
Wahyu bercerita jika dulu kampungnya adalah kampung yang ‘sehat’. Kehidupan masyarakat berjalan normal seperti layaknya sebuah kampung yang berada dekat lereng gunung. Karena dikelilingi lahan yang subur maka tak
heran jika sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani.
Namun ketentraman kampung itu terusik sejak kedatangan seorang pria tua yang kemudian dikenal dengan nama kakek Bokor. Ia membawa pengaruh buruk yang membuat kampung yang damai itu menjadi rusuh. Sering terjadi pertikaian antar warga hanya karena masalah sepele. Anak-anak pun mulai membangkang dan sulit diatur. Warga mulai gemar berjudi dan malas bekerja karena lebih mengandalkan hasil judi dibandingkan mengolah sawah.
Puncaknya terjadi saat warga menutup musholla atas hasutan Kek Bokor. Warga kesal dengan beberapa orang yang mengingatkan mereka agar tak berjudi. Kebetulan orang yang mengingatkan mereka adalah orang-orang yang rajin sholat berjamaah di musholla termasuk Wahyu dan ayahnya. Mereka tak bisa berbuat apa-apa karena jumlah warga yang mengamuk dan menyegel musholla saat itu lebih banyak dibanding jamaah musholla.
Selain menyegel musholla, warga yang mengamuk itu juga menyegel gereja kecil yang ada di sudut kampung itu. Kehidupan beragama di kampung itu dilibas habis dan tak diijinkan berkembang. Beruntung ada televisi dan radio hingga kaum muslimin bisa mengetahui masuknya waktu sholat lima waktu dan menjalankan sholat meski pun dilakukan di rumah masing-masing.
Keadaan ini diperparah dengan kebiasaan warga yang ‘mundur ke belakang’ seperti jaman prasejarah. Mereka merayakan keberhasilan panen dengan memberi sesaji pada ‘penguasa kampung’ seperti yang disarankan kek Bokor. Sesaji itu diletakkan di depan pintu atau di sudut halaman. Selalu seperti itu selama beberapa kali periode panen. Dan saat salah seorang warga lupa memberikan sesaji, kampung itu diserang oleh pasukan ulat bulu yang
menghancurkan semua tanaman yang ada di kampung itu.
“ Kek Bokor bilang, penguasa kampung ini marah karena ada warga yang lalai dan ga nyiapin sesaji setelah panennya berhasil...,” kata Wahyu di akhir ceritanya.
“ Jadi itu aturan yang dimaksud Bang Amsir kemarin ya Pak Ustadz...?” tanya Izar.
“ Betul Nak. Aturan yang dibuat oleh orang sesat yang mencoba menyesatkan orang lain...,” sahut ustadz Hamzah.
“ Apa ga ada yang coba menyadarkan warga dan bilang kalo yang mereka lakukan itu salah Kak...?” tanya Iyaz.
“ Ada, orang itu adalah Ayahku. Tapi beliau meninggal karena penyakit aneh yang tiba-tiba menyerangnya. Padahal malam itu Ayah masih keliatan sehat dan segar bugar...,” sahut Wahyu dengan suara bergetar.
“ Penyakit aneh apa Kak...?” tanya Izar.
“ Ayah muntah darah hebat, perut dan kepalanya membesar tiba-tiba. Kami membawanya ke Rumah Sakit kabupaten, tapi nyawa Ayah ga tertolong. Kata dokter Ayah udah meninggal dalam perjalanan sebelum Kami sampe ke Rumah Sakit...,” sahut Wahyu sambil mengusap matanya yang basah.
__ADS_1
“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun..., yang sabar ya Kak...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Iya, makasih...,” sahut Wahyu sambil tersenyum kecut.
“ Itu bukan penyakit biasa Wahyu. Ada ilmu hitam yang dikirim oleh seseorang yang ga suka melihat sepak terjang Ayahmu...,” kata ustadz Hamzah.
“ Saya juga mikir kaya gitu Pak Ustadz. Selama ini Ayah sehat dan ga punya riwayat penyakit yang berat. Makanya Kami shock saat Ayah sakit lalu meninggal. Tapi dugaan itu Saya simpen sendiri karena ga mau bikin Ibu cemas. Ada warga yang bilang kalo kematian Ayah adalah hukuman karena udah bikin penguasa kampung ini marah. Dan itu bikin Ibu sedih. Makanya Saya ungsikan Ibu ke rumah Paman Saya di kota lain supaya Ibu ga tambah sedih Pak
Ustadz...,” sahut Wahyu.
“ Insya Allah Kita bisa mengembalikan semua ke jalan yang seharusnya asal Kita bersatu. Nah sekarang Kamu adzan ya karena ini udah masuk waktu Ashar...,” pinta ustadz Hamzah sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
“ Baik Pak Ustadz...,” sahut Wahyu antusias.
