Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
322. Melawan Makhluk Merah


__ADS_3

Makhluk merah itu terus membalas serangan Iyaz dan Izar hingga akhirnya tubuhnya pun melemah dan jatuh terjengkang ke tanah untuk kesekian kalinya. Suara melenguh keluar dari mulutnya yang selalu menyeringai itu. Namun Iyaz dan Izar tak mengendurkan serangan karena tahu jika itu hanya taktik makhluk merah itu untuk menyerang balik jika keduanya lengah.


Namun tiba-tiba makhluk itu nampak berusaha bangun dan berdiri tegak di atas kedua kakinya. Tubuhnya yang semula lemah tak bertenaga itu tampak sehat dan segar bugar hingga membuat si kembar sedikit bingung.


Rupanya ada bantuan yang terkirim dari warga untuk makhluk merah itu. Warga mendapat kabar jika ada dua orang pria mendatangi makam buatan dan bertempur dengan penunggu makam buatan itu. Warga yang merasa jika kebahagiaannya akan terusik pun mengadakan ritual di sebuah tempat tak jauh dari makam buatan itu, tepatnya di bekas rumah Ki Suta. Ritual yang mereka lakukan berhasil membuat makhluk merah itu semakin kuat.


Dan kini makhluk merah itu gantian menyerang Iyaz dan Izar hingga memaksa keduanya melompat ke sana kemari untuk menghindari serangannya.


“ Ada yang ga beres sama makhluk itu Yaz. Keliatannya ada yang lagi bikin ritual yang bikin makhluk itu bertambah kuat...!” kata Izar lantang.


“ Iya Zar...,” sahut Iyaz.


Makhluk merah itu nampak senang karena berhasil membalas serangan Iyaz dan Izar. Merasa di atas angin ia pun mulai terlihat lengah. Bahkan ia seolah mempermainkan Iyaz dan Izar dengan melesat ke sana kemari.


Iyaz dan Izar tak kehabisan akal. Mereka menganggukkan kepala pertanda sepakat melakukan sesuatu.


“ Hitungan ketiga Yaz...!” kata Izar lantang sambil berlari menjauhi makhluk merah itu.


“ Ok...!” sahut Iyaz sambil berlari kearah yang berlawanan dengan Izar hingga membuat makhluk merah itu kebingungan karena kehilangan lawannya.


Izar pun dengan lantang menghitung sesuai kesepakatan tadi.


“ Satu..., dua..., tiga...!” kata Izar lantang lalu berbalik cepat dengan cara berlari kearah makhluk merah itu diikuti Iyaz yang melakukan hal yang sama.


Serangan balik yang dilancarkan si kembar membuat makhluk merah itu terkejut dan kehilangan keseimbangan hingga akhirnya serangan itu membuat makhluk merah itu menjerit keras dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


Rupanya Iyaz dan Izar berhasil menyebarkan bubuk kamper yang mereka bawa di waktu yang tepat hingga berhasil melukai wajah dan kedua mata makhluk merah itu.


Sementara itu di rumah Ki Suta terjadi hal yang tak terduga. Api yang ada di dalam bokor tiba-tiba membesar


dengan sendirinya. Api itu membumbung tinggi hingga menyentuh plafond rumah almarhum Ki Suta dan membuatnya terbakar dengan cepat. Warga yang tengah mengadakan ritual sambil mengelilingi bokor itu nampak belum meyadari jika api telah membakar plafond rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu.


Api merambat cepat ke dinding lalu ke kusen pintu dan jendela. Dalam sekejap saja rumah Ki Suta pun dilalap api. Warga yang kebetulan melintas pun terkejut dan berteriak memanggil warga lain untuk membantu memadamkan api.


“ Api...!, kebakaran...!. Toloonngg...!, rumah Ki Suta kebakaraaannn...!” jerit warga itu panik hingga memancing kehadiran warga lainnya.

__ADS_1


Mendengar jeritan warga di luar rumah Ki Suta, warga yang sedang mengadakan ritual pun tersadar dan membuka


mata. Mereka terkejut saat melihat api telah mengepung rumah almarhum Ki Suta. Mereka panik dan mulai berusaha menyelamatkan diri namun sayangnya api terlanjur membesar termasuk di ambang pintu dan jendela. Mereka ketakutan dan tak berani melintas hingga hanya bisa menjerit minta tolong sambil berpelukan di dalam rumah.


Warga yang berada di luar rumah saling bahu membahu memadamkan api sambil terus berdoa agar warga yang terjebak di dalam api bisa selamat. Diantara warga yang berkerumun terlihat seorang pria yang nampak sedih menyaksikan rumah Ki Suta habis dilalap sang jago merah. Bekali-kali ia mengusap air mata yang membasahi wajahnya karena teringat kasih sayang yang diberikan oleh Ki Suta dan istrinya saat ia kecil dulu.


“ Kenapa jadi kaya gini Paman. Maafkan Aku karena ga berhasil menyelamatkan rumahmu. Maafkan Aku Bibi Ami, Aku ga sanggup menghadapi mereka seorang diri. Maaf...,” gumam pria yang tak lain adalah Qiana yang sengaja menyamar menjadi seorang pria untuk menghindari warga yang berusaha menangkapnya.


