Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
202. Tumbal Pesugihan?


__ADS_3

Setelah ledakan yang memekakkan telinga usai, terlihat warga bergelimpangan di tanah sambil memegangi anggota tubuhnya yang terluka. Sedangkan rumah dimana ledakan terjadi pun terlihat kobaran api. Rumah itu pun  terbakar dan itu membuat semua orang yang ada di sana panik dan berhamburan menjauh dari pohon dan rumah itu.


Tak lama kemudian security proyek pun datang dan mengamankan keadaan. Warga yang terluka pun dengan cepat dibantu menyingkir dari sana.


“ Lapor Polisi dan panggil pemadam kebakaran segera ya Pak...!” perintah Izar.


“ Siap Pak...,” sahut security proyek.


“ Jangan lapor Polisi, jangan...!” kata beberapa warga yang terluka hingga membuat security bingung.


“ Lapor aja, perusahaan ga mau nanggung kesalahan dan berurusan sama Polisi nanti. Kalo ternyata tempat itu adalah tempat yang berbahaya gimana...?” kata Izar memberi penjelasan.


Sang security mengangguk lalu segera menghubungi polisi setelah sebelumnya menghubungi pemadam kebakaran. Sementara warga nampak terlihat gusar dan itu membuat semua orang curiga.


“ Kayanya emang ada sesuatu yang disembunyiin sama mereka Zar...,” bisik Iyaz.


“ Iya Yaz. Kita liat aja gimana reaksi mereka saat Polisi datang nanti...,” sahut Izar yang diangguki Iyaz dan Hanako.


Setengah jam kemudian Polisi datang dan langsung mengamankan lokasi ledakan. Pemadam kebakaran yang tiba lebih dulu nampak tengah melaksanakan tugasnya memadamkan api yang juga mulai melahap pohon besar yang selama ini dikeramatkan oleh warga itu.


Warga yang semula berkerumun itu pun nampak membubarkan diri satu per satu. Tak ada warga satu pun yang tersisa hingga polisi sedikit kesulitan menggali informasi.


\=====


Di salah satu rumah warga yang tak jauh dari lokasi ledakan nampak beberapa pria dewasa tengah berkumpul. Nampaknya mereka tengah membahas ledakan tadi dan sedang menyusun rencana untuk ‘menyamakan’ jawaban jika suatu waktu ditanyai polisi.


“ Tapi kenapa rumah Mbah Lapuk bisa meledak ya Pak. Sebenarnya ada apa di dalam rumah itu...?” tanya salah seorang warga.


“ Saya juga ga tau Pak. Anaknya Mbah Lapuk ngelarang untuk membuka rumah itu...,” sahut ketua RT.


“ Tapi kalo udah meledak dan membahayakan warga kaya gitu apa Pak RT juga ga mau menghubungi dia...?” tanya salah seorang warga.


“ Saya udah menghubungi dia tadi. Katanya dia ke sini ntar...,” sahut ketua RT.


“ Jadi Kita jawab apa kalo ditanya Polisi nanti Pak...?” tanya warga.


“ Ga ada, Kita emang ga tau apa-apa soal ledakan di rumah itu. Kita hanya tau kalo mau solusi dari masalah Kita,

__ADS_1


ya letakkan saja sesaji di sana. Maka masalah Kita pun selesai. Bukan begitu Bapak-bapak...?” tanya ketua RT sambil tersenyum penuh makna.


“ Betul Pak Rt...,” sahut warga bersamaan.


Sementara itu polisi menemukan hal yang yang mengejutkan di dalam rumah. Banyak bubuk mesiu dan tumpukan kertas koran yang diduga sebagai bahan pembuat petasan ditemukan di rumah itu. Beruntung hanya satu peti saja yang meledak itu pun letaknya jauh dari tumpukan peti lainnya sehingga tak menimbulkan ledakan yang lebih besar lagi.


Jika polisi menemukan bubuk mesiu, tapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Iyaz, Izar dan Hanako. Mereka


melihat penampakan hantu seorang pria tua tengah berdiri di dekat pohon yang telah terbakar sambil menyaksikan kehancuran rumahnya. Dan di belakangnya juga terlihat beberapa arwah yang juga terlihat mengenaskan. Namun nampaknya mereka ada dalam kekuasaan makhluk tak kasat mata karena mereka tak bisa kemana-mana seolah terperangkap di sana.


“ Itu siapa ya Yaz...?” tanya Hanako.


“ Keliatannya dia pemilik rumah itu Ci. Mungkin dia ga suka rumahnya dijadiin tempat menyimpan bubuk pembuat petasan...,” sahut Iyaz yang diangguki Hanako.


