Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
93. Saat Melahirkan


__ADS_3

Rima sedang berjuang melahirkan bayinya di ruang bersalin di sebuah Rumah Sakit di bilangan Jakarta Barat. Saat itu Fatur, Faiq dan Hanako menunggui Rima di ruang tunggu tepat di depan ruang bersalin.


Tak lama kemudian ayah Rima datang. Dengan langkah tergopoh-gopoh dia mendekati Faiq dan Hanako. Dia mengenali mereka berdua sebagai orang yang telah menyelamatkan Rima dari niat buruknya saat ingin bunuh diri beberapa waktu lalu.


“ Bagaimana keadaan Anak dan Cucuku sekarang...?” tanya ayah Rima cemas.


“ Rima masih di dalam Pak, sedang ditangani dokter...,” sahut Faiq.


“ Ya Allah tolong selamatkan Anak dan Cucuku...,” gumam ayah Rima dengan suara bergetar sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang bersalin dengan wajah tegang.


“ Keluarga Ibu Rima...!” panggil sang perawat.


“ Iya Sus. Ada apa...?” tanya ayah Rima sambil mendekat kearah sang perawat.


“ Maaf Pak, Ibu Rima mengalami kendala saat melahirkan. Apalagi tenaganya sudah jauh berkurang akibat mengalami kontraksi sejak tadi. Kayanya Ibu Rima ga akan kuat mengejan dan itu bahaya untuk bayinya. Makanya dokter akan melakukan operasi Caesar dan Kami butuh persetujuan keluarganya...,” sahut sang perawat.


“ Lakukan Sus, Saya setuju asal itu untuk kebaikan Rima dan bayinya...!” kata ayah Rima lantang.


“ Maaf, hubungan Bapak dengan Bu Rima apa ya...?” tanya sang perawat.


“ Saya Ayahnya Rima Sus...,” sahut ayah Rima cepat.


“ Baik. Kalo gitu mari ikut Saya untuk menandatangani berkas persetujuan melakukan tindakan ya Pak...,” kata sang perawat.


“ Iya iya, ayo cepat Sus...,” kata ayah Rima tak sabar meninggalkan Fatur, Faiq dan Hanako


“ Apa Kak Rima bakal berhasil melewati masa kritisnya Pa...?” tanya Hanako sambil menatap Faiq.


“ Insya Allah, walau keliatannya agak sulit Ci. Tapi Kita berdoa aja semoga Allah memudahkan proses persalinan Rima...,” sahut Faiq sambil mengusap kepala Hanako.


Tak lama kemudian ayah Rima pun kembali dengan wajah yang tegang lalu duduk di samping Fatur.


“ Sabar ya Pak, bantu doa aja...,” kata Fatur memberi suport.


“ Iya Pak, makasih...,” sahut ayah Rima sambil tersenyum.


“ Udah nyiapin nama untuk Cucu Bapak atau belum...?” tanya Fatur mencoba mencairkan ketegangan.

__ADS_1


“ Belum Pak. Sejujurnya Saya masih kesal sama Rima karena ga bisa menjaga diri. Masa bisa hamil di luar nikah sih, malu-maluin aja. Padahal Saya selalu ngingetin dia supaya hati-hati dalam bergaul dan jaga kesuciannya itu. Eh, kok masih kecolongan juga. Mana laki-laki yang dipilihnya juga ga bisa diandalkan. Cuma preman pasar, pengangguran dan ga punya masa depan. Cowok kaya gitu kok disukai. Mau makan apa mereka nanti andaikan mereka jadi menikah. Saya setengahnya bersyukur karena si Abin itu meninggal. Karena sampah masyarakat kaya dia ya harusnya pergi aja dari bumi ini. Tapi Saya juga kasian sama Anak dan Cucu Saya yang ga bakal bisa ngeliat


Bapaknya nanti. Saya bingung Pak...,” kata ayah Rima berapi-api.


