
Istri Bayan nampak terus menempel di samping Bayan setelah berhasil menghubungi Sumantri tadi. Ia khawatir suaminya itu akan marah karena ia menghubungi ‘mantannya’ dulu. Sedangkan Bayan terlihat santai dan terus mengumbar senyum walau kecemasan membayang jelas di wajahnya.
Bayan terlihat tak sabar ingin bertemu dengan Sumantri, orang yang ingin ditemui oleh makhluk halus yang merasuki putrinya tadi. Bayan berharap setelah makhluk halus itu bertemu dengan Sumantri dia mau keluar dari tubuh Neta dan tak mengganggunya lagi nanti.
“ Apa Kamu yakin dia mau datang Ma...?” tanya Bayan.
“ Insya Allah Yah. Mama juga ga bisa berharap banyak karena dia itu super sibuk. Mama ga yakin kasus Anak Kita menarik minatnya untuk datang. Apalagi kalo ingat dulu Kami putus ga baik-baik aja. Mama khawatir dia masih dendam sama Mama...,” kata istri Bayan keceplosan.
“ Putus ga baik-baik gimana maksudnya Ma...?” tanya Bayan penasaran.
“ Oh itu, ehm gapapa kok Yah. Udah ga bisa dibahas lagi ya Yah, malu...,” sahut istri Bayan salah tingkah.
Bayan hanya menghela nafas panjang mendengar jawaban istrinya itu. Kemudian Bayan menoleh kearah ruang tengah dimana Neta sedang duduk menonton televisi ditemani Iyaz dan Izar. Ketiganya terlihat akrab. Bahkan Bayan bisa mendengar tawa Neta yang jarang sekali ia dengar saat Neta bersama orang lain. Diam-diam Bayan tersenyum menyaksikan kebersamaan Neta dan si kembar.
Tak lama kemudian terdengar suara deru kendaraan memasuki halaman rumah Bayan. Istri Bayan menoleh dan tersenyum saat melihat Sumantri bersedia datang ke rumahnya.
“ Alhamdulillah, itu yang namanya Sumantri Yah...,” kata istri Bayan.
“ Mmm, lumayan ganteng...,” sahut Bayan sambil tersenyum.
“ Tapi lebih ganteng Suamiku ini dong, apalagi pintar taekwondo. Cewek mana yang ga tertarik sama cowok ganteng dan bisa bela diri kaya Ayah...,” goda istri Bayan sambil merangkul lengan Bayan hingga membuat Bayan tersipu malu.
Sumantri pun turun dari mobilnya. Saat hendak menghubungi seseorang melalui ponselnya, Bayan dan istrinya keluar menyambut Sumantri.
“ Assalamualaikum..., apa Saya terlambat...?” tanya Sumantri.
“ Wa alaikumsalam, ga kok. Oh iya, kenalin ini Suamiku. Namanya Bayan, guru taekwondo...,” kata istri Sumanti bangga.
“ Oh, Saya Sumantri...,” sambut Sumantri ramah.
Bayan dan Sumantri saling berjabat tangan. Kemudian Bayan membawa Sumantri masuk ke dalam rumahnya. Di sana ia mengenalkan Sumantri dengan ustadz Hamzah, Faiq dan kedua anaknya. Kemudian Bayan menceritakan niatnya mengundang Sumantri datang ke rumahnya kali ini.
“ Anak perempuan Saya yang ikut nemenin Mamanya menghadiri reuni itu kerasukan makhluk halus Pak. Katanya
makhluk halus itu berasal dari villa tempat Kalian reuni tempo hari. Makhluk halus yang merasuki Anak Saya ingin Istri saya membantunya mempertemukan dia dengan Pak Sumantri. Katanya dia punya sesuatu yang ingin dia sampaikan langsung sama Bapak...,” kata Bayan.
__ADS_1
“ Sulit dipercaya, tapi Saya penasaran jadinya...,” sahut Sumantri.
“ KaloPak Sumantri ga keberatan, Kita boleh ga mampir melihat-lihat villa milik Pak Sumantri itu...?” tanya Faiq.
“ Oh boleh, tentu saja boleh. Kapan Kita mau ke sana...?” tanya Sumantri.
“ Sekarang bisa...?” tanya Faiq lagi.
“ Ok. Saya siap ngajak semuanya ikut ke villa Saya itu...,” sahut Sumantri antusias.
Tanpa membuang waktu Sumantri mengajak ustadz Hamzah, Bayan, Faiq dan kedua anaknya pergi melihat-lihat kondisi villa dimana ia menjadi tuan rumah acara reuni sekolah dua minggu yang lalu.
Saat tiba di villa hari sudah masuk waktu Dzuhur. Karen jauh dari masjid, mereka pun menggelar sholat Dzuhur bersama di dalam villa milik Sumantri. Usai menunaikan sholat Dzuhur, mereka duduk santai di teras samping
sambil membicarakan banyak hal.
