
Setelah Nahilma memberitahu jika Osman dan lyaz adalah tamu ayahnya, Raqiya pun segera membuatkan suguhan untuk tamunya itu. Dalam hati Raqiya tak habis pikir bagaimana tamunya datang dengan niat membahas Marwah yang telah meninggal belasan tahun yang lalu itu.
“ Ini takdir dari Allah. Kami dipertemukan dalam kepentingan yang sama yaitu sama-sama mencari kebenaran untuk mengungkap misteri kematian Marwah. Mereka datang karena ditemui arwah Marwah, sedangkan Aku diberi pertanda berupa kenangan akan Marwah beberapa hari belakangan ini...,” gumam Raqiya sambil tersenyum.
Raqiya melihat jika Osman dan Rauf bicara banyak hal sambil tertawa-tawa menandakan jika mereka telah saling mengenal lama. Sedangkan lyaz terlihat duduk tenang sambil menyimak pembicaaan Osman dan Rauf.
“ Nah sini Mi. Aku kenalin sama Pak Osman ya. Beliau ini penggemar almarhumah Marwah di kampus. Dulu Abi banyak dibantu sama Pak Osman dalam menyelidiki kasus kematian Marwah. Sayangnya kasus kematian Marwah ditutup karena kekurangan bukti dan saksi...,” kata Rauf sambil menepuk sofa di samping kanannya meminta Raqiya duduk di sana.
“ Terus sekarang kasusnya mau dibuka lagi Bi...?” tanya Raqiya.
“ Belum tau Mi. Kita dengar dulu apa kata lyaz ya. Soalnya arwah Marwah minta tolong sama dia supaya kasusnya diungkap dan pembunuhnya ditangkap...,” sahut Rauf.
Kemudian Iyaz menjelaskan semua tentang keinginan Marwah. Termasuk cerita tentang perselingkuhan Ibu Marwah dengan Malhaj. Mendengar penuturan Iyaz membuat Raqiya geram.
“ Jadi semua dugaan Marwah itu benar ya. Aku dua kali ketemu sama Ibunya Marwah. Dari situ aja Aku tau kalo dia bukan wanita baik-baik...,” kata Raqiya.
“ Ketemu dimana Mi...?” tanya Rauf.
“ Ibunya datang ke kost an dan minta uang sama Marwah. Kalo Marwah bilang ga ada, Ibunya itu marah-marah ga jelas. Akhirnya Marwah terpaksa nyerahin uangnya padahal dia juga perlu uang itu untuk membiayai hidupnya sehari-hari...,” sahut Raqiya kesal.
“ Kalo menurut Ummi, uang itu untuk apa...?” tanya Rauf lagi.
“ Sekarang setelah tau ceritanya ya pasti uang itu untuk selingkuhannya lah...,” sahut Raqiya ketus.
“ Gitu ya. Sebentar Mi, Kamu bilang kan Ibunya Marwah nemuin Marwah di kost an. Siapa aja yang pernah ngeliat Bu Mardiyah di sana...?” tanya Rauf.
“ Aku ga tau pasti Bi, mungkin hanya beberapa. Kan mereka sibuk dan ga punya waktu lebih untuk sekedar basa-basi sama teman satu kost apalagi keluarganya. Begitu lah keadaan rumah kost tempat Aku tinggal dulu...,” sahut Raqiya enggan.
“ Apa Ibunya itu pernah masuk ke dalam kamar juga...?” tanya Rauf.
“ Pernah. Kan kalo mau minta uang ga mungkin di depan anak kost yang lain dong Bi. Pasti dia juga malu...,” sahut Raqiya.
__ADS_1
“ Iya, maksud Abi apa Bu Mardiyah itu punya kunci duplikat kamar atau sejenisnya yang bikin dia bisa masuk ke kamar Kalian tanpa harus nunggu lama di teras rumah misalnya...,” kata Rauf.
“ Abi betul. Kayanya Marwah pernah ngasih kunci sama Ibunya itu...,” sahut Raqiya antusias.
Mendengar jawaban Raqiya membuat Rauf tersenyum. Kini mereka mulai menemukan titik terang siapa orang yang terakhir bersama almarhumah Marwah.
“ Dugaan sementara Bu Mardiyah adalah orang terakhir yang bertemu Marwah sebelum dia ditemukan meninggal dengan luka lebam di sekujur tubuhnya...,” kata Rauf.
Ucapan Rauf membuat Iyaz dan Osman saling menatap tak percaya. Bagaimana mungkin seorang ibu terlibat dengan kematian anaknya. namun mereka menyerahkan kasus ini kepada Rauf dan berharap Rauf dapat mengungkap misteri yang menyelubungi kematian Marwah.
“ Kalian bisa terus membantu memberi informasi sekecil apa pun itu...,” kata Rauf.
“ Baik Pak. Kami juga ingin agar pembunuh sebenarnya tertangkap sehingga Marwah bisa tenang kembali ke haribaan Allah...,” sahut Iyaz.
“ Betul...,” kata Rauf dan Osman bersamaan.
