Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
173. Mulai Dari Nol


__ADS_3

Hanako mulai mencari pekerjaan baru usai resign dari pekerjaannya di kantor itu. Viona, Laras dan Fera sempat tak percaya jika Hanako memutuskan resign saat pergantian Manager. Namun mereka mengerti dan memaklumi keputusan Hanako.


“ Kita masih bisa hang out bareng kan Hana...,” kata Laras.


“ Insya Allah bisa dong Ras. Asal Lo ga ngajakin hang out pas jam kerja ya...,” sahut Hanako.


“ Ish, mana bisa kaya gitu sih. Yang pasti hang out tuh pas hari libur atau weekend gitu lah...,” kata Laras sambil membulatkan mata.


“ Emang Lo udah dapat kerjaan baru ya Han...?” tanya Fera.


“ Belum sih. Tapi gapapa kok, Gue bakal tetap usaha nyari kerja lagi...,” sahut Hanako.


“ Harusnya Kamu jangan resign dulu Hanako. Kamu cari kerja dulu, udah yakin diterima, baru deh resign. Kalo kaya gini kan artinya Kamu mulai dari nol lagi dong...,” kata Viona.


“ Betul tuh kata Bu Viona...,” sahut Fera dan Laras bersamaan.


Hanako hanya tersenyum tanpa menjawab. Begitu banyak tekanan jika ia harus bertahan di sana, dan ia tak mau berada lebih lama lagi di sana. Seolah kehabisan kata untuk membujuk, akhirnya Viona, Fera dan Laras harus merelakan Hanako pergi.


\=====


Sebuah mobil nampak berhenti karena kehabisan bahan bakar di pinggir jalan yang sepi. Jalan itu ramai di siang hari, namun saat malam hari seperti ini biasanya hanya satu atau dua kendaraan saja yang melintas. Sang pengemudi pun turun lalu menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sesuatu. Wajahnya terlihat cemas. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang. Nampaknya orang yang ia hubungi tak merespon panggilannya. Ia mencoba sekali lagi hingga ponselnya mati total karena kehabisan daya.


“ Sia*an. Pake mati segala sih ni HP. Duh kemana lagi nyari bensin di tempat sepi kaya gini...?” kata pria itu gusar sambil menatap ke sekelilingnya.


Kemudian pria itu meninggalkan mobilnya begitu saja lalu berjalan mencari SPBU terdekat atau pedagang bensin eceran yang biasanya ada di pinggir jalan. Belum lama berjalan, ia berpapasan dengan seorang pemulung.


“ Maaf Pak, kalo penjual bensin masih jauh ga ya...?” tanya pria itu.


“ Di sini ga ada Mas. Kalo ada juga masih jauh, sekitar satu kilo lagi dari sini...,” sahut sang pemulung.


“ Kalo SPBU...?” tanya pria itu lagi.


“ Ga ada Mas...,” sahut pemulung itu lagi.

__ADS_1


“ Oh gitu ya. Kalo gitu Bapak ambil ini ya...,” kata pria itu sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada pemulung itu.


“ Alhamdulillah..., makasih ya Mas. Semoga Mas cepet ketemu tukang bensin ya...,” kata pemulung itu sambil tersenyum.


“ Aamiin..., makasih Pak...,” sahut pria itu sambil melangkahkan kakinya meninggalkan pemulung itu.


Namun belum lama melangkah, pria itu terhenti karena melihat sebuah SPBU di pinggir jalan tak jauh dari tempatnya bertemu dengan pemulung tadi.


“ Lho, ini ada SPBU. Katanya tadi ga ada SPBU, gimana sih Bapak itu. Mungkin ini efek dari sedekah Gue tadi buat pemulung itu, makanya Allah langsung temuin Gue sama SPBU ini...,” gumam pria itu tersenyum sambil mengamati SPBU yang berdiri di hadapannya.


Tanpa menunda lagi, pria itu segera kembali ke tempat ia meninggalkan mobilnya dan mulai mendorong mobilnya perlahan menuju SPBU. Hampir dua ratus meter mendorong mobil, akhirnya pria itu pun tiba di gerbang SPBU. Pria itu pun meminta bantuan karyawan SPBU untuk membantunya mendorong mobilnya agar bisa tiba di depan mesin SPBU.


“ Tolong bantu Saya dorong mobil Saya ya Mas. Mobil Saya mogok kehabisan bahan bakar...,” pinta pria itu.


“ Baik Pak...,” sahut karyawan SPBU lalu bergegas membantu pria itu mendorong mobil.