“ Tapi kan listriknya mati Pak Ustadz, apa suara Kak Wahyu bisa kedengeran sama warga kalo ga pake pengeras suara...?” tanya Iyaz.
“ Insya Allah suara Kak Wahyu bakal terdengar dan membangunkan semua warga yang tertidur itu Nak...,” sahut ustadz Hamzah.
Kemudian Wahyu berdiri dan merapikan pakaiannya lalu maju ke mimbar. Sesaat kemudian adzan perdana pun berkumandang setelah sekian lama tak terdengar di kampung itu. Suara Wahyu yang bergetar diiringi tangisan saat melantunkan adzan membuat tanah di kampung itu ikut bergetar hingga mampu menggetarkan dinding rumah warga. Meski hanya getaran kecil tapi membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah.
Tidak hanya menggetarkan bumi, adzan yang dilantunkan Wahyu juga menyebabkan angin kencang bertiup hingga menerbangkan dedaunan yang telah berguguran di tanah. Pohon-pohon yang kehilangan daunnya pun ikut bergoyang ke kanan dan ke kiri seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menggerakkannya.
Suara adzan tanpa pengeras suara itu mampu membuat kegaduhan di kampung itu. Kampung yang semula bagai kota mati itu nampak seperti hewan besar yang terusik dan mulai bangun dari tidur panjangnya. Suara warga yang
ketakutan saat melihat angin bertiup kencang pun menambah ketegangan.
“ Baru panggilan sholat aja udah bikin warga panik dan ketakutan, apalagi kalo tiupan sangkakala ya Pak Ustadz...,” kata Izar sambil menatap kepanikan warga dari jendela musholla.
__ADS_1
“ Kekuasaan Allah itu sungguh jauh di luar nalar manusia Nak. Makanya jangan sombong karena hanya Allah yang berhak sombong...,” sahut ustadz Hamzah sambil tersenyum.
Wahyu mengakhiri lantunan adzan dengan doa. Wajahnya telah basah berurai air mata karena kebahagiaan yang memenuhi hatinya.
Sesaat kemudian beberapa orang nampak mendatangi musholla untuk melihat siapa yang telah berani mengumandangkan adzan di sana. Saat melihat kondisi musholla yang telah bersih mereka nampak terkejut. Lebih
terkejut lagi saat mengetahui Wahyu lah orang yang telah mengumandangkan adzan meski pun tanpa pengeras suara.
“ Wahyu, ternyata Kamu...,” kata seorang warga bernama Surya yang merupakan teman almarhum ayah Wahyu.
“ Iya Pak Surya. Ini Ustadz Hamzah yang udah buka musholla dan itu santrinya...,”sahut Wahyu sambil memperkenalkan ustadz Hamzah dan si kembar.
“ Alhamdulillah. Makasih udah mau bantu Kami membuka musholla ini lagi Pak Ustadz...,” kata Surya dengan mata berkaca-kaca.
“ Sama-sama Pak, ini udah jadi kewajiban Kita juga kan. Karena udah di sini, ayo Kita sholat berjamaah sekalian...,” ajak ustadz Hamzah yang diangguki warga.
Kemudian warga yang berdatangan itu mulai berwudhu lalu masuk ke dalam musholla satu per satu. Ustadz Hamzah pun mengimami sholat Ashar perdana warga di musholla itu.
Sementara itu di luar musholla kegaduhan pun telah berhenti. Warga masih berkumpul di jalan sambil menatap nanar kearah musholla dimana Ustadz Hamzah dan sebagian warga sedang menunaikan sholat Ashar berjamaah. Tiba-tiba datang lah pria tua yang berpakaian serba hitam yang dikenali warga sebagai Kek Bokor langsung menyeruak di tengah kerumunan warga.
“ Siapa yang udah berani bikin penguasa kampung ini marah...?!” tanya kek Bokor lantang.
Warga terdiam dan hanya menatap kearah musholla dimana ustadz Hamzah dan warga sedang berdzikir usai menunaikan sholat Ashar.
Kek Bokor pun melangkah cepat kearah musholla sambil membawa tongkat kebanggaannya. Di belakangnya beberapa warga tampak mengikutinya. Namun terjadi keanehan saat Kek Bokor dan warga ingin menginjak lantai teras musholla. Tubuh mereka nampak terpental ke belakang seolah baru saja membentur dinding tak kasat mata yang panas bagai api.
Kek Bokor dan warga yang mengekorinya jatuh terduduk dengan wajah sepucat mayat karena baru saja melihat ‘sesuatu’ saat menyentuh dinding tak kasat mata itu.
__ADS_1
Dari dalam musholla terlihat Ustadz Hamzah melangkah perlahan menuju keluar untuk menemui Kek Bokor dan warga lainnya. Di belakangnya terlihat Iyaz, Izar, Wahyu dan jamaah musholla yang berdiri dengan siaga seolah bersiap melindungi ustadz Hamzah.
Bersambung