Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
296. Ga Main Main


__ADS_3

Di sebuah rumah terlihat Diki dan ayahnya tengah duduk berdampingan. Di hadapan mereka duduk seorang pria tua bernama Ki Celeng dengan pakaian lusuhnya. Jika dilihat dari penampilannya bisa ditebak jika pria itu adalah seorang dukun.


Ki Celeng adalah dukun handal yang dikenal keluarga Diki secara turun temurun. Usianya sangat sepuh dan menurut pengakuannya, ia juga mengenal mendiang Kakek buyut Diki. Itu artinya usia Ki Celeng lebih dari seratus tahun. Namun meski pun usianya sangat sepuh, penampilan Ki Celeng masih terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.


Disebut Ki Celeng karena semasa muda dulu Ki Celeng bersama teman-temannya gemar menjelajah hutan dan tinggal berbulan-bulan lamanya di dalam hutan. Makanan yang ia makan selain dedaunan adalah daging celeng atau babi hutan. Karena seringnya makan daging celeng membuatnya dijuluki Ki Celeng hingga sekarang.


Kedatangan Diki dan ayahnya adalah untuk menuntut balas atas penghinaan Adam dan anak gadisnya. Diantara keluarga besar mereka hanya Diki dan ayahnya lah yang paling kecewa dan sakit hati atas penolakan Adam dan Nuara.


“ Jadi ini tentang cinta ya...,” kata Ki Celeng sambil membakar dupa.


“ Iya Ki...,” sahut Diki.


“ Tapi ini bukan hanya tentang cinta Ki. Saya sakit hati karena Adam dan Anaknya itu berani mempermainkan perasaan Anak Saya. Padahal selama ini ga ada yang berani mempermainkan perasaannya apalagi menolak lamaran Anak Saya...,” kata ayah Diki berapi-api.


Ki Celeng tertawa keras mendengar ucapan ayah Diki hingga membuat kedua pria di hadapannya itu mengerutkan keningnya karena bingung.


“ Apa ada yang aneh Ki, kenapa tertawa...?” tanya Diki tak suka.


“ Gapapa. Sebenarnya penolakan gadis itu bagus untukmu, karena bisa membuatmu dewasa dan mengerti tentang hidup yang ga selamanya sesuai keinginan Kita. Ada hal-hal di luar kendali Kita yang berjalan tak seperti seharusnya...,” kata Ki Celeng.


“ Maksud Ki Celeng, Aku memang ditakdirkan ga berjodoh sama Nuara...?” tanya Diki.


“ Begitu lah...,” sahut Ki Celeng santai.


“ Tapi Kami datang ke sini karena Kami tau Ki Celeng bisa membantu Kami membelokkan jalan itu. Bisa kan Ki...?” tanya ayah Diki sambil menyodorkan amplop berisi uang.


Ki Celeng melirik amplop coklat yang terlihat tebal itu. Ki Celeng tahu jika jumlah uang yang diberikan sangat besar dan itu artinya ia harus melakukan pekerjaan besar kali ini. Ki Celeng pun tersenyum penuh makna lalu meraih amplop berisi uang itu dan menyimpannya di bawah alas yang ia duduki.


“ Jadi apa yang Kalian inginkan...?” tanya Ki Celeng.


Diki dan ayahnya saling menatap dan tersenyum. Kilat kemarahan dan dendam nampak jelas di kedua bola mata anak dan ayah itu.

__ADS_1


“ Buat Adam dan Anaknya itu menderita. Hukum mereka, jadikan hidup mereka sengsara. Dan jangan lupa, jadikan gadis itu perawan tua seumur hidupnya karena telah berani menolak Anakku...,” kata ayah Diki sambil mengepalkan tangannya.


“ Itu gampang. Katakan nama mereka dan dimana alamatnya. Oh ya, apa Kalian punya foto mereka...?” tanya Ki Celeng tapi ayah Diki menggeleng.


“ Aku punya Yah...,” sahut Diki sambil memperlihatkan foto Adam dan istrinya di layar ponselnya.


“ Kapan Kamu ngambil foto ini Dik...?” tanya sang ayah.


“ Kemarin malam saat Kita datang ke rumah mereka Yah...,” sahut Diki dengan enggan karena harus mengingat moment menyakitkan itu lagi.


“ Apa ini bisa Ki...?” tanya ayah Diki yang diangguki Ki Celeng.


Setelah memperoleh foto Adam dan istrinya, Ki Celeng pun memulai ritual sesatnya di hadapan Diki dan ayahnya. Ia mulai menuang cairan merah ke atas bokor yang menyala hingga asap berbau busuk pun menyeruak di dalam ruangan dan membuat Diki terbatuk-batuk.


