, Aku benci dia...!” sahut Suharsa tak kalah lantang sambil menunjuk kearah Niken.


“ Apa maksudmu. Kalo Kamu ga suka sama Niken atau membencinya kenapa Kamu minta Kami melamarkan dia untukmu...?” tanya ibu Suharsa.


“ Aku ga tau Bu, waktu itu Aku punya keinginan itu begitu aja. Kayanya Aku dipelet sama Niken. Aku tiba-tiba jatuh hati dan ingin menikahinya. Bukan kah itu terlalu mendadak Bu. Padahal dia kan hanya anggota baru di grup...,” sahut Suharsa sambil duduk lalu memijit keningnya.


Kedua orangtua Suharsa saling menatap sejenak. Dalam hati mereka membenarkan ucapan Suharsa. Semua memang terasa cepat dan tergesa-gesa. Mulai Suharsa yang jatuh hati pada Niken, selalu ingin bertemu dengan Niken hingga saat Suharsa minta kedua orangtuanya melamarkan Niken untuknya. Saat ayah Suharsa bertanya apa alasannya ingin menikah, jawaban Suharsa hanya ‘ga bisa jauh dari Niken’. Khawatir anaknya melakukan tindakan bodoh karena cinta butanya itu, kedua orangtua Suharsa pun mengabulkan permintaan Suharsa untuk melamar Niken, menyusun rencana pernikahan dan menggelar pesta pernikahan untuk Suharsa. Dan jika dipikir ulang, semuanya berlangsung sangat cepat dan lancar.


“ Itu fitnah Kang. Aku ga melet Kamu...,” sahut Niken sambil menangis.


“ Diam Kamu. Aku muak melihatmu. Malam ini juga Aku talak Kamu...!” kata Suharsa lantang hingga mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu.


Niken tersentak kaget lalu menangis usai mendengar ucapan Suharsa. Diceraikan di malam pertama pernikahan tanpa tahu apa salahnya adalah mimpi buruk Niken dan semua wanita di dunia ini. Ibu Suharsa bingung namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Talak telah dijatuhkan oleh anak lelakinya dan itu artinya hubungan kekerabatannya dengan Niken pun terputus. Meski pun demikian, ibu Suharsa masih berusaha membujuk anaknya.


“ Jangan kaya gini Nak, tarik ucapanmu itu. Jangan tergesa-gesa memutuskan sesuatu. Semua masih bisa diomongin baik-baik kan. Sekarang Kamu lagi capek, lebih baik istirahat biar bisa berpikir jernih. Kalian kan baru menikah, masa cerai hanya gara-gara salah paham...,” bujuk Ibu Suharsa.

__ADS_1


“ Keputusanku udah bulat Bu. Aku ga mau nikah sama perempuan yang suka main ilmu hitam untuk mendapatkan


keinginannya. Pokoknya Aku udah ceraikan Niken. Sekarang terserah bagaimana cara Ibu mengurusnya itu bukan lagi urusanku. Aku masuk dulu Bu, capek mau tidur...,” kata Suharsa sambil masuk ke kamar pengantin dan membanting pintu kamar dengan keras.


Niken mencoba mengejar Suharsa dan mendorong pintu kamar pengantin. Namun rupanya pintu dikunci oleh Suharsa. Melihat Niken yang menangis membuat ibu Suharsa iba dan memeluknya erat. Sedangkan Ayah Suharsa nampak duduk sambil menyandarkan tubuhnya. Ia nampak shock menghadapi tingkah anaknya yang baru saja menikah tapi malah menceraikan istrinya.


“ Kamu tidur di kamar lain dulu ya Nik. Besok pagi Kita selesaikan semuanya. Sabar ya...,” hibur ibu suharsa.


“ Iya Bu...,” sahut Niken sambil melangkah ke kamar yang ditunjuk ibu Suharsa.


Setelah Niken masuk ke dalam kamar, kedua orangtua Suharsa mulai membahas masalah ini dengan keluarga mereka yang saat itu masih terjaga.


“ Gimana ini Yah...?” tanya ibu Suharsa.


“ Di rumah Inar Kang...,” sahut paman Suharsa.


