Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
86. Opa Darius Kritis


__ADS_3

Rupanya pertarungan tak seimbang itu dimenangkan oleh Mursal dan ketiga temannya. Semula pertarungan berjalan imbang, namun kemudian ketiga teman Mursal mengeroyok Abin hingga Abin tak berdaya.


“ Katakan padaku siapa Kalian sebenarnya...?” tanya Abin lirih.


“ Aku adalah pengawal pribadi Rima yang diutus oleh Ayahnya untuk menjaga dan melindungi Rima...,” sahut Mursal.


“ Pengawal pribadi...?” tanya Abin tak mengerti.


“ Iya. Pasti Kau tak menduga jika gadis yang telah Kau lecehkan itu adalah Anak seorang juragan kaya raya yang memiliki banyak pengawal. Dan Kau telah menolak bertanggung jawab bahkan menyuruh Rima menggugurkan kandungannya. Kau pasti tau apa akibatnya kan...?” tanya Mursal sinis.


“ Kalian salah paham. Aku mau bertanggung jawab kok, sungguh...!” kata Abin panik.


Tapi terlambat.  Suara Abin menghilang saat teman Mursal memukul tengkuknya dengan keras hingga Abin jatuh pingsan. Setelahnya tubuh Abin diikat lalu dimasukkan dalam karung. Kemudian mereka membawa tubuh Abin dengan mobil lalu melemparnya dari atas jembatan hingga hanyut terbawa arus air sungai yang mengalir deras di bawah jembatan.


Faiq menyudahi penelusurannya lalu menatap hantu Abin dengan tajam. Faiq kesal dengan ulah Abin yang melecehkan banyak wanita. Namun Faiq juga iba mengetahui Abin menjadi hantu penasaran karena belum menemukan jasadnya.


“ Ternyata dugaanku benar. Kau bukan laki-laki yang baik. Tapi Aku tak peduli bagaimana masa lalumu. Tugasku adalah membantumu menemukan jasadmu dan mengantarmu kembali ke haribaan Tuhanmu dengan cepat...,” kata Faiq.


“ Aku malu dan menyesal karena telah mengisi masa mudaku dengan hal tak terpuji dan sia-sia...,” sahut hantu Abin sambil menundukkan kepalanya.


“ Bagus kalo Kau menyesalinya. Sekarang Aku pulang dulu, insya Allah besok Aku akan membantumu...,” kata Faiq sambil tersenyum.


“ Baik, terima kasih...,” sahut hantu Abin sambil melepas kepergian Faiq dengan mata berkaca-kaca.


\=====


Faiq menceritakan hasil penelusurannya pada Hanako dan Heru keesokan harinya. Keduanya nampak mendengarkan penuturan Faiq dengan seksama.


“ Yang Gue ga paham, ngapain dia ada di kampusnya Hanako...,” kata Heru.


“ Itu karena hal terakhir yang dia ingat ya tentang usahanya membujuk Rima untuk kembali padanya. Keliatannya dia menyesali perbuatannya dan berniat memperbaikinya...,” sahut Faiq.


“ Tapi Rima terlanjur kecewa...,” sela Hanako sambil mencibir.


“ Kamu benar Ci...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Aku sih setuju sama tindakan Rima. Buat apa hidup sama orang yang ga punya prinsip kaya si Abin itu. Sebentar ngomong A sebentar ngomong B. Kemarin nyuruh aborsi sekarang mau tanggung jawab. Dasar plin plan...,” gerutu Hanako.


Heru dan Faiq saling menatap kemudian tersenyum. Mereka merasa ucapan Hanako cukup mewakili perasaan Rima dan wanita-wanita korban Abin lainnya.


“ Papa senang Kamu bisa bersikap dewasa sekarang Ci...,” puji Faiq.


“ Harus dong Pa. Umurku kan udah dua puluh tahun dan bukan Anak ABG lagi. Aku cukup dewasa untuk ngambil keputusan lho Pa...,” sahut Hanako.

__ADS_1


“ Termasuk keputusan untuk punya pacar...?” goda Faiq.


“ Iiihh, apaan sih Papa. Siapa yang mau pacaran sih. Aku tuh mau serius kuliah dulu, terus kerja biar dapat uang banyak, baru nyari pasangan. Buat nikah lho ya bukan hanya pacaran...,” sahut Hanako dengan wajah bersemu merah.


Mendengar jawaban Hanako membuat Faiq, Efliya dan Heru tertawa. Mereka bukan tak tahu jika saat ini Hanako sedang tertarik dengan lawan jenis. Namun mereka yakin jika Hanako bisa menjaga diri dan tak akan mengecewakan mereka.


Tiba-tiba ponsel Faiq berdering. Farah lah yang menghubunginya saat itu. Faiq mengerutkan keningnya karena tak biasanya sang mama menghubunginya seperti ini.


“ Assalamualaikum Mama...,” sapa Faiq.


