
Lift terus melaju hingga karyawan itu turun di lantai delapan. Saat keluar dari lifft karyawan itu berpapasan dengan security. Mereka saling menyapa sejenak lalu karyawan itu melanjutkan langkahnya.
Setelah menyerahkan berkas laporan kepada manager personalia, karyawan itu berniat kembali ke ruangannya dengan menggunakan lift yang sama dengan Lift yang tadi mengantarnya ke lantai depalan. Saat pintu lift terbuka karyawan itu pun masuk dan langsung menekan tombol angka empat.
Tiba-tiba karyawan bernama Ruli itu pun merasakan sesuatu keanehan. Ia merasa udara di dalam lift mendadak menjadi lebih dingin dan mencekam. Ruli menoleh ke kanan dan ke kiri karena merasa tak nyaman. Saat tatapannya kembali ke depan, Ruli melihat pantulan dirinya di pintu lift. Ruli pun berusaha tenang dengan menghela nafas panjang beberapa kali. Saat memperhatikan pantulan dirinya dengan lebih seksama, Ruli pun mengerutkan keningnya.
Rupanya Ruli melihat sosok hitam, tinggi dan besar tengah berdiri di belakangnya. Sosok itu mendongakkan wajahnya untuk menakuti Ruli. Namun sebelum makhluk itu benar-benar memperlihatkan dirinya secara utuh, Ruli pun mengucap istighfar dengan lantang.
“ Astaghfirullah aladziim...!” kata Ruli sambil menepuk dadanya.
Mendengar kalimat istighfar yang diucapkan Ruli membuat makhluk itu menghilang seketika. Ruli pun menepuk-nepuk dadanya untuk menetralisir detak jantungnya. Setelah pintu lift terbuka Ruli pun melangkah keluar dengan cepat. Kemudian setengah berlari Ruli meninggalkan lift tanpa mau menoleh lagi.
\=====
Para pelamar kerja di perusahaan Erik pun mulai diseleksi. Karena peminat yang cukup banyak membuat divisi ketenaga kerjaan menjadi lebih sibuk.
“ Apa ada yang bisa Saya bantu Pak...?” tanya Hanako pada manager personalia.
“ Kebetulan Bu Hanako ada di sini. Iya Bu, Kami butuh bantuan. Sepertinya Ibu bisa bantu Kami mewawancarai para calon karyawan itu...,” sahut manager personalia yang bernama Hidayat itu dengan ramah.
“ Mmm..., kayanya kalo itu Saya ga bisa Pak...,” sahut Hanako.
“ Lho kenapa Bu...?” tanya Hidayat tak mengerti.
“ Bayi dalam perut Saya ga bisa diajak kompromi Pak. Dia lebih suka jalan-jalan daripada diajak duduk manis di satu tempat. Lebih baik Saya mengawasi calon karyawan saat mereka test tertulis aja ya...,” sahut Hanako sambil tersenyum.
“ Oh iya, Saya lupa kalo Bu Hanako sedang hamil. Baik Bu, kalo gitu Bu Hanako bisa mengawasi mereka menjalani test tertulis di aula...,” kata Hidayat sambil menyerahkan setumpuk kertas kepada Rubi yang berdiri di samping Hanako.
“ Tolong bawa ini ke ruangan meeting dan letakkan di meja ya Rul, makasih...,” kata Hidayat.
“ Baik, sama-sama pak...,” sahut Ruli lalu melangkah lebih dulu menuju aula.
__ADS_1
“ Kenapa ga test pake komputer aja sih Pak...?” tanya Hanako.
“ Ini perintah langsung dari Presdir Bu. Beliau ingin merekrut karyawan yang tulisan tangannya bagus dan mudah dibaca...,” sahut Hidayat jujur namun mengejutkan Hanako dan membuatnya tertawa.
“ Apa hubungannya sama kerjaan mereka nanti...?” tanya Hanako sambil menggelengkan kepala.
“ Saya kurang tau Bu. Mungkin Ibu bisa tanyakan langsung sama Pak Presdir nanti...,” sahut Hidayat.
“ Iya iya, Saya tau selera Opa Saya memang aneh. Tapi Saya yakin Opa punya penilaian sendiri dalam hal ini...,”kata Hanako sambil tersenyum bangga.
“ Betul Bu. Nampaknya Pak Erik menilai sifat dan karakter karyawan Kita dari tulisan tangan mereka...,” sahut Hidayat yang diangguki Hanako.
