
Keesokan harinya Nuara pun berangkat bekerja seperti biasa. Saat tiba di kantor Nuara pun menunggu Iyaz beberapa saat di loby. Namun saat menyadari jika yang ia lakukan malah akan menimbulkan kesan buruk, Nuara pun membatalkan niatnya itu.
Nuara pun melangkah menuju lift lalu antri di depan lift bersama karyawan lain. Nuara memilih masuk ke dalam
lift saat situasi ramai agar ia tak harus mendengar suara hantu wanita itu lagi. Namun Nuara mengurungkan niatnya masuk ke dalam lift saat ia melihat hantu wanita itu ada di dalam lift dan tengah menatap kearahnya.
“ Ayo Nuara, masih cukup kok. Alarmnya juga belum bunyi...,” ajak salah satu karyawan.
“ Kalian duluan aja, Saya mau keluar sebentar...,” sahut Nuara sambil melangkah mundur.
“ Kalo gitu Aku aja yang masuk ya Ra...,” kata karyawati bernama Nia yang kemarin menemani Nuara.
“ Iya gapapa Ni...,” sahut Nuara sambil tersenyum.
Pintu lift pun tertutup meninggalkan Nuara yang berdiri gelisah di depan lift. Berkali-kali Nuara melihat jam di pergelangan tangannya. Nuara hampir menangis karena ia tak ingin terlambat saat masih dalam masa training.
“ Ya Allah gimana ini. Aku ga mau terlambat tapi Aku juga takut sama hantu itu. Tolong hambaMu ini ya Allah...,” gumam Nuara sambil mengusap wajahnya perlahan.
Tiba-tiba suara teguran mengejutkan Nuara.
“ Kenapa masih berdiri di sini Nuara. Apa Kamu ga tau kalo ini udah waktunya mulai bekerja...?” tanya Iyaz dari belakang Nuara.
“ Alhamdulillah...,” sahut Nuara.
Mendengar jawaban Nuara membuat Iyaz dan Izar mengerutkan kening karena bingung. Namun sesaat kemudian mereka saling menatap kemudian mengangguk karena mengerti apa yang terjadi.
“ Kenapa malah berhamdalah Nuara...?” tanya Izar pura-pura tak tahu.
“ Mmm..., itu Pak. Maaf sebelumnya, apa Saya bisa bicara sebentar...?” tanya Nuara sambil menoleh ke kana dan ke kiri karena tak enak hati.
“ Silakan, sama siapa, Saya atau Iyaz...?” tanya Izar.
“ Sama Bapak berdua aja sekalian, biar ga ada fitnah...,” sahut Nuara malu-malu.
Iyaz dan Izar mengangguk. Lalu mereka mengajak Nuara ke loby dan bicara di sana. Saat itu loby mulai sepi karena jam kerja sudah mulai. Mereka bertiga duduk berhadapan di sofa dan Nuara mulai bicara.
__ADS_1
“ Saya mau ngucapin terima kasih sekali lagi atas bantuan Pak Iyaz kemarin...,” kata Nuara membuka percakapan.
“ Sama-sama, itu hal sederhana Nuara. Saya pasti akan lakukan hal yang sama pada karyawan lain...,” sahut Iyaz yang membuat Nuara salah tingkah dan malu.
“ Saya paham Pak. Saya juga ga merasa Saya istimewa kok. Saya lakukan ini karena orangtua Saya yang minta Saya ngucapin terima kasih sekali lagi atas bantuan Pak Iyaz...,” kata Nuara untuk menegaskan jika dirinya tak merasa diistimewakan dengan perlakuan Iyaz padanya.
Wajah Nuara pun nampak merona karena menahan malu dan kesal. Namun saat ia teringat sosok hantu yang terus mengikutinya, Nuara pun terpaksa menahan diri.
Izar menoleh kearah Iyaz dengan sebal. Harusnya Iyaz bisa memanfaatkan moment itu untuk lebih mendekatkan diri dengan Nuara dan bukan sebaliknya. Merasa jika kembarannya melakukan hal bodoh yang membuat Nuara tak nyaman, Izar pun segera menengahi.
“ Ehm, jadi Kamu hanya mau bilang terima kasih aja Nuara. Harusnya kan bisa langsung Kamu bilang tadi...,” kata
Izar mengingatkan.
“ Maaf Pak. Tapi orangtua Saya nyuruh supaya Saya minta bantuan Pak Iyaz juga...,” sahut Nuara tak enak hati.
“ Orangtua Kamu lagi. Emangnya mereka nyuruh apa selain terima kasih...?” tanya Iyaz sambil menahan tawa saat melihat gadis di hadapannya mulai gugup.