Setelah mobil berada dekat dengan mesin SPBU, pria itu mengeluarkan uang untuk membayar bahan bakar yang ia perlukan.


“ Baik, mulai dari nol ya Pak...,” sahut karyawan SPBU lalu dengan sigap memenuhi permintaan pria itu.


Sambil menunggu kendaraannya selesai diisi, pria itu mengedarkan pandangannya ke penjuru SPBU itu. Suasana di tempat itu terlihat sepi meski pun terang benderang karena lampu yang menyala di segenap penjuru. Hanya ada dia dan kendaraan miliknya saja di sana dengan  satu orang karyawan yang melayani pembeli.


Tak jauh dari sana terdapat sebuah mini market yang juga terlihat sepi karena tak ada seorang pengunjung di dalamnya. Hanya ada seorang kasir yang berdiri di depan mesin hitung. Di samping mini market terlihat toilet yang pintunya tertutup. Dari sana terdengar suara air mengalir pertanda ada seseorang yang tengah berada di dalamnya.


“ Selesai Pak...,” kata karyawan SPBU sambil tersenyum.


“ Oh iya, ini uangnya. Ambil aja kembaliannya Mas...,” kata pria itu sambil membuka pintu mobil dan duduk di balik kemudi.


“ Baik, terima kasih Pak. hati-hati di jalan...,” sahut karyawan SPBU itu dengan santun yang diangguki pria itu.


Tak lama kemudian pria itu melajukan mobilnya meninggalkan SPBU yang membuatnya tak nyaman itu. Saat hendak keluar dari SPBU, pria itu sempat berhenti sejenak untuk mengamati SPBU di belakangnya melalui kaca spion. Alangkah terkejutnya pria itu saat melihat tak ada apa pun di belakangnya. SPBU yang semula terang benderang itu pun berganti lahan kosong yang dipenuhi bangunan rusak dan menghitam seolah pernah terbakar.


Pria itu menoleh untuk memastikan apa yang dilihatnya tadi hanya ilusi dan terkejut melihat kenyataan di depannya.

__ADS_1


“ Kemana SPBU tadi, apa Gue cuma mimpi. Tapi tadi ada kok...,” gumam pria itu dengan keringat dingin yang mulai membanjiri tubuh dan wajahnya.


Tiba-tiba sebuah suara seorang pria tanpa wujud terdengar di telinga pria itu, suara yang mirip rintihan kesakitan itu menyapa persis di telinga kiri pria itu.


“ Mulai dari nol ya Pak...,” kata suara tanpa wujud itu lirih.


Pria itu terkejut lalu refleks menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu tanpa mau menoleh lagi.


\=====


Di sebuah SPBU Hanako berhenti untuk membeli bahan bakar. Ia mengedarkan pandangannya karena merasa SPBU yang didatanginya sedikit aneh. Suasana di tempat itu terasa sepi meski pun berada di pinggir jalan yang ramai.


Semula Hanako ragu saat ingin mendatanginya, namun karena bahan bakar yang mulai menipis memaksa Hanako untuk singgah. Hanako menghentikan kendaraannya di samping mesin sambil menunggu petugas SPBU.


“ Aneh, masa tempat kaya gini ga ada yang jaga. Kemana petugas yang biasa melayani pembeli itu...?” tanya Hanako sambil mengedarkan pandangannya.


Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Hanako hingga membuatnya terlonjak kaget.


“ Mulai dari nol ya Mbak...,” kata karyawan SPBU berpakaian seragam itu dengan ramah tanpa menoleh kearah Hanako.


“ Eh, iya. Ngagetin aja sih Mas, nongol tiba-tiba kaya hantu aja...,” kata Hanako sambil menyerahkan uang untuk membayar bahan bakar yang dibelinya.


“ Ga usah bayar, hari ini gratis kok Mbak...,” kata karyawan SPBU itu sambil menunduk.


“ Gratis, serius Mas...?” tanya Hanako tak percaya.


“ Iya Mbak...,” sahut karyawan SPBU itu.


“ Alhamdulillah...,” kata Hanako sambil tersenyum senang.


Setelahnya Hanako kembali bersiap menstarter motornya namun ia urungkan saat ia melihat hal yang aneh pada penampilan karyawan SPBU di hadapannya itu. Karyawan di hadapannya itu selalu menunduk dan tak berani menatapnya. Baju seragam yang dipakainya juga dipenuhi noda hitam seperti bekas tebakar. Kulit tangannya juga terlihat menghitam dan itu membuat Hanako yakin jika karyawan SPBU di hadapannya bukan manusia seperti dirinya.


\=====

__ADS_1


__ADS_2