Kemudian Hanako menuju ke ruangan meeting yang disulap menjadi ruangan untuk test calon karyawan. Saat hendak masuk ke dalam ruangan ia berpapasan dengan Iyaz dan Izar.
“ Ngapain di sini Ci...?” tanya Iyaz.
“ Mau bantuin Pak Hidayat ngawasin test para pelamar kerja. Kamu sendiri mau kemana...?” tanya Hanako.
“ Aku kok ga disuruh apa-apa...?” tanya Hanako.
“ Opa ga mau Kamu kecapean makanya ga nyuruh Kamu...,” sahut Izar cepat.
“ Udah yuk, mereka udah masuk tuh...,” kata Iyaz mengingatkan.
Izar dan Hanako mengangguk lalu masuk ke ruangan yang berbeda. Hanako duduk di depan meja dan mulai mengawasi para pelamar satu per satu sambil tersenyum.
“ Kalo kaya gini jadi inget waktu Aku ngelamar kerja di perusahaan lain dulu...,” gumam Hanako sambil menatap Ruli.
Ruli yang sedang sibuk membagikan kertas soal kepada para peserta test itu pun tak meyadari jika Hanako terus menatapnya lekat. Namun Hanako berusaha bersikap santai sebelum memberi pengarahan kepada para peserta test.
“ Assalamualaikum, selamat pagi semuanya...,” sapa Hanako dengan ramah.
__ADS_1
“ Wa alaikumsalam, selamat pagi Bu...,” sahut semua peserta test dengan semangat.
“ Makasih. Di depan Anda saat ini ada dua lembar kertas berisi soal-soal tentang pengetahuan umum. Silakan Anda kerjakan dengan baik. Waktu yang Kami berikan satu jam, dimulai dari sekarang...,” kata Hanako.
Para peserta test pun nampak mulai mengerjakan soal yang diberikan dengan serius. Hanako membaca lembaran soal yang tersisa di mejanya lalu tersenyum. Pertanyaan seperti itu juga pernah ia jumpai saat melamar kerja di tempat lain dulu.
Hanako kembali mengamati Ruli dan melihat sosok hitam tengah mengikutinya kemana pun ia pergi. Sosok hitam itu menoleh kearah Hanako lalu lenyap begitu saja. Hanako menghela nafas lega saat melihat Ruli tak lagi diikuti oleh makhluk halus itu.
Satu jam kemudian test tertulis pun berakhir. Para peserta test diminta menunggu hasilnya. Setelah usai jam makan siang para peserta test dikumpulkan di ruangan yang sama untuk mendengar pengumuman. Mereka yang lulus test tertulis masih harus menjalani interview di ruangan yang berbeda.
Di dalam ruangan interview terdapat tiga meja dan dua diantaranya ditempati Iyaz dan Izar. Para peserta yang lulus test pertama pun dipanggil bergantian.
Iyaz menghadapi seorang peserta test wanita bernama Nuara, seorang gadis cantik berhijab yang baru saja lulus kuliah dan belum memiliki pengalaman kerja. Saat melihat bio data gadis itu Iyaz pun tertarik. Apalagi gadis itu menjawab pertanyaan Iyaz dengan tegas dan lancar.
“ Nama Anda...?” tanya Iyaz.
“ Nuara Adam Pak...,” sahut Naura.
“ Di sini dikatakan Anda baru saja lulus dari kuliah, apa itu benar...?” tanya Iyaz sambil menatap kertas berisi bio data Nuara.
“ Betul. Saya lulusan Fakultas Ekonomi tahun ini Pak...,” sahut Nuara lagi.
“ Tapi Anda belum punya pengalaman kerja. Bagaimana Kami yakin Anda bisa bekerja dengan baik...?” tanya Iyaz.
Untuk sejenak Nuara terdiam. Ia nampak bingung menjawab pertanyaan Iyaz. Karena tak juga mendapat jawaban, Iyaz pun menatap Nuara dan melihat gadis itu tengah kebingungan.
“ Bagaimana...?” tanya Iyaz.
“ Mmm..., Saya memang belum punya pengalaman kerja Pak. Tapi jika Saya diberi kesempatan, insya Allah Saya akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini...,” sahut Nuara ragu.
Untuk sejenak Iyaz terdiam karena jawaban Nuara membuatnya kagum. Iyaz pun tersenyum lalu mempersilakan Nuara keluar dari ruangan. Nuara nampak sedikit kecewa karena merasa jawabannya tak sesuai dengan apa yang diharapkan pria di depannya.
__ADS_1
\=====