
Setelah selesai mengunjungi Reno di kamarnya, Qiana dan kedua orangtuanya pun pamit undur diri. Izar mengantar Qiana dan kedua orangtuanya hingga ke parkiran Rumah Sakit sedangkan Iyaz menemani Reno di kamar rawat inap.
Saat berjalan berdampingan dengan Qiana, gadis itu sempat melihat lengan Izar yang dibalut perban. Qiana tahu
jika tulang lengan Izar retak karena dihantam besi oleh mami Oce. Dalam hati Qiana merasa bersalah karena telah membuat Izar terluka.
“ Apa tangannya masih sakit Mas...?” tanya Qiana mencoba membuka percakapan.
Qiana melakukan itu untuk mencairkan suasana yang tegang usai orangtuanya ‘mengundang’ Reno untuk datang
ke rumah mereka. Mendengar pertanyaan Qiana membuat Izar tersentuh. Ia menoleh kearah Qiana dan tatapan mereka pun kembali bertemu. Lagi-lagi Qiana mengalihkan tatapannya kearah lain.
“ Alhamdulillah udah baikan...,” sahut Izar sambil tersenyum.
“ Maaf ya Mas. Gara-gara Aku tanganmu jadi terluka...,” kata Qiana dengan nada menyesal.
“ Gapapa Qi. Ini mah cuma luka kecil. Kamu jangan ngerasa bersalah gitu dong. Ini karena Aku yang ga hati-hati makanya bisa kepukul...,” sahut Izar yang diangguki Qiana.
“ Kapan gipsnya bisa dilepas Mas...?” tanya Qiana.
“ Belum tau. Emangnya Kamu mau nemenin kalo gipsnya dilepas...?” pancing Izar yang yakin Qiana akan menolaknya.
“ Aku mau. Kabarin ya kalo emang gipsnya mau dilepas...,” sahut Qiana hingga membuat Izar terkejut sekaligus senang.
“ Kamu serius...?” tanya Izar sambil menghentikan langkahnya diikuti Qiana.
“ Serius lah. Emangnya Aku keliatan lagi main-main...,” sahut Qiana cepat hingga membuat Izar tersenyum.
“ Ok...,” sahut Izar.
Kemudian keduanya kembali melangkah menyusuri koridor Rumah Sakit. Di depan sana kedua orangtua Qiana nampak berhenti menunggu Izar dan Qiana yang jauh tertinggal.
“ Kenapa berhenti Mi...?” tanya Qiana.
“ Ummi sama Abi mau jenguk Pak Nasrul di lantai dua Qi...,” sahut ummi Qiana.
“ Pak Nasrul sakit ?. Ummi tau darimana kalo Pak Nasrul sakit dan dirawat di sini...?” tanya Qiana gusar.
“ Tadi ketemu sama Arifin di dekat lift. Dia yang bilang kalo Ayahnya sakit dan dirawat di sini. Gimana, Kamu mau ikut ga...?” tanya ummi Qiana lagi.
“ Ga deh. Aku tunggu di sini aja ya Mi...,” sahut Qiana dengan enggan.
“ Kalo Qiana ga mau ya ga usah dipaksa Mi. Biar aja dia di sini, kan ada Mas Izar yang nemenin. Iya kan Mas Izar...?” tanya abi Qiana sambil menatap Izar.
__ADS_1
“ Iya Pak. Saya bakal nemenin Qiana sampe Bapak dan Ibu selesai menjenguk...,” sahut Izar sambil tersenyum.
“ Ya udah deh. Kalo Qiana ga mau ikut, Ummi bisa bilang apa...,” kata ummi Qiana pasrah.
Kemudian kedua orangtua Qiana meninggalkan Izar dan Qiana untuk menjenguk kerabat mereka itu.
“ Kenapa Kamu ga mau ikut jenguk Qi...?” tanya Izar.
“ Gapapa, males aja...,” sahut Qiana.
“ Males kenapa...?” tanya Izar tak mengerti.
“ Mmm..., dulu Ummi sama Abi sempet jodohin Aku sama anaknya Pak Nasrul yang namanya Arifin itu Mas. Makanya Aku ga enak kalo ketemu sama dia. Khawatir dijodohin lagi, apalagi keluarganya pasti ngumpul semua sekarang. Ntar kalo Aku ikut menjenguk, disangkanya ngasih perhatian sama keluarganya...,” sahut Qiana salah tingkah.
“ Oh jadi males ketemu mantan ya...,” gumam Izar yang masih bisa didengar oleh Qiana.
“ Bukan mantan Mas. Aku sama Arifin itu ga pernah punya hubungan apa-apa kok. Itu kan cuma omongan kedua orangtua aja...,” kata Qiana gusar karena tak ingin Izar salah paham.
Mendengar ucapan Qiana membuat Izar hampir tertawa. Namun diam-diam Izar mulai khawatir Qiana berpaling
darinya mengingat begitu banyak pria yang menyapa hati gadis itu.