Seorang pengurus villa datang dan menyuguhkan beberapa makanan dan minuman di atas meja. Diam-diam Faiq
menatap sang pengurus villa yang memiliki kaki pincang itu dengan tatapan tajam.
“ Apa Bapak kenal dengan Laudya...?” tanya Faiq hati-hati.
“ Iya, betul Pak...,” sahut Faiq cepat.
“ Saya ga terlalu kenal. Saya hanya tau dia lah guru yang bertanggung jawab atas pendidikan Rafa. Karena Anak Saya itu mengidap autis, jadi Saya dan Istri Saya memilih home schooling untuk Rafa. Tapi belakangan Saya udah ga pernah ngeliat Bu Laudya lagi. Kata Istri Saya Bu Laudya pindah ke kota lain karena harus menikah sama tunangannya...,” kata Sumantri.
“ Apa Bapak tau siapa tunangan Bu Laudya...?” tanya Faiq.
“ Ga tau. Tapi sebentar, kenapa Mas Faiq nanyain ini sama Saya...?” tanya Sumantri bingung.
“ Karena jawaban Pak Sumantri akan menentukan langkah yang bakal Kita ambil nanti...,” sahut Faiq santai.
Ustadz Hamzah, Bayan, Iyaz dan Izar hanya menjadi pendengar yang baik. Mereka tak berniat menyela atau mencampuri obrolan Faiq dan Sumantri. Kemudian Sumantri meneguk kopi hitam dari gelasnya. Setelahnya Sumantri meletakkan gelas secara perlahan sambil menatap Faiq sesaat lalu melanjutkan ceritanya.
“ Saya ga kenal siapa tunangan Bu Laudya dan Saya ga mau tau...,” kata Sumantri.
__ADS_1
“ Biar Saya beri tau. Tunangan Bu Laudya adalah Sofian, supir pribadi Istri Pak Sumantri...,” sahut Faiq.
“ Oh ya. Tapi kenapa Sofian masih kerja kaya biasa padahal Bu Laudya akan menikah. Lalu siapa laki-laki yang akan menikahi Bu Laudya...?” tanya Sumantri.
“ Ga ada...,” sahut Faiq cepat.
“ Ga ada, maksudnya...?” tanya Sumantri penasaran.
“ Bu Laudya bukan ijin untuk menikah tapi dia udah meninggal karena dibunuh...,” sahut Faiq.
“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Siapa yang udah tega membunuh Bu Laudya...?” tanya Sumantri tak percaya.
“ Sofian tunangan Bu Laudya, siapa lagi memangnya...,” sahut Faiq ketus.
“ Maaf Mas, apa ga terlalu dini ya menuduh orang tanpa bukti. Sebab setau Saya Sofian itu orang baik, sopan, bertanggung jawab lagi...,” kata Sumantri membela Sofian.
“ Baik ya. Kalo dia orang baik, kenapa dia tega membunuh tunangannya sendiri lalu mengubur jasadnya di tengah kolam renang di villa ini Pak...?” tanya Faiq sambil menatap Sumantri lekat-lekat.
“ Apa, mustahil...!” sahut Sumantri lantang sambil berdiri dari posisi duduknya.
Tiba-tiba patung anak kecil yang ada di taman dekat teras itu ambruk hingga mengejutkan semua orang. Faiq, Iyaz dan Izar melihat sosok hantu Laudya lah pelakunya. Ia marah karena Sumantri terus membela orang yang telah mencelakainya.
Setelah itu pengurus villa yang bernama Asep nampak berlari menghampiri Sumantri dan tamunya dengan nafas
tersengal-sengal.
“ Maaf Pak, air di kolam renang tiba-tiba berwarna merah Pak...,” lapor Asep.
“ Jangan ngaco Kamu, mana mungkin air kolam renang kotor secara tiba-tiba. Konstruksinya Saya sendiri yang merancang, mana mungkin bocor atau jangan-jangan terkontaminasi air tanah...,” kata Sumantri.
“ Saya ga tau Pak, Saya ga paham. Yang Saya tau, sekarang air kolam renang berwarna merah. Padahal waktu tadi Saya ngerapiin tanaman dekat kolam airnya masih kaya biasanya kok...,” sahut Asep lagi.
Sumantri menatap Faiq sesaat lalu berjalan kearah kolam renang yang terdapat di bagian belakang villa. Semua pun mengikuti Sumantri dan terkejut saat melihat air kolam renang berwarna kemerahan.
Sumantri nampak menggelengkan kepalanya. Lalu ia memerintahkan pengurus villa menguras air di dalam kolam renang dengan menggunakan pompa air.
__ADS_1
Saat Asep sang pengurus villa berjalan kearah gudang untuk mengambil pompa air, tiba-tiba ia menjerit lalu tersungkur jatuh. Sumantri pun panik dan segera mendekat untuk memberi pertolongan pertama pada Asep.
\=====