“ Aku ga kuat Yah, Aku tunggu di luar aja...,” kata Diki sambil menutup hidungnya.


“ Pergi lah, biar Ayah yang urus semuanya nanti...,” sahut ayah Diki sambil menutupi hidung dengan ujung bajunya.


“ Aneh...,” gumam Diki sambil menggelengkan kepalanya.


Sedangkan di dalam rumah terlihat Ki Celeng yang bermandikan keringat. Nampaknya Ki Celeng harus berhadapan


dengan seseorang yang memiliki kekuatan lebih tangguh darinya. Kesombongannya membuat Ki Celeng enggan mengakui kehebatan lawannya.


Melihat kondisi Ki Celeng yang berbeda dari biasanya membuat ayah Diki ikut cemas.


“ Ada apa Ki...?” tanya ayah Diki.


“ Keliatannya mereka memiliki pelindung yang kekuatannya ga main-main. Bahkan Aku harus mengeluarkan tenaga extra untuk menandinginya...,” sahut Ki Celeng.


“ Oh begitu rupanya. Pantesan mereka berani bertingkah dan menolak Diki...,” kata ayah Diki kesal.

__ADS_1


“ Tapi Aku udah berhasil mengirim jin pengganggu yang akan membuat mereka sakit lama dan parah. Ga ada sesuatu atau seorang pun yang bakal mampu menyembuhkan penyakit itu...,” kata Ki Celeng dengan bangga.


Mendengar ucapan Ki Celeng membuat ayah Diki tersenyum puas. Ia membayangkan kesialan dan penyakit yang akan dialami Adam dan keluarganya setelah jin kiriman Ki Celeng bekerja menjalankan tugasnya.


Setelah memastikan Ki Celeng mengirim guna-guna yang ia minta, ayah Diki pun keluar dari rumah Ki Celeng. Ia melihat Diki sedang duduk di teras dengan tatapan kosong. Bahkan panggilannya tak dihiraukan oleh sang anak hingga memaksanya menepuk pundak Diki untuk menyadarkannya.


“ Diki...!” panggil sang ayah.


“ Ya ampun Ayah. Ngapain pake teriak-teriak segala, ngagetin aja sih Yah...,” gerutu Diki sambil meraba dadanya.


“ Kamu yang lagi ngapain, diajak ngomong ga jawab malah bengong aja...,” sahut sang ayah ketus.


“ Gapapa Yah, cuma bingung aja kok orang-orang yang lewat itu ga ada satu pun yang nengok ke sini ya. Mereka jalan lurus aja kaya ga ada apa-apa di sini. Atau jangan-jangan mereka emang ga ngeliat rumah ini termasuk Kita yang berdiri di sini...,” kata Diki sambil menunjuk keluar pagar rumah Ki Celeng dimana banyak orang berlalu lalang.


Ayah Diki mengikuti arah yang ditunjuk sang anak dan nampak mengerutkan keningnya sejenak. Dalam hati ayah Diki membenarkan apa yang dikatakan Diki, namun sesaat kemudian ia menepis perasaannya dan memilih mengajak sang anak pulang.


“ Itu kan perasaanmu aja. Jangan lupa kalo Ki Celeng itu orang hebat, makanya aura yang menyelimuti rumahnya juga terasa beda dan sedikit horror. Mungkin itu yang bikin orang-orang takut dan ga mau nengok ke sini...,” kata ayah Diki santai.


“ Masuk akal sih Yah. Terus gimana Yah, apa udah selesai ritualnya...?” tanya Diki.


“ Udah. Ki Celeng udah ngirim jin untuk menyakiti Adam dan anaknya itu. Kita tunggu aja hasilnya di rumah...,” sahut ayah Diki sambil tersenyum.


“ Aku ga sabar nunggu reaksinya Yah...,” kata Diki.


“ Kalo gitu Kita pulang sekarang...,” ajak ayah Diki sambil menggamit lengan Diki dan membawanya keluar dari area rumah Ki Celeng.


“ Aku pamit dulu sama Ki Celeng Yah...,” kata Diki.


“ Ga usah, Ki Celeng lagi sibuk. Sebaiknya Kamu jangan ganggu, atau kamu mau ritual itu gagal dan uang yang Kita keluarin tadi sia-sia...,” sahut ayah Diki.


Diki mengangguk tanda mengerti kemudian mengekori ayahnya keluar dari rumah Ki Celeng dengan wajah yang berbinar bahagia.

__ADS_1


\=====


__ADS_2