Api yang membakar rumah Ki Suta kian membesar dan sulit rasanya bagi warga yang terjebak di dalam api untuk


bertahan. Kobaran api dengan gumpalan asap hitam yang membumbung tinggi itu juga terlihat dari makam buatan tempat Iyaz dan Izar berada.


“ Kebakaran Zar...!” kata Iyaz.


“ Iya Yaz. Pasti ini berkaitan sama makhluk merah ini Yaz...,” sahut Izar.


“ Kita harus bergerak cepat sebelum api itu memakan korban jiwa Zar...,” kata Iyaz gusar sambil mengeluarkan botol berisi air ruqyah dari mobil.


Izar mengangguk. Ia meraih botol air ruqyah yang dilemparkan Iyaz dengan cepat lalu membuka tutup botol dan menuangkan isinya ke tubuh makhluk merah yang tengah sekarat itu.


Lenguhan terdengar memilukan saat makhluk itu menggeliat kesakitan ketika air ruqyah membasahi tubuhnya.


“ Ijinkan Aku tetap di sini, jangan usir Aku. Tolong lah..., Aku janji tak akan membuat keonaran lagi...,” kata makhluk merah itu sambil merintih.


“ Maafkan Kami karena tak bisa memberimu kesempatan karena Kami yakin Kau tak akan mungkin menepati janjimu itu...,” sahut Iyaz.


“ Aku bersumpah akan menepati janjiku itu...,” kata makhluk merah itu mencoba meyakinkan Iyaz dan Izar.


Namun Iyaz dan Izar mengabaikan ucapan iblis itu dan terus bertasbih sambil menyiramkan air ruqyah di dalam botol hingga habis. Setelahnya mereka menatap makhluk merah itu sambil terus bertasbih. Perlahan tubuh makhluk merah itu mengecil hingga sebesar kelereng lalu hancur menjadi debu. Setelahnya debu itu terhisap ke dalam tanah tanpa sisa. Sesaat kemudian angin sejuk berhembus di sekitar tempat itu bersama dengan perginya aura mistis yang melingkupi tempat itu.


“ Alhamdulillah...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan sambil mengusap wajah masing-masing.


Di kejauhan terlihat mandor proyek berlari kecil menghampiri keduanya. Wajahnya nampak tegang seolah khawatir terjadi sesuatu pada Iyaz dan Izar.


“ Mas Izar dan Mas Iyaz gapapa kan...?” tanya sang mandor dengan suara bergetar.

__ADS_1


“ Alhamdulillah Kami gapapa Pak. Tolong suruh tukang untuk ngancurin makam ini sekarang ya Pak...,” pinta Izar.


“ Baik Mas...,” sahut sang mandor lalu bersuit memanggil tiga orang anak buahnya yang nampak mendekat sambil membawa palu dan linggis.


Semula ketiga pekerja itu terlihat ragu menjalankan perintah sang mandor karena khawatir terjadi sesuatu jika mereka menghancurkan makam keramat itu.


“ Kalian tenang aja, insya Allah Kalian ga akan sakit atau terluka setelah Kalian membongkar makam ini. Jin


penunggu makam buatan ini udah pergi dan sekarang makam ini kosong. Kalian bisa membongkarnya sekarang, jangan lupa baca Bismillah ya...,” kata Izar mengingatkan.


“ Baik Pak...,” sahut ketiga pekerja sambil tersenyum.


Bersamaan dengan angin sejuk yang berhembus saat makhluk merah itu terhisap habis ke dalam tanah, api yang


membakar rumah Ki Suta pun padam dengan sendirinya. Warga yang berkerumun menyaksikan kebakaran itu pun nampak saling pandang dengan bingung.


“ Lho, apinya kok mendadak padam...?” tanya salah seorang warga.


“ Ya bagus dong kalo udah padam. Sekarang ayo Kita liat gimana keadaan orang-orang yang terjebak di dalam rumah Ki Suta...,” sahut warga lainnya.


Kemudian warga pun bergerak cepat mendekati rumah Ki Suta yang masih diliputi asap usai terbakar tadi. Mereka melihat orang-orang yang terkurung api itu masih bergerak walau sebagian pakaian mereka telah habis terbakar.


“ Mereka masih hidup...!, ayo Kita keluarkan mereka...!” kata salah seorang warga dengan lantang hingga mengejutkan Qiana dan warga lainnya.


Tanpa membuang waktu warga pun bergotong royong mengeluarkan enam orang yang terperangkap di dalam rumah Ki Suta. Kemudian tubuh mereka pun dibaringkan di atas tanah di halaman rumah Ki Suta.


“ Alhamdulillah mereka masih hidup. Ini ajaib sekali...,” gumam Qiana takjub.


“ Semua terjadi karena Allah masih memberi mereka kesempatan untuk hidup dan memperbaiki diri Qiana...,” sahut Izar dari belakang Qiana hingga mengejutkan Qiana.


“ Kamu tau siapa Aku...?” tanya Qiana tak percaya.


“ Iya, kenapa memangnya. Penyamaran konyol kaya gini mah gampang ketebak Non. Apalagi kumis palsumu itu letaknya miring sebelah...,” sahut Izar setengah berbisik.


Mendengar ucapan Izar membuat mata Qiana membulat sedangkan Izar nampak melangkah dengan santai menuju kerumunan warga. Qiana berdecak sebal karena penyamarannya diketahui oleh Izar. Ia pun ikut melangkah mendekati warga yang terbaring di tanah untuk memastikan kondisi mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2