
Setelah kepergian Reno, mami Oce pun berusaha bangkit. Dengan susah payah ia berhasil duduk di atas sofa sambil menghela nafas panjang berkali-kali untuk mengusir rasa sesak yang melingkupi dadanya.
Mami Oce kembali teringat pada masa lalu yang menyakitkan hingga ia harus menjalani hidupnya sekarang.
Dulu mami Oce memiliki adik perempuan yang sangat ia sayangi. Adik perempuan yang punya selisih umur tujuh tahun itu bernama Uta. Karena mereka dibesarkan dalam keluarga broken home menyebabkan Oce dan Uta menjadi dekat dan saling bergantung.
Saat memasuki usia dua puluh lima tahun Oce memiliki seorang kekasih yang baik hati dan mau menerima dirinya
dengan segala kekurangan yang ia miliki. Bahkan kekasih Oce yang bernama Purwa itu juga menyayangi Uta layaknya adik sendiri. Bahkan Purwa bersedia menjemput Uta pulang dari sekolah setiap hari.
Oce tak curiga sama sekali dengan kedekatan Uta dan Purwa. Oce justru merasa terbantu karena Purwa juga bisa
mengawasi pergaulan sang adik sementara ia sibuk bekerja.
Namun petaka itu datang dan mengoyak persaudaraan Oce dan Uta. Tiba-tiba Oce mendapati Uta yang demam
tinggi hingga tak sadarkan diri. Khawatir dengan kondisi sang adik akhirnya Oce membawanya ke Rumah Sakit dibantu beberapa tetangga.
Betapa terkejutnya Oce saat mengetahui jika Uta tengah berbadan dua alias hamil. Oce tak menyangka jika pergaulan adiknya tetap rusak meski pun telah diawasi oleh Purwa. Tak ingin menyalahkan Purwa karena Oce sadar jika kehamilan Uta bukan lah kesalahan Purwa 100%, Oce pun mencoba menerima kehamilan Uta.
“ Aku mau aborsi aja Kak...,” kata Uta tiba-tiba hingga mengejutkan Oce.
“ Jangan ngaco Kamu ya. Emangnya aborsi itu enak dan menyelesaikan masalah. Kenapa Kamu ga mikir resikonya waktu Kamu ngelakuin itu...?” tanya Oce sambil menatap tajam adiknya.
“ Aku juga ga mau hamil Kak. Ini bukan mauku, Aku diperk*sa Kak...,” kata Uta sambil menitikkan air mata.
“ Oh ya. Siapa yang udah berani melecehkan Kamu sedangkan Kamu hampir 24 jam ada dalam pengawasan Purwa...?” tanya Oca kesal.
“ Kenapa Kamu nyalahin Aku Kak. Bisa aja orang yang Kamu minta untuk menjagaku justru dia lah yang telah membuatku hamil...,” sahut Uta sambil menatap Oce lekat.
Oce tersentak kaget karena tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari adiknya. Dengan jantung berdebar Oce membantah tuduhan sang adik. Bahkan Oce membela Purwa mati-matian.
“ Lancang Kamu. Mana mungkin Purwa melakukan itu. Dia kan sayang sama Kamu seperti menyayangi adiknya...,” kata Oce marah.
“ Dia bukan menyayangi Aku seperti adiknya, tapi dia mencintai Aku Kak. Dia ga rela Aku dimiliki oleh laki-laki
__ADS_1
lain. Makanya dia sengaja menebar benih di rahimku agar Aku tak bisa kemana-mana...,” sahut Uta dengan suara bergetar.
Plakk..., plaakkk...!”
Dua tamparan mendarat di pipi mulus Uta hingga membuatnya terkejut karena selama ini Oce tak pernah marah
apalagi memukulnya. Dan baru kali ini Oce melakukannya. Itu artinya kemarahan Oce sudah melampaui batasnya.
“ Jaga mulutmu Uta. Kamu ini masih sekolah, mana mungkin Purwa tertarik sama Kamu...,” kata Oce.
“ Kalo dia ga tertarik sama Aku mana mungkin Aku hamil anaknya Kak...,” sahut Uta gusar.
Di saat ketegangan antara Uta dan Oce memuncak, Purwa pun datang. Mendengar suara motor sang kekasih membuat Oce terkejut sekaligus panik. Namun itu membuat Uta tersenyum karena ia bisa membuktikan ‘kesetiaan’ pacar kakaknya itu saat ia tak ada di rumah.