“ Inar, ngapain Harsa di sana...?” tanya ayah Suharsa.


“ Kata tetangga Inar yang tadi nganterin Suharsa, di sana Suharsa lagi mohon-mohon sama Inar supaya mau kembali sama dia. Katanya dia baru sadar kalo selama ini dia mencintai Inar bukan Niken. Mereka juga bilang kalo Suharsa mungkin udah dipelet sama Niken hingga mau menikahi Niken secara mendadak. Kayanya Niken adalah orang ketiga dalam hubungan Suharsa sama Inar dulu Kang...,” sahut paman Suharsa.


Mendengar ucapan adiknya, ayah Suharsa nampak membulatkan matanya. Ia menoleh kearah istrinya yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


“ Kayanya masuk akal ya Bu. Wong Harsa itu tiba-tiba aja minta nikah. Padahal selama ini kalo disuruh nikah susahnya minta ampun biar pun udah dikenalin sama anak teman Ayah. Iya kan Bu...?” tanya ayah Suharsa.


“ Iya Yah, tapi kasian Niken kalo langsung ditalak kaya gitu...,” sahut ibu Suharsa ragu.


“ Mau gimana lagi Bu, masalahnya kan udah sejelas ini. Jadi bukan salah Harsa yang langsung nalak Niken. Terus terang Aku juga ga mau punya menantu yang main ilmu hitam kaya gitu. Ngeri Bu...,” kata ayah Suharsa.


Suasana di dalam ruangan pun menjadi hening usai ayah Suharsa mengungkapkan pendapatnya. Sesaat kemudian semua orang pun membubarkan diri satu per satu dari ruangan itu untuk istrahat.


Sedangkan di dalam kamar Niken nampak menangis sedih karena merasa dirinya telah difitnah oleh Suharsa. Hati


Niken hancur, harga dirinya hilang. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarganya mendengar kejadian ini, mereka pasti akan malu dan bingung. Niken kembali menitikkan air mata saat mengingat kedua orangtuanya. Merasa sia-sia bertahan di rumah itu jika mertua yang ia harapkan bisa meluruskan kesalah pahaman ini tak memihaknya, malam itu juga Niken memutuskan keluar dari rumah Suharsa tanpa membawa apa pun.


Saat semua orang terlelap dalam mimpi, Niken nampak mengendap-endap keluar dari rumah orangtua Suharsa. Sebelum pergi Niken sempat menuliskan surat untuk Suharsa. Dalam suratnya Niken menegaskan sekali lagi bahwa dia tak pernah mengguna-gunai Suharsa agar mau menikahinya. Setelahnya Niken pergi jauh dari kampung itu entah kemana.


Pagi harinya rumah orangtua Suharsa kembali digemparkan oleh menghilangnya sang pengantin. Tapi kali ini pengantin wanita lah yang menghilang. Karena tak mau disalahkan atas menghilangnya Niken, orangtua Suharsa pun mendatangi rumah orangtua Niken dan menjelaskan semua.


Orangtua Niken nampak terpukul namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mereka sadar jika orang miskin seperti


mereka tak punya hak membela diri. Namun ayah Niken tetap teguh pada pendiriannya, ia yakin anaknya tak bersalah. Ada orang lain yang ikut campur dan sedang mempermainkan nasib Niken. Meski pun begitu tak ada keributan saat pembicaraan dua keluarga itu. Semua terlihat tenang dan santai seolah tak terjadi pergolakan apa pun.


“ Saya terima Anak Saya diceraikan, tapi Saya percaya Anak Saya Niken tak melakukan perbuatan kotor yang Kalian tuduhkan itu...,” kata ayah Niken dingin sambil menjabat tangan ayah Suharsa sebagai simbol pengembalian Niken pada keluarganya.

__ADS_1


Kedua orangtua Suharsa terkejut dan dibuat bimbang sesaat. Namun kemudian mereka pamit setelah ‘mengembalikan’ Niken pada kedua orangtuanya. Kedua orangtua Suharsa pergi diiringi tatapan sedih keluarga Niken. Mereka juga bingung harus mencari Niken dimana, karena Niken tak kembali ke rumah sejak semalam.


\=====


__ADS_2