\=====
Malam itu suasana rumah Gusman nampak sepi. Setelah pertengkaran Salman dan Gusman yang membuat kegaduhan itu usai, Mardiyah bisa sedikit bernafas lega.
“ Aku bukan Anak kecil lagi yang bisa Kalian atur-atur. Jangan jadi pengecut yang hanya bisa mengatur Kami tapi tak bisa mengatur Istrimu itu Yah...,” kata Salman.
“ Tapi selama Kau tinggal di rumah ini Kau harus menuruti aturan yang ada di rumah ini...!” sahut Gusman gusar.
“ Aturan rumah ini yang mana lagi yang belum Aku turuti...?” tanya Salman sambil tersenyum sinis.
“ Salman, tutup mulutmu. Sopan lah kalo bicara sama Ayahmu...!” hardik Mardiyah.
“ Tak usah mengajariku sopan santun Bu. Aku begini karena Ibu. Aku tak bisa mendapat pendidikan sopan santun di sekolah karena Ibu memaksaku bekerja mencari uang. Tapi setelah semuanya Kulakukan, Aku pikir kehidupan Kita akan lebih baik. Tapi mana buktinya. Hidup Kita tetap susah dan Aku tambah bodoh...,” sahut Salman kesal.
“ Apa maksudmu bekerja Salman. Sejak kapan Kamu bekerja. Apa Kamu dan Najas berhenti sekolah gara-gara bekerja. Ada apa sebenarnya ini Mardiyah...?!” tanya Gusman dengan suara lantang.
__ADS_1
“ Ayah ga usah pura-pura ga tau. Bukannya Ayah yang nyuruh Kami berhenti sekolah karena ga sanggup membiayai Kami. Uang Ayah hanya cukup untuk Kakak tapi bukan untukku atau Najas...!” sahut Salman sambil membanting gelas di tangannya.
Gusman berdiri lalu menampar Salman dengan keras hingga Salman jatuh tersungkur di lantai.
“ Aku ga pernah pilih kasih terhadap Kalian bertiga. Aku juga ga pernah nyuruh Kalian berhenti sekolah apalagi bekerja. Camkan itu...!” kata Gusman marah.
“ Tapi itu yang dibilang Ibu sama Aku dan Najas...!” sahut Salman tak terima.
Gusman menoleh kearah Mardiyah yang nampak gemetar ketakutan. Wajahnya pucat pasi karena tak sanggup membayangkan apa yang akan dilakukan Gusman padanya nanti. Sedangkan Salman yang kecewa atas sikap kedua orangtuanya itu pun bergegas keluar dari rumah tanpa menghiraukan panggilan ayahnya.
“ Aku tunggu penjelasanmu Mardiyah...,” kata Gusman lalu mengejar Salman yang lari keluar rumah.
“ Aku tunggu penjelasanmu Mardiyah...,” ulang Mardiyah dengan mimik mengejek lalu membanting pintu dengan keras karena kesal dengan sikap Gusman.
Kemudian Mardiyah membereskan kekacauan yang dibuat Salman dan Gusman tadi sambil memaki. Setelahnya Mardiyah duduk di atas sofa sambil memijit keningnya. Ia tahu jika tak lama lagi kedoknya akan terbongkar namun ia masih berharap bisa sedikit mengulur waktu agar bisa kabur dari rumah itu sesuai rencana yang telah ia susun bersama Malhaj.
“ Sedikit lagi. Setelah ini Aku akan tinggalkan tempat ini dan tinggal bersama Malhaj. Pers*etan dengan semuanya. Aku muak sama rumah ini dan semua penghuninya...,” gumam Mardiyah.
Tiba-tiba sebuah bayangan melintas di depan kamar hingga mengejutkan Mardiyah.
“ Apa mereka udah pulang. Tapi kok ga ada suara ketukan pintu apalagi salam. Gusman, Kau kah itu ?. Dimana Salman...?” tanya Mardiyah.
Tak ada sahutan. Mardiyah mengerutkan kening lalu bangkit dan berjalan menuju pintu. Saat itu lah bayangan Marwah berdiri persis di depan Mardiyah dan menghadang langkahnya hingga membuat Mardiyah terkejut. Hantu Marwah menunduk dengan rambut tergerai menutupi sebagian wajahnya. Gaun pink lusuhnya adalah gaun terakhir yang Marwah kenakan saat menemui Mardiyah di pasar waktu itu.
“ Ka..., Kau Mar..., Marwah...,” kata Mardiyah gugup.
“ Apa kabar Ibu...?” tanya hantu Marwah lirih.
“ Mau a..., apa ke sini...?” tanya Mardiyah.
“ Aku mau tanya kenapa ibu lakukan ini padaku. Kenapa tak menolongku Ibu...?” tanya hantu Marwah sambil mendongakkan wajahnya perlahan.
__ADS_1
Melihat wajah Marwah yang pucat, bengkak dan membiru dengan darah yang mengalir dari sela bibir, lubang hidung dan telinganya membuat Mardiyah gemetar ketakutan. Apalagi saat hantu Marwah melayang mendekat kearahnya seolah ingin memeluknya. Mardiyah menjerit histeris lalu jatuh pingsan.
\=====