“ Wa alaikumsalam, Bang ke Rumah Sakit ya sekarang. Opa Darius kritis...,” pinta Farah dengan suara bergetar.


“ Ya Allah, iya Ma Aku segera ke sana. Mama sama siapa di sana...?” tanya Faiq sambil berdiri dari posisi duduknya hingga membuat Efliya dan keluarganya cemas.


“ Sama Papa dan Om Fatur. Cepat ya Bang...,” kata Farah lagi di akhir kalimatnya.


“ Iya Ma...,” sahut Faiq.


“ Ada apa Bang...?” tanya Efliya.


“ Opa kritis El. Sekarang ada di Rumah Sakit...,” sahut Faiq sambil mengenakan jaketnya.


“ Kita ke sana Bun...,” kata Heru yang sigap meraih kunci mobil dan bersiap keluar rumah.


Kemudian Heru melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Firdausi, sedangkan Faiq telah lebih dulu meluncur ke sana.


\=====


Suasana duka terasa lekat saat Faiq menginjakkan kakinya di lantai Rumah Sakit Firdausi. Ia disambut oleh Erik dan Fatur yang nampak cemas.


“ Papa..., Om...,” sapa Faiq.


“ Kemari lah Nak...,” sahut Fatur sambil memeluk Faiq erat.


Keduanya mengurai pelukan saat seorang perawat keluar dari ruang rawat inap Darius.


“ Maaf Pak, dokter Farah minta Bapak dan keluarga masuk ke dalam...,” kata sang perawat.


“ Baik, makasih Sus...,” sahut Erik.


“ Sama-sama Pak...,” kata sang perawat sambil tersenyum.


Fatur, Erik dan Faiq pun bergegas masuk ke dalam ruangan. Namun saat hendak menutup pintu sebuah tangan

__ADS_1


nampak menghalangi hingga membuat Fatur terkejut.


“ Gimana keadaan Papa...?” tanya Fajar dengan suara serak.


“ Masuk aja yuk Bang...,” sahut Fatur dan diangguki oleh Fajar.


Mereka berempat masuk ke dalam ruangan dan melihat Farah sedang duduk sambil memeluk sang papa yang terpejam. Ada air mata yang mengalir di wajahnya. Erik mendekat kearah Farah lalu memeluk dan mencium puncak kepala sang istri dengan lembut.


“ Sabar ya Ma...,” bisik Erik.


“ Iya Pa, makasih...,” sahut Farah lirih.


Tiba-tiba Darius membuka matanya dan menatap semua orang yang ada di ruangan itu satu per satu.


“ Mana Cucu dan buyutku...?” tanya Darius lirih.


“ Sebentar lagi mereka datang Pa...,” sahut Fatur.


“ Aku mau ngeliat mereka sebelum malaikat maut menjemputku...,” kata Darius lalu kembali memejamkan matanya.


Permintaan Darius membuat Fajar, Farah dan Fatur saling menatap lalu mengangguk. Mereka sepakat untuk mengumpulkan keluarga besar mereka. Faiq pun bergerak cepat. Dia langsung keluar dari ruangan dan menghubungi pihak pesantren. Tanpa kesulitan pihak pesantren mengijinkan Faiq untuk menjemput Iyaz dan Izar malam itu juga.


“ Gue temenin Lo Bang...,” kata Heru yang baru saja tiba bersama Efliya dan kedua anak mereka.


“ Ok deh, makasih Her...,” sahut Faiq yang diangguki Heru.


Sebelum melangkah meninggalkan Rumah Sakit Faiq sempat mengingatkan Efliya untuk menghubungi keluarga besar mereka.


“ Kayanya itu bakal jadi permintaan teakhir Opa, El. Kita harus siap dan usahain jangan kecewain Opa...,” kata Faiq dengan suara bergetar.


“ Iya Bang...,” sahut Efliya dengan mata berkaca-kaca.


“ Sekarang Abang pergi dulu mau jemput si kembar. Heru yang nganterin Abang...,” kata Faiq.


“ Iya, Kalian hati-hati ya ga usah ngebut...,” pesan Eliya yang diangguki Faiq dan Heru.


Tak lama kemudian Heru dan Faiq telah berada di dalam perjalanan menuju pesantren. Faiq nampak murung dan


enggan bicara. Ia hanya memejamkan matanya sambil berdzikir dalam hati. Heru pun tampak fokus menyetir seolah memberi kesempatan pada Faiq untuk menenangkan diri.


Bagaimana pun ikatan batin Faiq dan sang opa sangat dekat. Apalagi Faiq adalah cucu pertama dalam keluarga


besar Darius. Faiq kembali mengenang kebersamaannya dengan Darius saat masa kecilnya dulu. Dan tanpa sadar air mata mengalir di wajahnya. Faiq pun mengusap matanya yang basah dengan telapak tangannya.

__ADS_1


\=====


__ADS_2