Mendengar ucapan ayah Rima membuat  Fatur, Faiq dan Hanako terdiam karena tak tahu harus merespon seperti apa. Tak lama kemudian terdengar tangisan bayi dari ruang bersalin pertanda bayi Rima telah lahir.


Wajah tegang ayah Rima pun perlahan mengendur. Ia nampak mengulum senyum bahagia karena mendengar tangisan cucunya untuk pertama kali. Seorang perawat keluar dan meminta ayah Rima masuk untuk mengadzankan bayinya. Ayah Rima melangkah cepat menuju kamar bersalin untuk menemui cucu dan anaknya. Sepuluh menit kemudian dia keluar dari ruang bersalin dengan wajah berbinar bahagia.


“ Selamat atas kelahiran Cucunya ya Pak...,” kata Fatur sambil menjabat tangan ayah Rima.


“ Makasih Pak, makasih. Cucu Saya cowok Pak, ganteng dan sehat...,” sahut ayah Rima sambil tertawa.


“ Masya Allah, Alhamdulillah. Semoga bisa jadi teman Kakeknya dan jagain Ibunya ya Pak...,” kata Faiq.


“ Aamiin..., makasih Pak...,” sahut ayah Rima lagi sambil tak hentinya tersenyum bahagia.


Suasana yang tercipta saat ini terasa kontras dengan kejadian beberapa menit lalu saat ia menyesali kehamilan Rima. Namun nampaknya kehadiran bayi Rima mampu meredam semua amarah ayah Rima pada anaknya itu.


\=====


Kini Rima dan bayinya telah dibawa ke ruang rawat inap VIP. Fatur, Faiq, Hanako dan ayah Rima berada di dalam ruangan itu untuk mensuport Rima yang baru saja menjalani operasi caesar.


Di sudut ruangan mereka melihat arwah Abin tengah berdiri mengamati bayinya. Dia nampak tersenyum bahagia. Kemudian arwah Abin melayang mendekati bayinya dan berdiri tepat di samping ayah Rima. Sontak bayi Rima menangis keras karena melihat sosok ‘ayahnya’ yang bukan lagi manusia itu.


“ Kok nangis sih. Kenapa Nak, Kamu lapar ya...?” tanya ayah Rima sambil menggendong cucunya lalu membawanya mendekati Rima yang nampak terkulai lemah di atas tempat tidur.


Melihat kondisi Rima sang ayah sadar jika Rima tak akan sanggup menyusui bayinya. Karenanya ayah Rima meminta bantuan perawat yang datang ke ruangan itu.


“ Biar Saya bawa ke ruangan bayi untuk disusui dulu ya Pak. Soalnya kondisi Bu Rima belum memungkinkan untuk menyusui bayinya...,” kata sang perawat.


“ Iya, makasih Sus...,” sahut ayah Rima lalu menoleh kearah Rima yang masih terpejam itu.


Kemudian ayah Rima mengusap kepala Rima dengan lembut. Ia pun menatap wajah Rima yang pucat dengan perasaan sedih.


“ Maafkan Ayah kalo terlalu keras sama Kamu ya Nak. Ayah sayang sama Kamu dan ingin yang terbaik. Tapi melihat Anakmu yang sehat dan lucu itu bikin marah Ayah hilang. Ayo bangun. Kita asuh dia bareng-bareng. Ayah bakal biayai sekolahnya sampe ke perguruan tinggi nanti. Kalo dia mau kuliah di luar negeri juga boleh kok...,” kata ayah Rima.


Rima nampak tersenyum di dalam tidurnya dan itu membuat ayahnya terharu lalu memeluk Rima erat.


Tanpa ayah Rima sadari, saat itu Rima tengah menghadapi sakaratul mautnya. Rupanya arwah Abin datang untuk menjemput Rima untuk pergi bersamanya menuju ke haribaan Allah. Dan arwah Rima pun perlahan melayang pergi meninggalkan raganya. Hanako yang menyaksikan hal itu tak kuasa menyembunyikan tangisnya. Ia keluar dari ruangan itu karena tak sanggup melihat salam perpisahan dua insan yang berbeda alam itu dengan ayah Rima.

