
Suraj bangun dengan tubuh sakit dan mata bengkak. Nampaknya dia sedikit demam akibat luka cekikan di leher juga luka-luka kecil yang menyebar di kaki dan tangannya itu. Saat menoleh kearah cermin Suraj pun terkejut melihat pantulan wajahnya yang nampak mengenaskan. Kemudian Suraj memutuskan tak akan pergi ke kantor hari ini.
“ Ga mungkin Aku pergi dengan kondisi kacau kaya gini...,” gumam Suraj sambil meraih ponselnya.
Setelah berdering beberapa kali Suraj mendengar suara Viona di seberang sana.
“ Saya ga bisa masuk kantor hari ini. Tolong Kamu selesaikan tugas yang kemarin...,” kata Suraj to the point.
“ Baik Pak...,” sahut Viona sambil menahan senyum bahagianya.
“ Tolong print juga file yang di meja biar Saya cek di rumah aja...,” kata Suraj lagi.
“ Baik Pak, ada lagi...?” tanya Viona.
“ Ga ada. Ingat Viona, Saya memang ga bisa mengawasi Kalian hari ini. Tapi indra ke enam Saya bisa mencium rencana buruk Kalian...,” kata Suraj di akhir kalimatnya.
Viona menatap layar ponselnya dengan bingung karena tak mengerti dengan ucapan Suraj tadi. Namun sesaat
kemudian Viona tersenyum lebar bahkan tertawa puas sambil berputar-putar di kamarnya.
“ Ya Allah lega banget rasanya tau dia ga masuk kerja hari ini. Kayanya Gue sumpahin aja ya biar sakitnya lebih lama, pasti seru tuh. Ga usah lama-lama lah, tiga hari juga cukup...,” gumam Viona sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
Tapi Viona tak melakukan itu. Ia bergegas masuk ke kamar mandi karena teringat ancaman Suraj tadi.
\=====
Hanako memutuskan menceritakan apa yang dialaminya kepada Faiq dan Fatur. Saat itu mereka mampir ke rumah Fatur sebelum berangkat bekerja. Mendengar cerita itu mereka saling menatap sekilas dan itu membuat Hanako merasa tak nyaman.
“ Keliatannya mimpimu dengan apa yang Kamu alami di kantor itu saling berkaitan Ci...,” kata Faiq.
“ Maksud Papa...?” tanya Hanako tak mengerti.
“ Coba Kamu ingat-ingat wajah perempuan dalam mimpimu itu. Papa yakin dia pasti sama dengan hantu wanita yang selalu mengikuti Viona...,” sahut Faiq.
Hanako tersentak saat teringat dengan mimpinya itu. Minggu lalu Hanako memang menceritakan mimpinya itu kepada Faiq melalui telephon karena merasa tak nyaman dengan penampakan makhluk setengah banteng itu. Setelahnya Hanako melupakan begitu saja mimpi itu karena disibukkan dengan pekerjaan termasuk sibuk menghindari Suraj.
“ Papa bener, kenapa Aku ga kepikiran ya...,” gumam Hanako.
“ Siapa namanya...?” tanya Fatur.
“ Katrina...,” sahut Hanako cepat.
Tiba-tiba ponsel Hanako berdering. Saat melihat nama Viona di layar ponselnya, Hanako mengerutkan kening karena merasa sedikit aneh dihubungi Viona di luar jam kerja.
“ Assalamualaikum Bu...,” sapa Hanako.
“ Wa alaikumsalam Hanako. Ada kabar bagus lho...,” sahut Viona.
__ADS_1
“ Kabar bagus apa Bu...?” tanya Hanako antusias.
“ Pak Suraj hari ini ga masuk kerja karena sakit. Kamu paham kan apa maksud Saya...?” tanya Viona.
“ Iya Bu, Saya paham. Makasih infonya ya Bu...,”sahut Hanako.
“ Sama-sama. Tapi Kita tetap harus profesional ya. Masuk kerja dan pulang kerja seperti biasa walau pun Pak Suraj ga di tempat...,” kata Viona mengingatkan.
“ Siap Bu, Saya mengerti...,” sahut Hanako di akhir kalimatnya.
“ Ada apa Nak...?” tanya Fatur.
“ Pak Suraj hari ini ga ke kantor Opa, kata Bu Viona sih lagi sakit...,” sahut Hanako dengan wajah berbinar.
“ Keliatannya Kamu seneng banget tau atasanmu itu ga masuk kantor Ci...,” gurau Faiq sambil meneguk kopinya.
“ Pasti dong Pa. Tiap hari diawasin sama orang kaya dia bikin Aku gerah. Kalo ga inget pesen Ayah supaya bantuin hantu Katrina dulu rasanya Aku mau cepat resign aja...,” sahut Hanako kesal.
“ Kita ke sana sekarang sekalian nganterin Cici ya Nak...,” kata Fatur sambil menatap Faiq.