“ Sebaiknya Kakak sembunyi, biar Aku yang nemuin Mas Purwa. Kakak dengar dan liat baik-baik apa aja yang dia
lakuin sama Aku...,” kata Uta.
“ Ok. Aku akan sembunyi di kamar...,” Sahut Oce yangdiangguki Uta.
“ Kok lama banget sih Ta, ngapain aja Kamu...?” tanya Purwa.
“ Maaf ketiduran Mas...,” sahut Uta sambil melangkah ke sofa.
Melihat Uta yang membelakanginya membuat Purwa gemas. Ia langsung memeluk Uta dari belakang. Tangannya langsung menyentuh perut Uta yang sedikit membuncit itu dengan sayang. Oce yang melihat adegan itu dari balik celah pintu kamar yang terbuka pun terkejut. Bahkan Oce harus menutup mulutnya agar suaranya tak terdengar keluar.
“ Lepasin Mas...,” kata Uta.
“ Sebentar aja Ta. Mas kangen sama bayi yang ada di perutmu ini. Dia pasti juga kangen kan sama Ayahnya...,” sahut Purwa sambil terus menciumi Uta.
Mendengar ucapan Purwa runtuh sudah pertahanan Oce. Ia keluar dari kamar dengan berurai air mata. Purwa yang tak menyadari kehadiran Oce di belakangnya pun masih sibuk memaksa Uta untuk melayani hasrat liarnya.
Dengan geram Oce meraih besi penahan pintu lalu memukulkannya ke kepala Purwa. Bisa ditebak bagaimana reaksi Purwa. Ia tersungkur jatuh dengan kepala berdarah. Saat ia menoleh mencoba mencari tahu siapa yang telah memukulnya, Purwa terkejut.
“ Sayang, kenapa...?” tanya Purwa.
__ADS_1
“ Masih tanya kenapa ?. Kau telah menghamili adikku dan masih pura-pura ga bersalah...?!” tanya Oce kesal.
Untuk sesaat Purwa terdiam. Ia berusaha bangkit untuk menenangkan Oce. Namun langkahnya terhenti saat Oce
mengacungkan besi yang dipegangnya.
“ Ini ga kaya yang Kamu pikirin. Kamu tau kan gimana susahnya ngatur Uta, cara bertemannya dan cara
bepakaiannya. Aku laki-laki normal Ce. Aku ga tahan ngeliat Uta selalu pake baju minim. Makanya Aku khilaf. Maafin aku ya Ce...,” kata Purwa kala itu.
“ Aku ga percaya. Kamu bilang Kamu tergoda saat dia berpakaian minim. Tapi sekarang dia lagi pake sweater dan
celana panjang pun Kamu juga tetap mengganggunya...,” sahut Oce sinis.
“ Iya itu karena...,” ucapan Purwa terputus.
“ Karena Kamu memang menikmatinya...!” kata Oce lantang.
Purwa tak lagi bisa berkelit. Ia mengakui jika ia memang tertarik kepada Uta. Dan Purwa berjanji akan menikahi
Uta. Sayangnya Uta menolak. Ia memilih melahirkan tanpa suami daripada melukai perasaan Oce lagi.
“ Sejak awal Aku memang ga pernah suka sama dia. Kakak yang udah membawanya di kehidupan Kita dan memaksanya dekat denganku. Sekarang liat kan apa hasilnya. Aku hamil dan masa depanku hancur...,” kata Uta sinis sambil membanting pintu sebelum masuk ke dalam kamar.
Oce tertegun mendengar ucapan Uta. Saat itu ia juga melihat luka di mata sang adik. Oce menyesal karena telah
percaya kepada Purwa. Ia menoleh saat Purwa meraih tangannya.
“ Kita masih bisa bersama kan Sayang. Aku tau Kamu ga akan pernah memintaku pergi karena cinta Kita terlalu kuat...,” kata Purwa sambil tersenyum.
“ Sayangnya sekarang cinta itu udah mati karena ulahmu Purwa. Pergi lah sebelum aku khilaf dan jangan pernah
memperlihatkan dirimu di depanku. Jika sekali saja Aku melihatmu jangan salahkan Aku jika Aku akan membunuhmu saat itu juga...,” kata Oce dengan tatapan yang tak bersahabat.
Purwa bergidik melihat tatapan Oce. Dengan luka parah di kepalanya Purwa pun pergi meninggalkan Oce dan Uta. Ia pergi dan tak pernah kembali.
__ADS_1
\=====