__ADS_1


“ Kamu datang Abin...,” kata Rima sambil tersenyum.


“ Iya Sayang. Aku datang untuk menjemputmu dan membawamu pergi. Kamu ga perlu pusing karena harus membesarkan Anak Kita sendirian. Lihat, Ayahmu sangat menyayangi Anak Kita. Aku yakin beliau pasti akan menjaga dan membesarkan Anak Kita dengan kasih sayang yang melimpah...,” sahut Abin sambil meraih jemari Rima.


“ Iya, Ayah sangat menyayanginya. Aku ga khawatir lagi ninggalin bayi Kita...,” kata Rima yang diangguki Abin.


Kemudian arwah Rima dan Abin melayang mendekati ayah Rima yang masih memeluk raga Rima dengan erat.


“ Ayah.... Maafkan semua kesalahanku dan terima kasih atas semua kasih sayang yang Ayah berikan untukku selama ini. Aku titip Anakku ya Yah. Tolong jaga dan didik dia supaya jadi laki-laki yang hebat seperti Ayah...,” kata arwah Rima sambil berurai air mata.


Kemudian gantian arwah Abin yang mendekat dan mengucapkan permohonan maaf pada ayah Rima.


“ Maafkan Aku Pak, terima kasih telah menjaga Rima selama ini. Sekarang Aku akan membawa Rima dan Aku ninggalin Anakku supaya Bapak ga terlalu repot mengurus mereka berdua nanti. Aku percaya Bapak bakal mendidik Anakku dengan baik dan jadi orang yang berguna untuk agama dan bangsa kelak. Bukan seperti Aku yang hanya bisa jadi sampah masyarakat. Makasih Pak...,” kata arwah Abin lirih.


Sesaat kemudian arwah Rima dan Abin melayang mendekati Fatur dan Faiq sambil tersenyum.


“ Terima kasih karena telah membantu Kami. Maafkan Kami dan sampaikan salam Kami untuk Hanako...,” kata arwah Abin dan Rima.


“ Pergi lah dengan tenang. Semoga Allah mengampuni dosa Kalian dan menerima semua amal baik  Kalian...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


Arwah Abin dan Rima mengangguk, kemudian perlahan melayang ke atas dan lenyap saat menembus langit-langit kamar diiringi lantunan doa tulus yang dibaca Faiq dan Fatur.


Tak lama kemudian terdengar jeritan ayah Rima. Ia tersadar jika Rima tak lagi bergerak dan bernafas saat ia memeluknya.


“ Ya Allah, kenapa Kamu Nak. Apa yang terjadi. Kenapa Kamu diam dan ga bergerak. Kamu ga bernafas Rima..., Rima..., jangan tinggalin Ayah Nak. Jangan sekarang...!” jerit ayah Rima histeris.


Jeritan ayah Rima menarik perhatian dokter dan perawat. Mereka bergegas masuk dan mengecek kondisi Rima. Sesaat kemudian sang dokter menggelengkan kepalanya.


“ Maaf Pak, Bu Rima udah pergi...,” kata sang dokter sambil menatap iba kearah ayah Rima.


Ayah Rima terkejut lalu kembali menghambur memeluk jasad Rima yang mulai membeku itu.


“ Ya Allah. Dulu Istriku, sekarang Anakku. Kenapa ga ada yang Kau ijinkan menemaniku ya Allah...,” rintih ayah Rima sambil menangis.


“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun...,” kata Fatur dan Faiq bersamaan seolah tak tahu apa yang telah terjadi.


Duka menyelimuti ruang rawat inap yang baru ditempati beberapa saat. Rima pergi meninggalkan sang ayah dan bayi yang baru saja ia lahirkan untuk selamanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2