Kemudian Izar dan Qiana memutuskan pergi ke kantin Rumah Sakit sambil menunggu kedua orangtua Qiana selesai menjenguk kerabatnya itu.
“ Ga mungkin Mas...,” sahut Qiana cepat.
“ Kok ga mungkin. Reno itu cowok Qi. Dikasih harapan sama orangtuamu kaya gitu pasti dia senang lah...,” kata Izar sambil menatap Qiana lekat.
“ Abi sama Ummi kan cuma basa-basi Mas. Aku yakin mereka juga ga mau Reno deketin Aku apalagi kalo inget dia
pernah hampir melecehkan Aku dulu...,” sahut Qiana sambil balas menatap Izar.
“ Gitu ya. Tapi Aku ga nyaman sama tawaran mereka tadi Qi...,” kata Izar gusar hingga membuat Qiana tersenyum.
“ Ga nyaman kenapa. Jangan bilang Mas Izar cemburu ya sama Reno...,” kata Qiana hati-hati.
Izar terdiam lalu meneguk kopinya perlahan. Dan itu membuat Qiana salah tingkah karena merasa telah salah bicara. Qiana mengalihkan tatapannya kearah lain karena tak nyaman dengan sikap diam Izar.
“ Kalo Aku emang cemburu gimana Qi...?” tanya Izar tiba-tiba hingga mengejutkan Qiana.
“ Mas Izar cemburu sama Reno...?” tanya Qiana tak percaya.
“ Bukan sama Reno aja. Tapi sama semua laki-laki yang mencoba deketin Kamu dan nyari perhatian Kamu Qi...,” sahut Izar tegas.
__ADS_1
“ Maksud Mas Izar...?” tanya Qiana dengan jantung yang berdebar lebih cepat.
“ Aku sayang sama Kamu Qiana. Aku ga mau Kamu deket sama cowok lain. Aku ga suka dan ga rela...,” sahut Izar
sambil menatap Qiana lekat.
Qiana terdiam sambil mengerjapkan matanya. Ia tak menyangka akan mendengar pengakuan Izar hari ini. Pengakuan yang telah lama ia nantikan.
Sejak Izar meminta agar Qiana memberinya kesempatan untuk mengejarnya seperti pria lain yang mencoba
mendekatinya, sejak saat itu lah Qiana berharap Izar segera menyatakan perasaannya. Qiana sengaja mengunci hatinya untuk pria lain karena ingin Izar lah yang menghuninya nanti.
“ Qiana...,” panggil Izar.
“ I, iya Mas...,” sahut Qiana gugup.
“ Kamu denger kan apa yang Aku bilang tadi...?” tanya Izar.
“ Iya, Aku denger Mas. Terus maksud Mas Izar gimana ya...?” tanya Qiana bingung.
Izar tersenyum lalu mendekatkan wajahnya kearah Qiana hingga tubuh gadis itu menegang. Kemudian Izar mengatakan sesuatu yang membuat Qiana membulatkan matanya karena terkejut.
“ Kita nikah yuk Qi...,” kata Izar dengan tatapan yang dalam dan mimik wajah serius.
Qiana terpaku sesaat. Ia balas menatap kedua mata Izar seolah sedang mencari sesuatu. Posisi wajah mereka yang sangat dekat membuat jantung keduanya berpacu cepat hingga detaknya pun terdengar ke telinga masing-masing.
“ Mmm..., Mas Izar ngomong apaan sih. Jangan bercanda ya Mas...,” kata Qiana sambil mengalihkan tatapannya kearah lain dengan wajah merona.
“ Aku serius Qi. Kita nikah yuk. Kamu mau ga...?” tanya Izar sambil menyentuh jemari Qiana lalu menggenggamnya erat.
Saat itu Izar bisa merasakan jemari Qiana yang dingin dan bergetar. Izar yakin jika Qiana juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Karenanya Izar tak ingin lagi membiarkan pria lain masuk dan menggoyahkan hati Qiana hingga Izar memberanikan diri melamar Qiana saat itu juga.
Qiana merasakan genggaman tangan Izar yang makin erat. Ia kembali menatap Izar dan melihat keseriusan di kedua mata pria itu. Untuk sesaat keduanya saling menatap seolah mencoba menyelami hati lawan bicaranya. Perlahan Qiana mengangguk.
“ Iya, Aku mau nikah sama Kamu Mas...,” sahut Qiana lirih namun terdengar jelas di telinga Izar.
“ Alhamdulillah..., makasih Qiana...,” kata Izar dengan wajah berbinar.
“ Alhamdulillah, sama-sama Mas Izar...,” sahut Qiana dengan mata berkaca-kaca.
Kemudian Izar dan Qiana tertawa bersama dengan tangan yang saling menggenggam erat. Tanpa mereka sadari, Iyaz dan kedua orangtua Qiana juga ada di sana dan mendengar pernyataan Izar dan Qiana tadi.
\=====
__ADS_1