“ Siap Om. Ayo Ci...,” sahut Faiq sambil bangkit dari duduknya.
“ Ok Pa...,” sahut Hanako antusias sambil melangkah ke dapur menemui Bilqis untuk berpamitan.
\=====
“ Apa Om liat itu...?” tanya Faiq sambil menoleh kearah Fatur.
“ Iya...,” sahut Fatur santai.
“ Opa sama Papa kok turun juga. Emangnya mau ikut Aku ke lantai atas...?” tanya Hanako.
“ Iya. Mumpung udah sampe sini jadi sekalian aja Ci...,” sahut Faiq hingga membuat Hanako tersenyum.
Kemudian Hanako membawa Fatur dan Faiq masuk ke dalam gedung. Saat berdiri di depan lift mereka berpapasan dengan hantu wanita cantik yang tak lain adalah Katrina itu. Hanako tersenyum kearah hantu Katrina lalu memperkenalkan Faiq dan Fatur.
“ Ini Papa dan Opaku yang juga bakal bantuin Kamu...,” kata Hanako bangga.
“ Wah keluarga indigo rupanya. Apa kabar Om..., Opa...,” kata hantu Katrina ramah.
“ Alhamdulillah baik...,” sahut Fatur dan Faiq bersamaan sambil tersenyum.
“ Apa Bu Viona udah datang...?” tanya Hanako.
“ Belum. Ga biasanya dia telat kaya gini. Dia kan paling takut sama laki-laki itu...,” sahut hantu Katrina.
“ Tapi yang dia takutin hari ini ga masuk kerja kok...,” kata Hanako.
__ADS_1
“ Oh ya, pantesan dia berani datang lebih siang dari biasanya...,” sahut hantu Katrina sambil menggelengkan kepalanya.
“ Aku naik duluan ya...,” pamit Hanako yang diangguki hantu Katrina.
Hanako, Faiq dan Fatur masuk ke dalam lift menuju lantai empat belas. Saat tiba di lantai empat belas Hanako langsung meminta Faiq dan Fatur menunggu di ruang tunggu setelah sebelumnya melapor pada receptionist.
“ Bapak-bapak ini mau ketemu sama Bu Viona Mbak Hes...,” kata Hanako.
“ Oh boleh. Tapi Bu Viona belum datang kayanya Mbak...,” sahut receptionist.
“ Gapapa, biar nunggu aja di sana ya...,” kata Hanako.
“ Baik Mbak. Bisa tolong isi buku tamu dulu ya Mbak...,” kata Hesti.
“ Ok...,” sahut Hanako lalu mulai mengisi buku tamu.
“ Oh mereka familinya Mbak Hanako ya...,” kata Hesti saat membaca hubungan kedua tamu itu dengan Hanako.
“ Iya Mbak. Itu Papa dan Opa Saya...,” sahut Hanako sambil tersenyum.
Setelah mengisi buku tamu, Hanako menghampiri Faiq dan Fatur lalu duduk bersama mereka.
“ Apa Viona tau kalo bakal ketemu sama Kami Nak...?” tanya Faiq.
“ Belum Pa. Tapi Aku yakin Bu Viona pasti senang ketemu Papa sama Opa. Apalagi kalo dia tau Papa sama Opa mau ngebantuin Kami di sini...,” sahut Hanako sambil tersenyum.
Sesaat kemudian Viona tiba dan langkahnya terhenti saat Hesti memberi tahu jika ada dua orang tamu yang menunggunya. Seperti biasa hantu Katrina ada di belakangnya dan mengikutinya kemana pun Viona pergi.
“ Tamu buat Saya, siapa...?” tanya Viona.
“ Di sana Bu, katanya familinya Mbak Hanako...,” sahut Hesti sambil menunjuk kearah ruang tunggu yang terletak tak jauh dari meja receptionist.
“ Ok, makasih ya Hes...,” kata Viona sambil bergegas melangkah ke ruang tunggu.
Viona menyipitkan matanya saat melihat Faiq dan Fatur karena yakin belum pernah bertemu sebelumnya.
“ Hanako...,” panggil Viona hingga membuat Hanako menoleh.
“ Alhamdulillah Ibu udah datang. Oh iya, kenalin ini Papa Faiq dan Opa Fatur. Mereka keluarga Saya dan tujuan mereka datang ke sini untuk membantu Kita Bu...,” kata Hanako.
“ Membantu Kita...?” tanya Viona tak mengerti.
“ Iya...,” sahut Hanako cepat.
Viona pun tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada karena yakin jika dua orang pria di hadapannya pasti bersikap sama dengan Hanako saat menghadapi lawan jenis.
Kemudian Hanako mulai menceritakan maksud dan tujuan kedatangan Faiq dan Fatur pada viona dengan cepat. Viona nampak mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
\=====