Tak lama kemudian seorang pria nampak mendatangi rumah itu dan langsung diringkus oleh polisi. Rupanya dia


adalah anak pemilik rumah sekaligus pemilik bubuk mesiu itu. Pria bernama Subandi itu tak berkutik saat polisi meringkusnya. Polisi mencurigai Subandi terlibat dengan aksi terroris dan langsung membawanya ke kantor polisi untuk diinterogasi.


Iyaz, Izar dan Hanako menoleh saat mendengar jeritan histeris dari para arwah yang tersandera itu. Rupanya sebuah bayangan hitam membawa mereka pergi entah kemana.


“ Insya Allah bisa, tapi ga sekarang ya Ci...,” sahut Izar.


“ Betul, terlalu riskan kalo Kita beraksi sekarang...,” kata Iyaz.


“ Tapi kasian mereka...,” kata Hanako.


“ Gapapa, cuma sebentar aja kok. Insya Allah ntar malam Kita balik lagi ke sini...,” sahut Izar lagi.


Hanako pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


\=====


Seperti yang dikatakan Izar dan Iyaz, mereka datang kembali ke lokasi itu saat malam hari. Tapi kali ini mereka mengajak Fatur dan Faiq untuk ikut serta. Mereka sengaja masuk melalui jalur lain karena tak ingin menyita perhatian banyak orang. Izar lah yang menjadi guide karena dia hapal betul jalan menuju lokasi yang kebetulan berdekatan dengan proyek yang sedang ia kerjakan.


Saat tiba di lokasi hari telah menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana di sekitar tempat yang telah dipasangi police line itu terlihat sepi dan mencekam. Sama seperti sebelumnya, ada arwah-arwah yang terikat oleh sesuatu dan tengah menangis di sana seolah sedang menanti pertolongan.


“ Itu mereka Pa...,” kata Hanako pada Faiq sambil menunjuk ke bawah pohon yang terbakar.

__ADS_1


Faiq dan Fatur menoleh lalu mengerutkan kening sambil menatap iba kearah arwah-arwah yang tersandera oleh kekuatan tak kasat mata itu.


“ Mereka jadi tumbal dari sebuah pesugihan yang dilakukan oleh seseorang...,” kata Faiq kesal  sambil mengepalkan tangannya.


“ Apa itu Subandi...?” tanya Hanako.


“ Siapa Subandi...?” tanya Fatur.


“ Dia adalah anak pemilik rumah ini Opa. Dia ditangkap Polisi karena menyimpan bubuk mesiu di dalam rumah yang sudah tak terpakai ini...,” sahut Iyaz.


“ Bubuk mesiu, apa dia terroris...?” tanya Fatur.


“ Polisi masih menyelidikinya Opa. Tapi pengakuan Subandi tadi bubuk mesiu digunakan untuk membuat petasan...,” sahut Iyaz.


“ Kita bisa bantu mereka sekarang kan Opa...?” tanya Hanako.


“ Insya Allah bisa Nak...,” sahut Fatur yang diangguki Faiq.


Kemudian kelimanya pun bergerak cepat menghampiri pohon dimana para arwah itu sedang disandera. Dari jarak sedekat itu mereka bisa melihat jika para arwah yang ada di sana bukan hanya arwah orang dewasa tapi juga anak kecil.


“ Siapa yang tega numbalin Anak sekecil mereka...?” tanya Hanako kesal.


“ Yang pasti pelakunya adalah orang yang ga punya hati dan pasti punya kekuasaan hingga bisa menjerat para korbannya sedemikian rupa...,” sahut Izar.


“ Udah cukup ngobrolnya. Ayo lakukan sekarang mumpung masih sepi...,” kata Faiq menengahi.


“ Betul, ayo ambil posisi dan jangan lengah ya Anak-anak...,” kata Fatur mengingatkan.


“ Siap Opa...,” sahut Iyaz, Izar dan Hanako bersamaan.


Kemudian mereka mulai melakukan tugas mereka masing-masing. Iyaz dan Izar nampak membaca ayat Al Qur’an


sedangkan Fatur, Faiq dan Hanako nampak berdzikir. Di moment ini lah para arwah yang terperangkap itu nampak memperlihatkan perubahan. Mereka yang semula menjerit pun berangsur tenang dan nampak menitikkan air mata haru.


Namun suasana itu hanya berlangsung beberapa menit. Karena di menit berikutnya terlihat sebuah bayangan hitam besar menghadang di depan mereka seolah menghalangi niat Faiq dan keluarganya yang ingin menyelamatkan para arwah yang tersandera itu.


\=====

__ADS_1


__ADS_2