Nuara termenung sejenak. Ia terlihat ragu. Nuara pun menoleh kearah lift dan lagi-lagi ia melihat penampakan hantu wanita yang mengikutinya itu sedang berdiri di depan pintu lift. Nuara pun mulai panik. Iyaz dan Izar mengikuti arah pandang Nuara dan melihat hantu Nadifa tengah berdiri di depan lift sambil menatap Nuara lekat. Keduanya mengerti dan maklum apa yang akan diucapkan Nuara.
Nuara.
“ Ngikutin Kamu...?” tanya Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Iya Pak...,” sahut Nuara kemudian menceritakan apa yang dialaminya di rumah kemarin malam.
Iyaz dan Izar menghela nafas panjang. Mereka pun mengangguk tanda mengerti.
“ Insya allah Kami akan bantu Kamu. Tapi Kita bahas itu nanti ya, sekarang sebaiknya Kamu ke lantai tujuh untuk kerja...,” kata Iyaz.
“ Saya takut Pak. Hantu itu nungguin Saya di sana, Saya ga mau kerasukan kaya kemarin lagi...,” sahut Nuara sambil menggelengkan kepala.
“ Biar Kami temani, kebetulan Kami juga ada perlu sama Bu Hanako...,” kata Iyaz.
“ Baik, makasih Pak...,” sahut Nuara sambil tersenyum.
__ADS_1
“ Udah Nuara, kenapa Kamu bilang terima kasih terus daritadi. Kuping Saya jadi gatel nih...,” kata Iyaz tak suka.
“ Iya, maaf Pak...,” sahut Nuara hingga membuat Iyaz menepuk dahinya.
Izar pun tertawa sedangkan Nuara nampak bingung. Kemudian ketiganya menyudahi pembicaraan mereka dan melangkah menuju lift. Nuara berjalan di samping Iyaz sambil memeluk tasnya dengan erat. Jika tak ingat mereka bukan muhrim, rasanya Nuara ingin memeluk Iyaz saking takutnya.
Iyaz pun tahu jika Nuara sangat ketakutan saat hantu Nadifa terus menatapnya seolah ingin menyampaikan sesuatu. Karena iba pada Nuara, akhirnya Iyaz pun menegur Nadifa saat ketiganya berada di dalam lift.
“ Jangan lakukan itu lagi. Kau justru menakutinya...,” kata Iyaz.
“ Aku hanya ingin menyampaikan pesan untuknya...,” sahut hantu Nadifa.
“ Aku mengerti. Tapi bukannya Kamu minta bantuanku kemarin...?” tanya Iyaz.
“ Iya...,” sahut hantu Nadifa.
“ Kalo Kamu mau Aku bantu harusnya Kamu mengikuti caraku dan menuruti permintaanku supaya menjauhi Naura dan ga mengganggunya...,” kata Iyaz.
“ Aku kangen sama Nuara. Bagaimana pun dia kembaranku. Walau Kami hanya sempat dekat beberapa waktu sebelum Aku meninggal, tapi Aku bahagia dan ingin mengulang semuanya lagi...,” sahut hantu Nadifa sedih.
Nuara yang mendengar ucapan Iyaz pun bergidik ngeri. Walau ia tak tahu apa yang dibicarakan Iyaz dengan hantu wanita itu, namun jawaban Iyaz membuat Nuara mengerti jika hantu wanita itu menolak permintaan Iyaz untuk menjauhinya.
Melihat Izar yang berdiri dengan tenang di samping Iyaz membuat Nuara tersenyum diam-diam. Izar melirik sekilas
kearah Nuara lalu kembali menatap ke depan.
Saat pintu lift terbuka, Iyaz menahan pintu dan mempersilakan Nuara keluar dari lift. Nuara pun mengangguk sambil mengucapkan terima kasih sekali lagi dengan suara lirih hingga membuat kedua mata Iyaz kembali membulat tanda tak suka.
Melihat tingkah saudara kembarnya itu Izar pun tertawa. Sedangkan Nuara nampak tersenyum lalu melangkah cepat meninggalkan Iyaz dan Izar yang memilih melanjutkan naik ke atap gedung dengan lift.
" Sepagi ini udah denger kata terima kasih beberapa kali dari orang yang sama itu menyebalkan rasanya...," kata Iyaz.
" Kamu harus terbiasa Yaz karena keliatannya Nuara bakal sering ngucapin itu nanti...," sahut Izar sambil tertawa.
Iyaz pun menggedikkan bahunya dengan enggan.Sesaat kemudian lift tiba di bagian teratas gedung, Iyaz dan Izar pun keluar diikuti hantu Nadifa. Keduanya melangkah keluar dari lift lalu berdiri di samping pagar pembatas sambil mengamati lalu lalang kendaraan di bawah sana. Mereka sengaja memilih tempat itu karena ingin menelusuri penyebab kematian Nadifa tanpa menarik perhatian karyawan lain.
__ADS_1
\=====