Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
226. Cari Bantuan Lain


__ADS_3

Di halaman rumah Paulus masih dipadati warga yang prihatin dengan kondisi Mirva. Kasak kusuk pun terdengar saat para warga membicarakan Mirva.


“ Tadi sore ada yanng ngeliat Mirva ribut sama Pak Pandu yang tentara itu...,” kata tetangga Paulus.


“ Oh kalo itu Saya juga ngeliat. Mereka bukan lagi ribut, tapi Mirva lagi menyatakan cinta sama Pak Pandu...,” sahut tetangga lainnya.


“ Menyatakan cinta kok pake nangis segala...?” tanya tetangga lain penasaran.


“ Gimana ga nangis kalo ditolak...,” sindir seorang wanita paruh baya.


“ Masa sih, maksud Ibu Mirva ditolak sama Pak Pandu...?” tanya warga tak percaya.


“ Iya...,” sahut wanita itu cepat.


“ Kenapa ditolak, Mirva kan cantik...?” tanya warga lainnya.


“ Cantik aja ga cukup, apalagi Pak Pandu udah beristri dan pasti Istrinya jauh lebih cantik daripada Mirva. Pak Pandu kan baru aja nikah, jadi masih pengantin baru. Bagaimana mungkin dia mau selingkuh dengan wanita lain kalo Istrinya jauh lebih baik dari wanita itu...,” sahut wanita itu sinis.


“ Sssttt..., jangan ngomong gitu Bu. Ga enak kalo kedengeran sama Pak Paulus...,” kata salah satu tetangga mengingatkan.


“ Biar aja. Lagian Mirva juga salah kan. Ngapain ngejar-ngejar laki-laki yang ga mau sama dia, udah beristri lagi. Malu-maluin aja...,” sahut wanita itu ketus.


Warga yang mendengar ucapan wanita itu pun terdiam dan tak melanjutkan pembicaraan mereka. Warga tahu jika wanita itu sakit hati pada Paulus dan anaknya karena telah membuat keponakan laki-lakinya meninggal dunia.


Keponakan laki-laki wanita itu bernama Herdin yang merupakan teman satu sekolah Mirva. Dulu Mirva dan Herdin dekat bahkan menjalin hubungan dan merencanakan pernikahan. Tapi tiba-tiba Mirva memutuskan hubungan mereka hanya karena Herdin dan keluarganya tak sanggup memenuhi keinginan Mirva.


Setelah hubungannya dengan Mirva berakhir Herdin menjadi depresi dan sering mengurung diri di kamar. Hingga akhirnya Herdin sakit lalu meninggal dunia. Mirva yang datang melayat ke rumah duka pun langsung diusir oleh keluarga Herdin.


Mirva pun mulai menjaga jarak dengan laki-laki sejak kematian Herdin. Setelah dua tahun kepergian Herdin, akhirnya Mirva mau membuka hati pada pria yang datang termasuk Magung. Namun sama seperti Herdin, para pria itu tak sanggup memenuhi keinginan Mirva yang terasa tak masuk akal itu dan lebih memilih meninggalkan Mirva.

__ADS_1


Bukannya sadar akan kesalahannya, Mirva malah mengguna-gunai para pria yang pernah dekat dengannya


hingga membuat mereka gila bahkan meninggal dunia.


Warga sebenarnya mengendus ada yang tak beres dengan Mirva. Tapi karena menghormati Paulus, warga pun memilih bungkam dan tak mempermasalahkan apa yang telah dilakukan Mirva. Warga lebih memilih mengingatkan anggota keluarganya agar jangan menjalin hubungan dengan Mirva jika tak ingin berakhir celaka. Hingga akhirnya Mirva pun sulit mendapat jodoh karena ulahnya sendiri.


Paulus yang gelisah karena tak ada pria yang bersedia menikahi Mirva pun terpaksa merendahkan diri dengan menawarkan anak gadisnya untuk dijodohkan dengan anak teman atau kerabatnya. Namun sayangnya mereka menolak karena tahu Mirva bukan lah gadis yang sederhana seperti penampilannya. Hingga akhirnya Paulus bertemu dengan Pandu dan tertarik dengan kepribadian Pandu. Paulus merasa jika Pandu akan bisa mengendalikan Mirva yang manja dan keras kepala itu.


Mirva memang berubah jadi keras kepala sejak ibunya meninggal dunia. Karena tumbuh dewasa tanpa pengawasan seorang ibu seperti teman sebayanya, maka Mirva tumbuh menjadi gadis yang sedikit angkuh dan keras kepala. Paulus yang sibuk bekerja hampir tak punya waktu untuk mendengarkan keluh kesah Mirva. Paulus baru punya waktu setelah pensiun tapi nampaknya semua sudah terlambat.


Mirva yang terbiasa sendiri akhirnya mencari bantuan melalui dukun. Dari dukun beraliran ilmu hitam itu lah Mirva mendapat bantuan sekaligus disesatkan. Dan kini iblis penghuni ilmu hitam yang dianut Mirva pun tengah mengintai keselamatan Mirva.


Di dalam rumah Paulus sang dukun masih berusaha membantu Mirva. Sang dukun  melihat makhluk halus berwujud manusia berkepala singa tengah memeluk tubuh Mirva dengan posesif. Jari-jari tangan dan kakinya dihiasi kuku panjang hitam. Makhluk itu nampak menyeringai sambil menatap Mirva dengan tatapan penuh makna.


Mirva nampak menggeram dengan mata mendelik saat makhluk itu terus memeluk tubuhnya. Doa yang dilantunkan sang dukun nampaknya tak berpengaruh banyak. Sang dukun hanya mampu menunda makhluk itu melakukan sesuatu yang besar pada Mirva tapi bukan menghentikannya.


“ Duduk lah Paulus, Kau membuatku sakit kepala...!” kata sang dukun kesal.


“ Iya Kek, maaf...,” sahut Paulus lalu duduk di samping sang dukun yang baru saja berhasil menenangkan Mirva.


“ Jadi apa yang terjadi sebenarnya Kek...?” tanya Paulus.


“ Anakmu menganut ilmu hitam untuk menyingkirkan musuh-musuhnya...,” sahut sang dukun.


“ Setauku Mirva ga punya musuh Kek...,” kata Paulus.


“ Laki-laki yang pernah jadi kekasihnya dan batal menikahinya adalah musuh bagi Mirva. Apa Kau tak tau itu Paulus...?” tanya sang dukun sambil menatap Paulus lekat.


“ Maksud Kakek, mantan pacar Mirva yang gila dan meninggal itu...,” ucapan Paulus terputus karena sang dukun memotong dengan cepat.

__ADS_1


“ Betul. Mereka gila dan mati karena Mirva telah mengguna-gunai mereke dengan ilmu hitam yang dimilikinya itu Paulus...,” kata sang dukun meyakinkan Paulus hingga membuatnya terkejut.


Paulus nampak shock. Ia tak menyangka Mirva bisa melakukan hal yang keji seperti itu. Paulus merasa asing dan tak mengenali anak kandungnya lagi. Paulus pun menatap sang dukun lalu bertanya.


“ Apa yang harus Saya lakukan untuk menyelamatkan Mirva Kek...?” tanya Paulus lelah.


“ Jujur aku tak bisa membantumu Paulus. Karena ilmu hitam ini sudah memakan korban jiwa. Ada baiknya Kamu cari pertolongan dari orang lain. Aku melihat ada salah seorang kerabat dari tanah Jawa yang bisa membantumu...,” sahut sang dukun.


“ Aku ga kenal siapa mereka, bagaimana mungkin Aku bisa minta tolong sama mereka Kek...,” sahut Paulus gusar.


“ Tapi Kamu kenal dengan Kapten Pandu kan...?” tanya sang dukun.


“ Kapten Pandu, pilot dari Jakarta itu Kek...?” tanya Paulus ragu.


“ Betul. Dia dikelilingi aura positif dari orang-orang yang mengerti hal ghaib. Mereka bisa membantu Mirva lepas dari jeratan iblis itu. Minta tolong lah padanya, karena saat ini hanya jalan itu yang terlihat olehku...,” saran sang dukun.


“ Apa mereka mau membantu Kami Kek...?” tanya Paulus.


“ Aku yakin mereka dengan senang hati membantu Kalian karena mereka orang baik...,” sahut sang dukun sambil tersenyum.


“ Baik lah, kalo itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Anakku maka Aku akan pergi menemui Kapten Pandu Kek...,” kata Paulus dengan mata berkaca-kaca.


“ Pergi lah, Aku akan menunggu di sini. Jangan lupa suruh beberapa wanita menjaga Mirva karena Aku tak mau dibilang dukun cabul yang memanfaatkan keadaan Mirva yang pingsan itu...,” kata sang dukun sambil tersenyum kecut.


“ Baik Kek...,” sahut Paulus sambil tersenyum.


Kemudian Paulus keluar dari rumah. Setelah meminta tetangga menemani anaknya di rumah, Paulus pun pergi ke barak militer untuk menemui Pandu. Diantar salah seorang kerabatnya Paulus pun bersedia menembus gelapnya malam untuk meminta bantuan Pandu sesuai perintah sang dukun tadi.


\=====

__ADS_1


__ADS_2